Presdir Kutu Buku

Presdir Kutu Buku
Eps.45 Bertemu Divanka


__ADS_3

" Bagaimana dengan persiapan pembukaan mall ?" tanya Raka saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kampus.


Hari ini Raka ada kelas, sekalian mau konsultasi untuk rencana skripsi nya.


" Sudah 99 persen selesai, tinggal pelaksanaan nya nanti siang " jawab Leo.


" Bagus, saya di kampus hanya sekitar 2 jam, setelah itu kita bisa langsung menuju ke sana " ucap Raka sambil terus mengoprasikan tablet di tangannya, entah apa yang sedang ia lakukan.


" Baik, nanti gue langsung jemput loe di kampus aja " Leo berucap sambil memarkir kan mobil nya di depan kampus.


" Oke, kalau gitu gue ngampus dulu, oh ya jangan lupa bawakan baju untuk gue " pesan Raka.


" Gak perlu di ingetin gue juga udah tau kali' " ucap Leo malas.


Raka hanya tertawa sambil turun dari mobil.


Para mahasiswa yang saat itu berada di luar kampus terkejut melihat Raka turun dari mobil mewah sambil tertawa pelan.


" Eh... itu bukannya si Raka ya?"


" Iya tuh, sama siapa dia?"


" Wah Raka ganteng bet ya kalau lagi ketawa gitu..!"


" Gue makin suka aja sama Raka, udah pintar, ganteng lagi, orangnya juga ramah walaupun pendiam "


Itulah bisik-bisik para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat Raka saat itu.


Raka berjalan dengan cuek pura-pura tidak mendengar orang yang membicarakan nya.


Bagi Raka sekarang tak penting mengurus apa kata orang, waktunya sekarang terlalu berharga untuk semua itu.


Lebih baik sekarang ia langsung ke ruang dosen, sebelum waktunya masuk kelas.


Satu jam berada di kelas akhirnya kelas berakhir juga, Raka keluar paling terakhir sambil menelepon Leo agar cepat berangkat menjemputnya.


" Leo, gue dah keluar dari kelas, loe di mana sekarang?" tanya Raka saat mendengar suara Leo.


" Gue masih di kantor, gue ke sana sekarang " jawab Leo.


"Oke, gue tunggu di kantin "


Tut....


Raka langsung mematikan telponnya, tersenyum geli saat membayangkan wajah kesal Leo di sebrang sana.


" Akua botol nya satu " pesan Raka saat sudah berada di kantin.


Raka memang kurang suka dengan minuman manis, ia lebih menyukai air putih di bandingkan dengan segala jenis minuman yang penuh dengan gula.


" Eh... Nak Raka udah lama gak mampir ke kantin ?" ucap Ibu penjaga kantin Ramah.


Raka tersenyum tipis, " Iya bu " ucapnya mengambil air minum pesanan nya.


Memberikan satu lembar uang seratus ribuan, lalu berlalu pergi ke salah satu meja di sudut kantin.


Memakai EarPhone dan kembali fokus pada tablet yang selalu ia bawa, memeriksa setiap email dan laporan yang ada di sana.


" Nak Raka ini kembalinya " Ibu penjaga kantin yang tadi menyodorkan uang di hadapan Raka.


Raka mengalihkan pandangannya, melepas salah satu EarPhone di telinganya.


" Ini buat ibu aja " ucap Raka menolak uang itu.


" Beneran ini Nak Raka?" tanya ibu itu memastikan.


" Benar " jawab Raka tersenyum hangat.


" Terimakasih Nak Raka " ucap Ibu penjaga kantin itu senang.


" Sama-sama Bu " ucap Raka mengangangguk ramah.

__ADS_1


Raka kembali fokus pada layar tablet di tangannya saat Ibu itu telah pergi.


" Raka, tumben mampir ke kantin ?" ucap Keyra langsung duduk di depan Raka.


Ia baru saja keluar dari kampus dan sedang menunggu kedua sahabatnya.


Saat masuk ke kantin ia sudah melihat Raka yang sedang berbicara dengan Ibu kantin.


" Iya, saya sedang menunggu Leo " jawab Raka. Menaruh tablet nya lalu meminum air putih di botol.


" Oh... pantes, kirain aku emang lagi senggang " ucap Keyra mengangguk.


Raka tersenyum, " Kamu juga pasti tau kan kesibukan saya bagaimana ?"


" Ya... kalau di bandingkan dengan Abang dan Papa, pasti kamu lebih sibuk lagi kan?" tebak Keyra, melipat kedua tangannya di atas meja.


" Kurang lebih sama lah "


" Ga ada kurangnya, banyak lebihnya, maksud kamu kan?" ledek Keyra mengangkat kedua alis nya.


Raka terkekeh pelan, " mungkin "ucapnya ambigu.


Deg...


Jantung Keyra langsung berdetak lebih cepat hanya karena melihat Raka terkekeh kecil saja.


" Ya ampun... apa ini, kenapa selalu seperti ini bila sedang berada dekat dengan Raka?" gumam Keyra dalam hati.


" Hem... gue ke sana sekarang " ucap Raka.


" Maaf Key, sepertinya saya harus pergi sekarang, Leo sebentar lagi sudah sampai " ucap Raka mengambil tablet dan memakai tas ranselnya.


" Oh iya, hati-hati " ucap Keyra salah tingkah.


" Oke...Bye... "ucap Raka sebelum berjalan pergi meninggalkan Keyra yang masih saja melihat Raka sampai ia benar-benar menghilang dari pandangannya.


.


