Presdir Kutu Buku

Presdir Kutu Buku
Eps.43 Rindu


__ADS_3

Raka masuk ke rumah kecil tempatnya di besarkan dan hidup bersama dengan kedua orangtuanya.


Melihat sekeliling isi di dalam rumah yang masih sama seperti saat beberapa bulan lalu ia tinggalkan.


Joni benar-benar merawat rumah peninggalan orang tuanya itu dengan sangat baik.


Memejamkan mata mengingat masa-masa kebersamaan dengan Ayah dan juga Bunda nya.


Raka melangkah menuju lemari kaca di ruang keluarga.


Tangannya terulur membuka pintu kaca, meraih bingkai foto yang terletak di Sana dengan tangan sedikit bergetar.


Raka melihat foto itu di mana ada Ayah, Bunda dan dirinya ketika baru saja lulus SMA.


Mengingat Raut wajah bahagia bercampur bangga kedua orang tuanya saat ia berhasil menjadi peringkat pertama di sekolah.


Foto itu di ambil di depan sekolah sebelum pulang setelah Raka mendapatkan ketulusan.


Bahkan saat itu Tama langsung membawanya makan di restoran yang cukup mewah untuk merayakan semua itu.


Mengusap lembut bingkai itu dengan mata yang sudah berkabut, lalu menyimpannya lagi dengan sangat hati-hati.


Raka beralih pada ruang makan tepatnya pada meja makan kecil dengan empat buah kursi yang masih teramat sampai saat ini.


Suara canda tawa ketika pagi hari saat mereka sedang sarapan bersama terngiang di telinganya.


Mendongak menghalau air mata yang sudah mendesak ingin keluar.


Rindu....Raka sangat merindukan kedua orang tuanya saat ini.


Menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan, mencoba meredakan sesak yang tiba-tiba saja ia rasakan.


Melihat ke sisi kanan nya saat merasakan usapan lembut di bahunya.


Mpok Isah tersenyum lembut, menguatkan anak angkat nya itu.


Ia tau pasti apa yang di rasakan Raka saat ini.


" Duduk dulu, Mpok buatan kopi mau?" Mpok Isah membawa Raka ke sofa di ruang keluarga.


Raka mengangguk, " Raka mau ke kamar dulu sebentar " ucapnya kemudian berjalan menuju lantai dua.


Raka masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya.


Dia bisa melihat seluruh barang-barang milik Ayah dan Bunda nya masih tertata rapih di tempatnya.


Hanya baju yang sudah Rama sumbangan pada orang-orang yang membutuhkan, Raka hanya menyisakan beberapa helai saja di lemari.


Beberapa waktu Raka hanya berdiri dan memperhatikan isi kamar itu, membuka kembali segala kenangan indah bersama kedua orang tuanya.


Merasa sudah cukup, ia berjalan menuju salah satu laci di pinggir tempat tidur.


Membukanya dan mengambil salah satu kunci, ia beralih menuju pintu di sebelah kamar mandi.


Raka melihat berbagai layar monitor, begitu ia memasuki ruangan kerja Ayahnya dan tempatnya bermain dan belajar sewaktu kecil.


Ada meja yang lumayan besar di tengah ruangan dengan kursi kerja berwarna hitam.


Raka mengusap sudut matanya yang terasa basah, ia berjalan menuju meja kerja dan duduk di kursi kerja milik Ayahnya.

__ADS_1


Dulu waktu dia masih kecil ia sangat suka duduk di pangkuan Ayahnya dan memperhatikan apa yang sedang Tama lakukan di sini.


Bayangan saat ia belajar bersama Tama langsung menyerbu ingatannya, membuat dadanya terasa sesak kembali.


Raka meraba pelan meja di depannya, beralih pada keyboard yang selalu Ayahnya gunakan.


Pandangannya teralihkan oleh bingkai foto di sudut meja.


Raka tersenyum melihat foto seorang wanita cantik dengan pakaian sederhana sedang menggendong anak laki-laki berusai 5 tahun.


" Bunda cantik.... sangat cantik " ucapnya tersenyum miris.


Raka menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata mengingat semu kenangan indah bersama kedua orang tuanya.


Dulu... sewaktu sewaktu Ayahnya masih hidup, di tempat ini lah dia di tempa dengan berbagai program-program komputer dan segala macam pelajaran bisnis yang harus ia pelajari.


Raka melihat ke sisi sebelah kanan tempat berbagai buku tersimpan rapih di dalam lemari kaca yang menjulang tinggi sampai langit-langit rumahnya.


Dulu buku-buku itulah temannya bermain dan belajar, Ayahnya selalu memberinya satu buku, lalu menyuruh nya untuk membaca dan mempelajari ya, setelah itu merangkumnya dan menyerahkan nya pada Tama untuk di nilai.


Bila sudah selesai maka tama akan memberikan satu buku lagi sebagai tugas untuknya, dan terus begitu dari dia masih SD sampai SMA, sedangkan setelah itu Raka lebih di ajarkan praktik oleh Tama.


Itu juga yang menjadi sebab ia tidak mempunyai banyak teman, karena memang ia tak pernah ada waktu untuk sekedar bermain atau nongkrong bersama mereka.


Awalnya ia selalu bertanya-tanya, untuk apa Tama mengajarkan berbagai keterampilan yang menurutnya tidak akan berguna.


