PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Ulah Putri Lena


__ADS_3

Saat ini rombongan Keluarga Kerajaan Antez telah sampai di Istana Kerajaan Meztano untuk mengikuti acara ulang tahun Putri Amerilya yang akan dilangsungkan besok malam, Keluarga Kerajaan Antez sengaja datang lebih awal karna letak wilayah mereka cukup jauh dari wilayah Kerajaan Meztano. Ibu Suri Sinya dan Yang Mulia Raja Azvago sedang menyambut kedatangan anggota Keluarga Kerajaan Antez itu dan mempersilahkan mereka untuk menempati beberapa kamar yang ada. Raja dan Ratu akan ditempatkan di istana utama, Putri akan di tempatkan di istana putri, dan Pangeran akan di tempatkan di istana pangeran.


"Terimakasih karna telah datang memenuhi undangan dari saya." ucap Yang Mulia Raja Azvago sembari menjabat tangan Raja Alenzie.


"Tentu saya akan datang apalagi ini pesta ulang tahun pertama untuk putri Anda." jawab Rana Alenzie dengan senyuman ramah.


"Sebelumnya saya pernah mendengar bahwa Yang Mulia Raja Azvago mendapat kutukan dari seorang penyihir hingga setiap anak perempuan yang lahir akan meninggal saat berusia dua tahun. Bagaimana cara Anda mendapatkan seorang putri? apakah Anda mengangkat seorang anak dari keluarga bangsawan?." tanya Pangeran Bilge Antez dengan rasa penasaran yang terus menyelimuti perasaanya saat dalam perjalanan menuju wilayah Kerajaan Meztano.


"Putri Amerilya adalah anak kandung saya, ia berhasil mematahkan kutukan itu satu tahun yang lalu. Saya sangat senang setelah sekian lama akhirnya saya memiliki anak perempuan." jawab Raja Azvago, meskipun pertanyaan dari Pangeran Bilge Antez sedikit kurang sopan namun itu bukan masalah besar. Remaja seusia Pangeran Bilge Antez memang memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi.


"Dimana Ratu Zivaya? mengapa saya tak melihatnya dari tadi." tanya Ratu Jeylena, sudah setengah jam mereka berada di ruang tamu istana utama Kerajaan Meztano akan tetapi Ratu Zivaya tam kunjung memunculkan diri.


"Sepertinya sang ratu sedang pergi berbelanja bersama dengan Putri Amerilya, mereka ingin membeli beberapa gaun untuk acara pesta ulang tahun. Mari saya antar menuju kamar tamu yang telah disiapkan oleh para pelayan, untuk pangeran dan putri kalian akan diantar oleh Ibu Suri Sinya." ucap Raja Azvago, sang raja mengantarkan Raja Alenzie dan Ratu Jeylena menuju kamar mereka.


Ibu Suri sinya berjalan keluar dari ruang tamu istana utama menuju istana pangeran untum mengantar dua pangeran dari Kerajaan Antez, setelah selesai mengantar kedua pangeran Ibu Suri Sinya langsung mengantar dua orang putri menunju istana putri yang ditinggali oleh Putri Amerilya.


"Kalian bisa masuk ke dalam dan memilih kamar sesuai yang kalian inginkan, jangan masuk ke dalam kamar Putri Amerilya karna masih banyak kamar yang lain." ucap Ibu Suri Sinya yang berpesan pada Putri Liene dan Putri Lena.


"Baik kami mengerti Ibu Suri, terimakasih karna telah mengantar kami sampai ke sini." ucap Putri Liene dengan sangat sopan sedangkan Putri Lena terlihat acuh tak acuh dengan perkataan Ibu Suri Sinya.


"Saya permisi terlebih dahulu, semoga kalian betah tinggal di sini." ucap Ibu Suri Sinya dengan senyuman hangatnya kemudian ia pergi dari pintu masuk istana putri.