" Tolong saya, saya sedang di kejar oleh laki-laki jahat " ucap gadis itu dalam bahas Inggris.


" Mungkin dia bukan warga asli " pikir Raka mendengar logat bicaranya yang sangat fasih dalam bahasa itu.


" Anda kenapa Nona?" tanya Raka memegang pundak gadis tak di kenal itu.


" Sa...saya di...Di.... kejar laki-laki jahat " ucapnya terbata karena nafas yang belum stabil.


" Hey, serahkan gadis itu pada kami !" teriak para lelaki berbadan besar dengan pakaian yang berantakan dan kotor.


" Preman ternyata " tebak Raka melihat penampilan ketiga laki-laki yang baru saja datang.


Gadis itu langsung bersembunyi di belakangnya Raka dengan mencengkram kuat hodie yang di pakai Raka.


" Itu mereka "lirih gadis itu hampir tak terdengar.


" Tenaglah, saya akan berusaha menyelamatkan mu " lembut Raka mencoba menenangkan gadis mungil berambut coklat itu.


" Heh.... loe budek.!! Serahkan gadis itu atau loe gue hajar ?!" Lelaki berbaju hitam dengan tangan kirinya penuh tato melangkah maju ke hadapan Raka.


" Jangan mimpi kalian " ucap Raka tersenyum miring.


" Oh, nantangin dia Bos?!" Lelaki berkulit hitam ikut menghampiri Raka.


" Udah siap mat* loe heh?!" Lelaki bertato tadi yang di panggil Bos' itu tampaknya mulai tersulut emosi.


" Siapa juga yang nantangin kalian?" ucap Raka acuh tak acuh, bersedekap dada.


" Si*l an !" desis laki berkulit hitam itu langsung menerjang tubuh Raka.


Raka langsung menghindari setiap serangan dari arah lawan sambil sesekali mengirimkan serangan balik yang jauh lebih kuat di bandingkan pukulan para preman itu.


Sekitar 5 menit bertarung akhirnya ke tiga preman itu terkapar dengan penuh luka.

__ADS_1


Raka melihat ke sekitarnya, ternyata sudah ada beberapa orang yang melihat kejadian itu.


Bahkan ada yang sudah mengabadikan nya.


" Bereskan semua kekacauan ini " ucap Raka saat EarPhone nya tersambung pada Kei.


" Baik Tuan muda " balasnya.


Tak lama kemudian ada empat orang lelaki menggunakan baju rapih serba hitam datang ke lokasi dan langsung membereskan segala kekacauan bahkan mendatangi satu per satu orang yang sudah mengambil gambar untuk segera menghapus nya.


Raka menghampiri gadis yang sedang berjongkok di pinggir jalan dengan tubuh menggigil.


" Sepertinya di mengalami trauma " gumamnya dalam hati.


" Tenanglah... sekarang kau sudah selamat, mereka sudah tak bisa apa-apa lagi " ucap Raka berjongkok di depan gadis itu.


Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya memandang wajah Raka dengan air mata yang sudah memenuhi pipinya.


Deg....


" Laki-laki ini, yang kemarin ia lihat di jalan... benarkah?" gumam Divanka dalam hati.


Ya... gadis yang Raka tolong itu adalah Divanka, ia kehilangan pengawalnya saat berjalan-jalan.


Ketika ia sedang mencari pengawalnya dia malah di hadang oleh para preman itu.


" Mari, duduk dulu, agar anda merasa lebih tenang " Raka mengulurkan tangannya.


Divanka langsung menyambut uluran tangan Raka dengan tangan yang sedikit bergetar.


Bukan karena teringat kejadian yang baru saja ia terima, tapi itu semua karena gugup bisa berhadapan langsung dengan Raka.


Raka membantunya berdiri dan duduk di kursi halte di depan kampus.


Divanka melirik kepada tiga preman yang tadi mengejarnya, mereka duduk lemas di trotoar dengan wajah yang sudah penuh dengan luka dengan di awasi oleh lelaki muda berkulit samo matang dan tampak gagah dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.


" Ini di minum dulu " ucap Raka menyodorkan botol minum yang baru saja ia terima dari salah satu pengawal nya.


" Terimakasih " ucap Divanka mengambil botol minum dari Raka dan meminum nya sedikit.


" Nona, anda tidak apa-apa?" tanya dua orang pria berbaju hitam, dengan raut wajah penuh kecemasan.


" Kalian kemana saja, kenapa kalian baru saja datang " marah Divanka.


" Maafkan kami Nona, kami lalai "ucap mereka menunduk dalam.


" Sudahlah, saya tidak apa-apa " ucap Divanka acuh.


" Maaf Nona, Tuan besar meminta Nona untuk segera kembali " ucap Mereka.


" Hem... sebentar "


" Tuan, terimakasih sudah menolong saya, kalau boleh tau siapa nama Tuan?" tanya Divanka beralih pada Raka yang masih duduk di sebelah nya.


" Tidak masalah, sepertinya saya harus pamit sekarang, mobil yang menjemput saya sudah sampai... permisi Nona " ucap Raka langsung pergi tergesa-gesa tanpa menunggu jawaban dari Divanka.


" Eh... tapi..." Divanka menyelamatkan napas pelan melihat Raka yang sudah meninggalkannya.


Divanka hanya bisa memandang Raka yang sudah masuk pada mobil nya dan meninggalkan dirinya.


Tanpa ia sadari ia semakin terjatuh lebih dalam pada pesona seorang Raka.


.


.


...TBC...


...jangan lupa dukungan nya ya......


...Terimakasih🙏😊😘...

__ADS_1


__ADS_2