PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Jangan Dengarkan Putri Lena


__ADS_3

"Juylin tolong bawa pangeran tidak berguna ini ke sebuah tempat yang sulit untuk ditemukan, saya yakin Putri Lena akan membuat masalah setelah ini." perintah Putri Amerilya pada Juylin yang sedang berdiri tepat di belakang sang ibu.


"Baik saya akan membawanya pergi sekarang. Sampai jumpa Tuan Putri Amerilya." jawab Juylin yang langsung mendekat ke arah Pangeran Zogtu kemudian mengangkat tubuh sang pangeran dengan sangat mudah. Juylin langsung pergi menuju istana putri karna tidak mungkin tiba tiba ia menghilang di hadapan semua orang.


Mendengar perkataan Putri Amerilya membuat Lilian merasa bingung, mengapa sang putri tiba tiba membahas Putri Lena?. Bukankah sedari tadi putri bungsu dari Kerajaan Antez itu tidak ada di tempat kejadian. Mungkinkah hubungan diantara Putri Amerilya dengan Putri Lena kembali memburuk namun apa penyebab dari kerenggangan diantara mereka setelah beberapa hari berbaikan?.


"Mengapa tiba tiba Tuan Putri Amerilya menuduhkan sesuatu terhadap Putri Lena?." tanya Lilian secara terus terang pada putri kecil itu.


"Apa Lilian merasa tidak suka? pergilah dan temani saja Putri Lena. Saya masih memiliki sembilan pelayan lain yang mau mendengar dan memperhatikan saya dengan baik." jawab Putri Amerilya dengan ekspresi datar. Sang putri pergi begitu saja dari halaman depan Istananya menuju bagian dalam istana putri.


Semua orang menatap ke arah kepergian putri kecil itu, hari ini Putri Amerilya bersikap sedikit aneh namun hanya pada Lilian saja. Lilian yang tak mengerti apapun hanya bisa diam kemudian menyusul Putri Amerilya untuk masuk ke dalam istana putri.


"Bagaimana kondisi mu? apa kau baik baik saja putraku?." tanya Ratu Zivaya pada Pangeran Luxe. Sang ratu melihat sang pangeran dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untunglah tidak ada goresan luka di tubuh Pangeran Luxe yang menandakan bahwa ia baik baik saja.


"Saya baik baik saja berkata adik datang tepat waktu. Sebaiknya kita menyusul adik sekarang juga, saya khawatir dia akan kembali jatuh sakit karna terlalu banyak mengeluarkan energi dari dalam tubuhnya." ucap Pangeran Luxe yang langsung berlari masuk ke dalam istana putri di susul oleh Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya.


Raja Yuminxo dan Putri Alexsi saling bertatapan satu sama lain. Mereka baru menyadari bahwa Putri Lena sudah pergi sedari tadi, pantas saja Putri Amerilya mengarahkan bahwa akan ada masalah yang ditimbulkan oleh Putri Lena.


"Seharusnya kita tidak membawanya keluar bersama tadi." gumam Putri Alexsi dengan tatapan kesal.


"Ayah juga tidak mengira bahwa Putri Lena akan melakukan hal itu lagi setelah berbaikan dengan Putri Amerilya." jawab Raja Yuminxo.


Raja Yuminxo dan Putri Alexsi sepakat untuk pergi menuju Istana Putri daripada harus kembali ke aula utama untuk melanjutkan prosesi pemakaman yang sebentar lagi akan menjadi kacau. Di sisi lain Putri Lena baru saja masuk ke dalam aula istana utama dengan ekspresi cemas, sang putri langsung berlari menuju barisan paling depan untuk memberitahukan informasi pada Raja Azvago.


"Hah...hah...Yang Mulia Raja Azvago saya ingin melaporkan sesuatu yang penting pada Anda." ucap Putri Lena dengan nafas ngos-ngosan. Saat sang putri datang sebenarnya Raja Azvago ingin memerintahkan pada para Kesatria White Rose untuk mengangkat peti mati Putri Haru namun seperti harus tertunda.


