
Saat ini Raja Azvago, Pangeran Luxe dan anggota Kesatria White Rose sedang dalam perjalanan menuju aliran sungai utama yang ada di Kerajaan Meztano. Di belakang rombongan itu ada Ratu Luncia yang sedang berusaha menyusul mereka dengan cara berlari, entah mengapa sang ratu tetap berada di belakang rombongan Yang Mulia Raja Azvago. Setelah berjalan kurang lebih sekitar dua puluh menit akhirnya mereka semua sampai di tepi sungai yang sudah dikerumuni oleh penduduk sekitar.
"Beri jalan, Yang Mulia Raja Azvago dan Pangeran Mixo ingin melihat dua mayat korban!." ucap Kesatria Albern dengan cukup kencang.
Para penduduk segera minggir dan memberikan tempat untuk Raja Azvago dan Pangeran Mixo. Keduanya berjalan mendekat ke arah pinggiran aliran sungai, ekspresi terkejut dari Raja Azvago membuat Ratu Luncia semakin panik. Sang ratu ingin menerobos dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri mengenai identitas kedua mayat pemuda yang dikhawatirkan adalah mayat dari Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf.
"Segera angkat kedua mayat itu, minta pada tim penyidik istana Kerajaan Meztano untuk mencari informasi mengenai kematian mereka berdua." perintah Yang Mulia Raja Azvago pada para prajurit kerajaan beserta anggota Kesatria White Rose yang sedang menjalankan tugas mereka.
"Bukankah pakaian itu milik kedua pangeran dari Kerajaan Belgize? namun mengapa yang memakainya adalah orang yang berbeda." ucap Pangeran Mixo sembari menunjukkan ekspresi bingung.
"Kami belum menemukan informasi apapun mengenai hal ini, beberapa penduduk sekitar hanya melihat ketika kedua mayat ini mengapung di sungai dekat pemikiran mereka saja. Menurut kesaksian Kepala Desa dan beberapa pria yang sedang mencari kayu di tengah hutan mereka sempat mendengar adanya pertarungan, namun saat sang kepala desa pergi ke sumber suara pertarungan itu telah berakhir." jelas Kesatria Richal pada Pangeran Mixo.
"Mungkinkah kedua pemuda ini anggota dari kelompok pembunuh bayaran? mereka memiliki tato tengkorak di bagian leher." ucap Pangeran Mixo sembari menunjuk bagian leher dari salah satu mayat.
"Sepertinya tebakan Pangeran Mixo benar, namun mengapa Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf berurusan dengan organisasi pembunuh bayaran?. Apa yang ingin mereka lakukan dengan pergi ke markas para pembunuh bayaran itu?." tanya Kesatria Richal yang belum bisa menemukan titik terang.
"Kalian urus saja kedua mayat ini dan cari informasi sebanyak mungkin untuk mengetahui insiden dibalik kematian keduanya. Saya akan kembali ke istana untuk memerintahkan pada pasukan khusus agar memulai pencarian Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf." perintah Yang Mulia Raja Azvago dengan tegas.
"Siap laksanakan!." jawab seluruh prajurit yang ada di tempat kejadian bersama dengan Anggota Kesatria White Rose.
Raja Azvago dan Pangeran Mixo keluar dari kerumunan para penduduk, mereka harus segera kembali ke istana untuk mengatasi kekacauan ini. Saat ingin berjalan pergi Raja Azvago melihat Ratu Luncia yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada, akhirnya Raja Azvago pergi untuk menemui sang ratu terlebih dahulu.
"Apa yang sedang Anda lakukan di sini Ratu Luncia? seharusnya Anda menunggu dan melanjutkan pesta makan malam bersama dengan para tamu undangan yang lain dan suami Anda." tanya Raja Azvago.
"Saya tidak bisa tenang memikirkan putra sulung saya yang menghilang sejak pagi tadi. Pikiran saya semakin kalut setelah mendengar kabar yang disampaikan oleh kesatria Anda tadi. Jadi siapa kedua mayat pemuda yang mengapung di sungai itu?." tanya Ratu Luncia sebagai rasa was-was disertai rasa penasaran.
__ADS_1
"Menurut kesimpulan sementara mereka adalah dua anggota pembunuh bayaran, namun anehnya mereka menggunakan pakaian milik putra Anda dan juga putra Selir Yui." jelas Raja Azvago secara singkat.
"Menurut perkiraan saya sepertinya kedua pangeran sengaja pergi untuk mencari markas para pembunuh bayaran dan menyewa beberapa pembunuh untuk melakukan tugas. Ada beberapa fakta dan rahasia yang tidak diketahui oleh kedua pangeran sebelum pergi mencari markas itu, merekapun berakhir menjadi buronan para anggota pembunuh bayaran dan kedua pemuda itu hanyalah kambing hitam agar Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf bisa melarikan diri." ucap Pangeran Mixo, ia menjelaskan sedikit kronologi yang terbayang di dalam otaknya mengenai kejadian ini.
"Saya mengerti jika Kerajaan Belgize memiliki dendam pribadi pada Kerajaan Meztano, namun alangkah baiknya Raja Ruzel tidak membuat kerusuhan selagi berada di wilayah ini. Saya harap Ratu Luncia bisa mengerti akan hal itu." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan raut wajah sedih.
Ratu Luncia menelan ludahnya dengan susah payah, sejak awal kedatangannya ke Istana Kerajaan Meztano hanya untuk merayakan ulang tahun Putri Amerilya tanpa ada niatan lain, namun sangat disayangkan sang suami terlalu terobsesi untuk membalas dendam pada pihak Kerajaan Meztano hingga bertindak gegabah seperti ini. Kini yang menjadi korban dari rencana Raja Ruzel adalah kedua putranya sendiri, dan hal yang membuat Ratu Luncia naik pitam adalah sang raja tampak tidak perduli.
