
Putri Amerilya berjalan dengan santai bersama kedua putri duke menuju istananya, mereka bertiga membicarakan beberapa hal mengenai penyerangan yang dilakukan oleh Kediaman Duke Marques. Nona Muda Alxin Rucixara curiga bahwa pengurus rumah dari Kediaman Duke Marques juga ikut campur dalam persiapan pasukan khusus yang akan dikirim ke istana Kerajaan Meztano dan berkemungkinan besar ia juga memiliki rencana lain di saat padukan khusus Kediaman Duke Marques kalah telah dengan kematian beberapa anggota keluarga duke. Mendengar perkataan dari Nona Muda Alxin Rucixara membuat Putri Amerilya mempertimbangkan beberapa hal yang akan terjadi nanti saat pesta makan malam berlangsung.
"Di istana ini ada banyak petinggi mukai dari para mentri, jenderal, kepala pelayan dan yang lainnya. Diantara mereka semua siapa yang paling memungkinkan memiliki hubungan baik dengan para Duke yang ada di wilayah Kerjaan Meztano?" tanya Putri Amerilya pada kedua putri Duke itu, ia masih belum memahami beberapa struktur politik yang ada di dalam Istana Kerajaan Meztano.
Nona Muda Ersa Rucixara dan Nona Muda Alxin Rucixara terdiam beberapa saat dan mencoba mengingat struktur pemerintahan yang ada di Istana Kerajaan beserta tugas tugas yang harus dilaksanakan oleh para petinggi kerajaan, setelah berfikir beberapa saat Nona Muda Ersa Rucixara menemukan sebuah pencerahan mengenai hal itu.
"Mentri perhubungan dan perdagangan memiliki hubungan yang erat dengan kediaman pada Duke dan juga Marques. Mereka ditugaskan untuk mempererat hubungan antara pihak kerajaan dengan para keluarga bangsawan." ucap Nona Muda Ersa Rucixara.
"Namun para prajurit yang ditugaskan di beberapa wilayah para keluarga bangsawan memiliki hubungan yang dekat dengan mereka." sanggah Nona Muda Alxin Rucixara yang memiliki pendapat berbeda. Kedua saudara itu saling bertatapan satu sama lain untuk meributkan perbedaan pendapat mereka itu.
"Yang paling dekat dengan Keluarga Duke dan Marques." ucap Putri Amerilya sembari mengingat ingat beberapa kejadian beruntun yang terjadi belakangan ini. Ada satu orang yang selalu ada di samping ayahnya meski orang itu tak bertugas untuk menyelesaikan masalah.
"Saya akan menampung pendapat kalian berdua, tak perlu meributkan hal itu karna setiap orang memiliki pandangan yang berbeda." ucap Putri Amerilya yang sedang menengahi pertengkaran diantara keduanya.
"Maafkan kami Tuan Putri Amerilya karna sudah bersikap tak sopan di hadapan Anda." ucap Nona Muda Alxin Rucixara dan Nona Muda Ersa Rucixara secara bersamaan. Mereka merasa malu karna terlihat kekanak-kanakan dihadapan seorang anak berusia dua tahun yang sudah memiliki pemikiran dewasa.
Setelah berjalan melewati taman yang cukup panjang akhirnya mereka bertiga sampai di Istana Putri, beberapa pelayan keluar untuk melihat bagaimana kondisi Putri Amerilya setelah pertarungan tadi namun mereka harus mengurungkan kecemasan itu setelah melihat kehadiran dua putri Duke Rucixara.
"Tolong antar mereka ke kamar masing masing." ucap Putri Amerilya yang meminta tolong dengan sopan pada beberapa pelayan itu, ia sangat lelah dan ingin beristirahat di dalam kamarnya untuk beberapa saat.
"Baiklah kami akan mengantar kedua nona muda ini ke kamar tamu, silahkan Tuan Putri Amerilya beristirahat." ucap salah seorang pelayan yang meminta Putri Amerilya beristirahat karna terlihat dengan jelas raut wajah lelah anak perempuan itu.
