
Saat ini Putri Amerilya telah kembali duduk di tempatnya semula, beberapa pelayan restoran itu datang membawakan pesanan sang putri. Mereka tak pernah menyangka sebelumnya bahwa anak perempuan itu salah satu anggota Keluarga Kerajaan Meztano. Kedua pangeran berlari ke dalam restoran kemudian duduk di kursi kosong yang ada di samping adik mereka, kali ini Putri Amerilya memesan beberapa makanan tambahan untuk kedua kakak laki lakinya itu.
"Hanya ini yang kau pesan adik?." tanya Pangeran Mixo sembari menatap ke beberapa meni makan yang ada di hadapan Putri Amerilya.
"Saya telah memesankan beberapa menu makanan tambahan untuk kalian berdua, tunggu saja sampai pelayan datang mengantarnya." jawab Putri Amerilya dengan santai. Putri kecil itu menyantap makanannya dengan sangat lahap, ia sedikit kelelahan karna harus menghadapi Tuan Hanz Kyne bersama dua belas bawahannya yang sangat merepotkan itu.
Saat ini Tuan Muda Zean Kyne masih dipukuli hingga kondisinya sangat mengenaskan, para prajurit dari Kediaman Duke Lion tak akan berhenti memukuli pemuda itu sebelum mereka mendapatkan perintah dari Putri Amerilya. Tuan Hanz Kyne berusaha untuk memberontak dan menyelamatkan putranya, ia tak tahan melihat putra kesayangannya hampir kehilangan kesadaran karna berusaha menahan sakit di seluruh tubuhnya. Hanz Kyne menatap ke dalam Restoran Permata Merah, ia melihat ke arah Putri Amerilya yang dapat makan dengan tenang meski saat ini ia sedang menyiksa seseorang.
"Terbuat dari apa hati anak perempuan dari Yang Mulia Raja Azvago, mengapa ia bisa setega ini pada putraku." ucap Tuan Hanz Kyne dengan pelan agar tak didengar oleh Putri Amerilya dan kedua pangeran.
"Jika Anda bisa melakukan hal ini pada orang lain mengapa Anda tak pernah berfikir bahwa orang lain bisa melakukan hal yang sama pada Anda?." tanya salah seorang prajurit Kediaman Duke Lion dengan tatapan tak suka. Banyak kasus kekerasan yang dilakukan oleh Keluarga Kyne, para prajurit kerap melaporkan kejadian seperti ini pada Tuan Duke Yosan Lion namun Hanz Kyne selalu menyangkalnya. Hal yang membuat para prajurit tak dapat melakukan apapun adalah mereka kesulitan mendapatkan barang bukti.
"Tolong aku ayah, aku sudah tak tahan lagi." ucap Tuan Muda Zean Kyne dengan suara yang sangat pelan, terdengar rintihan yang sangat menyiksa dari anak laki laki itu.
"Kalian cepat lepaskan putraku, lihatlah ia sudah hampir mati!." bentak Tuan Hanz Kyne pada para prajurit Kediaman Duke Lion yang masih melanjutkan aksi mereka.
"Apa kalian tuli? kalian tak bisa mendengar suara rintihan dari putraku!." bentak Tuan Hanz Kyne dengan suara yang lebih kencang agar didengar oleh Putri Amerilya dan kedua pangeran yang sedang makan dengan tenang di dalam sana.
"Maaf kami hanya mendengar perintah dari Tuan Putri Amerilya." jawab para prajurit itu dengan santai.
Tuan Muda Zean Kyne tak dapat menahan rasa sakit itu lebih lama lagi, ia pingsan dan membuat sang ayah semakin khawatir. Para prajurit Kediaman Duke Lion terus memukuli anak laki laki itu meski ia sudah pingsan, Hanz Kyne hampir kehilangan akal sehatnya saat melihat semua itu di depan mata.
"Sialan kalian semua, cepat lepaskan putra saya." ucap Hanz Kyne dengan kemarahan yang meluap. Pria itu meledakkan mana sihirnya hingga membuat beberapa prajurit yang sedang memeganginya terpental kebelakang.
Putri Amerilya melihat semua itu dari tempat duduknya, dengan segera sang putri kecil mengambil sebuah pisau yang ada di meja kemudian melemparkan pisau itu. Pisau yang dilempar oleh Putri Amerilya melesat dengan sangat cepat dan menancap tepat di dada atas Tuan Hanz Kyne, sang putri sengaja tak membunuh pria itu secara langsung karna akan ada keributan besar yang terjadi di restoran milik Tuan Arges Linero ini.
