
Lexi melebarkan matanya, saat ini ia berada di belakang tubuh Raka yang menariknya dan langsung merebut senjata di tangannya dalam sekali gerakan cepat tak terduga.
Jantung Lexsi berpacu cepat, kalau saja tadi Raka tak mendorong ya mungkin saat ini dirinya sudah tak bernyawa lagi karena peliru yang bersarang di dadanya.
Alex dan Leo yang baru saja datang, mematung melihat kejadian di depan mata mereka.
Saat ini Raka tengah melindungi Lexi di belakangnya dengan senjata Lexi di tangannya dan di pintu masuk terlihat ada empat orang lelaki yang sedang mengacungkan senjatanya pada Raka dan Lexi.
Dengan sigap Leo, dan Alex langsung menghampiri Raka dengan tetap bersiaga, mereka mengambil senjata dari tubuh anak buah Lexi yang sudah tak sadarkan diri.
" Anda tidak apa-apa Tuan ?" tanya Leo setelah berada di samping Raka.
Raka mengerinyai, ia sudah menebak kalau semua ini adalah jebakan dari Baron dan Rion, dan sekarang semua itu benar terjadi.
Baron, Rion, Kenzi dan Bimo telah berada di hadapannya dan dengan santainya mereka menyerang Lexi, orang yang telah banyak membantu mereka sekaligus terhasut oleh semua tipu muslihat orang-orang serakah di hadapnnya.
Lexi terlihat marah, ia mengepalkan tangannya saat melihat siapa yang tadi berusaha menembaknya.
" Anda terluka Tuan muda !" seru Alex melihat luka gores di bahu kiri Raka.
Leo dan Lexi langsung mengalihkan pandangannya mereka pada bahu kiri Raka yang terlihat mengeluarkan darah.
Ya... peluru yang seharusnya mengenai Lexi memang berhasil menyermpet bahu kirinya, tapi seperti biasa Raka, tak akan merasakan apapun sebelum masalah yang di hadapinya selesai.
Lexi terkejut melihat darah di bahu Raka, ia tak menyangka kalau Raka akan menyelamatkan nya, padahal disini dia adalah musuh Raka.
Raka tak merespon kekhawatiran dari para bawahannya dan juga Lexi, ia terus menatap tajam ke empat pria yang masih berdiri di ambang pintu.
" Cih..! Sok pahlawan..!" cibir Rion memandang penuh kebencian pada Raka.
" Kenapa kalian malah menembakku hah..?!" teriak Lexi murka.
" Hahaha... dasar Kakek tua bodoh, merebut perusahaan mereka saja kau selalu gagal..!" cibir Baron tersenyum miring.
" Apa ?! Beraninya Kau..! Kau bahkan lebih bodoh dariku, Kau bahkan sudah berada di jalanan jika aku tak membantumu...!
" BRENGSEK...!!!" teriak Lexi bergerak maju ingin menyerang Baron.
" Jaga emosimu Kek " desis Raka menahan tangan Lexi.
Lexi cepat melihat Raka yang berada di sampingnya dengan tidak terima.
" Berani sekali anak muda ini memberikan instruksi padanku " umpat Lexi dalam hati, tidak terima.
" Percayalah..." ucap Raka pelan, menatap mata Lexi meyakinkan.
Akhirnya Lexi mengalah, ia mundur kembali.
Raka memberikan kode pada Alex untuk membawa Lexi pergi dari tempat itu.
Lexi yang tau kode dari Raka, langsung menganggukan kepalanya.
" Ikutlah bersama saya " ucap Alex pelan kepada Lexi.
" Kalau Kakek ingin tau semuanya kebenarannya, maka ikutilah bersama dengannya " ucap Raka yang tau Lexi sedang memandangnya.
Lexi terlihat ragu tapi ia memilih untuk mengikuti Alex.
__ADS_1
" Musuh kalian adalah aku bukan dia, jadi kita selesaikan sekarang " ucap Raka dengan tatapan tajamnya.
" Apa mau kalian ?" tanya Raka lagi.
" Heh, jangan terlalu percaya diri kau !" sentak Rion geram.
Keempat lelaki itu berdiri dengan percaya diri, karena sekarang mereka menang jumlah, Raka hanya dua orang sedangkan mereka ber empat.
" Aku ingin kau menyerahkan semua kekayaan keluarga Wiratmadja padaku...!" jawab Baron lantang.
" Apa hak kalian, meminta harta milik Kakekku ?" ejek Raka bersidekap dada santai, sambil memainkan senjata di tangannya.
" Karna semua itu adalah hak milikku yang telah Kakekmu rebut "
" Apa kalian tidak salah ? Kau lupa siapa ayah mu hah ?!"
Raka masih mempermainkan emosi Baron.
" Tau apa kau tentang Ayahku? Kau hanya anak kemarin sore yang tak tau apa-apa!!" teriak Baron murka.
" Aku tau semuanya bahkan lebih tau dibandingkan dirimu sendiri " ucap Raka percaya diri.
" Ayahmu hanyalah anak angkat dari Kakek buyutku agar Kakekku tidak kesepian karena tak mempunyai sodara " jelas Raka dengan nada jenaka sedikit mengejek.
