
Bab 49
Menjelang malam di ruangan Ratu penuh dengan teman nya yang sedang menjenguknya, dengan berbagai membawa bingkisan untuk Ratu, mereka mengira hanya ada Ratu yang dirawat di ruangan tersebut ternyata ada seorang anak kecil juga yang ikut berbaring di samping Ratu sedang tertidur sambil memeluknya.
"Kamu kenapa bisa begini sih tu?" Ucap Riani yang sudah berkaca-kaca matanya.
"Nama nya juga musibah sayang ku" Jawab Ratu dengan tertawa agar sahabat tidurnya ini tidak merasa sedih dan khawatir.
"Ckk.. Menyebalkan" Ucap Riani mendengus kesal.
"Cepat sembuh iya tu" Ucap mira yang juga ikut menjenguk.
Ardhana sudah tiba di rumah sakit dan sedang menuju ruangan Ratu dan juga Akasya, sesampainya disana Ardhana melihat pintu ruangan terbuka dan Ardhana langsung masuk dengan pelan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ketika sampai di dalam ruangan melihat teman Ratu sedang menjenguk nya.
Ardhana sudah duduk di sofa dan pandangannya melihat ke arah mereka yang sedang berbicara. Mereka tidak sadar jika di dalam ruangan tersebut ada yang memperhatikan mereka dengan sorot mata tajam.
"Cantik lekas sembuh iya" Ucap Beni dengan tangannya mengelus pucuk kepala Ratu dan Ratu hanya tersenyum melihat Beni.
Ardhana yang melihat Beni begitu lancang mengelus kepala orang yang dicinta nya membuat Ardhana geram dan kesal.
'Sial.. lancang sekali tangannya itu mengelus kepala Ratu.. atau ingin aku patahkan tangannya sekalian.. dan apa-apan Ratu juga pakai acara senyum-senyum segala'gerutu Ardhana dalam hati dan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Ekheemm...
Mereka pun menengok ke asal suara tersebut dan mereka nampak terkejut melihat kehadiran Ardhana yang tengah duduk di sofa sambil melihat ke arah mereka dengan sorot mata mengintimidasi.
Glek..
Ratu menelan ludahnya kasar dan merasa takut dengan tatapan Ardhana padanya.
'Mampus, kalau sudah begini aku bisa apa. yang ada serba salah apa yang aku lakukan.. semoga tidak terjadi apa-ala tuhan' batin Ratu memohon salam hati.
"A-ar.. kamu sudah datang?" Tanya Ratu lembut dengan terbata dan mencoba tersenyum padanya.
"Sudah dan dari tadi ada disini, sampai-sampai mataku melihat adegan mesra kalian" Ucap Ardhana datar dan sorot mata tajamnya mengarah ke arah Ratu.
"Permisi pak, kami harus pergi dulu" Ucapnya pada Ardhana dan menunduk hormat.
'Dasar teman laknat bukannya bantuin teman yang lagi kesusahan malah pergi gitu aja' kesal Ratu dalam hati.
"Seneng iya di samperin pacarnya kesini" Ucap Ardhana ketus.
"Pacar siapa?" Tanya Ratu bingung.
__ADS_1
"Pacar kamu Beni dari divisi pemasaran" Kata Ardhana.
"Dia hanya temanku Ar bukan pacar ku" Ucapnya membela diri.
"Mana ada bukan pacar tapi perhatian begitu Ratu, dia itu menyimpan perasaan padamu lihat lah baik-baik dari gelagatnya" Cerocos Ardhana kesal.
"Ekheemm.. Ar, kamu cemburu padanya" Ucap Ratu menggoda Ardhana.
"Tidak"
'Memangnya dia tidak tahu apa kalau aku menahan rasa cemburuku padanya' batin Ardhana.
"Oke.. baiklah kamu memang tidak cemburu, mungkin kalau aku sudah di bolehin pulang akan minta tolong pada Beni untuk memjemputku" Ucap Ratu datar dan mencoba menggoda Ardhana.
"Tidak boleh"
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak boleh dan tidak ada penolakan" Ucapnya menghampiri Ratu lalu mencium bibirnya agar terdiam. Cukup lama Ardhana mencium disertai lu matan di bibir Ratu sampai merasa pasokan nafasnya semakin menipis. Setelah puas mencium bibir Ratu, Ardhana melepaskan tautan bibirnya.
"Tidurlah, aku yang akan menemani mu disini" Ucapnya sambil mengusap bibir Ratu yang masih terdapat air liur yang menempel karena perbuatan Ardhana.
__ADS_1
Ratu pun langsung mengangguk dan merebahkan dirinya di samping Akasya yang masih tertidur dan tidak terusik sama sekali.
Sebelum pergi kekamar mandi dan berganti pakaian Ardhana mencium kembali bibir dan juga keningnya.