
Ratu Zivaya sampai di ruang perawatan, sang ratu melihat kedua ranjang telah penuh oleh anggota Keluarga Kerajaan Belgize. Tanpa mengatakan apapun tiba tiba Ratu Zivaya menggulingkan tujuh Putri Arbel yang sedang dalam kondisi membeku. Para tabib dan alkemis terkejut melihat tindakan ratu mereka itu.
"Sudah hiraukan saja Putri Arbel karna dia bukan prioritas kalian. Cepat selamatkan Putri Amerilya yang saat ini sedang kritis!." bentak Ratu Zivaya pada para tabib dan alkemis yang masih terdiam di tempat duduk mereka.
"Baik Yang Mulia Ratu, kami akan mencoba untuk menyelamatkan Tuan Putri Amerilya." jawab para tabib dan alkemis secara serempak.
Para tabib dan alkemis sedang memeriksa kondisi Putri Amerilya, salah seorang alkemis mengangkat kedua alisnya. Sang alkemis menemukan keanehan di dalam tubuh Putri Amerilya, ada sebuah energi yang berusaha untuk menetralisir racun yang ada di dalam tubuh putri kecil itu.
"Tubuh Putri Amerilya sangat spesial, dia memiliki kemampuan alami untuk menetralisir racun yang ada di dalam tubuhnya. Saya khawatir jika kami memberikan obat ataupun penawar racun akan memperburuk kondisi tubuh sang putri." ucap sang alkemis.
"Lalu apa yang harus dilakukan sekarang?" tanya Ratu Zivaya yang masih merasa khawatir. Bagaimanapun ia tak ingin sesuatu terjadi pada putrinya.
"Sebaiknya kita menunggu hingga beberapa hari kedepan, lambat laun racun yang ada di dalam tubuh sang putri akan menghilang dengan sendirinya. Kami akan terus mengontrol kondisi sang putri dan akan mengambil tindakan jika terjadi sesuatu." ucap seorang tabib.
"Baiklah saya percayakan kesembuhan putri saya pada kalian semua. Untuk kedua anggota keluarga dari Kerajaan Belgize ini, kalian tidak perlu merawat mereka lagi." perintah Ratu Zivaya, ia tidak ingin mendengar bantahan apapun.
"Siap kami mengerti Yang Mulia Ratu, kami akan menyiapkan tempat jika Anda ingin menunggu di sini." ucap dua orang alkemis yang langsung membereskan kursi dan sofa tempat mereka beristirahat tadi.
Saat ini Raja Azvago sudah sangat dekat dengan ruang kesehatan, karna kondisi pintu ruangan itu ditutup rapat akhirnya sang raja dengan terpaksa mendobrak pintu itu.
Bruak....
Suara pintu ruang perawatan yang didobrak paksa oleh Raja Azvago, setelah berhasil membuka pintu itu Raja Azvago segera masuk ke dalam untuk mencari Putri Arbel dan Putri Luncia. Ratu Zivaya dan beberapa tabib menatap ke arah pintu dengan tatapan tajam.
"Tidak bisakah Anda membuka pintu secara baik baik? saat ini Putri Amerilya sedang dalam perawatan tabib." ucap Ratu Zivaya. Ia merasa kesal karna sang suami membuat keributan.
"Maaf saya lupa bahwa saat ini putri kita sedang dalam masa perawatan. Dimana Putri Arbel? mengapa dia tidak ada di atas ranjang." tanya Raja Azvago sembari melihat keseluruh sudut ruang perawatan.
__ADS_1
"Entahlah, saya tadi melemparkan tubuh beku itu ke arah sana." tunjuk Ratu Zivaya ke sebelah kiri ranjang tempat Putri Amerilya dirawat.
Raja Azvago berjalan menuju ke arah yang ditunjuk oleh istrinya, di sana terlihat tubuh beku Putri Arbel yang sedang tergeletak di lantai. Tanpa basa basi Raja Azvago mengepakkan tangannya sekuat mungkin kemudian mengalirkan mana pada kepalan tangan itu.
Duar....
Suara ledakan yang kencang menggema di seluruh ruang kesehatan, tubuh beku Putri Arbel berubah menjadi butiran es kecil kemudian hilang begitu saja. Ratu Zivaya menatap tajam ke arah sang suami, baru saja ia memberi peringatan untuk tidak membuat keributan namun sang suami sudah mengulang hal yang sama.
"Ck sudah saya bilang untuk tidak membuat keributan di sini, jika sampai kondisi Putri Amerilya semakin parah karna ulah Anda itu jangan harap bisa berdiri menggunakan kedua kaki." bentak Ratu Zivaya.
"Huft... maaf istriku. Saya tidak bisa menahan emosi untuk menghancurkan tubuh Putri Arbel." ucap Raja Azvago.
Raja Azvago berjalan dengan perlahan, ia menjatuhkan tubuh Ratu Luncia dari atas ranjang ruang perawatan kemudian menyeret tubuh Ratu Luncia keluar dari ruangan itu. Raja Azvago berusaha menahan kemarahannya dan menghabisi nyawa Ratu dari Kerajaan Belgize itu di tempat lain agar tidak menggangu putrinya.
