PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Mencari Lilian


__ADS_3

Setelah kepergian Kesatria Black Nicko, Linox hanya bisa merenungi kesalahan yang telah ia perbuat. Kini dirinya akan benar benar sendirian tanpa ada rekan yang memberikan semangat ataupun bantuan. Raja Azvago dan beberapa orang yang masih berada di dalam ruang interogasi memilih untuk pergi, masih banyak hal lain yang harus mereka lakukan terlebih lagi besok adalah acara ulangtahun Tuan Putri Amerilya. Kini suasana di dalam ruang interogasi menjadi sangat sepi, yang tersisa hanyalah Kesatria Linox, kelima prajurit dari Kediaman Keluarga Marques Montiqu, dan beberapa anggota Kesatria White Rose yang akan berjaga di sana untuk malam ini.


Hari semakin larut dan semua orang memilih untuk mengakhiri kegiatan yang sedang mereka lakukan. Lilian salah seorang pelayan setia Putri Amerilya berjalan keluar dari istana putri melalui pintu belakang, ia melompat ke atas atap dan di sana sudah ada beberapa orang dengan seragam khusus yang sedang menunggu kedatangan Lilian.


"Apakah kalian sudah mendapatkan informasi mengenai Anggota Keluarga Marques Montiqu yang akan datang ke pesta ulangtahun Tuan Putri Amerilya?" tanya Lilian dengan tatapan serius pada beberapa orang yang sedang mengenakan topeng emas itu.


"Saat ini Keluarga Marques Montiqu sedang beristirahat di sebuah desa dekat perbatasan wilayah Kerajaan Meztano, mereka akan tiba pagi nanti. Menurut pengamatan yang kami lakukan ada sekitar tiga orang anggota inti yang akan menghadiri ulang tahun sang putri. Mereka adalah Tuan Marques Jordy Montiqu, Tuan Muda Egil Montiqu, dan Nona Muda Anye Montiqu." jawab salah seorang pria bertopeng emas yang ada di hadapan Lilian.


"Sepertinya istri Tuan Marques tidak bisa hadir. Lalu bagaimana dengan Keluarga Kerajaan Belgize? apakah mereka menunjukkan pergerakan yang mencurigakan. Di masa lalu Kerajaan Meztano dan Kerajaan Belgize adalah musuh bebuyutan, pertikaian diantara kedua belah pihak berakhir beberapa tahun belakangan ini setelah menyepakati perjanjian damai. Meskipun begitu saya tetap khawatir ada beberapa oknum dari Kerajaan Belgize yang ingin merusak acara ulangtahun Tuan Putri." ucap Lilian dengan sorot mata biru menyala. Seketika udara yang ada di sekitar wanita itu berubah menjadi dingin dan bertekanan rendah.


"Beberapa mata mata yang kami tempatkan di Istana Kerajaan Belgize memberikan informasi bahwa saat ini belum ada pergerakan signifikan dari Raja ataupun Ratu, akan tetapi mereka mengatakan agar lebih berhati hati pada Selir Yui karna ia ingin menciptakan perpecahan antara Kerajaan Meztano dengan Kerajaan Belgize." jawab salah satu orang yang menggunakan topeng emas.


"Selir Yui akan mendatangi pesta ulang tahun Putri Amerilya? tanya Lilian dengan alis terangkat.


"Kemungkinan besar ia akan ikut karna ini adalah kesempatan yang bagus untuk menimbulkan perpecahan diantara kedua belah pihak." jawab orang bertopeng emas itu dengan tegas.


"Baiklah jika begitu kalian bisa kembali ke tempat masing masing, terus informasi apa saja yang mereka lakukan. Bila ada pergerakan yang mencurigakan segera beritahu saya." perintah Lilian pada orang orang bertopeng emas itu.


"Siap laksanakan, kami permisi terlebih dahulu Nona Lilian. Kami percayakan keselamatan Tuan Putri Amerilya pada Anda dan rekan yang lain, selamat menjalankan tugas." ucap orang orang bertopeng emas itu kemudian mereka menghilang secara tiba tiba dari hadapan Lilian.


Lilian tersenyum tipis, ia duduk di atas atap istana putri sembari menikmati pemandangan malam hari yang sangat indah. Lilian dan kesembilan pelayan yang lain tak akan membiarkan pesta ulang tahun pertama Putri Amerilya yang dirayakan secara meriah hancur karna ulah orang luar. Lilian juga yakin banyak orang yang ingin melindungi Putri Amerilya dalam acara pentingnya esok malam, semoga saja semua berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Saat memikirkan pesta ulang tahun sang putri tiba tiba Lilian teringat dengan anggota Keluarga Kerajaan Antez yang masih bersitegang dengan anggota Keluarga Kerajaan Meztano, bagaimana jika mereka menciptakan sebuah konflik saat pesta tersebut berlangsung.


