
Pagi ini Raka dan Dito sudah berjanji untuk berangkat ke kampus bersama, Raka sedang sarapan bersama Kakek Reksa ketika Dito datang untuk menjemputnya.
Sedangkan Leo sedang ada pekerjaan ke luar kota.
" Tuan muda ada temannya menunggu di ruang tamu" Pak Har memberi tahu Raka.
" Oh iya, terimakasih pak Har" Raka meminum jus-nya.
" Kek aku pergi ke kampus dulu" Pamit Raka mencium tangan kakek Reksa.
" Hati-hati di jalan" Ucap kekek Reksa.
Raka mengangguk lalu berjalan menuju ruang tamu dengan pak Har yang membawakan tas untuknya.
" Yuk, berangkat sekarang" Seru Raka ketika melihat Dito sedang duduk diruang tamu.
" Hah... yuk!" Kaget Dito langsung berdiri dan berjalan ke luar rumah bersama Raka.
" Terimakasih pak Har" Raka menerima tas yang di bawakan pak Har.
" Sama-sama tuan muda"
" Berangkat dulu pak Har" Pamit Raka setelah memakai helm.
" Mari pak Har" Pamit Dito yang sudah berada di atas motor.
" Hati-hati di jalan tuan muda" Pak Har tersenyum melihat tuan mudanya selalu bersikap sopan padanya.
" Wah loe dah kaya pengeran aja sekarang" Seru Dito ketika motor yang di kendarainya melaju menuju kampus.
" Gak lah, itu semua harta kakek gue, gue cuma numpang doang di sana" Jawab Faka dengan sedikit berteriak agar Dito bisa mendengar ucapannya.
" Sialan loe, jelas-jelas elo pewaris tunggalnya Bego" Dito masih mau berdebat dengan Raka.
Ini adalah kali pertama Dito berkunjung ke rumah Kakek Reksa, dan ia sangat terkejut melihat segala kemewahan dan perlakuan semua pekerja ruamah pada Raka.
Walaupun ia bisa di sebut lahir dari keluarga berada,tapi keluarganya hanyalah keluarga sederhana, jauh berbeda dengan keluarga Kakek Raksa.
" Terserah elu lah, gue malah lebih suka hidup gue yang dulu daripada yang sekarang" Ucap Raka memelankan searanya.
" Hah... apa? Gue gak denger!" teriak Dito yang mendengar samar suara Raka tapi tidak begitu jelas.
" Gak papa" Teriak Raka.
Sampai di kampus Dito memarkirkan motornya di tempat biasa.
" Loe ada berapa kelas hari ini?" Tanya Dito ketika mereka berjalan bersama
" Dua, yang satu sekarang paling cuma satu jam, Satu lagi praktek nanti jam 11 san" Jawab Raka sambil melihat jam tangannya di balik jaketnya.
" Loe ada berapa kelas hari ini?" Tanya Raka lagi.
" Gue cuma satu tapi dua jam" jawab Dito.
" Kalau gitu nanti gue tunggu loe di perpus sekalian mau minjem buku" Ucap Dito lagi.
" Ok! Gue ke kelas dulu" Seru Raka mengangkat tangan kanannya sambil berjalan menjauh dari Dito, di balas juga oleh Dito melakukan hal yang sama pada Raka.
Jam 12.15 siang Raka baru saja keluar dari kelasnya, ternyata setelah kelas pertama di lanjutkan dengan praktek langsung.
Raka sedang berjalan sambil mengirim pesan kepada Dito untuk bertemu di Kantin, keti tiba-tiba hp di tangannya di rampas oleh seseorang.
Raka langsung mengalihkan pandangannya pada orang yang mengambil hp nya.
" Weeiisss hp baru nih, dapet nyolong dari mana loe, hp bagus kayak gini" Kenzi bebicara dengan nada meledek sambil membolak-balik hp Raka di tangannya seolah menelitinya.
Ya.. Rion, Kenzi, dan Bimo sudah kembali beberapa hari yang lalu dan mereka siap untuk membully Raka kembali.
" Ken, kembalikan hp saya" Ucap Raka berusaha mengambil hpnya.
Whusss...
Kenzi melemparkan hp Raka pada Bimo sambil tertawa merendahkan.
Raka berlari menghampiri Bimo yang berjarak kurang lebih tiga meter darinya.
" Gaya banget loe, pake hp mahal, nyolong loe ya!!" Sarkas Bimo melempar lagi hp Raka pada Rion.
" Bilang sama gue dari mana loe dapet hp kayak gini hah?!! Gak mungkin rakyat jelata kayak loe bisa punya hp mahal kalo bukan hasil nyolong... iya gak?" Satkas Rion mencengkram jaket Raka.
" Itu hp saya, saya tidak mencurinya" Raka berkata dengan tenang tanpa ada rasa takut lagi tapi ia juga tidak melawan.
" Oohh udah berani jawab dia sekarang" Rion semakin emosi melihat Raka yang sudah tidak takut lagi padanya, ia mendorong Raka sampai Raka terjungkal ke belakang.