__ADS_1
"Uhuk uhuk uhuk, beraninya kau menyerang ku seperti ini." ucap Tuan Hanz Kyne yang langsung melepas pisau yang menancap di dada bagian atasnya. Ia bisa bernafas sedikit lega karna pisau tersebut tak mengenai jantung, jika tidak maka ia akan mati saat itu juga.
"Anda terlalu berisik, bisakah Anda diam agar kami bisa makan dengan tenang." jawab Putri Amerilya dengan sorot mata tajam. Tatapan putri kecil itu mengisyaratkan bahwa ia bisa membunuh Hanz Kyne kapanpun yang ia mau.
Hanz Kyne memilih untuk diam di tempatnya sembari berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi, luka akibat pisau kecil itu cukup dalam dan mengenai beberapa pembuluh darah Hanz Kyne.
"Pergilah sekarang sebelum saya berubah fikiran kemudian membunuh Anda dan anak Anda di sini." ucap Putri Amerilya dari dalam restoran. Ia meminta Hanz Kyne untuk kembali kerumahnya jika ia masih ingin menyelamatkan anak laki lakinya itu.
Setelah mendapatkan izin untuk pergi Hanz Kyne langsung membopong tubuh Zean Kyne dan membawanya pergi dari halaman depan Restoran Permata Merah menuju rumah Keluarga Kyne. Para prajurit yang masih berada di halaman depan restoran meminta izin pada Putri Amerilya untuk kembali ke Kediaman Duke Lion namun sang putri menahan mereka dan meminta semua prajurit itu untuk masuk ke dalam restoran.
"Kalian telah bekerja sangat keras untuk memukul anak laki laki itu, duduklah di beberapa tempat kosong pesan saya apa yang ingin kalian makan. Hari ini saya akan mentraktir kalian semua, jadi bersenang senanglah." ucap Putri Amerilya penuh dengan semangat. Kedua kakak laki laki putri kecil itu hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Kau sangat kejam saat memberi hukuman pada Tuan Hanz Kyne dan putranya. Kami rasa kau sangat mirip dengan ayah." ucap Pangeran Luxe secara terang terangan, mungkin saat ayah mereka masih muda sifatnya sangat mirip dengan Putri Amerilya.
"Setelah ini kita langsung pulang saja ke istana, untuk hadiah ulang tahunmu kami akan membelinya malam nanti." ucap Pangeran Mixo yang tak bisa membiarkan adik perempuannya itu terlalu lama berada di luar istana. Akan sangat berbahaya jika sang adik terpancing kemarahannya oleh seseorang.
Putri Amerilya meminta beberapa pelayan untuk datang dan menghitung semua pesanan atas namanya, jumlahnya cukup banyak dan bisa menghidupi dua keluarga sekaligus dalam satu bulan penuh. Saat Putri Amerilya dan kedua pangeran ingin pergi dari restoran itu, Tuan Arges Linero turun dari lantai dua kemudian berjalan menemui sang putri untuk mengucapkan terimakasih atas bantuannya hari ini.
"Tunggu sebentar Tuan Putri Amerilya, Anda tak perlu membayarnya semua makanan ini." ucap Tuan Arges Linero secara tiba tiba saat ia telah sampai di lantai dasar. Semua prajurit Kediaman Duke Lion yang sedang ditraktir oleh Putri Amerilya langsung menoleh ke arah Tuan Arges Linero, total makanan yang harus dibayar sangatlah banyak dan Tuan Arges Linero bisa bangkrut jika menggratiskan makan itu.
"Saya tak bisa menerimanya Tuan Arges Linero, ini adalah bisnis Anda dan jangan sampai Anda rugi besar hanya karna mentraktir semua pesanan atas nama saya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman hangat, ia tak ingin membuat para pekerja di restoran itu terlambat mendapatkan gaji mereka hanya karna sang pemilik restoran mentraktir Putri Amerilya menggunakan anggaran pendapatan restoran tersebut.
"Saya sangat berterimakasih atas bantuan yang telah Tuan Putri Amerilya berikan, tanpa bantuan dari Anda mungkin putra saya sudah tiada. Biarkan saya membalas jasa Anda ini." ucap Tuan Arges Linero yang bersikeras ingin mentraktir Putri Amerilya.
"Bagaimana jika Anda memberikan beberapa bakpao isi daging pada saya? dengan begitu Anda tak perlu merasa memiliki hutang budi pada saya lagi." ucap Putri Amerilya yang memberikan sebuah solusi pada Tuan Arges Linero.
__ADS_1
"Apakah itu cukup Tuan Putri Amerilya? nilainya sangat tak sepadan dengan jasa yang harus saya bayar." jawab Tuan Arges Linero dengan tatapan sedih.
