
Malam tiba dan Putri Amerilya terbangun dari tidurnya, anak itu langsung bergegas mengganti pakaian dan keluar dari Istana Putri. Putri Amerilya ingin pergi menemui Kesatria Richal untuk mengetahui hasil penyelidikan yang telah dilakukan, sang putri telah sampai di markas Kesatria White Rose namun suasana di sana sangatlah sepi mungkin mereka sedang berada di tempat lain.
"Kemana mereka pergi? ini sudah malam, jangan bilang mereka semua sedang berlatih." ucap Putri Amerilya, akhirnya sang putri pergi menuju tempat latihan para kesatria.
Setelah sampai di sebuah lapangan yang cukup luas, Putri Amerilya melihat beberapa kelompok Kesatria Kerajaan Meztano sedang berlatih bersama. Sang putri hanya menghela nafas panjang setelah mengetahui hal itu, kaki kecil Putri Amerilya mendekat ke arah kelompok Kesatria White Rose.
"Apa yang sedang Tuan Putri lakukan di tempat ini? sebaiknya anda kembali ke Istana Putri sebelum Yang Mulia Raja Azvago marah." ucap Kesatria Dominix, ia adalah pemimpin dari kelompok Kesatria Savalor yang dikenal sebagai kelompok kesatria bayaran. Saat Raja Azvago ingin menggunakan jasa Kesatria Savalor maka sang raja harus membayar dengan harga yang cukup tinggi barulah anggota Kesatria Savalor mau menjalankan tugas mereka.
"Saya ingin bertemu dengan Kesatria Richal, anda lanjutkan saja latihan anda." ucap Putri Amerilya dengan senyuman tipis, ia tak terlalu suka dengan pria yang ada di hadapannya itu.
"Lebih baik Tuan Putri mendengar apa yang saya katakan. Lagipula saat ini semua kesatria sedang berlatih, dan saya sangat yakin Kesatria Richal tak memiliki waktu untuk bertemu dengan anda." ucap Dominix dengan tatapan tak suka yang ia berikan pada Putri Amerilya. Entah mengapa sang putri sangat jauh berbeda dari kakak laki lakinya yang lain, keempat pangeran sangat tak suka ikut campur dengan urusan para kesatria karna mereka lebih fokus melatih sihir.
Dari kejauhan Kesatria Richal dan Kesatria Albert mendengar suara yang sangat familiar bagi mereka, akhirnya mereka berdua melihat ke segala arah untuk menemukan pemilik suara tersebut. Kesatria Richal melebarkan bola matanya saat melihat Putri Amerilya sedang dimarahi oleh Ketua Kelompok Kesatria Savalor, dengan segera Kesatria Richal dan Kesatria Albert berlari ke arah Putri Amerilya untuk menolongnya.
"Mengapa anda ada di sini Tuan Putri Amerilya? anda bisa memanggil saya ke Istana Putri jika memerlukan bantuan." ucap Kesatria Richal dengan cemas, ia tau dengan betul bagaimana sifat dari anggota Kesatria Savalor. Untung saja Putri Amerilya tak terluka oleh ulah mereka, ketua Kesatria Savalor adalah orang yang sangat gila akan harta namun hanya akan menerima uang dari Raja Azvago saja.
"Saya sudah mencari anda di markas, karna anda tak berada di sana jadi saya datang kesini." jawab Putri Amerilya dengan polos seolah oleh ia tak melakukan apapun.
"Apa anda dekat dengan anak ini Tuan Richal?." tanya Kesatria Dominix dengan ekspresi yang cukup menyebalkan. Putri Amerilya sangat tak suka ketika ada seseorang yang memandang remeh ke arahnya, apa yang salah jika ia dekat dengan anggota Kesatria yang bekerja untuk Kerajaan Meztano? bukankah Putri Amerilya adalah Tuan Putri dari Kerajaan Meztano.
"Semua anggota Kesatria White Rose sangat dekat dengan tuan putri." jawab Kesatria Richal dengan ekspresi tenang, ia tak ingin membuat susana semakin memanas.
"Jangan merusak reputasi anda, anak perempuan ini bukanlah siapa siapa bagi Kerajaan Meztano maupun Yang Mulia Raja Azvago." ucap Kesatria Dominix kemudian pria itu pergi meninggalkan lapangan tempat latihan para kesatria.
"Tolong jangan dimasukkan kedalam hati Tuan Putri Amerilya." ucap Kesatria Albert yang sedang menenangkan putri kecil mereka.
Putri Amerilya menggenggam tangannya dengan sangat erat, ia begitu kesal dengan perkataan Kesatria Dominix yang sangat tajam itu. Hanya karna Kesatria Savalor sudah bekerja sangat lama dengan Kerajaan Meztano hingga ketua mereka bisa mengucap kata kata seperti itu pada seorang Tuan Putri yang masih berusia dua tahun. Kesatria Richal melihat dengan jelas sorot mata tajam dari sang putri kecil, entah apa yang akan dilakukan putri kecil itu untuk memberi pelajaran pada pemimpin Kesatria Savalor.