"Ada apa, katakanlah?." tanya Raja Azvago dengan tatapan bingung.


"Putri Amerilya menyerang Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu di halaman depan istana putri, sepertinya putri kecil Anda itu adalah pelaku kebakaran di area pengasingan tempat Putri Haru tinggal. Sebaiknya Yang Mulia mengambil tindakan tegas karna ini sudah melewati batas, saya tau bahwa Putri Haru adalah adik angkat Anda namun ia tetaplah bagian dari keluarga kerajaan." jelas Putri Lena pada Raja Azvago dengan sedikit provokasi pada kalimat yang ia katakan.


"Jangan menuduh sembarangan, adik perempuan saya tidak akan melakukan hal itu." bantah Pangeran Mixo dengan tatapan tajam. Ia tau bahwa Putri Lena dengan sengaja menjatuhkan nama baik adik perempuannya di hadapan semua orang.


"Saya tau dengan baik bagaimana sifat Putri Amerilya. Ia bahkan hanya berbaring di ranjang tempat tidur akhir akhir ini, bagaimana bisa ialah pelaku pembakaran area pengasingan." ucap Kesatria Richal yang ikut membela Putri Amerilya.


"Jika kalian semua tidak percaya dengan ucapan saya mari kita pergi untuk melihatnya secara bersama sama. Saya melihat dengan jelas Putri Amerilya merubah Pangeran Lunxi menjadi batu hitam, ia bahkan menusuk kedua lutut Pangeran Zogtu." tambah Putri Lena dengan tatapan serius seolah olah ia tidak sedang berbohong.

__ADS_1


"Mari kita pergi bersama dan membuktikan apakah perkataan Putri Lena itu benar ataukah salah." ucap Raja Azvago yang sudah membuat keputusan.


Raja Azvago bersama puluhan pelayat keluar dari aula utama, yang tersisa tinggal Kesatria White Rose dan beberapa pelayat lain yang memilih untuk tetap tinggal di ruangan itu. Di sepanjang jalan menuju pintu keluar istana utama Putri Haru tersenyum tipis, ia sangat puas karna mendapatkan kesempatan emas untuk menjatuhkan nama baik Putri Amerilya di hadapan semua orang. Mungkin ia juga bisa mengambil hati Lilian dan membawanya kembali ke Kerajaan Antez.


Pintu depan istana utama terbuka dengan lebar semua orang yang penasaran dengan perkataan Putri Lena bergegas untuk keluar dan melihat apakah ada keributan dari arah halaman istana putri. Tidak ada apapun di sana, bahkan semua prajurit sedang berjaga dengan wajah biasa biasa saja.


"Kamu bisa melihat bahwa tidak ada apapun di halaman istana putri. Apakah Putri Lena sengaja untuk menjatuhkan nama Putri Amerilya dihadapan kami semua?." tanya salah seorang pelayat dengan tatapan tajam. Untunglah ia tidak termakan dengan kesaksian palsu Putri Lena.


"Saya tidak berbohong, pertarungan Putri Amerilya dengan kedua pamannya itu benar benar terjadi di sana. Mungkin saja pertarungannya telah selesai, mari kita pergi ke istana putri untuk melihat apa yang ada di sana." ucap Putri Lena dengan wajah panik. Ia tak tau mengapa pertarungan itu berakhir dengan sangat cepat dan kemana perginya semua orang termasuk Raja Yuminxo dan Putri Alexsi.


Akhirnya semua orang berjalan bersama sama menuju Istana Putri. Pangeran Mixo bersama kedua adiknya berjalan di barisan paling belakang dengan wajah dipenuhi dengan amarah. Tepat di depan mereka ada Raja Alenzie bersama Putri Liene.


