PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Mencurigai


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya rombongan Kerajaan Meztano kembali ke kerajaan dengan selamat, Ratu Zivaya dan kedua pangeran menunggu di depan pintu masuk istana. Sang Ratu sangat merindukan putri kecilnya yang telah pergi selama beberapa hari, Ratu Zivaya selalu khawatir dengan keadaan Putri Amerilya, ia tak ingin putri kecilnya mendapatkan masalah saat berada di luar. Perasaan Ratu Zivaya semakin cemas ketika mendapat kabar bahwa Raja Azvago membawa Kesatria White Rose untuk menjemput rombongan Kerajaan Meztano yang berada di Kediaman Duke Marques.


Gerbang masuk Istana Kerajaan Meztano dibuka dengan lebar, para prajurit penjaga gerbang menyambut kembalinya rombongan kerajaan. Raja Azvago hanya menunjukkan senyum tipis pada para prajuritnya, di sisi lain anggota Kesatria White Rose dan Black Night langsung pergi menuju markas mereka masing masing. Putri Amerilya tertidur dengan lelap di dalam kereta kuda, anak perempuan itu masih sangat mengantuk karna semalam tidurnya tak terlalu nyenyak. Pangeran Luxe dan Pangeran Mixo saling berpandangan satu sama lain, mereka ingin berebut menggendong Putri Amerilya dan karna keributan yang terjadi sang putripun bangun.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Putri Amerilya dengan membuka sedikit matanya, ia menatap bingung ke arah Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe yang sedang bertengkar.


"Mengapa kalian berkelahi seperti itu?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung.


"Maaf membuatmu terbangun adik, ini karna Pangeran Luxe yang ingin merebut mu dariku." ucap Pangeran Mixo yang mulai menyalahkan adik laki lakinya, jika saja Pangeran Luxe tak terlalu kencang saat berteriak maka adik kecil mereka tak akan bangun.


"Mengapa kau malah menyalahkan ku, sebagai seorang kakak seharusnya kau mengalah." ucap Pangeran Luxe yang tak ingin disalahkan. Jelas jelas Putri Amerilya bagun karna mereka berdua sedang bertengkar, jadi yang harus disalahkan kedua belah pihak.


Putri Amerilya merasa pusing mendengar pertengkaran yang masih terus berlanjut itu, sang putri memutuskan untuk turun sendiri dari kereta kuda dibantu oleh sang kusir. Setelah turun dari kereta kuda sang putri langsung menghampiri sang ayah yang saat itu sedang meminta beberapa prajurit untuk membawa Duke Zidan Marques ke penjara bawah tanah. Melihat Putri Amerilya yang berdiri lumayan jauh darinya membuat amarah Duke Zidan Marques semakin terpancing, karna anak perempuan itu semua rencana yang ia miliki menjadi sia sia.


"Dasar anak sialan, jika bukan karna ulah mu aku tak akan berakhir seperti ini!!." triak Duke Zidan Marques dengan sangat kencang dan menunjuk pada Putri Amerilya.


Sang putri hanya melihat ke arah Duke Zidan Marques dengan tatapan polos seperti tak melakukan apapun pada pria itu. Melihat putri kesayangannya sedang diteriaki seperti itu membuat Ratu Zivaya merasa kesal dan langsung menghampiri Duke Zidan Marques. Dua tamparan mengenai pipi sang duke dengan dangat kencang, tentu Duke Zidan Marques terkejut dengan tindakan Ratu Zivaya.


"Jangan pernah meneriaki putriku seperti itu." ucap Ratu Zivaya dengan serius, ia akan melakukan tindakan yang lebih berani lagi jika hal itu terulang kembali.


"Rawatlah putrimu dengan baik, jangan biarkan dia ikut campur dalam urusan orang lain." maki Duke Zidan Marques pada sang ratu, ia rasa Ratu Zivaya telah gagal mendidik anak perempuannya menjadi gadis baik dan pendiam.


"Mengapa Tuan Duke mengatakan banyak sekali hal menyebalkan seperti itu, semua ini kesalahan anda sendiri." ucap Putri Amerilya dengan tatapan kesal, mengapa pria itu selalu menyalahkan orang orang yang ia temui.


"Cepat bawa pria ini pergi." ucap Raja Azvago dengan sorot mata tajam, pria itu sudah tak sanggup menahan amarahnya ia sangat ingin memukul Duke Zidan Marques dengan kencang hingga sang duke pingsan.


Ratu Zivaya dengan segera menghampiri Putri Amerilya lalu menggendong putri kecilnya itu, sang ratu langsung membawa Putri Amerilya masuk ke dalam istana putri untuk beristirahat di sana. Perjalanan yang sangat panjang tentu membuat putri kecilnya itu lelah dan merasa lapar, para pelayan sang putri merasa sangat senang melihat Tuan Putri kecil mereka telah kembali dengan selama. Para pelayan itu dengan segera menyiapkan berbagai hidangan lezat, sedangkan Ratu Zivaya menemani Putri Amerilya mengganti pakaian.


