
" Bagaimana hasil penyelidikan nya Om?" tanya Raka.
Saat ini Raka sedang berada di markas bersama dengan Alex.
Sudah seminggu dari kejadian penyerangan itu dan Raka maupun Alex belum melihat tanda-tanda kalau Lexi akan kembali menyerang.
" Sepertinya ada yang janggal dari kecelakaan itu " ucap Alex memberikan berkas penyelidikan yang ia lakukan selama seminggu ini.
Raka menerimanya, membukanya dan membaca dengan teliti semua kata yang ada di dalam berkas laporan itu.
" Sepertinya ini memang bukan kecelakaan biasa, tapi kenapa kasus ini di tutup begitu saja tanpa ada penyelidikan menyeluruh?" Raka menautkan kedua alis nya.
" Saya curiga kalau ini memang sengaja di tutupi oleh seseorang "
Raka mengangguk samar membenarkan perkataan Alex.
" Sepertinya kita harus bekerja lebih keras lagi untuk menyelidiki kasus ini " gumam Raka.
" Iya, sepertinya di sini ada peran orang ke tiga yang menjadi penyebab kesalahpahaman antara Tuan Lexi dan Tuan Reksa " ucap Alex.
" Hm... segala kemungkinan bisa saja terjadi bila kita belum menemukan titik terang dalam masalah ini.... Apalagi kejadian ini terjadi sudah sangat lama, dan mungkin bukti-bukti nya sudah di lenyapkan oleh seseorang " ucap Raka datar.
.
.
" Selamat sore Bang Joni " sapa Raka saat ia baru saja sampai di depan toko milik kedua orangtuanya dulu.
Joni langsung menghentikan aktivitasnya yang sedang membereskan barang dagangan karena sebentar lagi mereka akan tutup.
" Ya ampun Raka, udah lama banget loe gak maen ke sini " ucap Joni langsung menghampiri Raka dengan mata berbinar semangat.
" Iya Bang maaf, Raka belum sempat nengokkin Abang " ucap Raka menyesal.
" Gak apa-apa Ka, gue ngerti kok, loe pasti sibuk banget sekarang " Joni menepuk pundak Raka bangga.
" Wah keren loe sekarang, makin ganteng aja pake baju kantoran kayak gini " ucapnya lagi melihat seluruh tubuh Raka.
Padahal hari ini Raka hanya memakai kemeja putih yang di gulung sampai ke siku dan celana bahan berwarna hitam.
Sedangkan dasi dan jasanya ia tinggalkan di mobil.
" Abang bisa aja hahaha... " ucap Raka di akhiri dengan tawanya.
" Eh tapi makasih pujiannya Bang " ucap Raka setelah meredakan tawanya.
" Lah emang bener kok. Iya kan Ren?!" tanya Joni sedikit meninggikan suaranya pada Rendi yang masih melayani pembeli.
Rendi menoleh melihat Raka.
" Dia tambah ganteng kan Ren?" tanya nya lagi meminta persetujuan Rendi.
Rendi mengacungkan satu jempol tangannya.
__ADS_1
" Iya Bang " jawab Rendi tersenyum.
" Hahaha.... Bener kan kata gue?" bangga Joni.
Raka hanya tertawa menanggapi gurauan Joni yang sudah dia anggap Abangnya sendiri.
" Eh, gue tutup toko dulu, nanti kita lanjutin di rumah ya " ucap Joni semangat.
" Sini Bang saya bantu beres-beres " Raka mengangkat dus air mineral di dekatnya.
" Eh, gak usah, loe diem aja, ini biar gue aja sama si Rendi yang beresin " Joni langsung mengambil dus di tangan Raka dan membawanya ke dalam toko.
" Iya, Bang Raka diem aja, masa Presdir perusahaan ikut bersin toko sih " Rendi ikut menimpali omongan Joni sambil mengambil wadah berisi telur.
" Gak papa kok Ren, Abang malah rindu bantu-bantu di toko " Raka tetap kekeh membantu, ia mengambil dus berisi kerupuk mentah lalu membawanya ke dalam.
" Ah loe, dah enak-enak tinggal duduk kerja di ruang ber'AC, masih aja kangen bantuin pasar gini. Di sini kan panas Ka, bau lagi " ucap Joni, sambil terus membereskan toko.
Raka gelang kepala sambil tersenyum, mereka belum tau saja bagaimana kerasnya hidup di balik jabatan yang ia pegang sekarang.
Kalau Raka boleh memilih mungkin Raka akan lebih memilih hidup sederhana seperti dulu.
Makan seadanya di rumah yang kecil, tapi kehidupannya penuh dengan kebahagiaan dan tanpa beban.
Bukan seperti sekarang, hidup penuh kemewahan tapi dengan beban yang sangat besar berada di pundaknya.
Tanggung jawab kepada para karyawan yang tidak sedikit jumlahnya, dan keluarga juga orang-orang di sekitarnya.
Membuat dirinya bahkan tak pernah merasakan nikmatnya tidur seperti dulu lagi.
" Ren tolong beliin Abang makanan ya buat kita bertiga " ucap Raka memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
" Beli apaan nih bang, kok banyak banget duitnya?" tanya Rendi bingung.
