PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Sesuatu Yang Tak Beres


__ADS_3

Putri Amerilya berjalan dengan santai menuju istana utama, saat sampai di depan pintu masuk istana utama sang putri berpapasan dengan Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya. Ternyata kedua wanita itu telah menunggu Putri Amerilya beberapa waktu yang lalu kemudian karna sang putri tak kunjung datang akhirnya mereka berdua ingin menjemput Putri Amerilya.


"Maaf karna membuat ibu dan nenek menunggu cukup lama." ucap Putri Amerilya sembari membungkukkan badannya.


"Sudahlah putriku, apakah tidur mu kurang nyenyak semalam?." tanya Ratu Zivaya dengan nada bicara yang sangat lembut, ia tau Putri Amerilya bukanlah seorang putri pemalas yang akan bangun siang setiap hari.


"Banyak nyamuk yang masuk ke dalam kamar hingga saya tak bisa tidur dengan lelap." jawab sang putri dengan lesu.


"Benarkah begitu? nenek akan meminta para pelayan untuk membersihkan di sekitar area istana putri." ucap Ibu Suri Sinya yang tak tau bahwa cucu kesayangan sedang diganggu oleh sekelompok nyamuk saat ia sedang tidur.


Setelah selesai membahas hal itu mereka bertiga bergegas pergi menuju sebuah toko gaun yang letaknya tak terlalu jauh dari Istana Kerajaan Meztano, Ibu Suri Sinya sengaja mengajak menantu dan cucu kesayangan untuk berjalan kaki saat pergi ke toko tersebut. Saat keluar dari gerbang Istana Kerajaan Meztano, mata Putri Amerilya tertuju pada para penduduk Kerajaan Meztano yang sedang sibuk melakukan aktivitas mereka masing masing, samar samar Putri Amerilya mencium sesuatu yang tak asing baginya.


"Bisakah kita berhenti sebentar ibu?." tanya Putri Amerilya yang langsung menghentikan langkahnya, putri kecil itu menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Ada apa putriku? apakah kau ingin membeli sesuatu?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan bingung, mengapa anak perempuan itu meminta untuk berhenti padahal jarak toko gaun masih cukup jauh.


"Tunggu saja sebentar, mungkin putrimu sedang melihat sesuatu yang ia inginkan atau merasa penasaran pada hal hal baru." jawab Ibu Suri Sinya yang tak keberatan jika harus menunggu Putri Amerilya cukup lama.


Putri Amerilya berjalan perlahan ke arah sebuah bangunan tua bekas toko yang saat ini sudah terbengkalai, bau yang Putri Amerilya cium semakin kuat sepertinya ada beberapa kelompok yang ingin menghancurkan acara pesta ulang tahunnya nanti. Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya mengikuti Putri Amerilya dari belakang, keduanya ingin tau apa yang membuat putri kecil itu merasa penasaran. Putri Amerilya melihat sebuah lubang yang cukup besar di bagian samping toko terbengkalai, ia mengintip apa yang ada di dalam sana dan matanya langsung membelalakkan dengan lebar.


"Ada apa cucuku?." tanya Ibu Suri Sinya yang kini menatap khawatir ke arah Putri Amerilya, apa yang sedang dilihat oleh cucunya itu hingga menunjukkan ekspresi terkejut seperti itu.


"Saya mohon untuk tak membuat suara apapun dan perlahan menjauh dari bangunan ini." ucap Putri Amerilya dengan suara pelan.


Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya hanya bisa menuruti keinginan putri kecil itu, mereka berdua mundur secara perlahan tanpa mengeluarkan suara apapun dan pergi menjauh dari bangunan toko terbengkalai itu. Ratu Zivaya menatap ke arah putrinya dengan tatapan bingung, ia ingin tau alasan putrinya bersikap aneh seperti tadi.

__ADS_1


"Sebaiknya kita kembali ke Istana Kerajaan Meztano, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada ayah." ucap Putri Amerilya dengan tatapan serius. Sorot mata tajam sang putri menunjukkan bahwa ia baru saja melihat sesuatu yang berbahaya.


"Biasakah kau memberitahu ibu dan nenek terlebih dahulu?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan memohon.


