
Jam 1 malam Raka baru saja keluar dari gang dekat pasar setelah mendapatkan informasi yang ia inginkan.
Ia berjalan berdua bersama dengan Joni yang bersi keras mengantar nya sampai ke mobil.
Sebuah mobil BMW hitam sudah terparkir apik di sana dengan Leo berdiri di sampingnya.
Para pengawalnya langsung berdiri berjajar di samping mobil ketika melihat Tuan muda mereka datang.
Raka memang sengaja tidak mengizinkan mereka untuk ikut ke dalam tadi sore, ia tak mau membuat geger para tetangga nya bila dia datang dengan pengawasan ketat seperti biasa.
" Selamat malam Tuan muda " ucap mereka serempak, membungkukkan badannya.
" Malam " jawab Raka mengangguk sedikit.
" Bang, saya pulang dulu, terimakasih sudah menjaga amanat dari Ayah dan Bunda " ucap Raka.
" Itu memang udah kewajiban gue Ka, harusnya gue yang makasih sama loe. Karena loe udah percaya sama gue untuk mengurus toko dan rumah " jawab Joni.
Raka tersenyum, ber pelukan sebentar sebelum Raka masuk ke dalam mobil setelah salah satu pengawal nya membukakan pintu.
" Bagaimana Ka, apa kamu mendapatkan sesuatu di sana.?" tanya Leo setelah mobil yang mereka tumpangi berjalan menjauh dari lokasi.
Raka mengangguk samar, " Nanti kita bicarakan bersama di markas " ucap Raka.
Leo melirik Raka sekilas lalu kembali fokus pada jalanan yang mereka lewati.
Mobil BMW itu melesat dengan kecepatan tinggi di tengah malam yang sedikit berkabut, karena tadi sore turun hujan.
Sekarang tujuan mereka bukanlah kediaman Wiratmadja tapi mereka menuju markas Alex.
Leo memangkas waktu perjalanan yang seharusnya satu jam lebih, kini mereka sudah berada di depan gerbang utama setelah berkendara selama 45 menit.
Alex sudah bersiap menyambut Tuan muda nya di depan pintu utama.
" Selamat malam Tuan muda " sapa Alex bersama beberapa anak buahnya.
" Malam " jawab Raka.
Melangkah masuk bersama Leo dan Alex, sementara semua pengawal ia suruh istirahat lebih dulu.
" Hanya ini yang aku temukan " ucap Raka menyerahkan Flash disk pada Leo.
Saat ini mereka berada di ruang kerja Alex.
Leo langsung memasang Flash disk ke dalam laptop di meja dan menyambungkannya pada layar monitor yang lebih besar di depan mereka.
Raka dan Alex duduk di sofa, memperhatikan apa yang tertera di layar monitor itu.
Sekitar 30 menit layar di hadapan mereka akhirnya mati menandakan semua informasi itu sudah selesai di tampilkan.
Leo menegakkan badannya, melihat Raka dan Alex bergantian.
Wajahnya dengan jelas menampilkan raut keterkejutan, begitu juga dengan Alex.
" Ternyata mereka semua memang keluarga yang serakah dan tak tau diri " gumam Alex pelan tapi masih cukup terdengar jelas di telinga Raka dan Leo.
.
__ADS_1
.
Siang hari ini cuaca sedikit berawan, mungkin memang sudah waktunya masuk pada musim penghujan.
Raka masih sibuk dengan setumpuk dokumen yang ada di meja nya.
Walaupun setiap hari di kerjakan, bukannya berkurang tapi berkas-berkas itu sepertinya malah semakin bertambah.
Dito masuk setelah mengetuk pintu.
" Ini Dokumen untuk bahan rapat setengah jam lagi " ucap Dito menyodorkan map berwarna hijau pada Raka.
" Baiklah, setengah jam lagi tolong ingatkan saya " jawab Raka mengambil dokumen itu, kemudian ia periksa dengan seksama.
" Baik Tuan, saya permisi " ucap Dito.
Raka hanya mengangguk samar, ia sebenarnya kurang suka dengan sikap Ditto dan Leo ketika di kantor dan dalam mode serius seperti itu.
Tapi itu semua sudah kemauan mereka sendiri dan Raka juga tidak bisa membantah keinginan mereka.
Walau terkadang Leo dan juga Dito suka bersikap biasa ketika memang pada waktu istirahat ataupun bukan membahas soal pekerjaan.
Dito sekarang menjadi salah satu staf pribadi Raka di bawah pengawasan Leo.
Dito akan lebih banyak di kantor untuk menggantikan Leo dan ketika Leo harus mendampingi Raka.
sepanjang hari ini seperti biasa Raka habiskan dengan bekerja dan bekerja...