" Beliin nasi padang aja, sama cemilan buat nemenin kita ngopi " ucapnya lagi.
" Oke Bang " semangat Rendi mengambil motor supra yang dari dulu sudah menjadi alat angkut di toko.
Biasanya untuk mengantar barang pesanan pada langganan yang tidak bisa bawa barangnya langsung.
Raka dan Joni berjalan berdua menuju rumah Raka berasa kedua orang tuanya yang dulu dan sekarang di tempat oleh Joni dan Rendi.
Sepanjang jalan banyak yang menyapa Joni dan Raka. Bahkan ada orang yang tidak mengenali Raka yang sekarang seperti Mpok Isah tetangga di depan rumah Rendi.
" Jon, baru pulang loe?" tanya Mpok Isah dari teras rumahnya sambil menyapu.
" Iya nih Pok " jawab Joni, mengambil kunci rumah di saku nya.
" Bawa siapa loe Jon? Ganteng banget itu " tanya Mpok Isah lagi dengan jiwa emak-emak yang kepo parah.
" Buset dah Pok, masa gak kenal sih? Ini Raka Pok!" jawab Joni.
Raka tersenyum, ia sengaja dari tadi hanya diam.
__ADS_1
" Apa kabar Mpok Isah?" tanya Raka menyapa tetangga depan rumahnya itu sopan.
" Ya Allah...!!! Ini beneran si Raka?! Tambah ganteng aja loe Tong " Mpok Isah langsung melepaskan sapu di tangannya dan menghampiri Raka, memutar tubuh Raka dengan gaya heboh nya.
Raka hanya tertawa pasrah.
" Iya Mpok ini Raka, masa Mpok lupa " jawab Raka terkekeh lucu.
Mpok Isah adalah teman Bunda nya sewaktu masih hidup, ia tidak mempunyai anak dan suaminya juga meninggal tiga tahun yang lalu, dia juga suka ikut mengasuh Raka waktu Rak masih kecil, ketika Bunda dan Ayahnya harus bekerja di pasar.
Semenjak suaminya meninggal ia lebih memilih pulang kampung dan baru kembali beberapa bulan yang lalu.
Ia memang beras di Jakarta tapi ia masih memiliki kampung, dan untuk menghilangkan traumanya akibat kehilangan suaminya ia memilih menenangkan diri dulu di kampung.
" Astaga Raka, loe kemana aja?! Lama banget gue gak liat loe, tau-tau loe udah ganteng kaya gini" ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ia sudah menganggap Raka seperti anaknya sendiri, dan saat ia kembali dari kampung ia baru mendengar tentang kematian Tama dan Laras juga Raka yang ternyata sudah menemukan Kakeknya.
Awalnya ia marah pada Joni karena tidak memberi kabar pada nya saat orang tua Raka meninggal tapi setelah menerima penjelasan dari Joni ia juga bisa mengerti.
Saat itu Joni sudah mencoba menghubungi nya tapi karena kampungnya berada di pedalaman dan masih susah sinyal jadi telpon Joni selalu saja tak dapat tersambung.
Hingga akhirnya Joni lupa karena kesibukan nya mengurus Raka yang terpuruk saat itu, juga para pelanggan yang selalu bertanya kapan toko buka kembali.
" Raka juga kangen banget sama Mpok " ucap Raka memeluk ibu angkatnya itu hangat.
" Hiks... hiks... loe jahat banget ama Mpok, udah gak inget lagi loe yak ama gue?" ucapnya menangis dalam pelukan Raka.
" Maaf Pok, Raka sibuk dan baru bisa ke sini sekarang, nanti kalau Raka ada waktu kita jalan-jalan bareng ya " ucap Raka mengusap punggung Wanita paruh baya yang sangat menyayangi nya itu.
" Gue mah gak butuh di ajak jalan-jalan Raka, loe ke sini nengokin kita aja gue udah seneng banget. Bisa liat loe sehat, tambah sukses dan hidup bahagia aja udah buat gue bahagia" ucapnya melepas pelukannya, kedua tangannya memegang pundak Raka.
Tersenyum bangga walau masih ada air mata yang jatuh membawahi pipinya.
Raka mengangguk, tersenyum haru, ia mati-matian menahan airmata nya agar tak jatuh di hadapan ibu angkatnya itu.
Tangannya terangkat menghapus air mata yang masih saja mengalir di pipi Mpok Isah.
Joni tersenyum haru melihat kedekatan Raka dan Mpok Isah, mengusap ujung matanya yang terasa basah.
" Kita ngobrolnya di dalem aja yuk, gak enak itu di liatin orang " ucap Joni.
Raka melihat ke sekelilingnya, ternyata benar saja sudah banyak tetangga melihat mereka di sana yang mungkin tadi mendengar suara heboh dari Mpok Isah.
" Ayo Pok " Raka merangkul Mpok Isah yang sekarang tingginya bahkan hanya sebatas dadanya saja, masuk ke dalam rumah.
.
.
...TBC...
...Jangan lupa like, coment dan votenya ya......
__ADS_1
...Terimakasih...🙏😊😘...