Presdir Kutu Buku

Presdir Kutu Buku
Eps.27 Makam


__ADS_3

Di ruangan yang luas dengan interior mewah di lantai paling atas gedung perusahaan DWGrup.


Seorang pria tampan sedang berdiri di balik kaca, melihat pemandangan kota di sekitarnya dengan manik berkilat penuh amarah.


Tangannya mengepal kuat, hingga buku-buku jarinya memutih dan rahang yang mengeras hingga gemelutuk suara gigi yang beradu di dalamnya terdengar ngilu.


Lama berdiam diri dengan pemikiran yang entah berada di mana hingga senyum jahatnya terlihat menyeramkan dari wajah tampan itu.


" Masuk" Ucapnya ketika mendengar suara ketukan di pintu.


" Anda memanggil saya tuan muda" Suara Leo terdengar di belakangnya.


Lelaki tampan itu membalikan badannya, berjalan menuju kursi kerja ya, lalu duduk di sana dengan gaya yang sangat berkelas.


Ah.. ternyata Raka sudah banyak belajar, hingga sekarang segala tingkah lakunya menjadi sangat elegant dan berkelas, tanpa harus bersusah payah berpura-pura.


" Lihat ini" Ucap Raka dengan suara dingin dan penuh dengan penekanan, memberikan Map ke hadapan Leo yang masih berdiri di sampingnya.


Leo mengeriyitkan keningnya melihat Raka yang sepertinya menahan amarah dalam dirinya.


"Ada apa lagi ini?" Batin Leo


Leo mengambilnya, membukanya dan membacanya dengan seksama ia melebarkan matanya saking terkejutnya dengan informasi yang berada di dalam map itu.


Leo bahkan membacanya berkali-kali, meyakinkan dirinya bahwa yang di bacanya itu adalah kebenaran dan tidak ada yang keliru.


"Ini semua benar-benar mengejutkan tuan muda" Leo berucap dengan mata yang masih terpaku dalam setiap baris kata informasi di dalam map yang masih ia pegang.


" Hem, ternyata benar yang aku curigai selama ini, kalau ada orang yang lebih berpengaruh lagi yang berada di belakang Rion" Ucap Raka datar.


" Lalu selanjutnya bagaimana tuan muda?" Tanya Leo menaruh map tadi di meja.


" Biarkan saja, kita tidak akan bertindak bila mereka masih diam, yang penting sekarang kita sudah tau identitas mereka dan itu sudah sangat menguntungkan untuk kita" Jelas Raka panjang lebar.


" Baik tuan muda" Ucap Leo patuh.


" Awasi saja mereka semua, dan laporkan bila ada sedikit saja gerak-gerik mereka yang mencurigakan"


" Baik tuan muda"


" Kita harus tetap waspada karena kita belum tau rencana apa lagi yang mereka akan buat untuk menyerang kita"


" Baik tuan muda, semua perintah anda akan segera saya jalankan, kalau begitu saya permisi dulu" Leo berucap dan membungkuk hormat.


" Hemm" Jawab Raka.


Leo berjalan menuju pintu setelah mendapat jawaban dari Raka, lalu keluar dari ruangan kerja Raka.


Ya... setelah tiga hari berkutat dengan komputer untuk mencari identitas Rion, Dark scorpion dan permana, akhirnya Raka bisa menarik benang merah dari semua informasi yang ia dapatkan, dan ia juga bisa menemukan identitas Rion secara lengkap.


Ternyata Rion adalah anak dari pemilik perusahaan permana dan juga pemimpin dari dark scorpion, mereka juga memiliki berbagai macam kegiatan ilegal di balik perusahaan mereka, seperti pengedaran obat-obatan terlarang dan penadah barang hasil curian.


Dan yang paling mengejutkan adalah mereka bekerja sama dengan mafia besar yang bermarkas utama di luar negri.


