
Raka terus berjalan menuju sebuah lorong di salah satu sudut rumah, tatapan Raka terkunci pada pintu yang terletak di ujung lorong dan di jaga oleh dua orang ber wajah seram.
Kedua orang yang berjaga di depan pintu terlihat mengangguk pada orang yang tadi menjemputnya.
" Masuklah " ucap orang yang sejak tadi mengawalnya.
.
Di dalam ruangan Keyra beberapa waktu lalu.
" Si*lan..! Brengsek...!" umpat Keyra setelah ketika melihat pintu ruangannya tertutup.
Keyra mengeluarkan kedua tangannya yang sebenarnya sejak tadi sudah bisa terlepas dari ikatannya.
Mengibaskannya beberapa kali merasakan sedikit perih dan sedikit kebas, mungkin karena ada beberapa luka bekas gesekan dan tangannya sudah di ikat sejak semalam.
Lalu ia langsung melepas ikatan di kakinya.
Turun dari ranjang lalu berjalan menuju ke salah satu dinding yang di atasnya ada lubang angin.
Menengadah melihat lubang angin itu dengan alis yang berkerut.
Beralih melihat ke seluruh ruangan itu mencari cara untuk bisa keluar melewati lubang itu.
Mengambil kursi satu-satunya yang berada di samping ranjang, lalu menaikainya, tapi Itu belum cukup untuk bisa membantunya keluar.
Berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku nya sendiri...
" Berpikir Key berpikir "gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Keyra mengalihkan pandangannya pada pintu saat ia mendengar ada langkah kaki mendekat dan itu bukan hanya satu orang.
Tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan seorang lelaki berkulit putih dengan dua orang lelaki lainnya yang masuk setelah nya.
Keyra mematung melebarkan matanya, melihat siapa yang sekarang sedang tersenyum penuh arti padanya.
" Rion " gumam keyra beringsut ke belakang.
Sekarang Keyra sudah berada di atas Ranjang lagi dengan kaki dan tangan terikat seperti tadi.
" Ada apa sayang? " ucap Lelaki tadi yang ternyata Rion, duduk di kursi. Sedangkan kedua lelaki di belakangnya memilih berdiri di dekat pintu.
" Jadi ini semua ulah loe hah?! Mau ngapain loe bawa gue ke sini ?!" teriak Keyra pada Rion.
" Ini karena kamu selalu menolak ku sayang, jadi jangan salahkan aku kalau sekarang aku memaksamu, karena aku tak suka penolakan " lirih Rion mengelus pipi Keyra dengan punggung jarinya.
Keyra membuang muka, menghindari sentuhan dari tangan Rion.
Ia tak menyangka kalau Rion bisa melakukan hal nekat seperti ini hanya karena ia menolaknya.
" Heh, sampai kapan pun gue gak bakalan mau pacaran sama loe, brengsek !" sarkas Keyra, menatap tajam dan penuh kebencian pada Rion.
" Hahaha..... ini yang aku suka darimu sayang " ucap Rion tertawa puas.
" Dasar gila !" umpat Keyra.
" Oh sayang, saat ini kau bukan dalam posisi untuk bisa melawanku bahkan kau tak memiliki pilihan, selain menuruti semua kemauan ku " Rion mengerinyai menatap penuh damba pada Keyra.
__ADS_1
" Gue gak bakal sudi jadi pacar loe " tajam Keyra.
Rion tampak tersulut emosi mendengar ucapan Keyra, ia mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang sudah sampai ubun-ubun.
Bisa-bisanya gadis ini masih saja menolaknya walau dalam situasi seperti ini, sedangkan di luar sana banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya.
Kalau saja ia tak membutuhkannya untuk menjebak Raka ia tak akan segan untuk langsung memberikan pelajaran pada gadis yang sudah berani menolaknya ini.
Lagi pula ia juga tak akan membiarkan kulit putih mulus milik gadis manis di hadapannya ini terluka sampai ia sendiri bisa memilikinya.
Entah mengapa ada perasaan aneh yang seakan menyuruhnya untuk tak melukai gadis ini.
" Kau tidak akan bisa menolak ku setelah ini sayang " Rion membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah Keyra.
Keyra langsung membuang muka menghindari Rion.
Rion mengcup pipi mulus Keyra kemudian tersenyum penuh arti lalu kembali berdiri tegak, berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu di ikuti oleh dua lelaki yang tadi ikut bersamanya.
" Rion Brengsek !! Bajing*n ! Gil* ! Aaaaaa Si*lan " teriak Keyra murka.
Keyra langsung mengusap pipi yang ada bekas bibir Rion dengan kasar dengan napas yang memburu menahan gejolak emosi dalam dirinya. Ia merasa jijik dan kotor karena selama ini tak ada lelaki lain yang pernah berbuat seperti itu selain Daniel dan Dion.
