PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Tiga Kesatria Savalor


__ADS_3

Dua perempuan cantik itu tertidur dengan pulas, pintu kamar utama Kerajaan Meztano terbuka dan tampaklah Raja Azvago yang baru saja selesai mengerjakan beberapa dokumen penting. Raja Azvago melihat ke arah ranjang tempat tidurnya kemudian tersenyum bahagia, sang raja merebahkan tubuhnya di sebelah Putri Amerilya dan memeluk putri kesayangannya yang sedang tertidur pulas. Ratu Zivaya berada di sebelah kanan, Putri Amerilya berada di tengah, sedangkan Raja Azvago berada di sebelah kiri mereka terlihat seperti keluarga bahagia.


Di sisi lain saat ini beberapa anggota Kesatria Savalor sedang berkumpul di luar markas mereka, sepertinya para Kesatria Savalor itu sudah tak bisa menunggu lebih lama untuk menghabisi nyawa Putri Amerilya karna gadis itu semakin meresahkan saja.


"Sebaiknya kita pergi ke Istana Putri saat keadaan aman." ucap Kesatria Norx Savalor dengan tatapan penuh dengan dendam.


"Saat ini Istana Putri masih dijaga ketat oleh para prajurit, bagaimana cara kita mengelabuhi mereka?." tanya Kesatria Albigi Savalor.


"Kita bisa masuk menggunakan pintu belakang, ada beberapa prajurit yang sudah dekat dengan tim kita." ucap Kesatria Norx Savalor, sepertinya pria itu berencana menyuap beberapa prajurit yang bertugas menjaga Istana Putri.


"Mari bergerak sekarang." Rosten Savalor memberikan aba aba agar mereka bergerak saat ini juga.


Ketiga anggota Kesatria Savalor itu berjalan dengan santai melewati beberapa tempat dengan penjagaan ketat, para prajurit hanya mengapa mereka dan tak menaruh rasa curiga pada ketiga Kesatria Savalor. Setelah cukup dekat dengan Istana Putri, ketiga kesatria Savalor itu bersembunyi di balik semak semak. Terlihat dari kejauhan ada sekitar dua puluh prajurit yang sedang menjaga bagian depan Istana Putri, wajah para penjaga itu tampak sangat serius karna Raja Azvago akan sangat marah jika sesuatu terjadi pada anak kesayangannya.


"Kita tak bisa masuk melalui bagian depan Istana Putri." ucap Norx Savalor dengan tatapan tajam.


"Mari kita pergi menuju bagian belakang." ucap Albigi Savalor yang bergerak perlahan menuju bagian belakang Istana Putri.


Sedangkan di dalam istana putri sepuluh pelayan setia Putri Amerilya sedang menyebar di beberapa titik utama istana karna pelayan berambut putih merasakan ada beberapa orang yang ingin menerobos masuk ke dalam istana. Tak ada yang tau tentang identitas asli kesepuluh pelayan itu, Raja Azvago hanya mengetahui bahwa mereka generasi ketiga dari beberapa pelayan yang pernah melayani kakeknya.


"Apa yang sedang ketiga idiot itu rencanakan." ucap seorang pelayan dengan mata berwarna hitam legam serta senyuman tipis yang membuatnya tampak menyeramkan.


"Mungkin mereka ingin menyakiti Tuan Putri Amerilya, untunglah saat ini Putri Amerilya sedang berada di istana utama." ucap pelayan berambut putih, mereka hanya perlu memberi pelajaran pada ketiga penyusup itu, jika terjadi sesuatu yang genting maka mereka terpaksa untuk membunuh ketiganya.


"Mereka berada di belakang." ucap salah seorang pelayan yang berlari dari bagian belakang istana putri untuk memberikan laporan pada pelayan berambut putih.