Masalah antara dirinya dan Rion ternyata bukanlah masalah sepele, mungkin saja ini akan sangat berbahaya dan bisa saja ke depannya akan memakan korban bila ia tidak berhati-hati.


Melawan mafia...


Bahkan dalam pikirannya saja ia belum berani.

__ADS_1


Tapi sekarang sepertinya ia harus mempersiapkan diri.


Mau bagaimanapun lambat laun pasti mereka akan meminta bantuan organisasi itu bila mereka terus-terusan kalah darinya.


Raka berfikir keras menyusun rencana dan menerka apa yang akan mereka lakukan, dan sebenarnya apa yang mereka inginkan darinya.


Raka menyandarkan tubuhnya menutup matanya, ia memijit pangkal hidungnya meredam rasa pening yang kini ia rasakan.


Tidak lama kemudian ia berdiri menyambar jas yang ia sampirkan di belakang kursi lalu memakainya, kemudian berjalan keluar dari ruangannya.


"Ra hari ini ada berapa pertemuan lagi yang harus saya hadiri?" Tanya Raka saat ia berada di depan meja kepala sekretarisnya.


Laura melihat layar komputer di hadapnnya.


" Hanya rapat dengan divisi perencanaan dan pak Dion jam 4 sore ini tuan muda" Jelas Laura pada Raka.


" Baiklah saya keluar dulu sebentar, kalau ada apa-apa suruh Leo menghubungi saya" Ucap Raka dingin dan berwibawa tentunya.


" Baik tuan muda" Jawab Laura patuh.


Raka memang tidak mau berhubungan langsung dengan staf perempuan di kantornya, setiap Laura ingin menghubunginya bila sedang di luar kantor maka harus melalui Leo.


Ia hanya boleh menghubungi Raka langsung, ketika Leo sedang tidak berada di kantor atau ke luar kota.


Laura tidak pernah mempermasalahkan semua itu, menurutnya ia cukup nyaman bekerja dengan Raka, di balik gajinya yang tinggi, Raka juga sangat menghargai wanita, ia tidak pernah pulang sendiri bila harus lembur ketika menemani Raka rapat di luar kantor.


Raka selalu memerintahkan salah satu pengawalnya untuk mengantarnya pulang.


Walaupun Raka terlihat cuek dan tak tersentuh tapi ia sangat memperhatikan para pekerjanya dengan caranya sendiri.


Raka melajukan mobilnya meninggalkan kantor WDGrup bersama dengan satu mobil pengawal yang dengan setia mengikutinya di belakang.


Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga.


" Baik tuan, tapi ijinkan salah satu dari kami keluar tuan" Jawab Arman.


" Oke, tapi jangan sampai terlihat mencurigakan" Peringat Raka.


" Baik tuan muda"


Raka keluar dari mobil dengan penampilan yang tidak terlalu mencolok, ia menaggalkan jasnya dan hanya memakai kemeja berwarna navi dengan satu kancing yang terbuka dan lengan di gulung sampai batas siku, sepatu pantofelnya ia ganti dengan sepatu kets, agar terlihat lebih santai.


Masuk ke dalam toko bunga, ia terlihat berbicara dengan pelayan toko bunga, seorang wanita paruh baya yang sangat ramah.


Menunggu sekitar 15 menit di dalam toko, ia keluar dengan membawa dua buah buket bunga yang sangat cantik, masuk lagi ke dalam mobil dan meninggalkan toko bunga itu.


Setelah sekitar 10 menit berkendara dengan kecepatan sedang, akhirnya mobil Raka sampai di sebuah pemakaman umum.


Raka mampir ke sebuah toko bunga milik penjaga makam, ia membeli air mawar dan dua bungkus bunga tabur.


Sekaligus memberikan sedikit uang untuk orang yang telah menjaga makam kedua orang tuanya.


" Biar kami bantu tuan muda" Ucap Arman saat Raka mau masuk ke dalam komplek pemakaman.


