
Kini pertarungan di keempat penjuru mata angin telah selesai. Para pasukan yang diminta untuk pergi ke utara hanya menemukan mayat orang orang dengan jubah ungu kehitaman dan lambang ular cobra yang ada di belakang, tak ada satupun yang tersisa. Seorang prajurit menemukan surat dari orang orang misterius yang membantu Kerajaan Meztano untuk mengalahkan para ahli racun itu.
"Sebaiknya kita berikan surat ini langsung pada Yang Mulia Raja, sebelum itu kita urus jasad mereka terlebih dahulu." ucap salah seorang jenderal yang memimpin pasukan tersebut.
"Siap laksanakan kami akan membereskan semua mayat ini, silahkan Jenderal kembali ke istana terlebih dahulu untuk melapor pada Yang Mulia Raja Azvago." ucap beberapa prajurit. Mungkin saat ini pasukan lain sudah kembali ke istana untuk memberikan laporan pada sang raja.
"Baiklah saya akan pergi, kekacauan yang ada di sini saya serahkan pada kalian. Saya permisi terlebih dahulu." ucap sang jenderal yang langsung berlari menuju ke arah Istana Kerajaan Meztano.
Saat ini para tamu undangan sedang menunggu pemberitahuan dari Yang Mulia Raja Azvago kapan mereka bisa kembali, malam semakin larut dan mereka semua sudah kelelahan. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit Pangeran Luxe masuk ke dalam aula utama dan segera pergi menemui ayahnya, beberapa saat yang lalu beberapa prajurit bersama Jenderal mereka telah kembali dari keempat wilayah yang menjadi titik pertarungan.
"Lapor ayah saat ini pertarungan telah berakhir dengan kemenangan di pihak kita. Para prajurit sedang membereskan mayat mayat akibat pertarungan tadi, jalur yang akan dilewati para tamu undangan untuk pulang telah dibersihkan." lapor Pangeran Luxe pada Raja Azvago dengan suara yang cukup kencang hingga terdengar oleh para tamu undangan.
"Baguslah jika begitu, saya melihat mereka semua sangat kelelahan. Tunggulah di sini ayah akan memberi pengumuman pada mereka semua." perintah Yang Mulia Raja Azvago yang meminta Pangeran Mixo untuk tetap berada di dalam aula.
Raja Azvago berdiri dari singgasananya, ia menatap ke arah para tamu undangan yang sedang melihat ke arahnya juga.
"Selamat malam semua, terimakasih atas partisipasinya dalam pesta ulang tahun Tuan Putri Amerilya. Saya sebagai perwakilan dari anggota Keluarga Kerajaan Meztano meminta maaf jika ada beberapa hal yang membuat kalian merasa kurang nyaman saat pesta berlangsung. Saya juga meminta maaf karna Putri Amerilya tidak bisa memberikan sambutan terakhir sebelum pesta ini selesai karna saat ini ia sedang di rawat di ruang kesehatan. Dengan ini pesta ulang tahun Tuan Putri Amerilya yang ke tiga telah selesai dan para tamu undangan dipersilahkan untuk kembali ke rumah masing masing, untuk para tamu yang menginap di istana silahkan kembali ke kamar dan beristirahat. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan senyum yang sangat menawan.
"Senang bisa menghadiri pesta ulang tahun Tuan Putri. Semoga Tuan Putri Amerilya lekas sembuh, kami dari Keluarga Duke Rucixara pamit terlebih dahulu." ucap Tuan Moren Rucixara selaku kepala keluarga.
"Sampai jumpa lagi Tuan Moren, saya menantikan kerjasama lain dengan Anda." ucap Yang Mulia Raja Azvago saat bersalaman dengan Tuan Moren Rucixara.
"Semoga Tuan Putri Amerilya segera sembuh, jujur saja saya sangat iri dengan Anda Pangeran Luxe." ucap Tuan Muda Ruxi Rucixara sembari menjabat tangan Pangeran Luxe.
"Anda sudah memiliki dua adik perempuan, jangan merasa iri pada saya yang harus berbagi dengan tiga kakak laki laki Putri Amerilya." gerutu Pangeran Luxe dengan tatapan kesal.
