Presdir Kutu Buku

Presdir Kutu Buku
Eps.37 Lexi


__ADS_3

Di negara tetangga tepatnya di negara Singapura, Lexi baru saja tiba di mansion bersama istri tercintanya.


" Selamat datang Tuan Lexi" ucap Baron yang sudah menunggu kedatangan Lexi sejak pagi.


" Hem" jawabnya tidak suka.


Lexi sudah tau apa maksud dari Baron menemui nya.


Walaupun ia sedang tidak ada di tempat tapi ia masih bisa mengetahui informasi yang terjadi.


" Suruh dia menunggumu di markas" perintah Lexi pada asisten pribadinya.


" Baik Tuan"


Lelaki tua yang masih terlihat gagah itu berjalan masuk mengikuti istrinya yang sudah berjalan terlebih dahulu.


" Kakek!!" seru Divanka -cucu perempuan Lexi- berlari memeluk Kakek kesayangan nya yang baru saja sampai setelah seminggu tidak bertemu.


" Diva kangen" ucapnya manja masih dalam pelukan hangat Lexi.


" Kakek juga kangen sekali dengan cucu Kakek yang manja ini" Lexi menguraikan pelukannya dan menoel hidung mancung cucu kesayangnannya itu.


" Kakek tidak lupa bawa pesanan Diva kan?" tanya Diva bergelayut manja di tangan Lexi sambil berjalan ber-iringan ke ruang keluarga.


" Hem.. Pesanan apa ya?" Lexi berpura-pura berpikir keras.


" Iiiihh... Kakek, masa Kakek lupa pesanan Diva?!" rajuk Diva memajukan bibirnya.


" Hahaha... Ada sayang, tuh di dalam koper" Lexi mengusap lembut rambut Diva.


" Kakek memang the best" ucap Diva mengacung kan kedua jempol tangannya.


" Kakeknya siap dong??" godaan Lexi.


" Yang pasti Kakek kesayangan nya Diva" Diva berjinjit mencium pipi Lexi sekilas lalu berlari mengambil koper yang di tunjuk Lexi tadi.


Lexi tersenyum hangat melihat tingkah cucu perempuan satu-satunya itu.


Walaupun usianya sudah 17 tahun tapi kelakuan nya masih saja manja.


Mungkin karena kedua kakak laki-lakinya juga sangat memanjakannya.


Seluruh keluarga Lexi memang tidak ada yang mengetahui sisi hitam Lexi dan juga perusahaan ilegal yang ia dirikan di bawah tanah.


Mereka hanya mengenal sosok seorang Roxi Wijaya, yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang, tanpa tau sisi lain di dalam dirinya.


Lexi begitu pandai menyembunyikan sisi kejam nya dari seluruh keluarganya hingga tidak ada satupun dari mereka yang curiga.


.


.


Sementara itu di kantor DWGrup...


" Ka, gue dapat kabar kalau Baron sudah terbang ke Singapura sejak kemarin" lapor Leo pada Raka di ruangan nya.


Rasa mengangguk, " Itu berarti Tuan Lexi sudah kembali dari liburannya"


" Benar, Tuan Lexi baru saja pulang siang ini"


" Baiklah, berarti kita harus lebih waspada lagi mulai sekarang. Mereka bisa kapan saja menyerang kita" ucap Raka.


" Apalagi sekarang Tuan Lexi apabila ikut bertindak"

__ADS_1


" Iya, Gue akan menambah pengawal bayangan untuk loe dan Tuan besar " ucap Leo.


" Tambahkan juga pengawal yang mengawasi Keyra, Rion bisa saja memanfaatkannya karena kedekatan kita "


" Oiya orang tua dan adek loe juga, gue gak mau mereka sampai ikut terbawa dalam masalah ini "ucap Raka memberi perintah pada Leo.


" Oke,gue akan langsung sampaikan pada Om Alex dan terimakasih karena loe udah perhatian sama keluarga gue"


Leo tak menyangka Raka bisa memikirkan keluarganya.


" Keluarga loe keluarga gue juga kan? Jadi udah kewajiban gue memastikan keselamatan mereka semua" ucap Raka tulus.


Leo bersyukur bisa bekerja dengan Raka, walaupun usianya lebih muda darinya. Tapi pemikirannya bahkan jauh lebih dewasa dari usianya dan Raka juga sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya.


" Kalo gitu gue balik ke ruangan dulu" pamit Leo membungkuk hormat sebelum berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan.


" Sialan loe" umpat Raka melempar pulpen pada Leo.


Ia memang tidak suka Leo berbuat seperti itu, saat mereka hanya berdua atau di luar urusan pekerjaan.


" Hahaha..." tawa Leo pecah karena sudah berhasil menggoda Raka.


Raka hanya mendengus mendengar tawa Leo dari balik pintu. Kemudian memilih meneruskan pekerjaannya yang terjeda karena kedatangan Leo.


.


.


Dor...dor...dor....