Di sisi lain Lilian, Juylin, dan Amena telah menyelesaikan tugas mereka. Putri Bilgiz telah disingkirkan karna dialah penyebab utama dari masalah yang terjadi di Istana Kerajaan Meztano. Mereka bertiga berencana untuk pergi ke istana utama untuk mengunjungi dan melihat kondisi Putri Amerilya.
Saat ingin masuk ke dalam istana utama ketiga pelayan itu dihentikan oleh prajurit yang berjaga di depan pintu masuk istana utama.
"Kami ingin melihat kondisi Putri Amerilya yang sedang dirawat di ruang kesehatan istana utama. Mungkin saja Ratu Zivaya membutuhkan kami untuk merawat sang putri selama dalam masa pemulihan." jelas Juylin dengan senyuman manis.
"Baiklah, mohon tunggu sebentar. saya akan masuk dan meminta izin terlebih dahulu pada Ratu Zivaya." jawab para prajurit itu.
Belum sempat sang prajurit masuk ke dalam istana utama untuk memberitahu pada Ratu Zivaya mengenai para pelayan yang ingin mengunjungi Putri Amerilya, pintu istana utama terbuka lebar menunjukkan Raja Azvago dengan tubuh berlumuran darah.
Raja Azvago keluar sembari menyeret tubuh Ratu Luncia yang dipenuhi dengan luka akibat menabrak beberapa benda ketika dalam perjalanan.
Raja Azvago menjambak rambut Ratu Luncia kemudian melebarkan tubuh sang ratu ke halaman depan istana. Ratu Luncia merintih kesakitan sembari menatap Raja Azvago dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Uhuk....uhuk. Mengapa Anda melakukan hal ini pada saya? kesalahan apa yang telah saya lakukan." tanya Ratu Luncia dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan menunjukkan wajah polos Anda yang palsu itu Ratu Luncia. Saya dan anggota Kerajaan Meztano yang lain sudah tau apa yang Anda lakukan selama ini. Hampir seluruh Keluarga Kerajaan Belgize adalah pengikut Pangeran Lich." ucap Raja Azvago dengan tatapan tajam.
Rintihan Ratu Luncia langsung terhenti, ia melihat ke arah Raja Azvago kemudian tersenyum lebar. Ratu Luncia tertawa dengan kencang sangat mirip dengan orang tidak waras. Raja Azvago dan ketiga pelayan dari istana putri menatap ke arah sang ratu dengan tatapan bingung.
"Apakah Ratu Luncia tiba-tiba menjadi gila seperti ini?." tanya Amena dengan tatapan bingung.
"Dia tidak gila, iblis yang ada di dalam tubuhnya mulai bergejolak. Ratu Luncia juga pengikut Pangeran Lich seperti Putri Bilgiz." jawab Lilian. samar samar ia melihat aura gelap keluar dari tubuh Putri Luncia.
"Ahahaha..... ahahaha. Kehancuran untuk Kerajaan Meztano sudah didepan mata. Putri Amerilya dengan berani menolak tawaran Pangeran Lich untuk menikah dengannya. Kini sang pangeran akan menargetkan kalian semua untuk dijadikan korban." ucap Ratu Luncia.
"Semua anggota keluarga Anda telah tiada, jadi siapa yang hancur? apakah Kerajaan Meztano ataukah Kerajaan Belgize?." tanya Raja Azvago dengan senyum lebar.
Tawa Ratu Luncia berubah menjadi rintihan tangis, sang ratu terduduk lemas di depan halaman istana utama. Ratu Luncia menangis sejadi-jadinya, anehnya air mata sang ratu berwarna merah seperti darah.
"Hiks hiks hiks....putri kesayangan ibu. Siapa yang berani membunuhnya." rintih Ratu Luncia dengan tangisan yang pecah.
"Sebaiknya Anda juga pergi untuk menyusul semua anggota keluarga Anda yang telah tiada." ucap Lilian. Sorot mata tajamnya terarah pada Ratu Luncia.
"Bereskan wanita itu saya ingin mandi dan membersihkan darah yang menempel di tubuh. Setelah tugas kalian selesai, silahkan masuk ke dalam istana utama untuk merawat Putri Amerilya." ucap Raja Azvago. Setelah mengatakan hal itu sang raja segera masuk ke dalam istana utama.
"Siap Yang Mulia Raja, kami akan membereskan masalah ini untuk Anda." jawab Lilian bersama dengan kedua pelayan lain.
Lilian menatap ke arah Juylin, ia memberikan isyarat agar Juylin membunuh Ratu Luncia dengan pedang hitam miliknya itu. Juylin menganggukkan kepalanya, dalam sekejap mata tubuh dan kepala Ratu Luncia sudah terpisah dari badan.
"Bakar saja agar tidak dibangkitkan lagi oleh Pangeran Iblis." perintah Lilian pada rekannya itu.
__ADS_1
Lilian menjentikkan tangannya dan dalam sekejap mayat Ratu Luncia terbakar oleh kobaran api yang sangat besar. Setelah tugasnya selesai mereka bertiga langsung berjalan masuk ke dalam istana utama, kaki ini para prajurit tidak ada yang menghalangi.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.