" Jadi tidak usah bermimpi untuk mendapatkan semua harta milik Kakekku, masih untung Ayahmu masih di beri warisan oleh Kakek buyutku. Tapi sekarang kau malah melunjak dan menginginkan yang lebih... " Raka menjeda kata-katanya.
" Dasar manusia Tamak.....Serakah... " umpat Raka dengan suara rendah penuh penekanan.
" KURANG AJAR... BERANINYA KAU BICARA SEPERTI ITU DI DEPANKU !!" murka Baron mengacungkan senjatanya pada Raka.
DOR...
Baron meringis menahan sakit pada lengan kanannya, yang tertembus peluru dari senjata yang di pegang Raka.
" SIALAN... SERANG MEREKA... CEPAAAT...!!" teriak Baron pada Rion, Kenzi dan Bimo.
" BERHENTI....!!"
Tiba-tiba dari arah halaman depan berdatangan banyak lelaki berseragam kepolisian lengkap dengan senjata yang mengarah pada Baron, Rion, Kenzi dan Bimo.
" ANGKAT TANGAN..." ucap salah satu polisi yang tak lain adalah Santos-teman baik Tama.
Baron, Rion, Kenzi dan Bimo langsung di tangkap oleh para polisi tersebut dan di giring menuju mobil.
" Terima kasih, Om sudah mau membantu saya lagi " ucap Raka berjabat tangan dengan Santos.
" Sama-sama, jangan sungkan untuk meminta tolong pada Om, Om akan dengan senang hati membantumu...!" jawab Santos menepuk pundak Raka.
" Iya Om " ucap Raka tersenyum hangat.
" Baiklah kalau begitu Om pamit dulu " ucap Santos lagi yang langsung di angguki oleh Raka.
Raka menghembuskan napas nya lega, membagi pandangannya pada seluruh isi rumah yang sudah hancur berantakan.
Raka membalikkan badannya berjalan menuju ke belakang rumah, di ikuti oleh Leo.
" Bereskan semua kekacauan ini " perintah Raka di sela langkahnya.
__ADS_1
" Siap Tuan Muda " ucap Leo sambil menghubungi para pengawal yang sedang menuju Jakarta.
Raka berjalan menuju sebuah gazebo di taman belakang, ia menekan salah satu tombol yang tersembunyi di balik sebuah pot gantung, dan seketika meja di tengah gazebo itu terbelah, lalu nampaklah sebuah tangga yang mengarah ke bawah tanah.
Raka dan Leo melangkah menyusuri tangga tersebut, melewati lorong yang lumayan panjang, sebelum sampai di sebuah pintu besar dari kayu yang berhias ukiran kuno.
Raka berdiri di sebuah sensor yang akan secara langsung memindai siapa saja yang berdiri di sana.
Setelah itu pintu terbuka dengan otomatis.
Raka melihat di sana sudah ada dua orang lelaki tua, satu orang lelaki paruh baya dan satu orang perempuan muda, mereka sedang duduk di atas kursi di tengah ruangan.
Melihat pintu terbuka semua orang di sana langsung mengalihkan pandangannya pada kedatangan Raka dan Leo.
" Raka kau tidak apa-apa nak ?" panik Reksa langsung berjalan menghampiri Raka.
Reksa melihat seluruh tubuh Raka dengan sangat teliti.
" Astaga.. Kau terluka..!" heboh Reksa melihat darah yang sudah mulai mengering di bahu kiri Raka.
" Alex segera obati anak ini..!" teriak Reksa membawa Raka untuk duduk di kursinya tadi.
" Aku tidak apa-apa Kek " lembut Raka menarik Kakeknya untuk ikut duduk di sebelahnya.
" Om Alex, sudah menjalankan apa yang aku perintahkan?" tanya Raka melihat Alex.
" Sudah Tuan Muda, semuanya sudah saya jalankan sesuai perintah anda " jawab Alex formal.
Raka mengangguk senang, jadi sekarang sudah tidak ada lagi kesalah pahaman yang terjadi pada Reksa dan Lexi.
" Iya kita sudah mengetahui semuanya.. Dasar cucu kurang ajar, kau melakukan hal sebesar ini tanpa memberi tahu Kakek, kau tau betapa khawatirnya aku hah...!" sifat cerewet Reksa mulai kambuh lagi.
Bila sedang berada di dekat Raka, Reksa lebih mirip nenek-nenek daripada Kakek-Kakek.
.
.
Flash back....
" Loe udah siapakan semuanya?" tanya Raka di sela langkahnya.
" Semua sudah siap sesuai perintah !" jawab Leo tegas.
" Bagus... " ucap Raka puas.
Mereka sudah sampai di lapangan tempat helikopter yang di siapkan Leo bersiap, Raka dan Leo segera masuk dan tak lama kemudian helikopter itupun terbang menuju ke kediaman Wiratmadja.
Raka, Leo dan Alex sudah menyiapkan semuanya, mereka sudah tau apa yang di rencanakan oleh Lexi.
Kekacauan di tempat family gathering hanyalah salah satu siasat mereka untuk mengelabuhi Raka, agar Raka pergi dari jakarta dan penjagaan pada Reksa berkurang.
Raka mencoba mengikuti rencana Lexi, tapi di balik itu Raka juga sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang.
.
.
__ADS_1
...TBC...
...🙏😊😘...