
Tok tok tok....
Suara pintu kamar Putri Amerilya yang diketuk oleh Juylin. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu itu terbuka dengan lebar dan menunjukkan Putri Amerilya dengan wajah kesalnya. Putri Amerilya masuk kembali ke dalam kamar diikuti oleh Juylin dari belakang.
"Ini sarapan yang Tuan Putri minta. Selamat menikmati." ucap Juylin yang ingin segera pergi dari kamar sang putri untuk mengerjakan tugas lainnya namun tangannya di tahan oleh Putri Amerilya.
Juylin menoleh ke belakang dan menatap ke arah Amerilya yang sedang melihatnya dengan mata berkaca-kaca. Dengan segera Juylin menggendong putri kecil itu, mengapa tiba tiba Putri Amerilya seperti ini? apa yang terjadi padanya?.
"Ada yang sakit Tuan Putri? saya akan segera membawa Anda ke ruang kesehatan." tanya Juylin dengan ekspresi khawatir.
Dengan segera Putri Amerilya menggelengkan kepalanya sebagai pertanda bahwa ia dalam kondisi baik. Juylin berusaha bertanya apa yang diinginkan oleh sang putri akan tetapi Putri Amerilya hanya diam dan tak mengatakan apapun.
"Amerilya lapar, bisakah Juylin menyuapi Amerilya?." tanya putri kecil itu secara tiba tiba.
Juylin tampak diam beberapa saat, ia sedikit terkejut dengan permintaan putri kecil itu. Meskipun usia Putri Amerilya baru menginjak tiga tahun namun ia sudah terlatih mandiri sejak berusia dua tahun. Putri Amerilya jarang meminta orang lain untuk menyuapinya bahkan para Raja Azvago ataupun Ratu Zivaya.
"Baiklah saya akan menyuapi Tuan Putri. Duduk di sini sebentar ya." ucap Juylin sembari meletakkan Putri Amerilya di pinggir ranjang. Ia mengambil kembali nampan penuh makanan yang sempat diletakkan di atas meja.
Di saat Juylin sedang sibuk menyuapi putri kecil itu, di tempat lain tengah terjadi kekacauan. Beberapa prajurit Kerajaan Meztano mulai curiga dengan asap yang terus membumbung tinggi ke atas langit, jika mereka tidak salah asap itu berasal dari hutan tempat Putri Haru diasingkan. Karena khawatir ada hal buruk yang terjadi, beberapa prajurit penjaga perbatasan memberanikan diri untuk pergi ke sana dan memastikannya kondisi Putri Haru.
Hanya butuh waktu lima menit bagi para prajurit perbatasan untuk sampai di wilayah pengasingan itu. Apa yang mereka khawatirkan menjadi kenyataan, semua bangunan yang ada di sana hangus terbakar dan tak bersisa.
"Kita harus pergi ke Istana Kerajaan Meztano untuk melaporkan hal ini. Kemungkinan besar Putri Haru juga mati terbakar di sini." ucap salah seorang prajurit. Wajahnya terlihat sangat panik karna bagaimanapun Putri Haru tetaplah adik Yang Mulia Raja Azvago.
"Jarak istana Kerajaan Meztano dengan wilayah perbatasan terlalu jauh. Kita akan terlambat jika kesana dengan menggunakan kuda." jawab prajurit yang lain.
"Sebaiknya kita meminta Jenderal untuk pergi ke istana, dan kita tetap disini untuk mencari mayat korban kebakaran." usul salah seorang prajurit yang langsung disetujui oleh rekannya yang lain.
Akhirnya para prajurit perbatasan mulai membagi diri mereka menjadi dua kelompok, kelompok yang pertama bertugas untuk mencari mayat yang tertimbun oleh reruntuhan bangunan sedangkan kelompok yang kedua pergi menuju markas prajurit terdekat untuk melaporkan hal tersebut pada Jenderal mereka.
Saat ini Putri Amerilya telah selesai sarapan dan Juylin telah kembali ke dapur. Putri kecil itu membuka jendela kamarnya kemudian menghirup udara segar dari halaman belakang istana putri. Saat sedang menikmati udara pagi tiba tiba sang putri melihat Raja Alenzie ingin memanjat tembok pembatas untuk keluar dari Istana Kerajaan Meztano. Putri Amerilya segera menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan dengan siapa Raja Alenzie akan kabur dan ternyata ia sendirian.