"Ahahaha, baiklah sampai jumpa lagi Pangeran Luxe." ucap Tuan Muda Ruxi Rucixara kemudian ia keluar dari aula utama.
"Kami dari Keluarga Duke Lion sangat terkesan dengan pesta ulang tahun Putri Amerilya meskipun ada beberapa halangan. Semoga di tahun tahun berikutnya tidak ada kejadian seperti tadi. Apakah kondisi Tuan Putri baik baik saja?." tanya Tuan Duke Yosan Lion dengan tatapan khawatir. Meskipun ia hanya beberapa kali bertemu dengan Putri Amerilya namun kesan yang ditunjukkan oleh sang putri sangatlah luar biasa.
"Dia hanya perlu beristirahat untuk beberapa hari kedepan. Mungkin Putri Amerilya sedikit terkejut dengan pesta besar seperti ini." jawab Yang Mulia Raja Azvago dengan senyuman tipis.
"Saya titip salam untuk Yang Mulia Ratu Zivaya, dua hari lagi beliau harus menghadiri pesta minum teh yang saya adakan." ucap Nyonya Ruela Lion. Ia salah satu teman baik Ratu Zivaya karna itu mereka sering berkumpul saat pesta minum teh.
__ADS_1
"Nanti akan saya sampaikan pesan dari Nyonyanya Ruela." jawab Raja Azvago.
"Baiklah jika begitu kami permisi terlebih dahulu, sampai jumpa Yang Mulia Raja." ucap Duke Yosan Lion sembari pergi meninggalkan aula utama.
Kini hampir seluruh tamu undangan telah pergi meninggalkan Istana Kerajaan Meztano, yang tersisa hanya para tamu undangan dari kerajaan lain serta Keluarga Duke Elister. Kedua putra sang duke ingin bertemu dengan Tuan Putri Amerilya sebelum kembali ke kediaman mereka. Kedua tuan muda itu sangat khawatir terutama Tuan Muda Rostow Elister, ia hampir menangis karna sangat khawatir dengan kondisi sang putri.
"Ah maaf karna membuat keributan di sini. Saya meminta izin Yang Mulia Raja Azvago untuk mengunjungi Tuan Putri Amerilya." ucap Duke Rigel Elister dengan perasaan tak enak hati. Ini sudah sangat malam dan waktunya bagi Tuan Putri Amerilya untuk beristirahat namun kedua putranya tak ingin pergi sebelum bertemu dengan sang putri.
"Silahkan pergi ke ruang kesehatan jika ingin menjenguk Putri Amerilya namun pastikan agar kalian tidak membuat keributan di sana dan membangunkan sang putri yang sedang beristirahat." ucap Raja Azvago.
"Terimakasih Yang Mulia Raja, kami permisi terlebih dahulu." ucap Tuan Duke Rigel Elister yang seger pergi menuju ruang kesehatan diikuti oleh kedua putranya dari belakang.
Kini yang tersisa hanyalah Yang Mulia Raja Azvago bersama dengan keempat pangeran. Sang raja ingin pergi ke ruang interogasi untuk melihat beberapa pembuat Kekacauan yang masih hidup sembari mendengar laporan dari para prajurit yang ia utus untuk pergi ke sana.
"Pangeran Zico dan Pangeran Azxo kembalilah ke kamar kalian masing masing. Hari sudah sangat larut dan kalian berdua harus beristirahat sekarang." perintah Yang Mulia Raja Azvago pada putra ketiga dan keempatnya.
"Baiklah kalau begitu kami permisi terlebih dahulu ayah. Sampai jumpa kakak!." ucap Pangeran Zico dan Pangeran Azxo secara bersamaan. Keduanya pergi meninggalkan istana utama menuju istana pangeran.
Kini Yang Mulia Raja Azvago bersama pangeran pertama dan kedua pergi menuju ruang interogasi untuk menemui beberapa kelompok orang yang telah membuat keributan di keempat titik area Istana Kerajaan Meztano. Saat membuka ruang interogasi ruangan itu terlihat cukup penuh dengan kehadiran beberapa prajurit bersama para jenderal dengan membawa beberapa pelaku penyerangan.