Bahkan dia pernah bertanya langsung pada Tama. Karena sudah merasa jenuh tapi Tama hanya menjawab.


" Lakukan saja apa yang Ayah perintahkan, suatu hari nanti kamu juga akan tau, dan ini semua adalah untuk kebaikan kamu sendiri "


Raka tak meriah menanyakan lagi setelah beberapa kali ia hanya mendapatkan jawaban yang sama.


Tapi sekarang semua pertanyaannya sudah mendapat jawabannya, ternyata inilah tujuan Tama menggemblengnya dari kecil.


Raka tak bisa membayangkan bagaimana dirinya saat ini jika dia tak menuruti Ayahnya.


Mungkin dia sudah menyerah atau bahkan mati sebelum berperang.


Raka menghidupkan komputer di hadapan nya, lalu menyalakan semua monitor yang memenuhi dinding di hadapannya.


Raka terlihat sibuk dengan komputer dan monitor yang berada di ruangan itu, matanya terus fokus dengan jari tangannya sibuk mengetik di atas keyboard.


Sesekali ia berhenti untuk membaca informasi yang ia temukan atau mengingat pelajaran dari Tama yang sepertinya sedikit terlupakan olehnya.


Raka memang bukan hanya ingin berkunjung saja, tapi ia mempunyai maksud lain di balik alasannya itu.


Raka tau pasti kalau Ayahnya menyimpan semua data-data penting menyangkut semua masalahnya di sini.


Hanya saja Raka belum tau di mana persis nya Tama menyimpan semua itu, dan itu akan menjadi tugasnya sekarang.


Satu jam berlalu Raka belum bisa menemukan apa yang ia cari, tapi ia juga menemukan beberapa hal yang sangat mengejutkan di sana.


Mulai dari semua data tentang perusahaan dan markas yang Tama bentuk dan ternyata selama ini Tama bahkan masih berhubungan dengan mafia tempatnya berlatih dulu.


Semua itu Raka dapatkan dari segala informasi yang Tama simpan rapat di komputernya.


Bahkan Tama sudah merasakan ada seseorang yang selalu mengatasinya beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi, dan Tama juga sudah mencurigakan seseorang.


Menarik napas panjang lalu menghembuskan nya kasar, meredam keterkejutan yang sedang ia rasakan.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuat Raka langsung mematikan sistem yang ada di dalam komputernya dan seketika itu semua layar monitor di ruangan itu mati.


Raka beranjak dari kursi, berjalan keluar, mengunci kembali pintu lalu kemudian membuka pintu kamar.


" Ka, makan malamnya udah dateng "


Joni berdiri di luar pintu kamar.


" Kalau gitu, ayo kita turun kebetulan aku juga udah laper nih " ucap Raka keluar dari kamar kedua orang tuanya itu lalu menutup dan mengunci kembali pintunya.


Selama ini kamar Raka dan kamar utama selalu di kunci, jadi hanya Raka yang bisa masuk dan keluar dari sana.


Joni hanya masuk seminggu sekali untuk membersihkan dan itu juga harus atas perintah Raka.


Joni juga selalu meminta ijin dulu sebelum masuk ke kamar itu.


" Wah... kayak nya enak nih " seru Raka dengan mata berbinar melihat makanan yang ada di depannya.


Itu bukanlah makanan mewah yang biasa ia makan, hanya masakan sederhana yang di beli dari warung padang langganan nya dulu, lengkap dengan sambal dan daun singkong rebus.


" Maaf bang lama, ngantri dulu tadi " ucap Rendi yang baru saja keluar dari kamar mandi di dekat dapur.


" Gak papa kok Ren, santai aja " jawab Raka sambil mencuci tangan di wastafel.


Raka langsung duduk lesehan di atas karpet setelah mencuci tangannya.


" Makanan gini doang loe heboh bener Ka.! pasti kan setiap hari loe makan yang lebih enak dari ini, iya kan.?" tanya Mpok Isah sambil menyiapkan makanan untuk Raka.


" Justru yang begini yang bikin kangen Pok " jawab Raka menerima piring yang sudah berisi nasi dengan lauk rendang dan di gugur dengan kuah tunjang, tidak lupa di pinggirnya ada daun singkong rebus dan sambal ijo.


Itu adalah menu kesukaan Raka bila sedang makan nasi padang.


Mpok Isah sudah tau betul kesukaan Raka.


" Makasih Pok " ucapnya lagi.


" Orang kaya emang beda ya " ucap Joni melihat Raka aneh.


Raka hanya tersenyum lalu mulai makan dengan menggunakan tangan.


Mereka makan bersama dengan duduk melingakar di atas karpet di ruang keluarga.


Bukan karena di rumah itu tidak ada meja makan, tapi Raka memang lebih suka makan lesehan seperti itu di bandingkan di meja makan.


Inilah sisi lain Raka yang bahkan Kakek dan Leo pun tidak tau.


Hanya orang-orang yang bersamanya sebelum menjadi seorang Presdir lah yang tau itu.


.


.


...TBC...


...Jangan lupa like, coment dan votenya ya......


...Dukungan kalian sangat berarti untuk saya, agar lebih semangat lagi......


...Terimakasih🙏😊😘...

__ADS_1


__ADS_2