"Ibu sangat mencemaskan mu, tiba tiba saja ayahmu pergi tanpa mengatakan apapun." ucap Ratu Zivaya dengan raut wajah sedih, lain kali ia tak akan membiarkan putri kecilnya itu meninggalkan Istana Kerajaan Meztano tanpa pengawalan yang tepat.


"Amerilya baik baik saja ibu." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar agar tak membuat ibunya semakin khawatir. Mungkin masalah kedekatan Putri Haru dengan Duke Zidan Marques belum diketahui oleh sang ibu.


"Beristirahatlah dengan baik, satu minggu lagi adalah hari ulang tahunmu dan ibu akan menyiapkan pesta meriah untuk merayakannya." ucap Ratu Zivaya sembari mencium kening Putri Amerilya dengan rasa sayang kemudian pergi dari kamar putri kecilnya itu.

__ADS_1


Setelah sang ibu pergi, Putri Amerilya langsung turun dari tempat tidurnya. Tak lupa sang putri membawa sebilah pedang yang ia miliki untuk berjaga jaga, kali ini Putri Amerilya ingin mendatangi markas Kesatria White Rose untuk meminta bantuan pada mereka. Ada beberapa hal yang perlu diusut dengan tuntas sebelum pengadilan Kerajaan Meztano dilakukan, sepertinya Putri Amerilya mencurigai beberapa pihak lain yang ikut campur dalam masalah kali ini.


Saat dalam perjalanan menuju markas Kesatria White Rose, Putri Amerilya bertemu dengan Pangeran Azxo yang sedang duduk di sebuah kursi taman. Karna terlalu terburu buru putri kecil itu sampai tak menyadari keberadaan kakak laki laki termudanya, merasa diabaikan oleh sang adik tentu membuat Pangeran Azxo merasa kesal. Akhirnya sang pangeran mengejar Putri Amerilya lalu mencegatnya di tengah tengah jalan, tindakan Pangeran Azxo tentu mengejutkan Putri Amerilya.


"Mengapa pangeran menghalangi jalanku?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung, sepertinya ia tak melakukan kesalahan apapun pada Pangeran Azxo namun mengapa raut wajah sang pangeran terlihat begitu kesal?.


"Mengapa adik mengabaikan ku? aku sedang duduk di sana dan adik lewat di depanku, namun mengapa adik tak mengapa?." ucap Pangeran Azxo dengan menggembungkan pipinya, anak laki laki itu terlihat sangat menggemaskan. Tanpa basa basi tangan mungil Putri Amerilya mencubit pipi kakak laki lakinya itu.


"Maaf karna Amerilya sangat terburu buru hingga tak melihat kehadiran Pangeran Azxo di sana." ucap Putri Amerilya dengan raut wajah sedih, gadis itu menatap kakak laki lakinya dengan mata berbinar binar seperti ingin menangis.


Karna merasa tak tega pada adik perempuannya, akhirnya Pangeran Azxo mengalah dan memaafkan tindakan Putri Amerilya yang tak sengaja mengabaikannya itu. Karna ia sangat terburu buru sang putri meminta izin untuk segera pergi, Pangeran Azxo tak bisa menahan adiknya lebih lama lagi dan membiarkan Putri Amerilya pergi begitu saja.


Setelah cukup lama berjalan sang putri tiba di markas Kesatria White Rose, ada beberapa anggota yang sedang berjaga di depan rumah utama mereka. Kesatria Lauret melihat kedatangan Putri Amerilya dan menyambut sang putri kecil.


"Salam hormat saya pada Tuan Putri Amerilya, ada keperluan apa hingga putri datang ke markas kami?." ucap Kesatria Lauret dengan raut wajah serius, mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan oleh putri kecil itu.


"Bisakah saya masuk kedalam terlebih dahulu?." tanya Putri Amerilya dengan sangat sopan, ia hanya sedang memastikan tak ada kegiatan penting yang sedang dilakukan oleh anggota Kesatria White Rose.


Mereka berdua sampai di depan pintu sebuah ruangan yang cukup besar, Kesatria Lauret mengetuk pintu beberapa kali hingga mendapatkan izin untuk masuk kedalam. Setelahnya Kesatria Lauret meminta Putri Amerilya untuk masuk sendiri ke dalam karna ia harus kembali berjaga di pintu depan.


"Terimakasih telah mengantar saya." ucap sang putri kecil dengan senyum menggemaskan.


"Kapanpun saya siap membantu anda Tuan Putri." ucap Kesatria Lauret yang langsung pergi.


Putri Amerilya masuk kedalam ruang kerja Kesatria Richal, ia melihat pria itu sedang membaca beberapa dokumen dengan serius. Putri Amerilya duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan sembari menunggu Kesatria Richal menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Kesatria Richal merasa ada yang aneh, bukankah beberapa saat yang lalu ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya? dan ia sudah mempersilahkan orang itu masuk ke dalam namun tak ada siapapun di sana selain dirinya?.


"Mungkinkah orang itu sudah pergi?." ucap Kesatria Richal yang kembali fokus pada dokumen dokumen yang ia pegang.


"Saya masih berada di sini Tuan Kesatria." jawab Putri Amerilya dengan canggung, mungkin karna tumbuhnya yang terlalu kecil dan pendek hingga tak terlihat oleh Kesatria Richal.


