PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Membaca Buku


__ADS_3

Kini prosesi pemakaman Putri Haru telah selesai, semua orang telah kembali ke rumah masing masing dan beristirahat karena hari sudah mulai malam. Saat ini Raja Azvago sedang termenung di dalam ruang kerjanya, ia masih memikirkan tentang sikapnya tadi saat terjadi masalah yang berkaitan dengan Putri Amerilya. Sang raja tak menyangka bahwa semua akan berakhir dengan seperti ini, istri serta sang ibu memilih untuk tinggal di istana putri untuk sementara waktu dan Raja Azvago dilarang untuk bertemu dengan Putri Amerilya.


"Hah sungguh hari yang melelahkan, sebaiknya saya pergi ke kamar untuk beristirahat." gumam Raja Azvago dengan wajah lelahnya itu.


Di sisi lain saat ini rombongan Kerajaan Antez telah keluar dari wilayah Kerajaan Meztano, mereka benar benar pergi sesuai dengan keinginan Raja Azvago. Untunglah Putri Lena baik baik saja dan dapat kembali dalam keadaan utuh jika tidak Raja Alenzie akan sangat sedih. Di tempat yang berbeda Tuan Marques Jordy Montiqu baru saja bangun setelah pingsan dalam waktu yang cukup lama, sang Marques menoleh ke kanan dan ke kiri namun yang ia temukan hanyalah sebuah ruangan kecil dengan konsep yang cukup lusuh. Marques Jordy Montiqu tidak tau dimana ia berada, hanya satu hal yang ia ingat dengan jelas yaitu penyerangan oleh beberapa orang berpakaian serba hitam.


"Dimana ini? mengapa saya hanya sendirian di tempat ini?." tanya Marques Jordy Montiqu pada dirinya sendiri.


Saat sang Marques sedang kebingungan tiba tiba seorang pria tua yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Sang pria tua tersebut pada Marques Montiqu, ia memberikan segelas air pada Marques Jordy Montiqu.


"Bagaimana kondisi Anda Tuan? sudah lebih dari dua hari Anda terbaring di sini. Seorang tabib mengatakan bahwa Anda dalam kondisi yang kritis dan memerlukan waktu untuk memulihkan diri. Syukuran saat ini Anda sudah bangun." jelas pria tua itu pada Marques Jordy Montiqu.


"Dimana anggota keluarga saya yang lain, mengapa saya hanya sendirian di sini?." tanya Marques Jordy Montiqu dengan tatapan bingung.


"Saya tidak tau apa yang Tuan maksud. Saya menemukan Anda sendirian terkapar di depan jalan raya tanpa ada orang lain yang ingin membantu. Karna rumah saya cukup dekat dari tempat Anda pingsan, akhirnya saya meminta bantuan beberapa penduduk untuk mengangkat tubuh Anda." ucap pria tua itu. Sejak awal menemukan Marques Jordy Montiqu tidak ada siapapun di sampingnya.


"Dimana istri serta kedua anak saya? seharusnya mereka berada di dekat saya!!." triak Marques Jordy Montiqu dengan histeris.


"Tenanglah Tuan, saya akan membantu Anda untuk menemukan istri dan kedua anak Anda yang hilang." ucap pria tua itu dengan niatan baik.


"Lalu dimana saya saat ini, apakah saya masih berada di desa perbatasan wilayah Kerajaan Meztano?." tanya Marques Jordy Montiqu untuk memastikan lokasinya saat ini.


"Anda sedang berada di desa perbatasan wilayah Kerajaan Belgize. Jika saya boleh tau siapa Tuan ini? biarkan saya membantu Anda pulang ke rumah terlebih dahulu." tanya sang pria tua.


"Saya Marques Jordy Montiqu, terimakasih atas bantuannya. Saya akan kembali ke Kediaman Keluarga Montiqu dan mengirim hadiah pada Anda sebagai bentuk terimakasih." ucap Marques Jordy Montiqu. Ia berdiri kemudian beranjak pergi dari ruangan itu dan keluar dari rumah sang pria tua.