"Amerilya baru tau bahwa seorang raja memiliki hobi memanjat tembok seperti itu." ucap Putri Amerilya dengan suara yang cukup kencang.
__ADS_1
Raja Alenzie yang tadinya sudah hampir sampai di atas tembok pembatas langsung terjauh karna terkejut saat mendengar suara teguran yang tak asing baginya.
Bruk...
Suara Raja Alenzie ketika jatuh ke tanah. Ia memegangi punggungnya yang terasa sakit sembari mencoba untuk berdiri. Kini Raja Alenzie bertatapan langsung dengan Putri Amerilya, tanpa rasa bersalah sang putri menunjukkan senyumannya.
"Ck mengapa Tuan Putri Amerilya mengejutkan saya." protes Raja Alenzie.
"Bukankah seharusnya saya yang bertanya mengapa Anda ingin memanjat tembok pembatas itu. Ah jangan jangan sang raja dari Kerajaan Antez ingin kabur?. Jika tebakan saya benar maka nyali Anda seperti anak kecil." kritik Putri Amerilya dengan sangat pedas.
"Saya tidak sedang melakukan hal yang Tuan Putri Amerilya tuduhkan itu. Saya hanya ingin pergi ke suatu tempat untuk menemui teman saya." jawab Raja Alenzie dengan tatapan yang sangat meyakinkan.
Putri Amerilya melompat keluar dari jendela kamarnya lalu berjalan mendekat ke arah Raja Alenzie, ia menatap mata sang raja dengan tatapan tajam.
"Saya memang masih kecil Yang Mulia Raja Alenzie namun bukan berarti Anda bisa membodohi saya seperti ini. balas Putri Amerilya.
Raja Alenzie tiba tiba terdiam, ia tak tau harus mengatakan hal apa lagi untuk meyakinkan putri kecil itu bahwa dirinya tak berniat untuk kabur.
"Kembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Kerajaan Meztano." tegur Putri Amerilya.
"Saya tau Anda sangat menyayangi Putri Lena, bukan berarti Anda harus mengambil persediaan ikan salmon yang disimpan di gudang. Semua itu adalah milik Kerajaan Meztano, jika Anda menginginkannya silahkan membeli langsung pada para penjual ikan segar." ucap Putri Amerilya. Sang Putri mengambil sebuah buntalan berukuran cukup besar yang disembunyikan di balik jaz milik Raja Alenzie.
"Tidak etis jika seseorang raja seperti Anda mencuri seperti ini." sang putri terlihat sangat kesal dengan tingkah laku Raja itu.
Tiba tiba saja Putri Amerilya menarik tangan Raja Alenzie. Keduanya pergi meninggalkan halaman belakang istana putri dan berjalan menuju istana utama. Beberapa prajurit yang sedang berjaga di depan pintu menatap sang putri dengan tatapan bingung, apa yang sedang terjadi mungkinkah Raja Alenzie membuat kesalahan lagi?.
"Dimana ayah sekarang?." tanya Putri Amerilya pada para prajurit penjaga pintu masuk istana utama.
"Saat ini Yang Mulia Raja Azvago dan Pangeran Mixo sedang mendiskusikan sesuatu di ruang kerja sang raja." jawab salah seorang prajurit.
"Terimakasih untuk informasinya saya permisi terlalu dahulu." jawab sang putri. Ia masuk ke dalam istana utama dan masih menarik tangan Raja Alenzie.
Sebenarnya Raja Alenzie sedari tadi ingin menepis tangan Putri Amerilya yang sedari tadi menarik narik tangannya, akan tetapi sang raja tidak ingin membuat kerenggangan diantara kedua belah pihak kerajaan semakin parah.
__ADS_1
Tok tok tok....
Suara pintu ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago yang diketuk oleh Putri Amerilya. Setelah beberapa menit akhirnya ruangan itu terbuka.
"Ada apa adikku, apakah Raja Alenzie dan putri putrinya kembali mengusik mu?." tanya Pangeran Mixo dengan tatapan tajam yang ia berikan pada Raja Alenzie.
