PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Kapan Ulang Tahun Putri Amerilya?


__ADS_3

Saat ini Ratu Zivaya sedang meminta beberapa pelayan untuk berkumpul, ia akan mendiskusikan mengenai pesta ulang tahun Putri Amerilya yang akan diadakan satu minggu lagi. Melihat beberapa pelayan yang berlarian melewati ruang kerjanya membuat Raja Azvago merasa bingung, sang raja keluar untuk melihat apa yang terjadi. Saat sampai di aula utama Kerajaan Meztano, Raja Azvago menatap istrinya seperti sedang meminta penjelasan tentang semua ini.


"Kami sedang menyiapkan ulang tahun Putri Amerilya yang akan dilaksanakan satu minggu lagi." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman lebar, tanpa wanita itu sadari perkataanya membuat Raja Azvago menjadi bingung.


"Putri kita akan berulang tahun enam bulan lagi, ini terlalu awal jika kau ingin memajukannya." ucap Raja Azvago dengan tatapan datar, entah sang istri yang lupa dengan hari ulang tahun putri mereka sendiri, atau istrinya sudah tak sabar melihat putri kecil mereka beranjak dewasa nanti.


Ratu Zivaya sempat terdiam beberapa saat, ia juga kebingungan siapa yang benar dalam hal ini. Menurut perhitungannya Putri Amerilya akan berusia tiga tahun satu minggu lagi, akan tetapi sang suami mengatakan ulang tahun putrinya masih enam bulan lagi.


"Apa diantara kalian ada yang mengingat kapan Putri Amerilya dilahirkan?." tanya Ratu Zivaya pada beberapa pelayan yang sudah berkumpul di aula utama Kerajaan Meztano.


Para pelayan saling berpandangan satu sama lain, mereka tak tau banyak mengenai Putri Amerilya. Dulu Yang Mulia Raja Azvago saja melarang pelayan dari istana utama untuk menjenguk sang putri yang baru lahir, karna hal itu terus berlanjut hingga Putri Amerilya berusia dua tahun akhirnya banyak orang yang melupakan tanggal lahir sang putri.


"Maaf Yang Mulia Ratu, kami tak mengingat kapan putri anda lahir." jawab para pelayan istana utama dengan menundukkan kepala mereka.


"Sebaiknya kita pergi ke istana putri dan menanyakan hal ini pada pelayan yang sudah menjaga sang putri sejak bayi." ucap Raja Azvago yang memberikan saran. Akhirnya Raja dan Ratu pergi menuju istana putri, sebelumnya ratu meminta para pelayan yang sedang berkumpul untuk membubarkan diri mereka dan kembali pada pekerjaan masing masing.


Di lain sisi saat ini Putri Amerilya sedang menikmati betapa hidangan makanan yang disediakan oleh para pelayan setianya, sang putri meminta sepuluh pelayan itu untuk makan bersamanya di meja makan. Awalnya mereka tak ingin menuruti keinginan sang putri karna hal itu terkesan sangat tak sopan, namun karna Putri Amerilya mengancam akan mogok makan selama tiga hari akhirnya kesepuluh pelayan itu menuruti keinginan Putri Amerilya.


"Kami mendengar bahwa anda berhasil mengulur waktu hingga Yang Mulia Raja Azvago datang, bagaimana cara anda melawan Duke Zidan Marques?." tanya salah seorang pelayan dengan sorot mata berbinar, mereka tak menyangka tuan putri yang telah mereka rawat dari bayi adalah seorang anak perempuan yang luar biasa.


"Amerilya hanya menangkis serangan pria jahat itu hingga ayah datang." jawab Putri Amerilya dengan nada polos, anak itu masih memakan makanan dalam mulutnya saat menjawab pertanyaan tersebut.


"Tuan Putri kami sangat luar biasa." ucap kesepuluh pelayan itu secara bersamaan.


"Tentu saja, karna Amerilya akan menjadi pendekar pedang yang sangat hebat nantinya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar, ia sudah tak sabar untuk menjadi dewasa dan bisa menggerakkan pedang dengan leluasa.


"Kami akan selalu menemani tuan putri hingga beranjak dewasa nanti." ucap kesepuluh pelayan itu penuh dengan semangat.


Saat mereka sedang makan dan berbincang bincang di ruang makan utama istana putri, tiba tiba Raja Azvago dan Ratu Zivaya masuk kedalam ruang makan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Karna kedatangan sang raja dan ratu yang sangat mendadak membuat para pelayan menjadi terkejutnya, kesepuluh pelayan itu langsung berdiri dari tempat duduk mereka dan mengucapkan salam.