Raka mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang ada di dalam dadanya, ingin rasanya ia melawan Rion tapi penyelidikannya tentang Rion belum sepenuhnya tuntas.
" Loe mau hp ini kan? tuh hp loe!!" Rion membanting hp Raka di depan wajah Raka sendiri.
" Apa-apaan kalian semua, berani nya menghina orang lain dasar banci!!!" Keyra yang dari tadi melihat semua pembullyan terhadap Raka akhirnya tidak tahan juga.
Ia berdiri menantang Reon di depan Raka.
__ADS_1
" Key sudah, saya tidak apa-apa kok" Bisik Raka berusaha meredam amarah Keyra.
"Wah...wah...wah... sekarang udah ada yang berani bela'in ternyata.... Siapa loe pacaranya HAH?!!" Rion tersenyum mengejek pada Raka dan Keyra.
"Gue bukan siapa-siapa nya, tapi gue gak suka aja liat cowo-cowo brengsek kaya kalian yang sukanya cuma ngerendahin orang lain!!" Sarkas Keyra, dengan kedua tangan melipat di dada.
" Key sudah Key mending kita pergi saja dari sini" Bisik Raka lagi.
" Wiiihh nih cewek ganas juga ternyata...Hahaha" Kenzi ikut mengejek Keyra.
Keyra mendengus kesal, menatap jijik pada ketiga orang di hadapannya.
" Dasar banc*" Gumam keyra pelan tapi masih bisa di dengar oleh keempat laki-laki di sekitarnya.
" Apa loe bilang tadi!!!" Teriak Rion terpancing emosi.
" Apa?!! Loe semua emang banc* kan, yang beraninya cuma main keroyokan" Sarkas Keyra tidak mau kalah.
Di dalam hati Raka mengumpat keberanian Keyra, selama ini ia berusaha untuk tidak berurusan dengan Rion dan melibatkan siapapun dengan urusannya.
Tapi sekarang gadis di depannya ini dengan beraninya malah terang-terangan menantang Rion di tempat umum.
Raka melihat ke sekelilingnya, di sana para mahasiswa sudah pada berkumpul memperhatikan mereka berlima.
"Astaga ini cewe ternyata bar-bar juga, mulutnya gak bisa di rem dikit apa ya" Umpat Raka pusing sendiri.
Kalau begini urusannya dengan Rion bisa semakin rumit.
Sementara Rion di dalam hatknyabia mulai tertarik dengan Keyra yang sudah berani melawannya.
" Menarik juga nih cewe" Ujar Rion dalam hati, ia tersenyum miring pada keyra.
Drrrtt....drrrttt...
Hp di kantong celana Rion bergetar, Rion langsung melihat siapa yang meneleponnya.
" Kali ini gue lepasin loe, tapi gue gak bakalan ngelepasin loe lain kali" Ancam Rion menatap Keyra dan Raka tajam.
Ia langsung melangkah pergi sambil menerima teleponnya, meninggalkan Raka dan Keyra.
Raka langsung menarik Keyra ke tempat yang lebih sepi.
" Astaga key kamu ngapain sih pake bantuin saya segala?" Raka bertanya pada Keyra dengan wajah kesal.
" Loe gimana sih?! Gue bantuin bukannya makasih malah nyalahin gue?!" Sarkas Keyra tidak terima.
" Oke...oke... terimakasih karena kamu sudah menolong saya, tapi lain kali kamu tidak usah melakukan semua itu" Ucap Raka menahan rasa kesalnya pada Keyra.
" Gak bisa lah, gue paling gak suka kalau ada bully apa lagi di hadapan gue sendiri"
" Loe gak tau terima kasih banget ya jadi orang" tuduh Keyra.
" Iya, terserah kamu mau nilai saya gimana, yang penting kamu jangan lagi ikut campur urusan saya" Ucap Raka
" Sekarang mendingan kamu pulang cepat pulang, sebelum kamu bertemu lagi dengan Rion" Tambah Raka lagi kemudian berlalu pergi meninggalkan Keyra yang mematung mencerna setiap perkataan Raka.
Raka memasang kupluk jaketnya lalu memasang earphone di telinganya, ia menghubungi pengawal yang selalu berada di sekitarnya.
" Sebagian dari kalian ikuti Rion dan teman-temannya, dan sisanya ikuti Keyra sampai ke rumahnya" Perintah Raka pada para penjaganya.
" Siap Tuan muda" Jawab pengawal di seberang sana.
Raka melanjutkan langkahnya menuju kantin kampus, untuk menemui Dito.
***
" Tuan muda sepertinya kita ada yang mengikuti" Suara pengawal yang berada di belakang mobil Raka terdengar di earphone yang terpasang di telinga Raka.
" Hmm... brapa orang?" Tanya Raka dengan suara serius dan rahang yang mengeras.
" Satu mobil tuan muda, sepertinya didalam-nya ada sekitar enam sampai delapan orang"
" Baiklah kita hadapi mereka" Jawab Raka dingin.
Raka sedikit menurunkan kecepatan mobilnya, dengan sigap mobil pengawal-nya mendahuluinya dan mengarahkan mobil Raka ke tempat yang aman dan sepi.