__ADS_1
"Sampai jumpa Tuan Putri Amerilya." ucap kedua nona muda yang melambaikan tangannya pada Putri Amerilya, mereka berjalan mengikuti beberapa pelayan dari belakang.
Setelah kepergian Nona Muda Alxin Rucixara dan Nona Muda Ersa Rucixara, Putri Amerilya segera pergi menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar ia langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah itu. Putri Amerilya menghela nafas beberapa kali, ternyata tugasnya belum selesai masih ada beberapa pengkhianat yang bersembunyi di dalam Istana Kerajaan Meztano dengan tenang. Putri Amerilya mencoba untuk memperkirakan siapa orang yang paling mencurigakan untuk saat ini, saat sang putri sedang bergelut dengan isi kepalanya sendiri tiba tiba seorang pelayan masuk dan membawakan jus jeruk untuk Putri Amerilya.
"Anda pasti sangat lelah Tuan Putri." ucap seorang pelayan berambut putih dan mata biru cerah. Pelayan itu menguangkan jus jeruk kedalam sebuah gelas dan memberikannya pada Putri Amerilya yang sudah dalam posisi duduk.
"Terimakasih Lilian." ucap Putri Amerilya pada pelayan itu, ia meminum jus jeruk hingga habis kemudian meminta sang pelayan untuk mengisi gelasnya lagi.
"Kami sangat khawatir dengan pertarungan yang terjadi antara Anda dengan para prajurit khusu dari Kediaman Duke Marques. Syukurlah karna Tuan Putri Amerilya memiliki kemampuan untuk melawan mereka semua." ucap pelayan bernama Liliana itu, rambut putih dan mata biru mudanya mengingatkan Putri Amerilya pada bunga liliy yang tumbuh di halaman belakang Istana Utama. Karna itulah Putri Amerilya dapat menebak siapa nama dari pelayan cantik yang selama ini selalu membantunya ketika dalam bahaya.
"Meski pertarungan sudah berakhir, saya merasa sangat cemas. Sepertinya ada beberapa penghianat yang masih belum tertangkap. Saya yakin Nyonya Riana Marques memiliki koneksi pada beberapa petinggi Kerajaan Meztano, saya melihat sorot mata tenang saat wanita itu dibawa kedalam penjara." ucap Putri Amerilya yang menceritakan kecemasan itu pada Liliana. Dengan senang hati sang pelayan menampung kecemasan sang putri, ia juga ikut memikirkan hal itu dan langsung setuju dengan pendapat Putri Amerilya.
"Lalu apa yang akan Tuan Putri lakukan untuk memancing dan menangkap mereka keluar?." tanya Liliana, ia tau putri kecil pasti sudah memikirkan sesuatu untuk mengatasi situasi itu.
"Katakan bantuan seperti apa yang dibutuhkan oleh Tuan Putri kecil kami." ucap Liliana yang mulai serius karna masalah kali ini cukup besar dan akan berpengaruh langsung pada Istana Kerajaan Meztano.
"Saya ingin dua pelayan dengan kemampuan bersembunyi terbaik mengawasi sel penjara tempat Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya berada. Saya mempunyai firasat bahwa ada beberapa prajurit kerajaan yang ikut dalam masalah ini." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tajam.
"Baiklah jika begitu saya akan mengumpulkan pelayan yang lain, sebaiknya Tuan Putri Amerilya istirahat saja biar masalah ini kami yang akan tangani." ucap Liliana yang langsung keluar dari kamar Putri Amerilya, pelayan itu berjalan ke dapur dengan suara langkah kaki yang terdengar seperti sebuah kode rahasia.
Putri Amerilya meminum beberapa gelas jus jeruk kemudian ia meletakkan gelas di atas meja dan membaringkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur, perlahan lahan putri kecil itu mulai memejamkan matanya dan terlarut dalam tidur. Saat ini Liliana bersama dengan sembilan pelayan lain tengah berkumpul di perpustakaan Istana Putri, mereka tengah menyusun rencana untuk menangkap para pengkhianat yang masih bersembunyi di dalam istana Kerajaan Meztano seperti kecurigaan Putri Amerilya. Beberapa pelayan lain berpendapat bahwa saat perkiraan Putri Amerilya kemungkinan besar benar, Nyonya Riana Marques dan anggota keluarganya yang lain memiliki hubungan yang tak cukup baik dengan anggota Keluarga Kerajaan Meztano semenjak kejadian Putri Haru.
