
Seorang wanita cantik mendatangi klinik Beauty milik dokter Gadis. wanita cantik itu adalah Dinda sahabat dekat Gadis dan Beno. Dinda sudah menikah tapi hubungan rumah tangganya lebih kacau di banding rumahtangga Beno dan Gadis.
Suami Dinda adalah kolega bisnis Beno, namanya Rei.
Rei ini kasar dan gemar main tangan terhadap Dinda. beberapa kali bahkan Gadis sempat memberi saran agar Dinda berpisah saja dari Rei karena tidak tega melihat sahabatnya itu tersiksa. di tambah siang ini Dinda ada di hadapan Gadis dengan wajah lebam.
"Dinda jangan bilang Rei mukul kamu lagi?!" kata Gadis gusar.
Dinda hanya terdiam menunduk mengenakan kaca mata hitamnya. Dinda ini juga seorang dokter tapi ia spesialis saraf dan bertugas di salah satu yayasan rumah sakit milik Dirgantara group.
"Dis aku mau banget bisa bebas dari pernikahan ku sama Rei seperti kamu bebas dari Beno. tapi Rei tidak mau menandatangani surat perpisahan itu Dis" kata Dinda.
"Terus sampai kapan kamu mau seperti ini Din?" tanya Gadis prihatin. separah-parahnya Beno dulu ketika marah, dia tidak pernah membentak Gadis apa lagi memukul sama sekali tidak pernah. hanya omongan pedas saja yang sering terlontar dari bibir Beno.
"Oh ya Dis lusa kamu ulang tahun kan? mau di rayain dimana?" tanya Dinda mengalihkan pembicaraan.
"Belum tahu Din, aku sih nggak ada keinginan buat pesta" kata Gadis tidak bersemangat.
Dulu sewaktu menjadi keluarga Dirgantara, ulangtahun Gadis dirayakan dengan meriah oleh mami Mariana dan papi Josh.
__ADS_1
"Kamu ingat dulu ya Dis?" tanya Dinda yang melihat Gadis melamun. Dinda sudah hafal betul keluarga Dirgantara apa lagi sewaktu Gadis masih menjadi menantu disana.
"Iya, tapi sudahlah itu sudah masa lalu"
"Oh ya aku dengar kamu sudah punya calon, mana kog aku belum kenalan?" tanya Dinda.
"Oh iya namanya Arya Kusuma, dia seorang pengacara handal Din. nanti kalan-kapan kalian aku kenalin ya"
"Yaudah kalau gitu aku permisi dulu ya aku mau ke kantor Beno ada urusan, kamu mau nitip salam?" tanya Dinda.
"Ah enggak!" Gadis mencubit kecil lengan Dinda.
Dinda tiba di kantor Beno ia langsung memasuki ruangan Beno. disana ada Adi yang menyambutnya dan menawari minuman. sementara Beno masih terlihat sibuk berbicara di telepon dengan seseorang.
Dinda tersenyum manis ke arah Beno sembari duduk didepan meja kerja pria itu. Beno menutup teleponnya.
"Hai Din kamu mau antar dokumen lagi?" tanya Beno kesal. ia tidak terima melihat Dinda di perlakukan bak kacung oleh Rei.
"Iya, ini" Dinda menyerahkan beberapa dokumen pada Beno.
__ADS_1
Beno memandang wajah Dinda yang tertutup kaca mata hitam berukuran besar.
"Wajah kamu kenapa?" tanya Beno yang sebenarnya sudah tahu kalau Rei pasti memukuli Dinda.
"Oh ini tadi pagi kepentok meja makan nggak sengaja jatuh"
Beno meraih tangan Dinda dan menggenggamnya.
"Din aku harap kamu masih bisa berpikiran waras buat menyelamatkan diri kamu sendiri. kamu itu sangat berharga Din, kamu nggak pantas sama si Rei dia itu bukan CEO tapi tukang pukul!" kata Beno kesal.
Dinda malah tertawa mendengar kemarahan Beno.
"Makasih atas sarannya Ben, tapi aku nggak apa-apa kog"
"Bener ya? kalau ada apa-apa kamu butuh bantuan jangan sungkan telepon aku ya" kata Beno.
Dinda mengangguk sembari tersenyum cerah.
"Oh ya tadi aku dari klinik Gadis, lusa Gadis ulang tahun kamu ingat?"
__ADS_1
Beno terdiam mendengar nama Gadis di sebut. sudah pasti Gadis tidak akan mengundangnya di pesta ulangtahun Gadis nanti.