Mendengar suara itu membuat sang tuan kesatria menjadi terkejut, ia langsung meletakkan dokumennya dan mencari darimana suara itu berasal. Saat Kesatria Richal berdiri dari tempat duduknya, ia melihat Putri Amerilya sedang melihat kearahnya dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Sejak kapan Tuan Putri Amerilya berada di sana? siapa yang mengantarnya dan mengapa tak ada yang memberitahu jika tuan putri datang ke markas mereka.


"Salam hormat saya pada Tuan Putri Amerilya, maaf karna saya tak melihat keberadaan anda." ucap Kesatria Richal dengan tak enak hati.

__ADS_1


"Saya mengerti, karna saya masih kecil jadi tubuh saya juga pendek dan sulit untuk dilihat." jawab Putri Amerilya dengan apa adanya.


"Apa yang membuat Tuan Putri datang menemui saya?." tanya Kesatria Richal langsung pada intinya.


"Saya memiliki kecurigaan pada anak pertama Tuan Duke Zidan Marques, sepertinya ia juga terlibat dalam kasus percobaan pembunuhan terhadap saya. Akan tetapi saya tak bisa menyimpulkan hal ini terlalu cepat tanpa bukti yang kuat, saya ingin meminjam beberapa anggota Kesatria White Rose untuk menyelidiki Tuan Muda Arges Marques lebih lanjut." ucap Putri Amerilya dengan tatapan seriusnya, ia yakin sang duke tak akan bisa bergerak sendiri untuk melakukan semua ini. Paling tidak ada satu orang yang sangat ia percaya untuk membantunya, dan satu satunya putra Duke Zidan Marques yang membenci Putri Amerilya adalah Arges Marques.


"Hal apa yang membuat anda curiga pada Tuan Muda Arges Marques? bukankah ia juga pingsan saat itu?." ucap Kesatria Richal dengan tatapan bingung, ia tak mengerti bagaimana jalan fikiran putri kecil mereka itu.


"Orang yang pingsan ataupun tertidur setelah mengonsumsi obat tidur memiliki nafas yang teratur, saat itu saya melihat dengan jelas bahwa Tuan Muda Arges Marques memiliki nafas yang tak beraturan. Saat saya dan ayah datang ke ruang makan, saya melihat beberapa keringat menetes dari dahi pemuda itu." ucap Putri Amerilya yang memberikan beberapa bukti tentang kecurigaannya.


"Jika anda yakin tentang hal itu maka saya akan meminta beberapa anggota Kesatria White Rose untuk menyelidiki hal ini lebih lanjut." ucap Kesatria Richal dengan tegas, ia tak akan membiarkan orang orang yang mengancam nyawa tuan putri kecil mereka bisa hidup dengan bebas.


"Bolehkan saya tau dimana tempat Putri Haru diasingkan?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan memohon.


"Mengapa anda ingin mengetahui hal ini? jangan melakukan hal hal aneh tuan putri. Kami seluruh anggota Keluarga Kerajaan Meztano sangat menyayangi tuan putri dengan tulus." ucap Kesatria Richal yang sedangkan mengingatkan Putri Amerilya agar tak bertindak lebih jauh lagi.


"Saya hanya ingin mengetahuinya saja, tak mungkin saya bisa pergi dari Istana Kerajaan Meztano tanpa izin dari ayah ataupun ibu." ucap Putri Amerilya yang berusaha untuk meyakinkan Kesatria Richal bahwa ia tak akan melakukan apapun.


"Putri Haru diasingkan di sebuah desa terpencil yang masih berada dalam wilayah Kerajaan Meztano, desa itu sangat jauh dari Kerajaan Meztano." jawab Kesatria Richal yang tak ingin menyebutkan nama desa tersebut.


"Baiklah, saya permisi terlebih dahulu. Para pelayan akan sangat cemas jika mengetahui saya pergi dari istana putri tanpa memberitahu mereka." ucap Putri Amerilya kemudian pergi meninggalkan ruang Kerja Kesatria Richal.


Saat dalam perjalanan kembali menuju istana putri, Putri Amerilya memikirkan beberapa nama desa yang berada di perbatasan wilayah Kerajaan Meztano. Mungkin Putri Haru diasingkan disebuah desa yang berada di perbatasan karna jaraknya yang cukup jauh dengan Istana Kerajaan Meztano.


"Setelah ini aku harus pergi ke perpustakaan istana utama." ucap Putri Amerilya pada dirinya sendiri.


Saat tiba di istana putri ia melihat beberapa pelayan yang sedang mencarinya, dengan segera Putri Amerilya menemui mereka.


"Darimana saja anda, kami sangat mencemaskan anda karna tiba tiba saja anda menghilang?." tanya salah satu pelayan dengan raut wajah gemas ingin menjewer telinga Putri Amerilya.


"Amerilya hanya berjalan jalan di sekitar istana." jawab Putri Amerilya dengan santai kemudian masuk kedalam istana putri karna tak ingin mendengar omelan omelan itu lagi.


Hai hai semua author up lagi nih novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2