"Ah bagaimana bisa saya melupakan keberadaan mereka, sepertinya saya harus menempatkan beberapa pelayan di titik rawan seperti dapur dan aula utama tempat pesta ulangtahun dilangsungkan." ucap Lilian yang langsung menemukan sebuah cara untuk meminimalisir kemungkinan kekacauan yang akan terjadi.


Karna hembusan angin malam yang cukup kencang menerpa tubuhnya, tanpa sadar Lilian mulai merasakan kantuk dan memejamkan matanya secara perlahan. Akhirnya pelayan itu tertidur di atas atap istana putri tanpa meresahkan kedinginan karena ia seorang penyihir dengan tipe elemen es.


Waktu terus berjalan hingga malam hampir mencapai pagi, perlahan lahan bulan mulai bersembunyi dan matahari menampakkan dirinya. Putri Amerilya membuka matanya perlahan kemudian berkedip beberapa kali, ia menatap ke dinding ruang tidurnya dengan tatapan malas.

__ADS_1


"Hoaam.... sepertinya saya harus mandi agar tak merasa malas seperti ini. Namun air di istana sangatlah dingin, haruskah saya meminta pelayan untuk menyiapkan air hangat?." tanya Putri Amerilya pada dirinya sendiri. Sebenarnya sang putri tak terbiasa mandi dengan air hangat namun suhu hari ini lebih dingin dari biasanya, kemungkinan besar musim salju akan segera datang.


Putri Amerilya beranjak dari tempat tidurnya kemudian keluar dari kamar dengan wajah menggantuk. Baru saja keluar kamar ia langsung bertemu dengan Putri Liene, sungguh hari yang suram untuk Tuan Putri kecil kita ini.


"Sepertinya Tuan Putri Amerilya belum membasuh diri, apakah biasanya Anda semalas ini?." tanya Putri Liene dengan nada bicara lembut namun kata katanya sengaja untuk menyindir Putri Amerilya.


"Humm...apa yang anak kecil seperti saya lakukan di pagi hari bukanlah urusan Anda. Lagipula cuaca hari ini lebih dingin dari biasanya karna itu saya menunda sebentar untuk mandi." jawab Putri Amerilya dengan tatapan datar. Ia tak ingin merusak harinya yang indah ini dengan beradu mulut di pagi hari.


"Ahahaha lihatlah putri kecil yang berhasil menghadapi berbagai masalah ternyata sangat takut dengan suhu dingin. Raja Azvago pasti merasa malu jika mengetahui putrinya sangat lemah seperti ini." ucap Putri Liene dengan senyuman mengejek.


"Yah mau bagaimana lagi, saya terbiasa dengan suasana hangat karena tinggal di tempat yang memiliki tekanan suhu tinggi. Bagaimana bisa Anda membandingkan saya dengan diri Anda yang terbiasa mandi menggunakan balok es." jawab Putri Amerilya dengan santai. Sang putri kecil tak merasa heran jika anggota Keluarga Kerajaan Antez tidak merasakan kedinginan seperti dirinya. Mereka tinggal di wilayah timur yang jarang terkena sinar matahari, selain itu suhu dingin di wilayah Kerajaan Antez sangatlah ekstrim.


Setelah mengatakan hal itu Putri Amerilya langsung pergi meninggalkan Putri Liene yang masih sibuk mendumal mengatakan hal hal yang tidak jelas. Merasa terabaikan tentu membuat Putri Liene semakin kesal, ia ingin mengejar Putri Amerilya namun segera mengurungkan niatnya itu saat melihat Putri Alexsi yang baru saja keluar dari kamar tamu dan langsung memberikan tatapan tajam. Sedari tadi Putri Alexsi dari Kerajaan Monzxo memang sengaja menunda keluar dari kamar yang ia tempati untuk mendengar pembicaraan antara Putri Amerilya dengan Putri Liene.


"Cih seorang tamu yang sangat tidak tau diri. Andai saja orang orang seperti ini berkunjung ke Kerajaan Monzxo pasti saya sudah mengubur mereka hidup hidup di dalam tanah." ucap Putri Alexsi dengan suara yang cukup kencang sembari melintas di hadapan Putri Liene.


Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sudah sampai di dapur, ia menghampiri seorang pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Putri Amerilya menarik ujung baju yang dikenakan oleh pelayan itu hingga si pelayan membalikkan badan dan menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan bingung.


"Ada apa Tuan Putri, apakah Anda membutuhkan sesuatu?." tanya Riana seorang pelayan dengan rambut berwarna pirang dan mata emas yang sangat cantik.


"Bisakah Amerilya meminta bantuan?." ucap Putri Amerilya sembari melihat dengan tatapan polos.


"Bantuan apa yang bisa saya berikan pada Tuan Putri? katakan saja karna saya dan pelayan yang lain siap untuk membantu Anda." ucap Riana.


"Hari ini suhu lebih dingin dari biasanya dan saya belum mandi, bisakah Riana menyiapkan air hangat untuk saya mandi?." tanya Putri Amerilya dengan sangat sopan. Ia tak langsung memberikan perintah secara mutlak pada pelayanannya itu melainkan bertanya kesediaan Riana menyiapkan apa yang ia butuhkan.