"Di sini bukan tempat yang aman, mari kembali sebelum ada orang luar yang menyadari keberadaan kita." ucap Putri Amerilya yang langsung berbalik arah dan berjalan menuju gerbang masuk Istana Kerajaan Meztano. Jarak antara bangunan toko terbengkalai dengan gerbang masuk Istana Kerajaan Meztano tak terlalu jauh, hanya diperlukan waktu beberapa menit bagi Putri Amerilya, Ratu Zivaya, dan Ibu Suri Sinya untuk kembali.


Para prajurit penjaga gerbang masuk istana menatap keheranan ke arah mereka bertiga, bukankah mereka baru saja keluar namun mengapa kembali dalam waktu yang sangat singkat. Saat salah seorang prajurit ingin menanyakan alasan Ibu Suri Sinya, Ratu Zivaya, dan Putri Amerilya membatalkan niat mereka untuk berbelanja tiba tiba saya sang putri kecil memberikan isyarat agar para prajurit itu tetap diam.


"Jangan mengatakan apapun, lihatlah kebelakang." ucap Putri Amerilya dengan suara pelan, putri kecil itu menyadari ada beberapa orang yang mengikut mereka saat kembali ke Istana Kerajaan Meztano.


"Ada apa?." tanya Ibu Suri Sinya yang sangat penasaran dan ingin menoleh kebelakang namun langsung mendapat tatapan tajam dari Putri Amerilya.


"Ahahaha bagaimana bisa Ibu dan nenek lupa membawa uang, bukankah kita ingin berbelanja beberapa gaun baru. Mari masuk ke dalam dan segera ambil uang kalian yang tertinggal." ucap Putri Amerilya dengan suara yang cukup kencang hingga di dengar beberapa orang yang sedang bersembunyi di balik pepohonan.


"Cepatlah ibu, bagaimana jika nanti kita tak mendapatkan gaun yang bagus." ucap Ratu Zivaya yang bisa memahami kode dari Putri Amerilya. Ratu Zivaya menarik tangan Ibu Suri Sinya secara perlahan kemudian mereka bertiga langsung masuk ke dalam istana utama.


"Lebih baik kita mencari ayah terlebih dahulu, masalah ini menyangkut keselamatan banyak orang." ucap Putri Amerilya, ia mengetahui maksud dari tatapan mata ibu serta neneknya itu.


Putri Amerilya, Ratu Zivaya, dan Ibu Suri Sinya berjalan menuju Ruang kerja Raja Azvago. Tok tok tok, suara pintu ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago yang diketuk oleh Putri Amerilya, beberapa saat setelah sang raja membuka pintu kerjaanya dan menatap bingung ke arah tiga perempuan yang ia cintai itu.


"Seharusnya saat ini kalian sedang berbelanja, mengapa masih berada di dalam istana?." tanya Raja Azvago dengan tatapan bingung.


"Saya menemukan sesuatu saat dalam perjalanan menuju toko gaun." jawab Putri Amerilya dengan tatapan serius, perkataan anak perempuan itu seperti seorang gadis dewasa.


Yang Mulia Raja Azvago menatap ke arah Ratu Zivaya dan sang ratu menggelengkan kepalanya dengan keras menandakan Ratu Zivaya tak mengetahui apapun. Akhirnya Yang Mulia Raja Azvago mempersilahkan ketiga perempuan itu untuk masuk ke dalam ruang kerja, di dalam ruang kerja sang raja sudah ada Pangeran Zingo yang sedang menatap ke arah beberapa orang yang baru masuk ke dalam ruang kerja itu.

__ADS_1


"Kami sedang menunggu penjelasan darimu putriku." ucap Ratu Zivaya yang siap mendengarkan penjelasan dari putri kecilnya.


"Di bangunan toko terbengkalai itu aku melihat tumpukan bubuk mesiu, sepertinya ada sekelompok orang yang berencana untuk membuat kekacauan saat pesta ulang tahun berlangsung nanti. Amerilya melihat beberapa pria dengan seragam yang aneh, mirip seperti prajurit namun bukan prajurit dari Istana Kerajaan Meztano." jelas Putri Amerilya yang masih merinding saat matanya melihat puluhan ton bubuk mesiu yang siap untuk menghancurkan sebuah istana besar.