"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Azvago dan Yang Mulia Ratu Zivaya." ucap kesepuluh pelayan itu dengan membungkukkan badan mereka. Para pelayan takut jika Raja Azvago akan marah setelah melihat mereka makan di meja yang sama dengan Tuan Putri Amerilya.

__ADS_1


"Lanjutkan saja makannya, kami datang hanya untuk bertanya tentang sesuatu." ucap Raja Azvago dengan raut wajah tenang, pria itu sudah menebak bahwa para pelayan melakukannya atas perintah dari putri kecilnya sendiri.


"Kami akan menjawab sesuai dengan yang kami ketahui." ucap salah seorang pelayan yang mewakili temannya yang lain.


"Kapan Putri Amerilya akan melangsungkan acara ulang tahunnya yang ketiga tahun?." tanya Raja Azvago dengan raut wajah serius, ia berharap perhitungannyalah yang benar.


Kesepuluh pelayan itu tampak diam dan sedang menghitung kapan putri kecil mereka akan berusia tiga tahun, setelah lima menit berlalu akhirnya para pelayan melakukan diskusi untuk melihat apakah jawaban yang mereka miliki sama atau tidak. Untung saja kesepuluh pelayan itu memiliki jawaban yang sama, dan mereka masih mengingat dengan jelas tanggal dan bulan lahir Putri Amerilya.


"Tuan Putri Amerilya akan berulang tahun sekitar satu bulan lagi, kami semua memiliki perhitungan yang sama." ucap salah seorang pelayan dengan senyum senang, akhirnya setelah dua tahun berlalu putri kecil yang mereka rawat mendapat acara ulang tahun yang meriah.


"Baiklah jika begitu kami pamit." ucap Raja Azvago yang segera membawa istrinya untuk pergi dari sana. Mereka berdua merasa malu karna tak ingat dengan tanggal dan bulan lahir putri mereka sendiri.


"Untung saja saya belum meminta pelayan di istana utama untuk menyiapkan pesta ulang tahun." ucap Ratu Zivaya dengan perasaan lega.


"Kita harus mengingat dengan baik hari ulang tahun putri kita di masa depan." ucap Raja Azvago dengan nafas tersengal sengal. Keduanya berlari saat pergi dari istana putri menuju istana utama.


Karna masalah ulang tahun Putri Amerilya sudah diselesaikan, mereka berdua kembali ke ruang kerja masing masing karna masih banyak yang perlu diurus. Sedangkan sang putri masih menikmati semangkuk puding strawberry tang ada di hadapannya, sangat wajar jika kedua orang tuanya tak ingat kapan ia lahir karna di awal kisah Putri Amerilya bukanlah anak yang diinginkan untuk lahir ke dunia.


Setelah mendapatkan izin dari para pelayan setianya, Putri Amerilya langsung bergegas pergi dari istana putri. Setelah sampai di taman sang putri melihat lihat ke arah dinding dan ingin memanjatnya, namun karna terlalu tinggi akhirnya Putri Amerilya tak bisa melakukan apapun. Dari kejauhan Kesatria Richo melihat putri kecil mereka sedang berusaha memanjat tembok, karna merasa penasaran akhirnya pria itu menghampiri Putri Amerilya.


"Apa yang sedang anda lakukan tuan putri?." tanya Kesatria Richo yang membuat Putri Amerilya terkejut dan terjungkal kebelakang.


Dengan segera Kesatria Richo membantu Putri Amerilya untuk berdiri, sang kesatria merasa bersalah karna membuat putri kecil terkejut. Untung saja tubuh Putri Amerilya tak terluka, sang putri melihat ke arah Kesatria Richo dengan tatapan kesal.


"Saya hanya ingin bertanya mengapa Tuan Putri berusaha untuk memanjat tembok?." tanya Kesatria Richo dengan rasa tak enak hati.


"Amerilya ingin membeli sesuatu di pasar, jika Amerilya meminta izin pada ayah maka ayah tak akan mengizinkannya." ucap Putri Amerilya dengan raut wajah sedih. Kesatria Richo ingin membantu sang putri, namun ia takut akan dimarahi oleh ketua.


"Maaf karna saya tak bisa membantu anda." ucap Kesatria Richo yang langsung meninggalkan Putri Amerilya di sana.