Riana berjongkok di hadapan Putri Amerilya kemudian memeluk sang putri dengan erat, Riana berusaha untuk menahan rasa gemasnya yang sudah meluap sedari tadi. Sikap Putri Amerilya yang sangat polos itu membuatnya hampir lupa bahwa putri kecil yang ia layani juga memiliki sisi lain yang sangat ganas dan kejam.

__ADS_1


"Baiklah Tuan Putri bisa kembali ke kamar, saya akan menyiapkan air hangat untuk Anda mandi." ucap Riana dengan senyuman lebar.


"Baiklah Amerilya akan kembali ke kamar, di mana Lilian mengapa saya tak melihatnya dimanapun? apakah Lilian sedang sibuk hingga pergi keluar dari Istana Putri?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung. Sang putri menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Lilian.


"Entahlah saya dan yang lain tak melihatnya sejak kami bangun tadi, Juylin sudah mencari di kamar para pelayan yang lain namun tak menemukan keberadaan Lilian." jawab Riana, ia tidak ingin membohongi Putri Amerilya hanya untuk membuat sang putri merasa lebih tenang.


"Ternyata begitu, saya akan pergi mencari Lilian terlebih dahulu sebelum kembali ke kamar. Sampai jumpa Riana, terimakasih karna bersedia menyiapkan air hangat untuk saya." ucap Putri Amerilya yang bergegas keluar dari dapur dengan wajah ceria. Sang putri pergi ke arah taman istana untuk melihat apakah Lilian ada di sana, jika tak kunjung menemukan pelayannya itu berarti hanya ada satu kesimpulan yang dapat diambil sang putri. Mungkin saja Lilian saat ini sedang berada di Istana Utama untuk membantu para pelayan lain menyiapkan pesta ulang tahunnya.


Putri Amerilya terus berjalan menyusuri taman, mulai dari taman putri hingga taman utama Istana Kerajaan Meztano namun ia tak kunjung menemukan keberadaan Lilian. Karna merasa bosan akhirnya sang putri memetik beberapa bunga mawar putih dan berencana untuk menata bunga itu dalam vas yang berada di dalam kamarnya. Saat sedang memetik bunga Putri Amerilya tak sengaja melihat ke arah atap Istana Putri, ia melihat sebuah tangan menjuntai ke bawah.


"Apa itu? mungkinkah ada mayat seseorang yang tersangkut di atas sana?." tanya sang putri pada dirinya sendiri. Rasa penasaran mulai menyelimuti perasaan Putri Amerilya, daripada terus menerka nerka apa yang ada di atas sana akhirnya sang putri berjalan ke arah halaman belakang istana putri.


Setelah sampai di tempat yang dituju, Putri Amerilya langsung melilit tubuhnya menggunakan tanaman rambat kemudian mengarahkan tanaman itu naik ke atas atap. Saat berada di atas mata putri kecil itu membelalak dengan lebar, pantas saja ia dan para pelayan lain tak menemukan keberadaan Lilian ternyata yang dicari cari sedang tertidur lelap di atas atap istana putri.


"Lilian bangun ini sudah pagi." ucap Putri Amerilya sembari menggoyangkan tubuh Lilian menggunakan tangan kecilnya itu.


"Lilian ayo bangun, Amerilya belum sarapan pagi ini." ucap Putri Amerilya yang masih berusaha sekuat tenaga membangunkan pelayannya itu.


Setelah beberapa menit berusaha membangunkan Lilian akhirnya si pelayan bangun juga. Lilian membuka matanya secara perlahan dan ia langsung dikejutkan dengan keberadaan Tuan Putri Amerilya. Dengan sigap Lilian langsung memposisikan dirinya duduk di atas atap sembari menatap bingung ke arah Putri Amerilya.


"Sejak kapan Tuan Putri berada di atas sini? ini sangat berbahaya siapa yang membantu Anda naik ke atas." ucap Lilian dengan raut wajah panik. Atap istana putri cukup tinggi, siapa saja bisa mengalami patah tulang jika sampai terjatuh ke bawah.


"Amerilya naik sendiri ke atas sini. Ayo turun ke bawah, teman Lilian yang lain merasa khawatir karna tak menemukan Lilian di dalam kamar dan di sekitar Istana." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar seperti ia tak melakukan kesalahan apapun.


Lilian hanya bisa menghela nafas pasrah, sangat sulit memahami Tuan Putri kecilnya itu. Lilian membawa Putri Amerilya ke dalam gendongannya kemudian mereka loncat ke bawah dan mendarat dengan sempurna tanpa ada cidera sedikitpun. Setelah berada di bawah Lilian segera menurunkan sang putri dari gendongannya.


"Karena Lilian susah ketemu Amerilya akan kembali ke kamar untuk membersihkan diri, sampai jumpa lagi." ucap Putri Amerilya dengan senyuman manis sembari berjalan menjauh dari Lilian yang masih memperhatikannya.

__ADS_1


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2