__ADS_1
"Kalian berdua pergi ke penjara tempat Riana Marques dan kedua anaknya ditahan, laporkan semua yang kalian lihat di sana pada Tuan Putri Amerilya." ucap Lilian sembari menunjuk seorang pelayan dengan rambut putih dan kata coklat tua, pelayan lainnya dengan penampilan rambut dan mata berwarna hitam legam.
"Baik kami akan pergi sekarang." ucap kedua pelayan itu yang langsung menghilang dari perpustakaan dalam beberapa detik saja.
"Haruskah kita mengawasi saat koki istana utama sedang memasak makanan? pesta makan malam yang akan diadakan hari ini adalah celah besar untuk para musuh." ucap seorang pelayan dengan rambut pirang dan mata emas yang sangat cantik.
"Sepertinya sebagian dari kita harus berpura pura membantu kesibukan di dapur istana utama." ucap Liliana dengan perasaan cemas, ia khawatir akan ada beberapa pelayan yang disuap oleh pihak musuh untuk memasukkan racun kedalam makanan.
"Kami akan pergi." ucap dua orang pelayan yang langsung menghilang juga dari perpustakaan.
Kini tinggal enam pelayan setia Putri Amerilya yang masih tersisa, mereka akan membagi tugas dan mengawasi beberapa tempat mencurigakan seperti kediaman para mentri dan jenderal utama sedangkan Liliana dan seorang pelayan lain akan pergi ke Kediaman Duke Marques untuk memastikan apakah pengurus rumah masih ada di sana.
"Baiklah semuanya berpencar." ucap Liliana dengan tegas.
Saat kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya sedang sibuk mencari nama nama orang yang ikut serta dalam rencana pengkhianatan Keluarga Duke Marques di sisi lain Yang Mulia Raja Azvago sedang berbincang bincang dengan salah seorang menteri mengenai masalah hari ini. Sang mentri bernama Moren Luzent yang bertugas untuk mengawasi pengolahan sumber daya di wilayah Kerajaannya Meztano, meskipun ia tak memiliki tugas dalam hal keamanan, sang mentri terlihat begitu antusias membahas masalah hari ini bersama Raja Azvago di ruang kerja sang raja.
"Sebaiknya Yang Mulia Raja Azvago mengawasi beberapa pergerakan dari Duke yang lain agar hal seperti itu tak akan terulang kembali." ucap Mentri Moren Luzent dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada Raja Azvago.
"Saya memiliki rencana untuk melakukan pengawasan pada pergerakan para Duke kedepannya." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan raut wajah tenang meski saat ini ia sedang memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mencegah pengkhianatan oleh pihak keluarga bangsawan lain.
"Kita bisa mengadakan rapat dengan para mentri yang lain untuk membahas masalah ini, saya harus kembali ke rumah karna keluarga saya sudah menunggu." ucap Mentri Moren Luzent sembari membungkukkan badannya dihadapan Raja Azvago kemudian pria itu keluar dari ruangan sang raja.
__ADS_1
Setelah kepergian sang mentri, Yang Mulia Raja Azvago menghela nafas panjang ia tak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Kerajaan Meztano kehilangan salah seorang keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh di wilayahnya, untuk kedepannya sang raja akan memperketat keamanan dan membuat peraturan baru agar hal semacam ini tak terulang lagi. Di sisi lain tiba tiba saja Putri Amerilya terbangun dari tidurnya karna ia mendapatkan mimpi buruk yang sangat menyeramkan, dengan segera sang putri masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah selesai Putri Amerilya segera keluar dari kamar dan bergegas pergi menuju Istana Utama untuk melihat apakah ada hal aneh yang terjadi di sana.
Hai hai semua author update lagi novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.