Suara tembakan beruntun yang memekakan telinga terdengar menggema di dalam markas Alex.


Raka, Leo, dan Alex sedang berlatih menggunakan senjata bersama, sedangkan Dito hanya menonton bersama para pengawal yang lainnya dari pinggir lapangan tembak bawah tanah yang di desain langsung oleh Tama.


Jelas saja mereka bertiga langsung menghampiri bos nya itu tanpa tau apa yang akan di perintahkan pada mereka bertiga.


" Ya, Tuan"


" Apa, Ka?"


ucap mereka bersamaan.


Raka tersenyum mencurigakan saat melihat ketiga orang yang ia panggil sudah berada di sampingnya.


Dito sudah merasa ada yang akan terjadi padanya begituan dengan Arman dan Kei.


Sedangkan Leo dan Alex hanya memperhatikan Raka yang mau mengerjai ketiga bawahan dan sahabatnya itu.


" Kalian bertiga ambil buah apel itu dan berdiri di sana" tunjuk Raka pada buah apel yang berada di meja lalu pada tempat sasaran tembak.


" Ka, loe jangan becanda, gue masih mau hidup" ucap Dito dengan wajah yang sedikit pucat.


Sedangkan Arman dan Kei hanya diam tak berani melawan perintah Raka walau dalam hati mereka menjerit memohon agar tak jadi sasaran ke-jahilan Raka.


" Juara satu karate masa' takut heh" ledek Raka tersenyum miring.


" Sialan loe ya, teman lak nat" umpat Dito kesal.


" Sudah jangan banyak mengeluh, cepat berdiri di sana, kalian juga" Raka melihat kepada Arman dan Kei.


Akhirnya dengan terpaksa mereka mengambil buah apel dan berdiri di sasaran tembok dengan dua apel di tangan masing-masing.


" Dani tolong ambilkan tiga buah apel lagi dan taruh di atas kepala mereka" perintah Raka lagi pada salah satu pengawal di sana.

__ADS_1


Dani langsung melaksanakan perintah Raka.


Raka tersenyum melihat Dito yang terus mengumpatnya, kedua satu tangannya sudah siap mengarahkan senjata api ke arah mereka bertiga.


Sedangkan Emran dan Kei berdiri ragu-ragu dengan mata tertutup rapat, bersiap untuk menerima tembakan darinya.


Dan....


Dor...Dor...dor...


Dor...dor...dor...


Dor...dor...dor...


Raka menembak beruntun semua buah yang ada di tubuh ketiga orang di depannya dengan mulus tanpa melesat sedikit pun.


" Fyuh" Raka meniup ujung Sig Pro Sauer miliknya. Tersenyum senang saat melihat ketiga orang yang dia kerjai terkapar di lantai dengan nafas memburu.


Dito, Arman, dan Kei langsung merosot dan duduk lemas di lantai sesaat setelah Raka menyelesaikan tembakannya.


Kaki mereka sudah tidak mempunyai tenaga lagi, bahkan tubuh mereka bergetar saking gugupnya.


Jangan tanyakan lagi muka mereka yang sudah sangat pucat seperti tak ada darah lagi di dalamnya.


" Bos gil*" umpat Dito yang tanpa sadar di angguki oleh Arman dan Kei.


" Sorry" ucap Raka mengulurkan tangannya di hadapan Dito.


Dito hanya mendengus kesal tapi tangannya menyambut tangan Raka dan bangun dengan bantuan Raka.


" Terimakasih...Kalian boleh istirahat" ucap Raka pada Arman dan Kei.


" Baik Tuan muda" ucap mereka serempak lalu pergi meninggalkan lapangan itu.


Selesai dengan latihan menembak mereka berkumpul di ruang rapat untuk mengatur strategi menghadapi Lexi.


Walaupun mereka belum tau kapan mereka akan ber-aksi, tapi setidaknya mereka sudah mempunyai beberapa rencana untuk melawan mereka.


Raka juga menyuruh Alex untuk menyelidiki tentang adiknya Lexi dan kecelakaan yang menimpanya.


Ia berharap bisa mengakhiri salah paham ini tanpa adanya korban.


Alex tentu saja aja setuju dan akan berusaha untuk menemukan bukti-bukti bahwa Raksa tidak bersalah dalam kejadian itu.


Raka juga meminta Alex untuk menyelidiki kembali tentang kecelakaan kedua orang tuanya.


Mengingat apa yang di katakan Kakek Reksa tadi malam, Raka takut kalau kecelakaan yang di alami oleh Ayah dan Bunda nya bukanlah kecelakaan biasa.


Semua orang di ruangan itu seperti lupa waktu bila sudah berdiskusi.


Mereka bahkan tidak sadar kalau waktu sudah beranjak semakin malam.


Hingga....


Jam 10 malam mereka semua baru saja keluar dari ruang rapat dan memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


.


.


...TBC...


...Jangan lupa like,coment dan votenya ya......

__ADS_1


...Terimakasih 🙏😊😘...


__ADS_2