Ratu Luncia membungkukkan badannya beberapa kali di hadapan Yang Mulia Raja Azvago sebagai permintaan maaf, wanita itu bahkan sampai menangis.
"Saya Ratu dari Kerajaan Belgize meminta maaf atas kerusuhan yang dibuat oleh anggota keluarga saya yang lain. Saya harap pihak Kerajaan Meztano mau membantu proses pencarian Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf meskipun hilangnya mereka disebabkan kecerobohan dari kami." ucap Ratu Luncia dengan tatapan memohon. Prajurit Kerajaan Belgize yang ikut pergi ke Kerajaan Meztano tidak akan cukup untuk melakukan penyusuran.
"Tanpa Anda harus memohon seperti itu sudah menjadi kewajiban kami untuk melakukan pencarian terhadap kedua pangeran. Sebaiknya Anda kembali ke istana untuk beristirahat dan serahkan saja pencarian kedua pangeran pada kami." ucap Raja Azvago.
"Terimakasih banyak, terimakasih atas kebaikan Yang Mulia Raja dan pihak Kerajaan Meztano. Saya pamit untuk kembali ke istana, sampai jumpa." ucap Ratu Luncia. Wanita itu bergegas pergi menuju Istana Kerajaan Meztano, bukan untuk beristirahat melainkan untuk memberi pelajaran pada sang suami dan putri pertamanya.
"Mari semuanya kita pergi ke kedai yang ada di ujung desa, kalian semua pasti lelah memainkan peran seperti ini. Saya akan mentraktir kalian semua." ucap Yang Mulia Raja Azvago pada semua orang yang terlibat dalam rencana besar yang dibuat oleh Ratu Zivaya.
"Hore kita semua ditraktir oleh Yeng Mulia Raja Azvago, jangan lupa untuk memesan beberapa arak." triak salah seorang pria dengan ekspresi bahagia.
Saat ini pesta jamuan makan malam masih berjalan dengan lancar, semua tamu undangan menikmati pesta tersebut kecuali Raja Ruzel dan Putri Arbel. Wajah keduanya menunjukkan ekspresi cemas menunggu kabar mengenai identitas kedua mayat pemuda yang terapung di atas sungai. Jika Putri Arbel merasa cemas karena ia tak ingin kehilangan kedua kakak laki-lakinya, berbeda dengan Raja Ruzel yang merasa cemas jika Ratu Luncia menurunkannya dari tahta Kerajaan Belgize.
Tanpa di sadari hari semakin larut dan pesta jamuan makan malam harus diakhiri sekarang juga, karna Yang Mulia Raja Azvago sedang tidak ada di sana akhirnya Ratu Zivaya yang mengambil alih.
"Selamat malam semuanya." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman manis.
__ADS_1
"Selamat malam Yang Mulia Ratu Zivaya." jawab seluruh tamu undangan dengan raut wajah bahagia.
"Karna hari sudah semakin malam saya ingin mengakhiri pesta jamuan makan malam penutupan sebagai pertanda hari perayaan ulang tahun Putri Amerilya telah berakhir. Saya sebagai perwakilan dari Istana Kerajaan Meztano mengucapkan terimakasih untuk semua para tamu undangan yang telah hadir malam ini, maaf juga atas beberapa kendala yang terjadi. Semoga kedepannya hubungan kita semua semakin dekat, saya umumkan pesta jamuan makan malam penutupan telah berakhir." ucap Ratu Zivaya dengan tegas dan keanggunan yang memancar dari dalam dirinya.
Prok... prok...prok
Suara tepuk tangan dari para tamu undangan yang datang, satu persatu dari mereka mulai pergi meninggalkan ruang makan utama Kerajaan Meztano. Saat sampai di depan pintu ruang makan, para tamu undangan yang hendak pulang berjabat tangan dengan beberapa anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang ada di sana.
Setelah hampir semua tamu undangan keluar dari ruang makan utama, yang tersisa hanya beberapa anggota keluarga bangsawan yang ingin membahas beberapa masalah serta bisnis dengan Yang Mulia Ratu Zivaya dan Pangeran Luxe.
"Kalian berdua tolong antar Putri Amerilya kembali ke istana putri." perintah Ratu Zivaya pada Pangeran Zico dan Pangeran Azxo.
"Baik ibu, kami permisi terlebih dahulu." jawab Pangeran Zico dan Pangeran Azxo secara bersamaan.
Kedua pangeran itu menggandeng tangan Putri Amerilya kemudian mulai berjalan menuju pintu keluar istana putri, mereka bertiga berjalan dengan santai diselingi beberapa candaan. Saat melintas di sebuah lorong panjang yang cukup minim penerangan tiba tiba sebuah bongkahan es tajam melesat ke arah mereka bertiga.
Trang....
Suara sebuah pedang yang membelah bongkahan es itu menjadi beberapa bagian dan menyelamatkan Putri Amerilya beserta kedua pangeran.
"Kalian baik baik saja?." tanya Ratu Luncia dengan tatapan khawatir.
"Kami baik baik saja, terimakasih Ratu Luncia." jawab Pangerang Zico mewakili kedua adiknya.
Ratu Luncia menatap Raja Ruzel dengan tatapan tajam, Raja Ruzel lah yang menyerang ketiga anak Raja Azvago dan Ratu Zivaya secara diam-diam.
__ADS_1
"Tidak bisakah Anda berhenti membuat keributan saat berada di wilayah kerajaan lain?. Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf belum ketemu, bukannya merasa khawatir dengan keadaan mereka berdua Anda malah bersikap kekanak-kanakan seperti ini!." bentak Ratu Luncia yang sangat lelah dengan sikap sang suami.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.