Putri Liene dan Putri Lena masuk ke dalam istana putri, terlihat beberapa pelayan yang sedang membereskan kamar kamar tamu yang ada di dalam dan sebagian sedang memasak di dapur. Dua orang pelayan datang menghampiri kedua putri dari Kerajaan Antez itu, kedua pelayan tersebut menunjukkan beberapa kamar tamu yang ada di istana putri Kerajaan Meztano.


"Silahkan Anda memilih kamar yang sesuai, kami harus pergi untuk membantu yang lain memasak di dapur." ucap seorang pelayan dengan penampilan rambut berwarna putih dan mata berwarna coklat tua.


"Tentu kami akan memilih kamar yang sesuai, silahkan kembali ke tempat kalian bertugas." ucap Putri Lena dengan nada bicara ketus. Mendengar jawaban dari Putri Lena membuat kedua pelayan itu merasa kesal.


Di sisi lain saat ini Putri Amerilya dan Ratu Zivaya sudah berada di sebuah toko gaun yang tak jauh dari Istana Kerajaan Meztano, Putri Amerilya sedang memilih beberapa gaun yang dirasa cocok dengan dekorasi aula utama Kerajaan Meztano sedangkan Ratu Zivaya sudah mengambil dan mencoba empat gaun yang berbeda. Diantara keempat gaun yang dipilih oleh Ratu Zivaya, ia membeli semuanya karna tak ingin terlalu pusing memilih satu atau dua gaun diantara keempat gaun itu.


"Apa kau sudah selesai putriku?." tanya Ratu Zivaya sembari menghampiri Putri Amerilya yang tambak kebingungan saat akan memilih. Putri kecil itu mengajarkan tiga gaun dengan warna yang berbeda, satu gaun berwarna putih dengan hiasan bunga dan kupu kupu, satu gaun berwarna biru tua dan warna hitam di bagian bawah gaun dengan hiasan taburkan permata kecil berwarna putih, dan pilihan terakhir Putri Amerilya adalah sebuah gaun berwarna coklat muda dengan tambahan aksesoris berupa kalung dan juga gelang yang cukup mencolok saat di pakai nanti.


"Kau menyukai semuanya putriku?." tanya Ratu Zivaya yang berusaha untuk menahan tawa, eksepsi bingung dari Putri Amerilya sangatlah lucu hingga beberapa pekerja yang ada di toko gaun itu ikut merasa gemas dengan sang putri kecil.


"Amerilya tak bisa memilih diantara ketiga gaun ini, menurut ibu mana yang paling cocok untuk pesta ulang tahun Amerilya besok malam?." tanya sang putri kecil dengan tatapan polosnya. Karna tak tahan akhirnya Ratu Zivaya mencubit kedua pipi Putri Amerilya dengan cukup kencang hingga meninggalkan bekas berwarna merah.

__ADS_1


"Tolong bungkus semua gaun yang Putri Amerilya pilih dan keempat gaun milik saya." ucap Ratu Zivaya yang akan membelikan Putri Amerilya ketiga gaun itu.


Putri Amerilya menatap ke arah Ratu Zivaya dengan tatapan bingung, mengapa ibunya itu sangat boros hingga membeli banyak gaun hanya untuk sebuah acara pesta ulang tahun saja? Putri Amerilya juga tak mungkin menggunakan ketiga gaun itu sekaligus.


"Mengapa ibu sangat boros, seharusnya Amerilya hanya membeli satu baju saja." ucap Putri Amerilya dengan menggembungkan pipinya, putri kecil itu terlihat sangat kesal pada Ratu Zivaya.


"Bukankah putri kesayangan ibu menyukai semuanya? karna itulah ibu membelikan ketiga gaun itu untuk mu. Jangan marah seperti itu nanti pipimu bertambah lebar." ucap Ratu Zivaya dengan suara tawa pelan, ia merasa sangat senang karna bisa menjahili Putri Amerilya.