__ADS_1


Saat ini ketiga anggota Kesatria Savalor itu sedang berdiskusi dengan dua orang prajurit yang sedang berjaga, tadinya kedua prajurit itu bersikeras melarang mereka bertiga masuk melalui pintu belakang namun Kesatria Rosten Savalor memberikan sejumlah uang untuk menyogok keduanya. Setelah negosiasi yang cukup panjang akhirnya kedua prajurit itu membolehkan mereka bertiga masuk dengan syarat bila terjadi sesuatu di Istana Putri maka kedua pelayan itu tak ikut campur atau terlibat dalam masalah yang ketiga Kesatria Savalor itu buat.


"Terimakasih atas kerja samanya." ucap Kesatria Norx Savalor, pria itu membuka pintu bagian belakang kemudian masuk bersama dua temannya yang lain. Suasana bagian belakang Istana Putri sangatlah sepi, kabarnya hanya ada beberapa pelayan yang tinggal di Istana Putri sesuai dengan keinginan Putri Amerilya.


"Awasi keadaan sekitar." ucap Kesatria Rosten Savalor yang memerintah Albigi Savalor untuk mengawasi situas di sekitar mereka, bila ada seorang pelayan yang datang maka mereka bisa melumpuhkannya terlebih dahulu sebelum bergerak menuju kamar Putri Amerilya.


Saat tiga Kesatria Savalor itu sedang berjalan dengan pelan menuju kamar Putri Amerilya ada seorang pelayan yang keluar dari sebuah ruangan dengan membawa alat alat kebersihan, pelayan itu menatap bingung ke arah tiga pria yang menyusup masuk Istana Putri. Saat pelayan itu ingin berteriak untuk meminta bantuan Norx Savalor langsung memukul punggungnya hingga pingsan, setelah satu pelayan selesai dibereskan mereka bergegas melanjutkan misi membunuh Putri Amerilya.


"Awasi saja mereka, jika niat mereka untuk melakukan sesuatu pada Tuan Putri Amerilya maka kita bisa menangkap dan menyerahkan pada Raja Azvago." ucap pelayan berambut putih dengan pertimbangan yang sangat matang, jika mereka menghabisi ketiga kesatria itu maka akan muncul masalah yang lebih besar lagi. Pelayan berambut putih hanya tak ingin membuat Tuan Putri yang ia layani menanggung banyak masalah di usianya yang masih sangat dini.


"Baiklah kami mengerti." ucap delapan pelayan yang lain.


Pelayan yang dipukul oleh Norx Savalor adalah umpan untuk membuat ketiga kesatria itu percaya bahwa di Istana Putri ini masih ada beberapa pelayan yang belum tidur.


"Sialan pria itu memukulku dengan cukup keras." ucap pelayan berambut pirang dan bermata emas yang menghampiri temannya.


"Cih, mana mungkin aku pingsan hanya karna pukulan lemah seperti itu." ucap pelayan berambut pirang dan bermata emas itu.


Pelayan berambut putih meminta rekannya yang lain untuk tenang, mereka masih mengamati tiga kesatria yang ingin membuka paksa pintu kamar Putri Amerilya. Entah apa yang ketiga anggota Kesatria Savalor itu pikirkan, mereka memiliki kekuatan sihir yang bisa membuka pintu itu dengan mudah mengapa mereka harus bersusah payah mendobraknya.


"Ternyata mereka sangat bodoh." ucap beberapa pelayan sembari menepuk jidat mereka.


"Lagipula untuk apa Raja Azvago mempertahankan tim Kesatria Savalor, mereka tampak sangat tak berguna dan hanya membuang buang jatah makan istana saja." ucap pelayan berambut coklat dan mata tajam berwarna hitam.


"Kita harus membuat Yang Mulia Raja Azvago memutuskan hubungan kerja dengan para kesatria pembangkang itu." ucap pelayan berambut putih dan bermata biru.