"Bagus apakah diantara kalian ada yang turun langsung ke pertarungan itu?." tanya Raja Azvago sembari menatap ke arah beberapa orang yang sedang diikat dan di dudukkan di lantai.
"Kami yang pergi ke bagian barat turun langsung membantu anggota Kesatria White Rose untuk mengatasi para bandit hutan. Jumlah bandit itu terlalu banyak mungkin ada sekitar lima ratus orang, karna itulah Kesatria Richal meminta bantuan pada kami." jawab salah seorang jenderal yang memimpin pasukan untuk pergi ke wilayah barat.
"Humm lima ratus bandit hutan adalah jumlah yang sangat banyak. Sepertinya Putri Haru begitu membenci Tuan Putri Amerilya." gumam Raja Azvago dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh mereka yang berada di dalam ruangan itu.
Beberapa anggota bandit hutan yang masih hidup menatap ke arah Raja Azvago dengan tatapan tajam. Wajar saja jika Putri Haru begitu membenci Putri Amerilya, setelah ulang tahun ke dua Putri Amerilya sikap Raja Azvago berubah secara drastis ia bahkan secara terang terangan membentak Putri Haru di hadapan banyak orang. Sekarang Putri Haru berada di pengasingan yang sangat jauh dari wilayah Istana Kerajaan Meztano, bahkan tak ada satu orangpun daro pihak anggota Keluarga Kerajaan yang berniat untuk menjenguk Putri Haru untuk melihat bagaimana kondisinya.
"Jika bukan karna ulah para kesatria sialan itu kami pasti berhasil menghancurkan pesta ulang tahun Putri pembawa sial itu." ucap salah seorang anggota bandit hutan dengan tatapan penuh kebencian.
Bugh...bugh...bugh...
Pangeran Mixo melayangkan pukulan sebanyak tiga kali pada anggota bandit hutan yang berani menghina adik kesayangannya. Lagipula Putri Haru tidak akan mendapatkan hukuman jika tidak melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa adik kecilnya.
__ADS_1
Meskipun Putri Haru adalah adik kandung dari Yang Mulia Raja Azvago sekaligus anak perempuan satu satunya dari Ibu Suri Sinya bukan berarti semua kesalahan yang ia lakukan akan dibiarkan begitu saja. Lagipula posisi Tuan Putri Amerilya jauh lebih tinggi dari Putri Haru karna ia anak dari Yang Mulia Raja Azvago yang sedang menduduki tahta Kerajaan Meztano.
"Sekali lagi mulut kotor mu itu berani menghina adik perempuan ku, akan mu jadikan kau samsak hingga mati." ancam Pangeran Mixo dengan tatapan serius.
Akhirnya suasana di dalam ruang interogasi kembali menjadi tenang, para pelaku penyerangan hanya diam sembari menundukkan kepala mereka.
"Mengapa hanya ada tiga kelompok pelaku penyerangan yang tertangkap? apakah ada yang berhasil lolos?." tanya Yang Mulia Raja Azvago yang baru menyadari hal tersebut.
"Saya Jenderal yang membawa pasukan ke wilayah utara ingin melaporkan beberapa hal yang terjadi di sana. Ketika kami sampai semua ahli racun telah dibunuh oleh kedelapan gadis dengan topeng hitam, kami tidak menemukan siapapun di sana selain mayat anggota ahli racun bersama sebuah surat yang ditinggalkan. Ini suratnya Yang Mulia Raja, saya tidak berani membuka karna ini adalah wewenang Anda." jelas Jenderal tersebut sembari memberikan sebuah gulungan surat pada Raja Azvago.
Sang raja menerima surat tersebut kemudian membuka serta membacanya secara perlahan. Raut wajah sang raja berubah menjadi serius dengan tatapan tajam, entah apa yang tertulis di dalam surat itu.