"Saya ingin kembali sekarang, tolong laporkan semua penyelidikan tentang Arges Marques pada saya esok pagi. Maaf telah mengganggu latihan kalian, saya permisi terlebih dahulu." ucap Putri Amerilya dengan logat anak kecil yang sangat lucu, akan tetapi nada bicaranya sangat serius kali ini.
"Baik saya akan datang menemui anda besok pagi." jawab Kesatria Richal.
Setelah itu Putri Amerilya pergi dari lapangan tempat berlatih para kesatria, sang putri kecil ingin pergi menemui ayahnya dan menceritakan apa yang terjadi hari ini. Saat tiba di Istana Utama sang putri berpapasan dengan Kesatria Dominix yang sedang berjalan menuju ruang kerja ayahnya, Kesatria Dominix dengan sengaja menyenggol tubuh mungil gadis itu hingga terjatuh.
__ADS_1
"Maaf karna saya tak sengaja." ucap Kesatria Dominix yang langsung pergi meninggalkan Putri Amerilya tanpa ada niatan untuk membantu anak itu berdiri.
"Lihat saja apa yang akan saya lakukan untuk membalas anda." ucap Putri Amerilya dengan suara pelan, anak itu tersenyum miring kemudian tetap dalam posisinya tanpa niatan untuk berdiri.
Setelah menunggu beberapa menit Putri Amerilya melihat Ibu Suri Sinya sedang berjalan keluar dari kamar, Putri Amerilya mulai menjalankan aksinya dengan menangis dan membuat Ibu Suri Sinya menghampiri anak itu.
"Bagaimana kau bisa jatuh cucuku?." ucap Ibu Suri Sinya yang langsung membantu Putri Amerilya untuk berdiri.
"Jangan menangis sayang, ceritakan pada nenek." ucap Ibu Suri Sinya yang merasa kasihan pada cucu perempuannya.
"Ada seseorang yang sengaja menabrak saya, orang itu pergi ke ruang kerja ayah." ucap Putri Amerilya dengan sesenggukan.
Dengan segera sang Ibu Suri menggendong cucu perempuannya itu dan membawanya menuju ruang Kerja Raja Azvago. Ibu Suri Sinya mengetuk pintu beberapa kali, setelah mendapat izin untuk masuk ia langsung masuk kedalam dengan tatapan tajam. Di dalam ruang kerja sang raja hanya ada Raja Azvago dan Kesatria Dominix, jadi bisa disimpulkan bahwa Kesatria Dominix yang telah membuat cucunya jatuh.
"Ada apa ibu? mengapa anda datang dengan raut wajah marah seperti itu?." tanya Raja Azvago dengan tatapan bingung, sang raja langsung melihat ke arah putri kecilnya yang sedang menangis.
"Tanyakan saja pada kesatria kebanggaan mu itu." jawab Ibu Suri Sinya dengan ketus.
Kesatria Dominix tak menyangka bahwa Putri Amerilya akan membuat drama seheboh ini hanya untuk membuatnya malu, sang kesatria menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan tajam dan tanpa ia sadari Raja Azvago sedang melihat ke arahnya.
"Saya tak sengaja menabrak Tuan Putri hingga terjatuh, saya benar benar tak sengaja Yang Mulia Raja." ucap Kesatria Dominix yang sedang membela dirinya sendiri.
"Tapi mengapa anda meninggalkan saya begitu saja." ucap Putri Amerilya dengan suara tangis yang semakin kencang.
"Apa itu benar?." tanya Raja Azvago.
"Saya membantunya berdiri, putri anda telah berbohong anda perlu menghukumnya Yang Mulia Raja." ucap Kesatria Dominix yang malah melempar kesalahannya pada Putri Amerilya.
"Saya melihat cucu saya masih tersungkur dan menangis di sana." ucap Ibu Suri Sinya yang membela Putri Amerilya, ia yakin cucu perempuannya tak akan berbohong.
"Untuk apa saya menyakiti Tuan Putri?." ucap Kesatria Dominix dengan ekspresi sedih.
"Sebelum datang ke istana utama saya pergi menuju lapangan tempat berlatih para kesatria untuk mencari Kesatria Richal, namun di sana saya bertemu dengan Kesatria Dominix. Saya masih ingat dengan jelas bahwa Tuan Kesatria memarahi saya dan mengatakan saya bukan apa apa bagi Kerajaan Meztano maupun bagi Yang Mulia Raja Azvago. Dengan kata kata yang telah anda ucapkan, mungkin anda tak menyukai kehadiran saya di sini." ucap Putri Amerilya dengan suara yang terputus putus karna ia sedang menangis sambil sesenggukan. Suara tangis Putri Amerilya yang sangat kencang membuat Pangeran Zico dan Pangeran Luxe datang ke ruang kerja ayah mereka.
__ADS_1
"Mengapa adik menangis dengan begitu kencang, siapa yang berani menyakitimu!!." triak Pangeran Luxe dengan sangat kencang saat ia baru masuk ke ruang kerja ayahnya.