"Jika kali ini apa yang putri Anda ucapkan adalah sebuah kebohongan maka saya tidak akan segan lagi. Lihat saja apa yang akan terjadi pada wilayah Kerajaan Antez." tegur Pangeran Mixo pada Raja Alenzie. Sebagai seorang Putra Mahkota tentu ia memiliki beberapa kekuatan pendukung di luar kekuasaan sang ayah.


"Saya benar benar tidak tau apa yang putri bungsu saya rencanakan. Saya mohon pada Pangeran Mixo agar tidak mencampurkan urus pribadi dengan kerjasama antara dua pihak kerajaan." jawab Raja Alenzie yang mulai was was. Ia berharap apa yang dikatakan oleh putrinya bukanlah sebuah kebohongan belaka.


"Saya tidak peduli dengan hal itu, apa yang putri Anda lakukan menyangkut masa depan adik perempuan saya." jawab Pangeran Mixo dengan tegas.


"Seharusnya ayah melarang Putri Lena untuk pergi bersama dengan raja dari Kerajaan Monzxo, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi." ucap Pangeran Bilge yang merasa kesal dengan sikap plin-plan sang ayah yang dapat mempengaruhi masa depan Kerajaan Antez.


"Sepertinya kalian berdua paling waras diantara anggota Keluarga Kerajaan Antez." ucap Pangeran Zico secara tiba tiba.


"Ya kami pun juga merasa seperti itu." jawab Pangeran Bilge dengan senyuman pasrah.


Setelah beberapa saat berjalan akhirnya mereka semua sampai di depan pintu masuk Istana Putri. Beberapa prajurit yang sedang berjaga di depan pintu menatap bingung ke arah Raja Azvago bersama para pelayat yang tiba tiba datang.


"Apa yang sedang kalian semua lakukan di sini? jangan membuat keributan karna Putri Amerilya masih membutuhkan waktu untuk memulihkan diri." ucap salah seorang prajurit.


"Jangan berpura pura dihadapan kami semua. Saya melihat dengan jelas bahwa Putri Amerilya sanggup mengangkat pedang untuk melawan Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu. Bagaimana mungkin saat ini dia sedang terbaring lemas tak berdaya!." bentak Putri Lena. Ia merasa muak dengan drama yang dilakukan oleh para prajurit dari istana putri.


"Apa yang Putri Lena katakan?? tidak ada pertarungan yang terjadi di sini. Sedari tadi Tuan Putri Amerilya bersama beberapa anggota kerajaan sedang berada di dalam." jawab salah seorang prajurit.


"Berhentilah berbohong dan buka pintunya sekarang. Kami ingin masuk dan membuktikan secara langsung kebenaran yang ada." paksa Putri Lena.


Raja Azvago memberikan isyarat pada para prajurit untuk membiarkan mereka semua masuk ke dalam. Jika yang dikatakan oleh Putri Lena adalah sebuah kebohongan maka dengan terpaksa Yang Mulia Raja Azvago akan mengusir seluruh Anggota Keluarga Kerajaan Antez pulang hari ini juga tanpa adanya jamuan makan malam untuk penutupan.

__ADS_1


Setelah pintu istana utama dibuka dengan lebar, semua orang langsung masuk ke dalam untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Putri Amerilya. Saat masuk ke ruang tengah semua orang melihat beberapa pelayan yang berlarian dari arah dapur menuju kamar sang putri, mereka membawa beberapa baskom air panas. Melihat itu tentu semua orang merasa bingung, apa yang sebenarnya terjadi di sini.


"Kenapa kalian semua ada di sini? apakah prosesi pemakaman Putri Haru telah selesai?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan sinis.


"Putri Lena mengatakan bahwa adik sengaja menyerang Pangeran Lunxi dan Pangeran Zogtu untuk mengancam mereka agar tidak membongkar kematian Putri Haru yang disebabkan oleh Amerilya. Namun apa yang sedang terjadi di sini ibu? mengapa banyak pelayan yang berlarian kesana kemari?." tanya Pangeran Mixo dengan tatapan bingung.


