
Gadis pulang sendiri mengendarai mobilnya setelah acara makan malam bersama keluarga Beno.
"Apa saya perlu mengikuti Bu Gadis pak?" dirasa malam sudah larut dan Gadis mengemudi sendiri Adi menawarkan untuk mengikuti mobil Gadis dari belakang.
"Aku ikut dengan mu" kata Beno seraya memasuki mobilnya. ia duduk di kursi belakang sementara Adi fokus mengikuti mobil Gadis di depannya.
"Anda terlihat cemas dengan Bu Gadis pak?" Adi membuka suara.
"Siapa yang cemas? aku hanya memastikan jika..."
"Jika bu Gadis pulang dengan selamat?" tanya Adi sambil tersenyum. Beno menggerakkan sebelah kakinya menendang kursi kemudi meminta asistennya itu untuk diam.
Benar saja di jalanan yang sepi dua orang pria menghentikan mobil Gadis. terpaksa Gadis berhenti dengan rasa cemas. ia tidak membuka kaca mobil Gadis komat Kamit berdo'a meminta keselamatan. ke dua pria itu terus saja mengetuk kaca mobil Gadis dengan brutal. dengan gerakan tangan mereka meminta Gadis keluar dari mobil.
Gadis bergeming diam memeluk tasnya karena takut dan gugup. ia bingung harus bagaimana sementara ada kendaraan yang lewat seolah tidak peduli dengan keadaan yang dialami Gadis. kendaraan yang lewat itu malah melaju semakin cepat. sepertinya mereka menyadari jika Gadis di rampok tapi juga tidak berani menolong.
"Cepat keluar!" teriak salah satu pria sembari mengarahkan senjata ke arah kaca mobil Gadis.
__ADS_1
Dengan gemetar Gadis keluar dari mobil sembari mengangkat kedua tangannya tanda pasrah.
"Tolong jangan sakiti saya, ambil saja barang-barang yang saya punya!"
Adi menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Gadis ia sengaja mengarahkan lampu mobil ke arah para penjahat itu. mereka memandang ke arah mobil yang di tumpangi Beno dan Adi.
Beno dan Adi saling lihat sebelum memulai perkelahian hebat dengan para perampok.
"Beno...." gumam Gadis. ia takut jika Beno kenapa-napa karena penjahat itu membawa senjata.
"Ben...hati-hati mereka bawa senjata!" teriak Gadis tapi Beno tidak gentar ia melepas jasnya, bersama Adi ia menyerah kedua pria bertubuh besar dan bertopeng di hadapannya.
"Beno!" Gadis hanya bisa berteriak meminta tolong. ia tidak tahu bagaimana menyikapi kejadian seperti perampokan yang baru ia alami malam ini. Gadis meraih ponselnya dan segera menelpon polisi.
"Pak Beno?!" Adi berteriak panik ketika melihat pinggang Beno terluka dan mengeluarkan darah yang mengotori kemeja Beno.
Para penjahat itu segera kabur, Gadis berlari ke arah Beno ia panik.
__ADS_1
"Ben kamu terluka!" teriak Gadis sembari menutup luka Beno dengan telapak tangannya agar darah tidak terus keluar. Beno meringis kesakitan Adi segera memapah Beno menuju mobil.
"Saya akan bawa pak Beno ke rumah sakit" kata Adi.
"Aku ikut!" Gadis duduk di kursi belakang menemani Beno. ia menyadarkan kepala Beno di pangkuannya sembari mengusap peluh dingin yang terlihat di kening Beno karena menahan sakit.
"Ben maaf ya gara-gara aku jadi begini" kata Gadis yang tidak di jawab oleh Beno.
"Cepat Di!" Gadis gugup melihat wajah Beno pucat pasi dan napasnya sedikit melambat.
Adi menambah kecepatan mobilnya, tidak berapa lama mobil yang di kendarai Adi tiba di depan gedung rumah sakit. Adi segera berteriak meminta bantuan perawat.
Beno segera di tangani oleh dokter yang berjaga malam itu. ia di bawa ke IGD karena mengeluarkan cukup banyak darah.
Gadis terduduk diam, ia bahkan tidak sadar jika telapak tangannya masih terkena noda darah.
"Kenapa kalian bisa tiba-tiba muncul?!" tanya Gadis pada Adi.
__ADS_1
"Pak Beno mencemaskan anda karena pulang sendiri malam-malam begini jadi kami mengikuti mobil Bu Gadis dari belakang"
Gadis menghela napas, ia tidak tahu harus senang atau sedih melihat Beno begitu perhatian padanya. sekarang pria itu terkapar tidak berdaya di ruang IGD. Gadis hanya bisa menahan tangisnya menunggu dokter selesai menangani Beno.