Putri Amerilya menghela nafas pasrah karna rencananya untuk keluar dari istana gagal, jika begini bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan Putri Haru dan memberitahu kelicikan Duke Zidan Marques pada adik perempuan ayahnya itu. sang putri berkeliling di sekitar Istana Meztano, ia berharap ada sebuah celah yang muat dengan tubuh mungilnya itu. Mungkin satu satunya jalan yang bisa dilewati oleh Putri Amerilya adalah gerbang belakang Istana Kerajaan Meztano, namun saat ini tempat itu sedang dihjaga dengan ketat dan waktu terbaik untuk keluar dari istana adalah malam hari.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus kembali ke Istana Putri dan menyiapkan beberapa hal untuk malam nanti." ucap Putri Amerilya dengan pasrah, anak perempuan itu berjalan menuju Istana Putri dengan raut wajah sedih. Tentu perubahan sikap dari sang putri menjadi sorotan kesepuluh pelayan setianya, mereka khawatir Putri Amerilya sedang mendapat masalah yang sulit untuk diatasi sendiri.


"Apa kita harus membantunya?." ucap salah seorang pelayan.


"Tapi kemana Putri Amerilya ingin pergi? jika itu tempat yang jauh maka kita akan kesulitan mencari sebuah alasan saat raja atau ratu mencari Putri Amerilya." ucap pelayan lain yang sedang mempertimbangkan sesuatu.


Meski kesepuluh pelayan setia dari Putri Amerilya bukanlah wanita wanita biasa, akan tetapi mereka akan kesulitan saat harus memangkas jarak yang sangat jauh antara Kerajaan Meztano dengan kerajaan lain. Jika tujuan Putri Amerilya masih disekitar wilayah Kerajaan Meztano maka mereka bisa membantu putri kecil itu untuk keluar istana tanpa diketahui oleh siapapun.


"Siapa yang akan menanyakan hal ini pada Putri Amerilya? akankah anak itu menjawabnya dengan jujur?." ucap pelayan lain dengan perasaan cemas.


"Dia akan menjawab dengan jujur karna tak memiliki pilihan lain." jawab seorang pelayang dengan rambut panjang berwarna putih dan sorot mata tajam yang cukup menyeramkan.


Akhirnya dua orang pelayan masuk kedalam kamar sang putri, mereka berdua melihat Putri Amerilya sedang duduk di pinggir kasur sembari memikirkan sesuatu. Salah satu dari pelayan itu memberanikan diri untuk bertanya pada Putri Amerilya tentang hal yang membuatnya begitu sedih seperti ini. Awalnya Putri Amerilya ragu untuk memberitahukan rencana yang ia miliki, namun mengingat bahwa kesepuluh pelayan itu selalu berada di sisinya jadi sang putri menceritakan hal yang membuatnya gelisah.


"Anda ingin pergi ke tempat Putri Haru diasingkan? apakah anda yakin Putri Haru akan mendengarkan perkataan anda?." tanya salah seorang pelayan dengan ekspresi terkejut, ia hanya tak menyangka anak sekecil itu masih memikirkan perasan orang yang mencoba untuk membunuhnya.


"Meski bibi Haru jahat pada Amerilya, bibi Haru tetaplah bibi Amerilya." ucap sang putri dengan mata berbinar binar, ia ingin suatu saat Putri Haru menikah dengan seorang pria yang benar benar mencintainya dengan tulus bukan seorang pria tua gila yang ingin memanfaatkan sang putri.


"Tuan Putri yakin dengan keputusan yang anda buat?." tanya pelayan itu lagi untuk memastikan keteguhan hati putri kecil mereka.


"Jika memiliki kesempatan Amerilya pasti melakukannya." ucap Putri Amerilya dengan tegas tanpa ada keraguan sedikitpun dari sorot matanya.


"Baiklah kami akan membantu anda untuk keluar daru Istana Kerajaan Meztano, namun anda harus ditemani dua orang untuk berjaga jaga jika ada situasi genting." ucap kedua pelayan itu secara bersamaan.


Putri Amerilya menjadi kebingungan sekarang, mengapa kesepuluh pelayannya ingin membantu ia keluar dari istana? mungkinkah sedari awal kesepuluh pelayan itu memang benar benar berada di pihak Putri Amerilya dan rela melakukan apapun untuk Tuan Putri mereka?.


"Kami akan memberitahu pelayan lain tentang rencana anda, mungkin anda tak bisa mengunjungi Putri Haru dalam waktu dekat karna sidang Kerajaan Meztano akan segera dilaksanakan." ucap kedua pelayan itu yang langsung pergi dari kamar Putri Amerilya.


"Ini sangat luar biasa, Amerilya memiliki pendukung yang sangat hebat." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Hai semuanya author balik lagi nih di novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga selalu diberi kesehatan ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2