Saat berada di luar mata Marques Jordy Montiqu membelalak dengan lebar, ia benar benar berada di wilayah Kerajaan Belgize tapi bagaimana bisa?. Sang Marques ingat bahwa insiden penyerangan itu terjadi ketika ia berada di desa dekat wilayah perbatasan Kerajaan Meztano, jadi dimanakah istri dan kedua anaknya berada saat ini? mungkinkan merek masih tertinggal di desa itu?.


"Kejadian ini membuat saya seperti orang bodoh, sebaiknya saya kembali terlebih dahulu kemudian mencari informasi." batin Marques Jordy Montiqu sembari berjalan menuju wilayah kekuasaan Keluarga Marques Montiqu.


Malam yang sunyi dan gelap, perjalanan Marques Jordy Montiqu hanya ditemani oleh sinar bulan yang bersinar cukup terang malam itu. Saat Marques Montiqu seperti orang linglung di sisi lain saat ini Nyonya Birara Montiqu masih di rawat oleh sebuah keluarga yang tinggal di tengah tengah kota Kerajaan Meztano. Lalu dimana kedua anak Marques Jordy Montiqu berada??, yang pasti Nona Muda Anye Montiqu diculik oleh prajurit bayangan milik Raja Azvago sedangkan Tuan Muda Egil Montiqu berada di sebuah tempat yang tidak terjangkau oleh manusia yaitu di dasar tebing. Tidak ada yang tau mengapa Keluarga Marques Montiqu bisa terpencar seperti itu.

__ADS_1


Di saat semua orang sedang beristirahat di tempat mereka masing-masing termasuk Ibu Suri Sinya dan Ratu Zivaya yang memilih untuk tinggal di Istana Putri dan tidur di sebuah kamar tamu, Putri Amerilya perlahan lahan membuka matanya. Sang putri merasa bahwa tubuhnya sangat kaku dan sedikit sulit untuk digerakkan.


"Umm.. apa yang terjadi pada tubuh ku, mengapa sangat sulit untuk menggerakkannya." gerutu Putri Amerilya dengan kesal.


Meskipun tubuhnya sakit saat digerakkan, Putri Amerilya memaksakan diri untuk bergerak dan bangun dari tempat tidurnya. Sang putri turun dari atas kasur kemudian membuka pintu kamar perlahan agar tidak mengganggu beberapa pelayan yang tidur di sofa kamarnya.


Putri Amerilya menutup pintu secara perlahan kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil minum dan beberapa camilan karna ia merasa lapar. Saat melewati beberapa ruangan Putri Amerilya berpapasan dengan Putri Alexsi yang baru saja kembali dari halaman belakang untuk melihat langit malam yang indah. Putri Alexsi menunjukkan ekspresi terkejut, bukankah saat ini Putri Amerilya dalam masa pemulihan? lalu mengapa ia keluar dari dalam kamar tanpa dikawal oleh seorang pelayan?.


"Apa yang ingin Tuan Putri Amerilya lakukan malam malam seperti ini?. Bukankah tabib meminta agar Anda tetap beristirahat, lalu dimana para pelayan Anda Tuan Putri?." tanya Putri Alexsi dengan khawatir. Bagaimana jika tiba tiba Putri Amerilya pingsan dan tidak ada yang menyadarinya.


"Tolong pelankan suara Anda Putri Alexsi jangan mengganggu waktu istirahat yang lain." tegur Putri Amerilya pada Putri Alexsi dengan suara pelan.


"Ah maafkan saya Tuan Putri Amerilya, saya hanya khawatir jika sesuatu terjadi pada Anda saat keluar sendirian." jawab Putri Alexsi sembari membungkukkan badan sebagai tanda permintaan maaf yang tulus.


"Tidak apa apa Putri Alexsi, terimakasih karna telah mencemaskan saya. Saat ini para pelayan sedang tidur dengan lelap di sofa kamar saya, sepertinya mereka sangat lelah karna itu saya memutuskan untuk pergi sendiri. Saya hanya ingin pergi ke dapur untuk mengambil minum serta cemilan untuk mengganjal perut." jelas Putri Amerilya pada Putri Alexsi agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Ah ternyata begitu, baiklah saya akan menemani Anda ke dapur." ucap Putri Alexsi dengan senyuman lebar.


