
Arya menunggu di depan pintu apartemen Gadis sejak pagi. ia sengaja melakukannya karena jika menelpon pasti Gadis tidak akan mengangkat. dan kalau tahu Arya akan datang ke apartemennya ia pasti menghindar.
Gadis membuka pintu dan terkejut mendapati Arya berdiri di hadapannya.
"Dis dengerin dulu" Arya meraih lengan Gadis.
Gadis malas sebenarnya mendengarkan penjelasan Arya. sudah jelas pria itu tertangkap basah sedang berselingkuh.
"Apa yang mau di jelaskan? sudahlah Arya aku tidak apa jadi berhenti mengejar ku untuk memberi penjelasan"
"Dis aku dan Jemima hanya berteman itu saja tidak lebih" kata Arya meyakinkan Gadis.
"Teman? mana ada teman semesra itu? lagipula sepertinya mama mu lebih menyukai Jemima daripada aku, jadi selamat ya atas hubungan kalian" Gadis melangkah pergi menuju lift. Arya mengejar langkah Gadis dari belakang.
"Dis aku cuma cinta sama kamu, aku tidak pernah suka sama Jemima. tolong Dis jangan begini aku mohon"
"Arya, aku yang memohon padamu. kita akhiri hubungan kita yang berjalan tanpa restu dari keluargamu. lebih baik kita melangkah masing-masing daripada menyiksa satu sama lain"
"Tapi Dis.."
"Sudahlah!"
"Nggak Dis, aku nggak akan menyerah buat mendapatkan hati kamu lagi" kata Arya sembari menggenggam tangan Gadis.
Gadis menarik tangannya dari genggaman Arya.
"Maaf Arya tapi aku sudah tidak bisa"
"Kenapa? apa karena Beno?".
__ADS_1
"Beno? kenapa kamu bawa-bawa Beno ke masalah kita? dia tidak tahu apa-apa" kata Gadis membela Beno.
"Oh ya? kemarin malam aku lihat kamu bersama Beno" kata Arya tersenyum sinis.
Gadis terdiam sedikit salah tingkah. kemarin malam memang ia bersama Beno setelah insiden ia hampir menyebrang jalan dan tertabrak kendaraan lain. untung disana ada Beno yang menolongnya dan mengantarkan pulang.
"Aku memang bersama Beno kemarin malam tapi itu semua karena..." Gadis tidak melanjutkan penjelasannya.
"Karen kamu masih berharap sama dia kan?!" Arya mulai marah dan kehabisan kesabaran. Gadis segera berlari begitu pintu lift terbuka. ia tidak mau Arya nekat dan menyakiti dirinya.
Gadis segera masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan Arya.
***
Sebelum ke klinik Beauty Gadis mampir dulu ke cafe shop untuk membeli segelas kopi dan sepotong cake. tidak sengaja Gadis melihat Dinda juga ada di sana. ia sebenarnya malas menyapa jadi Gadis buru-buru mau keluar cafe.
"Eh Din kamu disini juga?" tanya Gadis pura-pura tidak tahu.
"Iya, kamu sendiri?" tanya Dinda.
Gadis mengangguk sembari mengedarkan pandangannya. siapa tahu Dinda sedang bersama Beno.
"Kamu juga sendiri?" tanya gadis ragu.
"Iya aku sendiri, sebentar lagi aku ke rumah sakit ada jadwal praktek"
"Yaudah Din aku duluan ya"
Dinda mengangguk, ia yakin Gadis juga tidak bersama Beno.
__ADS_1
Lalu kemana Beno? kenapa dia tidak angkat telepon dan tidak balas pesan dariku? apa Beno sedang di kantor?
Dinda melirik jam tangannya, seharusnya Beno belum berangkat ke kantor dan biasanya juga ia selalu membalas pesan dari Dinda. tapi pagi itu Beno mengabaikannya.
Sementara itu Beno masih betah berada di apartemen Naora. ia duduk di sofa membiarkan Naora bersandar di bahunya.
"Ben .."
"Hmmm"
Kamu masih cinta banget ya sama Gadis?" tanya Naora.
Beno hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Naora.
"Apa aku tidak memiliki kesempatan sama sekali?"
Giliran Beno menunduk memandang Naora yang bersandar di bahunya sembari menatap wajah tampan Beno.
"Sudahlah jangan bicara hal bodoh, kamu sahabat sekaligus saudara buatku"
"Itu penolakan secara halus?" Naora tersenyum getir.
"Nao...jangan membuatku merasa jahat". Beno mengecup rambut Naora.
Lagi-lagi Adi memalingkan wajahnya.
Katanya tidak suka, tidak cinta tapi dari tadi pelukan terus sama Bu Naora, main kecap kecup lagi....
Adi menepuk keningnya, ia tidak tahan rasanya melihat bosnya bermesraan seperti itu. Adi memutuskan untuk menunggu di mobil saja.
__ADS_1