" Main-main denganku Heh!" Gumam Raka tersenyum jahat, saat melihat kaca sepionnya.
Saat ini Raka memang sedang mengendarai mobilnya sendiri, ia baru saja pulang dati kantor pada saat jam menunjukan angka sembilan malam.
Ia membuka dashboard mobilnya, meraih Desert Eagle yang ia ambil dari koleksi senjata yang di miliki ayahnya, lalu mengelipkannya di pinggangnya.
" Waktunya bermain" Gumamnya menghentikan mobilnya di tempat yang sepi dan luas, sangat cocok untuk permainan saat ini.
Ia melihat mobil para pengawalnya sudah berhenti di depan mobil Raka.
Dan mobil para penguntit menyusul berhenti di belakang mobilnya.
Sekarang posisi nya ada di tengah di antara mobil pengawal-nya dan musuhnya.
Raka masih santai, menyandarakan punggungnya pada sandaran jok mobil.
__ADS_1
Ia menunggu para penguntit itu keluar terlebih dulu, mobil para pengawal nya juga sama, belum ada satu orang pun dari pihak Raka yang keluar dari dalam mobil.
Tak berapa lama Raka melihat beberapa orang keluar dari mobil di belakangnya.
Raka memicingkan matanya, ia bisa melihat sekitar empat orang keluar dari dalam mobil.
Dengan sigap para pengawal dari mobil di depannya juga ikut turun dan langsung melindunginya yang masih duduk santai di dalam mobil.
Jagoan kan selalu datang belakangan, jadi santai dulu lah sebelum bertarung...
" Mau apa kalian?" Tanya Arman, ketua pengawal Raka.
" mau nyawa bos kalian!!!" Jawab para salah satu penguntit itu dengan seringai meremehkan.
" Brengsek... jangan harap" Jawab Arman langsung menyerang para penguntit itu.
Raka hanya melihat pertarungan di depan matanya yang terlihat imbang, empat lawan empat.
Hanya beberapa menit Raka melihat lawan mulai kewalahan menghadapi serangan para pengawalnya.
Ia melihat dari mobil para penguntit keluar empat orang lagi dan langsung menyerang para pengawalnya.
Ketika ia sedang asik melihat keseruan di hadapannya, tiba-tiba saja pintu mobil nya di gedor oleh seseorang dengan senjata api di tangannya.
Dukh....dukh....dukh....
Suara gedoran di kaca mobilnya makin mengganggu, Raka memicingkan matanya melihat seseorang di balik pintu mobil.
" Kenzi" Gumamnya dalam hati ketika melihat jelas wajah dari orang itu.
" Keluar!!!" Teriak Kenzi sarakas.
" Sial.." Umpat Raka sambil mencari sesuatu yang bisa menutupi wajahnya.
Ia membuka tas dan mengambil masker lalu segera memakainya.
Ia membuka pintu mobil dengan tenaga penuh hingga Kenzi yang Berada di balik nya terhuyung.
" Brengsek!!" Sarkas Kenzi menodongkan senjatanya pada Raka.
Raka masih tenang, ia berdiri di hadapan Kenzi dengan tangan kanan yang di masukan pada sakunya.
" Mau apa kalian?" Tanya Raka dengan suara berat dan dingin.
" Mau nyawa loe, dasar bodoh!!!" Sarkas Kenzi dengan senyum meremehkan.
" Heh..! Coba saja kalau bisa"
Duakh...
Akkhhhh....
Raka langsung menendang perut Kenzi hingga mundur beberapa langkah.
" Bedeb*h..." Umpat Kenzi merasakan sakit pada perutnya.
Dengan cepat kenzi menyerang Raka, tapi sayang ia tak bisa menyentuh Raka sama sekali, Dengan gerakan cepat namun tenang Raka menghindar dan melawan setiap serangan dari Kenzi.
Hingga...
Duakh...
Brakkhh....
Kreekkkh....
Aakkkhhhh...
Suara pertarungan yang lumayan sengit, dan jeritan kesakitan dari para penguntit terdengar.
Duakh...
Raka menendang rahang Kenzi bergerak memutar lalu dengan tenaga penuh menendang perut Kenzi hingga Kenzi terkapar di depan Raka dengan wajah yang sudah penuh dengan luka dan darah yang mengalir dari hidung.
Uhuk....
Kenzi batuk darah dengan tangan memegang erat perutnya dan Tangan kiri menjadi tumpuannya untuk bisa bangun lagi.
Senjata yang tadi ia pegang sudah hilang entah kemana dari awal pertarungannya dengan Raka.
Raka mengerinyai melihat Kenzi yang sudah tidak bisa bangun bangun lagi dan melihat anak buahnya juga sudah babak belur di hajar oleh para pengawalnya.
Ia berbalik langsung berjalan meninggalkan Kenzi yang menatap nya dengan raut wajah penuh dengan dendam.
Raka masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi di ikuti oleh para pengawalnya di belakang.
.
.
...Tbc...
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, dan votenya ya...
...Terimak?asih🙏😘...