"Kali ini permasalahannya sangat berbeda dari biasanya. Biasakah Amerilya masuk ke dalam dan bertemu dengan ayah?." tanya sang putri dengan sopan pada kakak pertamanya itu.
"Silahkan masuk adik, kau bisa menjelaskan masalah mu pada ayah." jawab Pangeran Mixo dengan senyuman yang sangat tampan.
Putri Amerilya masuk ke dalam ruang kerja Raja Azvago sembari menarik tangan Raja Alenzie agar ikut masuk ke dalam. Raja Azvago yang tadinya sedang sibuk mengurus beberapa berkas kini mengalihkan pandangannya pada Putri Amerilya. Tanpa mengatakan apapun Putri Amerilya meletakkan sebuah buntalan kertas dengan ukuran yang cukup besar di meja ruang kerja Raja Azvago.
Karna merasa penasaran dengan apa isi buntalan itu Raja Azvago pun membukanya. Seketika sang raja dan Pangeran Mixo menunjukkan ekspresi bingung, untuk apa Putri Amerilya menunjukkan daging ikan salmon pada mereka?.
"Lalu apa hubungannya semua ini dengan Raja Alenzie?" tanya Pangeran Mixo. Ia tak ingin dihantui dengan rasa penasarannya itu.
"Raja Alenzie mencuri daging ikan salmon itu dari gudang persediaan kita." jawab Putri Amerilya dengan ketus.
"Ha?! mencuri daging ikan salmon tapi untuk apa?." ucap Raja Azvago yang semakin pusing dengan niat Keluarga Kerajaan Antez ketika berada di Istana Kerajaan Meztano.
Raja Alenzie tetap diam dan tidak ingin menjelaskan alasannya melakukan hal yang sangat memalukan seperti itu. Mau ditaruh mana mukanya jika Yang Mulia Raja Azvago mengetahui semua itu untuk menuruti keinginan Putri Lena untuk sarapan ikan salmon di setiap paginya.
"Putri Lena sangat menyukai ikan salmon mungkin ini semua demi putri kesayangannya Raja Alenzie. Hari ini Putri Lena meminta pada Lilian untuk memasakkan beberapa menu ikan salmon untuknya." jelas Putri Amerilya.
"Ah jadi begitu. Meskipun hubungan diantara Kerajaan Meztano dan Kerajaan Antez sedang regang bukan berati kami tidak bisa memberikan salmon segar pada kalian. Sebelum kalian kembali ke Kerajaan Antez, saya memiliki sebuah kontrak yang harus Anda baca jika ingin menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Meztano seperti semula." Raja Azvago telah memikirkan solusi terbaik untuk saat ini. Sang raja akan fokus pada para pengkhianat yang bekerjasama dengan pihak Kerajaan Belgize maupun Kediaman Marques Montiqu, karna itulah ia perlu menekan musuh lainnya untuk beberapa waktu dengan cara perdamaian. Inilah yang dinamakan politik.
"Ayah tolong berikan ikan ikan segar pada kerajaan mereka dan katakan pada Putri Lena untuk tidak mengambil apapun milik Amerilya. Sepuluh pelayan yang ada di Istana Putri adalah milik saya." ucap Putri Amerilya dengan tegas. Setelah mengatakan hal itu ia langsung pergi dari ruang kerja Raja Azvago.
"Ada apa dengan Putri Amerilya? mengapa ia sangat aneh hari ini?." gumam Raja Azvago, sedari dulu hingga sekarang sangat sulit untuk memahami keinginan perempuan.
"Menurut saya Putri Amerilya tak suka ketika pelayannya yang bernama Lilian memasakkan sesuatu untuk Putri Lena secara pribadi." jawab Pangerang Mixo.
"Ahahaha bukankah adik perempuan mu itu sangat lucu." suara tawa Raja Azvago menggema hingga ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Ekem baiklah mari kita bicarakan kontrak kerjasama ini dengan baik. Satu hal yang tetap tidak bisa diubah yaitu pembatalan perjodohan Pangeran Mixo dengan putri pertama Anda." jelas Raja Azvago. Ia langsung memberitahukan beberapa hal penting di dalam kontrak tersebut. Raja Alenzie membaca dengan teliti, ia harus mempertimbangkan setiap poin di dalam kontrak tersebut.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.