"Bubuk mesiu?." tanya Raja Azvago yang tak bisa memahami bahasa yang digunakan oleh putri kecilnya itu.


"Ah maaf maksud ku bubuk peledak." jawab Putri Amerilya yang lupa bahwa saat ini ia berada di era yang berbeda.


"Apakah prajurit itu menggunakan seragam berwarna biru cerah dengan lambang tiga bintang?." tanya Pangeran Zingo yang ingin memastikan apakah prajurit itu adalah prajurit yang sama seperti kedua mayat yang baru saja ia buang tadi malam. Setelah mendengar penjelasan dari Pangeran Zingo dengan sigap Putri Amerilya menganggukkan kepalanya.


"Argh sialan apa yang ingin mereka lakukan, mungkinkah mereka ingin meledakkan Istana Kerajaan Meztano saat pesta ulang tahun Putri Amerilya sedang berlangsung!." gerutu Pangeran Zingo dengan tatapan kesal. Pihak Keluarga Marques Montiqu sudah terlewat batas, mereka ingin menghancurkan Istana Kerajaan Meztano dalam satu malam dan membunuh semua orang yang ada di dalamnya.


"Kediaman Marques Montiqu? apa mereka masih memiliki hubungan darah dengan pendiri Keluarga Duke Marques?." tanya Putri Amerilya yang belum hafal dengan silsilah keluarga bangsawan yang ada di Kerajaan Meztano ini ataupun kerajaan tetangga.


"Mereka masih memiliki hubungan darah meskipun hanya sebatas saudara jauh. Sepertinya pemberontakan yang dibuat oleh Tuan Duke Zidan Marques dan Nyonya Riana Marques direncanakan oleh seseorang dari Kediaman Duke Marques Montiqu seperti perkataan Ciela saat itu." jelas Raja Azvago pada Putri Amerilya. Mengapa saat ia ingin mengadakan Pesta untuk putri kesayangannya itu banyak pihak yang ingin menghancurkan kebahagiaan sang putri.


Putri Amerilya terdiam untuk beberapa saat, ia sedang berfikir bagaimana cara memusnahkan puluhan ton bubuk pedak yang ada di dalam bangunan toko terbengkalai itu. Akan sangat berbahaya jika tiba tiba Raja Azvago meminta para prajurit yang di pimpin oleh beberapa jenderal untuk menyergap toko terbengkalai itu, kemungkinan besar para prajurit dari pihak musuh akan menyalakan api dan melemparnya ke tumpukan bubuk peledak. Bukan hanya para prajurit Kerajaan Meztano yang akan terbunuh namun semua orang yang ada di sekitar bangunan itu juga akan ikut menjadi korban dan hal terburuknya ledakan besar akan mengenai Istana Kerajaan Meztano.


"Apakah wilayah Istana Kerajaan Meztano memiliki formasi sihir pelindung yang cukup kuat?." tanya Putri Amerilya yang ingin memastikan sesuatu.


"Seluruh wilayah Kerajaan Meztano memiliki formasi pelindung tergantung siapa yang memimpin wilayah tersebut, mengapa kau menanyakan hal itu putriku?." tanya Raja Azvago yang ingin tau rencana apa yang sedang dibuat oleh Putri Amerilya.


"Ah ternyata begitu, sepertinya ayah tak bisa menyergap toko terbengkalai itu dengan tiba tiba." ucap Putri Amerilya dengan tatapan serius.


"Yang dikatakan oleh putrimu memang benar, para prajurit dari Kediaman Keluarga Marques Montiqu akan langsung meledakkan bubuk tersebut dan membuat banyak orang menjadi korban." ucap Pangeran Zingo yang setuju dengan perkataan Putri Amerilya.

__ADS_1


"Hah untunglah kita kembali tepat waktu, jika tidak mungkin ada hal buruk yang terjadi." ucap Ibu Suri Sinya yang merasa aman karna terhindar dari bahaya. Mungkin nanti saat ingin pergi ke toko baju mereka akan dikawal oleh anggota Kesatria White Rose.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya dengan. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2