"Kalian semua percaya begitu saja dengan ucapan Putri Lena yang sering membuat masalah itu?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan penuh tanda tanya. Dalam beberapa detik mata sang ratu sempat bertemu langsung dengan mata Raja Azvago.


"Kami datang untuk melihat kebenarannya." jawab Raja Azvago dengan singkat.


"Kedua adik angkat mu itu tiba tiba saja mendobrak masuk ke dalam kamar Putri Amerilya. Apa kalian semua tidak bisa melihat dengan baik reruntuhan pintu yang masih berserakan?. Untunglah saat itu ada Pangeran Luxe yang sedang menjaga Putri Amerilya, jika tidak mereka berdua pasti sudah membunuh putri kesayangan saya." jelas Ratu Zivaya dengan tatapan penuh amarah.


"Lalu bagaimana dengan Putri Amerilya yang tiba tiba menancapkan pedang pada kedua lutut Pangeran Zogtu? tindakan itu terlalu kejam Ratu Zivaya." ucap Putri Lena.


"Ck apa yang diketahui oleh putri manja seperti mu yang tidak pernah berada di posisi terhimpit antar hidup dan mati. Jika Putri Amerilya tidak memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurnya kemudian melihat pertarungan yang sedang terjadi maka Pangeran Luxe sudah menjadi mayat." ucap Ratu Zivaya dengan emosi meluap luap.


"Kalian pasti sedang mengalihkan fakta, saya yakin Putri Amerilya adalah dalang di balik kematian Putri Haru." tegas Putri Lena dengan sedikit berteriak.


Sebuah pisau melesat dari dalam kamar Putri Amerilya dan melukai pipi sebelah kanan Putri Lena. Tentu Putri Lena merasa terkejut dan mundur beberapa langkah kebelakang.


"Sekali lagi kau berani menuduh cucu saya tanpa barang bukti, maka anak berkibar bendera perang antara Kerajaan Meztano dengan Kerajaan Antez!" bentak Ibu Suri Sinya dari dalam kamar Putri Amerilya.


Raja Alenzie dengan segera pergi ke barisan depan, ia manarik Putri Lena ke barisan paling belakang untuk membungkam mulut sang putri. Akan sangat buruk jika peperangan antar dua kerajaan benar-benar terjadi karna ulah anak bungsunya itu.


"Untuk para pelayat silahkan kembali ke aula utama, saya akan segera menyusul ke sana." perintah Raja Azvago tanpa ingin mendengar bantahan dengan alasan apapun.


Para pelayat yang ikut pergi bersama Raja Azvago pun membalikkan badan mereka dan berjalan keluar dari istana putri untuk kembali ke aula istana utama.


"Bagaimana kondisinya saat ini?." tanya Raja Azvago yang mulai khawatir dengan kondisi putri kecilnya..


"Jika Anda sudah tidak menginginkan Putri Amerilya lagi katakan saja pada saya, maka saya akan membawanya pergi." jawab Ratu Zivaya dengan ketus. Kepedulian sang suami sudah sangat terlambat.


"Bukan seperti itu istriku, para pelayat itu harus melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi agar mereka tidak berburuk sangka pada putri kita." ucap Raja Azvago yang mencoba menjelaskan tujuannya.


"Sudahlah saya tidak peduli dengan penjelasan Anda itu. Silahkan kembali ke aula utama untuk melanjutkan prosesi pemakaman. Putri Amerilya akan menjadi urusan saya dengan Ibu Suri Sinya yang benar benar menyayanginya." jawab Ratu Zivaya. Ia masuk ke dalam kamar Putri Amerilya kemudian membuat sebuah sihir pembatas agar suaminya tidak bisa masuk ke dalam.

__ADS_1


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.


__ADS_2