"Kalian semua tolong tenang." ucap Raja Azvago yang perlu berfikir tentang masalah ini.
Sang raja beberapa kali melihat ke arah putri kecilnya yang masih menangis dengan cukup kencang, tak biasanya Putri Amerilya bertingkah seperti ini. Lagipula seorang anak kecil tak akan berbohong hanya untuk mendapatkan simpati dari orang lain, di sisi lain Putri Amerilya bukanlah anak manja yang setiap saat meminta banyak hal pada ayahnya.
"Lalu mengapa kau menangis dengan sangat kencang putriku?." tanya Raja Azvago dengan suara hangatnya.
"Jika Kesatria Dominix tak menghargai kehadiran saya di kerajaan ini, berarti ia sedang menghina ayah. Saya tak suka melihat orang lain menghina ayah." ucap Putri Amerilya dengan polosnya, wajah memerah anak itu sangatlah lucu.
"Saya tak bermaksud melakukan hal seperti itu, lagipula tak ada saksi mata tentang kejadian ini." ucap Kesatria Dominix, pria itu sangat menyebalkan dan membuat Putri Amerilya semakin muak.
"Mengapa anda tak ingin mengaku saja tuan, bagaimana jika langit marah dan ada petir yang menyambar anda nanti." ucap Putri Amerilya dengan mata berbinar binar, ocehan sang putri memang mencerminkan anak berusia dua tahun.
"Jika saya berbohong saya akan tersambar petir." ucap Kesatria Dominix dengan seenak hatinya.
Tiba tiba langit malam menjadi semakin pekat, terdengar suara gemuruh yang cukup nyaring. Entah mengapa perasaan Kesatria Dominix menjadi tak tenang, mungkinkah ia benar benar akan tersambar petir? dan..... Duaaar. Sebuah petir menyambar dengan sangat keras ke tubuh Kesatria Dominix, pria itu langsung pingsan di tempat. Untung saja petir itu tak membuat ruang kerja Raja Azvago menjadi berantakan.
"Ayah bisa lihat sendiri, langit juga bisa marah seperti ini saat mendengar bualan dari pria dewasa." ucap Putri Amerilya dengan raut wajah tanpa ekspresi, ia juga tak menyangka bahwa ada petir yang benar benar menyambar Kesatria Dominix.
"Setelah Kesatria Dominix sadar, ayah harus memberikannya hukuman karna telah menghina Putri Amerilya." ucap Pangeran Luxe dan Pangeran Zico secara bersamaan.
"Didiklah kesatria kesatria mu dengan baik, jika hal ini terjadi lagi ibu akan menggantung mereka di tengah kota." ucap Ibu Suri Sinya yang langsung membawa Putri Amerilya keluar dari ruang kerja sang raja menuju istana putri untuk beristirahat.
Setelah kepergian Ibu Suri Sinya dan Putri Amerilya, Raja Azvago menatap dengan bingung ke arah tubuh Kesatria Dominix yang masih tergeletak di lantai ruang kerjanya. Bagaimana ia harus menjelaskan pada anggota Kesatria Savalor mengenai hal ini, akankah mereka percaya bahwa ketua mereka tersambar petir karne telah membohongi anak kecil?. Pangean Luxe memberikan saran pada Raja Azvago untuk membawa sang kesatria ke tempat pengobatan yang ada di Kerajaan Meztano, setelah kesatria itu sadar baru dibawa ke markas.
"Siapa yang akan menyangka perkataan seorang anak berusia dua tahun di dengar oleh langit." ucap Raja Azvago dengan pikiran yang tak karuan, entah berkat macam apa yang dimiliki oleh putri kecilnya itu.
Raja Azvago meminta beberapa prajurit untuk membawa Kesatria Dominix menuju ruang pengobatan, sang raja hanya bisa berharap semoga kesatria itu tak mengalami kecacatan karna sambaran petir. Di sisi lain Ibu Suri Sinya sudah sampai di perbatasan antara istana utama dengan istana putri, Putri Amerilya meminta untuk diturunkan di sana.
"Terimakasih karna nenek sudah mengantar Amerilya kembali, nenek harus segera kembali ke kamar dan beristirahat." ucap Putri Amerilya yang perhatian pada Ibu Suri Sinya.
"Baiklah, jaga dirimu baik baik cucuku. Jika ada yang berani menyakitimu lagi maka nenek akan menghajarnya." ucap Ibu Suri Sinya dengan penuh semangat.
__ADS_1
Semua telah kembali ke tempat di mana seharusnya mereka berada, putri kecil sedang tertidur dengan nyenyak di dalam kamar. Kabar mengenai ketua Kesatria Savalor yang dengan berani menghina Putri Amerilya telah sampai ke telinga sepuluh pelayan setia sang putri. Tentu para pelayan sangat marah dan mempersiapkan diri mereka untuk membalas dendam agar di masa depan tak ada anggota Kesatria Savalor yang berani melakukan hal yang sama.
Hai hai semuanya author up lagi nih novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.