" Kalian bawa ini saja"


Raka memberikan bunga tabur dan air mawar pada pengawalnya, sedangkan dua buket bunga ia sendiri yang membawanya.


Berjalan semakin dalam menyusuri jalan setapak di antara makam, pandangan Raka terpaku pada dua buah makam dengan rumput yang tertata rapih dan batu nisan yang baru bebepa bulan ini terukir nama seseorang di sana.

__ADS_1


Mata Raka tiba-tiba memanas merasakan desakan air mata yang ingin keluar dari dalam sana, jantungnya bergemuruh hebat, bayangan hari-hari bahagia bersama kedua orang tuanya kembali terngiang di kepalanya.


Raka berkunjung ke makam kedua orang tuanya yang sudah hampir satu tahun meninggalkannya.


" Ayah, bunda Raka datang" Ucap Raka dalam hati.


" Assalamualikum... Ayah, Bunda" Ucap Raka dengan suara serak dan lirih, ia berjongkok di antara dua makam kedua orangtua nya, menaruh buket bunga dia atas batu nisan.


Para pengawal menaruh bunga tabur dan air mawar di samping Raka, lalu berdiri agak menjauh dari tempat Raka.


Mereka tau saat ini Raka sedang membutuhkan privasi.


" Ayah, bunda, Raka kangen" Ucapnya lagi dengan satu tetes air mata yang lolos dari pelupuk matanya.


" Ayah sama bunda tenang ya di sana" Raka menjeda perkataannya.


" Raka di sini akan selalu berdo'a untuk ayah dan bunda, Raka juga akan berusaha menjaga setiap peninggalan Ayah dan bunda"


" Doakan Raka, agar Raka selalu kuat dalam menghadapi segala rintangan ini"


Air mata itu kembali jatuh walau ia sudah menahannya sekuat tenaga.


Sekelebat senyum kedua orang tuanya tiba-tiba terlihat olehnya.


" Raka sayang ayah sama bunda" Ucap Raka lirih, menahan sesak di dalam dadanya.


Ia berusaha tersenyum walau terlihat menyakitkan.


Raka mengambil hp nya di dalam saku, ia membuka aplikasi Al-Quran dan membacakan Tahlil dan surat Yasin untuk kedua orang tuanya.


Suaranya begitu merdu dan fasih, Raka menghayati setiap ayat yang ia baca, sesekali ia harus menyeka matanya yang terasa kabur oleh genangan air di pelupuk mata.


Para pengawal yang berada cukup jauh bisa merasakan kesedihan yang sedang Raka rasakan, mereka tau dalam tubuh kokoh dan kuat yang di tampakan Raka pada semua orang ia masihlah manusia biasa yang pasti merasakan kesedihan.


" Ayah, bunda, Raka pamit pulang dulu, Insya Allah nanti Raka pasti ke sini lagi" Ucap Raka setelah mengakhiri Do'anya.


Sekitar 30 menit Raka berada di sana.


Menyeka batu nisan yang bertuliskan nama orang yang sangat ia sayangi, berdiri dan berbalik berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


" Anda baik-baik saja tuan muda?" Arman bertanya dengan cemas melihat wajah Raka yang kacau dengan mata yang masih memerah.


" Hem... saya baik-baik saja, tolong bawa mobil saya" Ucap Raka menyerahkan kunci mobilnya pada Arman.


" Baik tuan muda" Ucap Arman menerima kunci dari tangan Raka.


Raka berjalan keluar dari pemakaman dengan langkah gontai.


Masuk ke dalam mobil, ia memilih merebahkan tubuhnya pada sandaran jok mobil.


" Kita langsung ke kantor" Ucap Raka.


Di perjalanan Raka memilih memejamkan matanya tanpa mau membuaka suara.


.


.


...Tbc...

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan vote nya ya....


...Terimakasih🙏😘...


__ADS_2