"Itu sudah sangat cukup, jika Anda berkenan tambahkan beberapa buah segar juga." ucap Putri Amerilya dengan sangat sabar. Ia melakukan semua itu tanpa mengharapkan imbalan apapun, namun orang orang seperti Tuan Arges Linero akan selalu mengingat hutang jasa yang harus ia bayar atas pertolongan dan kebaikan dari orang lain.
Tanpa mengatakan apapun lagi Tuan Arges Linero meminta beberapa pelayan untuk membungkukkan beberapa bakpao isi daging dan buah buahan terbaik yang mereka miliki di restoran ini. Setelah semua selesai Tuhan Arges Linero memberikannya pada Putri Amerilya, sang putri menatap ke arah beberapa jenis buah yang diberikan padanya dan semua ini sangat berlebihan.
"Baiklah saya akan menerima semua pemberian Anda, karna urusan kami telah selesai kami permisi terlebih dahulu." ucap Putri Amerilya yang berjalan keluar dari Restoran Permata Merah dengan membawa sekantung bakpao isi daging sedangkan buah buahan dibawa oleh kedua kakak laki lakinya.
"Terimakasih untuk traktirannya Tuan Putri Amerilya, semoga Anda bisa berkunjung ke Kediaman Duke Lion suatu hari nanti." ucap para prajurit Kediaman Duke Lion yang langsung berhenti makan dan membungkukkan badan tepat ke arah pintu keluar masuk restoran itu.
"Saya pasti akan datang berkunjung." triak Putri Amerilya dari luar restoran itu dengan cukup kencang.
Putri Amerilya, Pangeran Mixo, dan Pangeran Luxe berjalan menuju bagian terluar dari pasar itu hingga mereka sampai di depan kereta kuda yang mereka tumpangi. Putri Amerilya menyodorkan sekantung bakpao yang ia dapatkan dari Tuan Arges Linero pada sang kusir kuda yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Ini untuk paman, paman bisa melajukan kereta kuda ini dengan pelan sembari memakan bakpao. Bukankah paman belum makan apapun sedari tadi? jangan sampai paman sakit karna menahan lapar." ucap Putri Amerilya pada sang kusir kuda. Akhirnya kusir kuda itu menerima bakpao yang diberikan oleh Putri Amerilya untuknya.
Setelah itu Putri Amerilya naik ke dalam kereta kuda dibantu oleh Pangeran Luxe, setelah ketiganya sudah berada di dalam kereta tersebut sang kusir kuda langsung memacu kudanya secara perlahan sembari menikmati bakpao hangat itu.
Di sisi lain saat ini Yang Mulia Raja Azvago telah kembali ke Istana Kerajaan Meztano dengan membawa beberapa kotak hadiah berukuran cukup besar, beberapa pelayan dan prajurit membantu sang raja untuk memasukkan semua hadiah itu ke dalam kamarnya. Ciela Marques melihat semua itu dari jendela kaca ruangan yang ia tempati, gadis itu merasa sangat iri karna Putri Amerilya mendapatkan keluarga yang sangat menyayanginya sedangkan ia selalu tersisihkan oleh kakak kakaknya yang lain. Seandainya Ciela Marques diterima sebagai putri angkat dari Yang Mulia Raja Azvago dan Ratu Zivaya mungkin kehidupannya akan jauh lebih baik, namun semua itu hanyalah sebuah mimpi karna sampai kapanpun Ciela Marques tak akan bisa menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan Meztano.
"Walaupun begitu seharusnya Yang Mulia Raja Azvago memberikan izin pada saya untuk tinggal di istana putri." ucap Ciela Marques di dalam batinnya ia bersikeras untuk tinggal di istana putri bersama dengan Tuan Putri Amerilya.
Sang pelayan yang saat itu berada cukup jauh dari Ciela Marques dapat melihat semua tingkah laku gadis itu, kapan Ciela Marques akan sadar bahwa statusnya tak akan pernah sebanding dengan Tuan Putri Amerilya dan ia tak akan bisa menyaingi sang putri kecil. Bisa bernafas dengan bebas untuk beberapa hari kedepan adalah sebuah hadiah besar untuk gadis itu dan seharusnya ia bisa menikmati waktu yang tersisa.
"Hadiah hadiah itu sedikit tak pantas untuk Tuan Putri Amerilya." batin Ciela Marques dengan pelan dan sorot mata penuh dengan kebencian. Apalagi yang akan direncanakan untuk merusak kebahagiaan Putri Amerilya? mungkinkah Ciela Marques ingin melakukan sesuatu pada semua hadiah yang dibeli oleh Yang Mulia Raja Azvago.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih dengan novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.