Raka bahkan hanya tidur selam 3 jam tadi malam.
Para pengawal dan petugas keamanan langsung membungkuk ketika Raka melewati mereka.
Raka langsung masuk ke dalam mobil saat salah satu pengawal nya membuka pintu mobil untuknya.
Bersama dengan Leo yang selalu siap mendampingi Raka ke mana pun ia pergi.
Sedangkan Dito langsung masuk ke mobil nya di belakang mobil Raka.
Sekarang Dito sudah mendapat pasilitas mobil sendiri dari perusahaan.
.
.
Di tempat lain tepatnya di pintu kedatangan internasional Bandara Soekarno Hata. Seorang gadis cantik bertubuh mungil, berjalan dengan sangat anggun dengan berbalut dres se lutut dan jaket rajut berwarna pastel, rambut coklat tuanya sebahu ia biarkan tergerai, menambah sempurna penampilannya malam ini.
" Kakek...!" teriak nya berlari menuju seorang pria tua yang masih terlihat gagah .
Lexi tersenyum, merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menangkap cucu perempuan kesayangan nya.
" Uuh " Lexi merangkul tubuh kecil Divanka ke dalam pelukannya.
Gadis cantik itu adalah Divanka cucu perempuan satu-satunya Lexi.
Diva sengaja menyusul Lexi ke sini untuk liburan sekalian menemani Lexi.
Divanka memang sangat dekat dengan Lexi dan selalu ingin ikut ke manapun Lexi pergi.
__ADS_1
Sudah dua minggu mereka tidak bertemu dan itu membuat Diva merengek untuk di izinkan menyusul Lexi ke Indonesia.
" Bagaimana perjalanannya sayang ?" tanya Lexi menguraikan pelukan nya.
" Sangat menyenangkan.!!" jawab Diva tersenyum senang.
Baru kali ini ia bisa pergi sendiri, walaupun ia tau ada para anak buah Kakeknya yang mengawasi dirinya diam-diam sejak dari Singapura hingga ia tiba di tempat ini.
" Baiklah, kalau begitu kita harus segera kembali ke mansion, Kamu pasti lelah kan ?" ajak Lexi merangkul cucu perempuan nya.
" Ayo.! Besok Kakek harus janji ajak aku jalan-jalan di kota ini " ucapnya sambil berjalan keluar dari Bandara.
" Iya-iya " jawab Lexi mengangguk kan kepalanya.
Lexi sebenarnya sudah melarang Divanka untuk menyusul nya karena ia di sini bukan hanya untuk mengurus perusahaan tapi juga untuk membalas dendam.
Sedangkan kedatangan Divanka ke sini akan menambah beban untuknya.
Tapi Lexi memang selalu kalah bila di hadapan dengan cucu perempuan satu-satunya itu.
Ada saja cara Diva untuk muat Lexi tak bisa menolak segala keinginannya.
Sepanjang perjalanan menuju mansion Lexi, Divanka berdecak kagum dengan keindahan gemerlap malam di kota Jakrta.
Kota yang masih saja sibuk walau waktu mulai merambat malam.
Diva mengedarkan pandangannya ketika mobil yang ia tumpangi berhenti di lampu merah.
Ia bisa melihat para penjual tisu, pedagang koran, pengamen, bahkan penjual balon nerisi lampu yang lucu dan kanebo berkeliaran menawarkan dagangan mereka pada setiap mobil yang berhenti.
Sungguh pemandangan kota yang sangat sibuk.
Mata Divanka terpaku pada sebuah mobil BMW yang baru berhenti tepat di samping nya.
" Ya Tuhan, betapa sempurna ya lelaki itu " gumam nya dalam hati.
Ia melihat seorang laki-laki dengan kemeja putih dan dasi yang sudah di longgarkan sedang fokus pada tablet di tangannya.
Terlihat begitu tampan dan gagah di matanya.
Divanka merasakan detak jantungnya yang mulai tidak bisa terkontrol.
" Ada apa dengan jantung ku, kenapa tidak bisa terkontrol begini?" ia bertanya dalam hati.
sayang sekali pemandangan indah itu hanya berlangsung sekitar 2 menit saja. Karena di menit selanjutnya mobil BMW itu sudah melaju kencang mendahului mobil yang di tumpangi nya.
" Semoga aku bisa bertemu lagi dengan lelaki tadi " Do'a nya sungguh-sungguh.
.
.
...TBC...
...Jangan lupa dukungan nya untuk menambah semangat saya menulis......
...Terimakasih🙏😊😘...
__ADS_1