.
Raka membuka pintu perlahan penuh dengan kewaspadaan.
" Key " panggilnya menyapu seluruh pandangannya pada seluruh ruangan yang ternyata kosong. Ia tak menemukan seorang pun di sini.
Raka dengan sigap langsung berbalik dan menahan pintu yang sudah mau tertutup.
Ia sudah menduga semua ini akan terjadi, jadi dia lebih siap untuk menghadapi situasi seperti ini.
Raka langsung menghadapi ke empat orang itu yang tiba-tiba menyerangnya dengan brutal.
Menghindar sekaligus menyerang secara bersamaan di tempat yang cukup membatasi pergerakannya.
Membuat Raka agak ke sulitan menghadapi mereka, tapi tak mengurangi ke lincahannya dalam bertarung.
Beberapa kali Raka terkena serangan di perut dan juga punggungnya yang membuat Raka merasakan cukup ngilu di luka yang sekarang ia derita.
Tapi...
Hanya dalam waktu beberapa menit saja mereka ber empat sudah mulai lemah dan tak bisa untuk menyerang Raka lagi dengan berbagai luka parah di seluruh tubuh mereka. Sedangkan Raka masih berdiri tegak tanpa luka berarti di tubuhnya.
Beberapa saat setelah itu para orang yang berada di rumah itu ikut menghampiri mereka dan kembali menyerang Raka ketika mendengar suara perkelahian dan melihat ke empat teman mereka sudah tak bisa berjalan lagi.
Raka terus bergerak melawan orang-orang yang baru saja datang dan langsung menyerangnya.
Ada sekitar lima orang lagi yang harus Raka kalahkan kali ini.
Krakh....
Brugh....
Suara tulang patah yang membuat siapa saja yang mendengar meringis ngilu, di susulan dengan suara orang berjatuhan.
Raka mengerinyai melihat sembilan orang yang sekarang sudah terkapar dengan berbagai macam luka di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Raka hendak berbalik ketika sudut matanya menangkap ada pergerakan dari salah satu orang yang telah dia kalahkan.
Dor....
Raka meringis merasakan sakit bercampur panas di bahunya.
Untung saja ia dapat segera menghindar hingga peluru yang di lepaskan salah satu lawannya hanya menyerempet bahunya.
Bila ia tidak segera menghindar mungkin peluru itu sekarang udah bersarang di punggungnya.
Raka langsung menghampiri orang yang telah menembak nya dan mengambil senjata yang ada di tangannya, kemudian memeriksa mereka semua, mengambil beberapa senjata yang ia butuhkan dan mengeluarkan peluru pada senjata yang ia biarkan.
" Baiklah, sekarang giliran aku yang bertindak " gumam Raka mengerinyai tipis sambil melangkah keluar dari lorong itu.
Duar....
Duar....
Terdengar suara ledakan di luar rumah, Raka langsung berdiri dan menyusuri seluruh rumah untuk mencari keberadaan Keyra.
Raka tak mengidahkan luka yang ada di bahunya, sekarang yang ada di pikirannya adalah segera menyelamatkan Keyra dan membawanya dari tempat ini.
Asap dari luar rumah mulai masuk ke membuat napas Raka terasa sesak dan pandangannya menjadi terganggu.
"KEY....!!"
" KEYRA...!"
Teriakan Raka menggema di seluruh rumah itu. berlari ke sana kemari memastikan tak ada satu ruangan pun yang ia lewatkan.
Mendobrak semua pintu yang ia lihat, tapi ia tak mendapat keberadaan keyra sama sekali.
" Sial!!" umpat Raka ketika mendengar suara mobil di depan.
Raka langsung berlari keluar rumah. Tapi langkahnya terlambat oleh kobaran api yang sudah membesar dan masuk ke dalam Rumah.
Raka langsung beralih pada jendela dan benar saja dari sana ia melihat dua mobil hitam pergi meninggalkan rumah itu dengan kecepatan yang tinggi.
Raka langsung mengambil salah satu kursi dan melemparnya pada jendela dengan api yang belum terlalu membesar.
BRAK....
PYAR...
suara pecahan jendela yang terbentur kursi.
Raka langsung melompat menembus api yang mulai membesar dengan tangan berada di atas kepala, untuk melindungi nya.
Raka mengalihkan pandangannya pada beberapa motor trail yang terparkir di halaman itu, ia langsung menaiki salah satu motor dan menjalankannya dengan kecepatan penuh, untuk segera menyusul kedua mobil itu, yang sudah menghilang.
Ia yakin tadi sempat melihat Keyra yang berada di gendong seseorang yang ia yakini adalah Rion dengan kondisi tidak sadarkan diri.
.
.
...TBC...
__ADS_1
...🙏...