"Maaf sebelumnya, bisakah Putri Alexsi membantu saya untuk mengangkat nampan ini? saya tidak tau mengapa kedua tangan saya bergetar saat hendak mengangkatnya." ucap Putri Amerilya.


Putri Alexsi tersenyum kemudian mengangkat nampan itu, ia bertanya kemana Putri Amerilya ingin pergi dan putri kecil itu mengatakan bahwa ia ingin ke perpustakaan karna tempat itu cukup jauh dari kamar utama serta kamar para tamu.


Putri Alexsi menuruti perkataan sang putri kecil dan berjalan menuju perpustakaan dengan Putri Amerilya yang berjalan di sampingnya. Keduanya membicarakan beberapa hal saat sedang berjalan hingga akhirnya mereka berdua sampai di depan pintu masuk perpustakaan.


"Loh Putri Amerilya? apa yang Anda lakukan malam malam seperti ini. Apa Anda ingin masuk ke dalam perpustakaan?." tanya seorang penjaga perpustakaan istana putri.


"Ahahaha, saya ingin minum teh sembari membaca beberapa buku dengan Putri Alexsi. Kebetulan kami berdua tidak bisa tidur dan memutuskan untuk pergi ke perpustakaan." jawab Putri Amerilya dengan wajah yang sangat meyakinkan. Ia tau bahwa sang penjaga perpustakaan tidak mengetahui berita mengenai dirinya yang jatuh pingsan beberapa kali, karna itu sang penjaga perpustakaan tidak meminta Putri Amerilya untuk kembali ke kamar.


"Baiklah silahkan masuk ke dalam dan buat diri Anda nyaman. Saya permisi untuk mengambil beberapa kiriman buku baru dari perpustakaan kota." ucap sang penjaga perpustakaan yang langsung pergi begitu saja sedangkan Putri Amerilya dan Putri Alexsi masuk ke dalam perpustakaan.


Putri Alexsi meletakkan nampan itu di sebuah meja kosong kemudian ia mencari beberapa buku untuk dibaca sembari menghabiskan waktu. Putri Amerilya saat ini sedang berada di barisan rak buku paling belakang, ia tertarik dengan sebuah buku berwarna merah pekat dengan sampul yang sangat menarik.

__ADS_1


Karna tubuh Putri Amerilya yang sangat mungil serta badannya yang pendek iapun kesulitan untuk mengambil buku itu. Akhirnya sang putri dengan terpaksa menaiki sebuah tangga yang disiapkan oleh pihak perpustakaan saat seseorang kesulitan mengambil buku karna jarak yang terlalu tinggi. Dengan sedikit usaha Putri Amerilya mendapatkan buku yang ia inginkan, dengan segera ia pergi menuju meja tempat Putri Alexsi berada.


"Apa Anda sudah menemukan buku yang menarik?." tanya Putri Alexsi dengan pandangan matanya yang tertuju pada buku cerita yang sedang ia baca.


"Ya, saya sudah menemukan satu. Selamat membaca Putri Alexsi." ucap Putri Amerilya yang mulai membuka buku yang ada di tangannya dan membaca secara perlahan.


Putri Amerilya dan Putri Alexsi sibuk membaca buku mereka masing masing, tanpa sadar karna terlalu asik membaca hari pun semakin larut. Putri Alexsi sebenarnya sudah mengantuk namun ia tak enak hati bila harus meninggalkan Putri Amerilya sendirian di dalam perpustakaan, karna tidak bisa menahan kantuknya Putri Alexsi memilih untuk melanjutkan membaca buku di sebuah sofa panjang dan lama kelamaan ia tertidur.


Kini suasana di dalam perpustakaan semakin sepi, hanya Putri Amerilya yang masih terjaga karena ia sudah tidur cukup lama mulai dari sore hingga malam hari. Putri Amerilya membaca bukunya itu dengan ekspresi serius di dalamnya terdapat beberapa cara yang digunakan oleh para penyihir dan kesatria ketika menghadapi orang orang yang menjadi satu dengan kekuatan jahat.