"Baiklah saya mengerti kenapa kedelapan wanita dengan topeng hitam itu tidak menyisakan satu pelaku dari kelompok ahli racun. Dalam surat ini mereka menjelaskan bahwa anggota ahli racun akan melesakkan tubuh mereka jika berhasil masuk kedalam istana kerajaan, dan demi keselamatan banyak orang mereka akhirnya membantai semuanya. Siapapun kedelapan wanita itu saya sangat berterimakasih atas bantuan yang diberikan." ucap Raja Azvago dengan senyuman tipis. Baru kali ini ada beberapa kelompok orang yang bersedia membantu pihak kerajaan tanpa mengharapkan imbalan apapun.
"Ah ternyata itu alasannya, pantas saja semua mayat kelompok ahli racun dalam kondisi kepala yang terpenggal." ucap sang jenderal yang akhirnya mengerti mengapa konsisi para mayat sangat mengerikan ketika mereka tiba di sana.
"Lalu bagaimana dengan dua kelompok lainnya, apakah mereka tidak ingin datang ke istana untuk memenuhi undangan saya?." tanya Raja Azvago, ia cukup kecewa karna gagal merekrut sekutu yang kuat untuk berada di pihak Kerajaan Meztano.
"Laporan Yang Mulia Raja, wanita yang memimpin kelompok topeng emas menolak tawaran Anda. Mereka tak ingin terlibat hubungan yang rumit dengan pihak Kerajaan Meztano, dan yang mereka lakukan hanyalah menjaga Tuan Putri Amerilya agar tetap aman saat pesta ulangtahun berlangsung." jawab seorang jenderal yang ditugaskan untuk pergi ke wilayah bagian selatan.
"Mereka hanya ingin mengamankan ulang tahun Putri Amerilya. Apakah kelompok topeng emas dan Tuan Putri saling mengenal satu sama lain?." tanya Pangeran Luxe dengan tatapan bingung. Bagaimana mungkin adik kecilnya mengenal kelompok sekuat itu?.
"Saya tidak tau pasti akan hal tersebut, namun mereka mengatakan Tuan Putri Amerilya adalah prioritas utama mereka." jawab sang jenderal tanpa melebih lebihkan ceritanya itu.
"Lalu bagaimana dengan kelompok topeng perak yang menangani kelompok menara sihir, apakah mereka juga menolak menjadi sekutu kita?." tanya Yang Mulia Raja Azvago.
"Tebakan Anda benar, kelompok topeng perak menolak tawaran Anda dengan alasan yang sama dengan kelompok topeng emas. Mereka tidak ingin ikut campur dalam urusan politik Kerajaan Meztano, tugas mereka hanyalah menjaga Tuan Putri Amerilya agar tetap aman. Sangat disayangkan padahal saya melihat secara langsung kemampuan sihir tempur yang mereka miliki sangatlah kuat. Mungkin Yang Mulia Raja bisa meminta pada Tuan Putri Amerilya untuk mengundang mereka ke istana." jawab sang jenderal yang ditugaskan untuk memimpin pasukan pergi ke wilayah timur.
"Orang orang seperti itu akan menegang teguh prinsip mereka meskipun Putri Amerilya sendiri yang mengundang untuk datang." ucap Pangeran Mixo, ia tak setuju dengan saran yang diberikan oleh jenderal itu.
"Lagipula belum tentu Tuan Putri Amerilya mengenal mereka. Terkadang beberapa kelompok akan melindungi orang orang yang membuat mereka tertarik tanpa meminta imbalan apapun, bukankah hal seperti ini sudah sering terjadi?." ucap Pangeran Luxe dengan sorot mata tajam.
"Baiklah saya dan kedua pangeran akan mengintrogasi ketiga kelompok pengacau ini. Terimakasih atas kerja kerasnya kalian bisa kembali ke markas masing masing dan beristirahat." ucap Yang Mulia Raja Azvago. Ia langsung membubarkan para jenderal dan prajurit yang berada di ruang interogasi agar situasi kembali menjadi tenang.
__ADS_1
"Selama malam Yang Mulia Raja dan kedua pangeran. Kami pamit terlebih dahulu." ucap para jenderal dan prajurit secara serempak, dengan segera mereka pergi meninggalkan ruang interogasi.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.