__ADS_1


Setelah cukup lama berusaha mendobrak pintu kamar Putri Amerilya akhirnya pintu itu terbuka dengan lebar, tanpa menyia-nyiakan kesempatan ketiga Kesatria Savalor langsung masuk ke dalam kamar sang putri dengan melepas pedang mereka dari sarung pedangnya. Kesepuluh pelayan itu menajamkan mata mereka, ternyata ketiga kesatria Savalor ingin membunuh tuan putri mereka, dengan cepat mereka semua berlari menuju kamar Putri Amerilya dan mengepung ketiga Kesatria Savalor.


"Letakkan pedang kalian sekarang!." bentak pelayan berambut putih dan mata biru.


Rosten Savalor, Albigi Savalor, dan Norx Savalor terkejut bukan main dan langsung menoleh kebelakang. Ketiga kesatria itu membelalakkan mata mereka, mengapa pelayan di Istana Putri belum tidur di jam malam seperti ini dan yang lebih aneh lagi mengapa kesepuluh pelayan itu mengeluarkan aura yang cukup kuat sebagai seorang pelayan.


"Sebaiknya kalian tak ikut campur dengan urusan kami." ucap Kesatria Rosten Savalor yang sedang memberi peringatan pada kesepuluh pelayan itu.


"Apapun yang berurusan dengan Putri Amerilya maka kami berhak untuk ikut campur." ucap pelayan berambut coklat dan mata tajam berwarna hitam.


"Putri yang kalian jaga tak akan berguna untuk Kerajaan Meztano, lebih baik putri seperti itu disingkirkan dari sini untuk selamanya." ucap Norx Savalor dengan suara yang cukup kencang, mungkin pria itu lupa bahwa ada dua puluh prajurit yang sedang berjaga di depan istana putri.


Kedua puluh prajurit itu mendengar suara gaduh dari dalam Istana Putri, dengan sigap mereka semua masuk ke dalam untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Kedua puluh prajurit itu masuk ke dalam kamar Putri Amerilya saat melihat pintu kamar terbuka dengan lebar, mereka menemukan sepuluh pelayan istana putri yang sedang menahan tiga anggota Kesatria Savalor.


"Apa yang sedang terjadi di sini!." bentak salah seorang prajurit dengan tatapan serius.


"Ketiga kesatria ini masuk ke dalam Istana Putri tanpa izin, mereka juga mendobrak pintu kamar Tuan Putri Amerilya. Lihatlah pedang yang mereka siapkan untuk menikam Putri Amerilya saat sang putri sedang tidur, untunglah saat ini Tuan Putri Amerilya sedang tidur bersama Raja dan Ratu." ucap pelayan berambut dan bermata hitam legam.


Beberapa prajurit meminta pelayan pelayan itu untuk minggir dan mereka langsung menangkap ketiga anggota Kesatria Savalor itu, ketiga kesatria tentunya melakukan perlawanan karna mereka tak ingin mendapat hukuman seperti ketua mereka. Karna jumlah prajurit lebih banyak dari jumlah kesatria, akhirnya ketiga kesatria itu dapat dilumpuhkan dan segera dibawa menuju Istana Utama.


"Katakan pada Yang Mulia Raja Azvago bahwa mereka bertiga berencana membunuh Tuan Putri Amerilya, penjahat seperti mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal." ucap beberapa pelayan dengan kesal.


"Baiklah kami akan menyampaikan pesan dari kalian, trimakasih atas kerjasamanya." ucap beberapa prajurit.


Setelah ketiga anggota Kesatria Savalor dibawa ke istana utama suasana di Istana Putri menjadi tenang kembali, pelayan berambut putih dengan mata biru cerah memberikan tugas pada dua pelayan lain untuk menghukum prajurit yang bertugas di bagian belakang Istana Putri, tanpa izin dari mereka tak mungkin ketiga kesatria itu bisa masuk dengan sesuka hati.

__ADS_1


Hai semuanya author up lagi nih novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2