"Masalah ini benar benar serius, aku harus mempelajarinya dengan teliti siapa tau akan dibutuhkan suatu saat nanti." gumam Putri Amerilya pada dirinya sendiri.


Ada beberapa bentuk menyatunya manusia dengan sihir jahat, yang paling umum mereka akan menjadi seorang penyihir jahat yang akan mengganggu semua orang. Lalu ada juga yang berevolusi menjadi mayat hidup untuk membalaskan dendamnya pada orang orang tertentu. Dan yang paling berbahaya adalah ketika seseorang dengan hati jahat mati, ia akan menyatu dengan kekuatan iblis kemudian menjadi sosok mengerikan yang tidak bisa didefinisikan oleh buku yang sedang dibaca oleh Putri Amerilya.


Malam semakin larut semua orang masih terlelap dalam tidur mereka masing masing akan tetapi Putri Amerilya masih nyaman berada di perpustakaan. Banyak ilmu sihir baru yang ia pelajari dan kuasai hanya dalam satu malam dengan beberapa percobaan yang Putri Amerilya lakukan. Tanpa sadar gelapnya malam telah tergantikan dengan cerahnya cahaya matahari.


Juylin membuka mata perlahan dan melihat ke arah para pelayan lain yang masih tertidur. Sepertinya mereka semua merasa kelelahan karna seharian mengurus Putri Amerilya yang jatuh sakit. Juylin mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur milik sang putri kecil namun tidak ada siapapun di sana. Kemana sang putri pergi pagi pagi seperti ini? mengapa Putri Amerilya tidak membangunkan salah satu diantara kesepuluh pelayan itu untuk menemaninya??.


"Kalian cepatlah bangun, Tuan Putri Amerilya tidak ada di kasurnya." triak Juylin dengan histeris.


Mendengar suara teriakan Juylin membuat kesembilan pelayan yang lain langsung bangun dan menatap ke arah tempat tidur sang putri dengan tatapan bingung. Setelah nyawa kesembilan pelayan itu kembali mereka langsung menjerit secara bersamaan dan membuat suasana di dalam istana putri menjadi kacau.


"Bagaimana bisa kalian lalai dalam menjaga Putri Amerilya?? bagaimana jika dia di culik oleh pihak musuh! apa kalian akan bertanggungjawab atas hal itu." ucap Ratu Zivaya dengan kemarahan meluap luap, pasalnya diantar kesepuluh pelayan itu tidak ada yang tau kemana Putri Amerilya pergi.


"Maaf atas kelalaian yang kami lakukan Yang Mulia Ratu, kami akan berpencar untuk mencari Putri Amerilya sekarang juga." ucap Lilian yang merasa bersalah atas hilangnya Putri Amerilya malam tadi. Seharusnya ia tetap terjaga dan memantau keadaan sekitar, bukannya tidur dengan nyaman bersama kesembilan rekannya yang lain.


"Permisi Yang Mulia Ratu Zivaya, kakak saya juga tidak ada di kamarnya. Kemungkinan besar saat ini Putri Amerilya sedang pergi ataupun berjalan jalan di temani oleh kakak saya." ucap Putri Yunha. Beberapa saat yang lalu ia mengetuk pintu kamar Putri Alexsi namun tidak ada jawaban apapun bahkan pintu kamar tidak terkunci. Karna itulah ia yakin saat ini Tuan Putri Amerilya sedang pergi ditemani oleh Putri Alexsi.


"Terimakasih untuk informasinya Putri Yunha. Kalian semua segeralah berpencar untuk mencari Putri Amerilya ke beberapa ruangan yang ada di dalam istana putri dan sebagian cari di area luar. Segeralah kembali jika tidak kunjung menemukannya karna saya akan meminta bantuan Kesatria White Rose jika sampai Putri Amerilya menghilang." perintah Ratu Zivaya pada kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya.


"Siap laksanakan Yang Mulia Ratu." jawab kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya secara bersamaan. Mereka semua langsung berpencar untuk mencari keberadaan sang putri ke segala tempat.

__ADS_1


Hai hai semua author balik lagi, gimana kabar kalian semoga sehat selalu. Maaf ini push novel Putri Amerilya dulu karena yg ada penghasilan novel ini hehehe. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2