Beberapa saat setelahnya seorang pelayan toko memanggil Ratu Zivaya untuk membayar semua gaun yang telah dikemas dengan rapi, setelah selesai Ratu Zivaya mengajak Putri Amerilya keluar dari toko itu kemudian mereka pergi menuju Istana Kerajaan Meztano. Berada di luar area istana kerajaan dalam waktu yang cukup lama bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan ditambah saat itu mereka pergi tanpa pengawalan seorang prajurit.


Saat sedang berjalan tiba tiba saya Putri Amerilya mendengar suara langkah kaki beberapa orang yang ada di belakangnya dan Ratu Zivaya, sepertinya mereka sedang diawasi oleh para prajurit dari Kediaman Marques Montiqu. Ratu Zivaya merasa cemas karna ia takut orang orang yang ada di belakangnya itu menyerang secara tiba tiba, saat sang ratu ingin membalikkan badan dan memberi pelajaran pada orang tersebut Putri Amerilya dengan sigap menahannya.


"Ibu tenanglah, kita masih berada di sekitar Istana Kerajaan Meztano. Mereka tak akan berani melakukan apapun karna keberadaan mereka juga sangat dirahasiakan." ucap Putri Amerilya dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh Ratu Zivaya.


"Ah ternyata begitu, baiklah ibu tak akan mengambil tindakan apapun. Sebaiknya kita berjalan lebih cepat agar segera sampai ke istana kerajaan." ucap Ratu Zivaya yang langsung mempercepat jalannya diikuti oleh Putri Amerilya. Meskipun langkah kaki sang putri lebih kecil dari Ratu Zivaya namun ia bisa mengimbangi pergerakan sang ratu menggunakan dorongan rumput yang ia injak.


Setelah beberapa saat akhirnya Putri Amerilya dan Ratu Zivaya sampai di depan gerbang masuk Istana Kerajaan Meztano, para penjaga gerbang membukakan jalan untuk mereka berdua kemudian membungkukkan badan saat keduanya melintas. Setelah berada di halaman depan Istana Kerajaan Meztano, Ratu Zivaya memberikan sebuah kantung belanjaan berisi tiga gaun yang dipilih oleh putrinya.


"Ibu harus segera masuk ke istana utama karna ayahmu sudah menunggu, kembalilah ke istana putri dan cobalah tiga gaun yang telah kau pilih. Dengan begitu kau akan mudah menentukan gaun mana yang ingin dipakai saat acara pesta ulangtahun mu nanti." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman manis. Awalnya mereka ingin membeli gaun dengan warna yang sama namun keinginan itu tak bisa terwujud untuk saat ini.


Putri Amerilya masuk ke dalam istana putri dengan perasaan bahagia, ia bergegas pergi ke kamarnya untuk mencoba ketiga gaun yang telah ia beli. Saat membuka pintu kamar, Putri Amerilya dikejutkan dengan kehadiran seorang anak perempuan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Putri Amerilya tak mengerti mengapa anak perempuan itu masuk ke dalam kamarnya padahal masih banyak kamar lain yang ada di istana putri.


"Apa yang Anda lakukan di dalam kamar saya?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan tak suka. Anak perempuan itu sedang memegang beberapa barang pribadi milik Putri Amerilya tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Ah jadi ini kamar mu? mulai saat ini kamar ini akan menjadi milikku. Sebaiknya kau menempati kamar lain hingga pesta ulang tahun selesai." ucap Putri Lena yang tak ingin keluar dari kamar Putri Amerilya.


Putri Amerilya meremas tangannya dengan kuat, ia sangat ingin memukul anak perempuan itu hingga pingsan. Darimana datangnya anak perempuan yang sangat sombong dan juga arogan sepetinya. Putri Amerilya memanggil beberapa pelayan, tanpa menunggu lama para pelayan langsung bergegas pergi memenuhi panggilan putri kecil mereka.


"Ada apa Tuan Putri Amerilya?. tanya Lilian dengan tatapan bingung dan ekspresi cemas yang menjadi satu.


"Saya mengerti bahwa ayah menempatkan para putri dari kerajaan lain di istana ini namun mengapa ia menempati kamar saya?." ucap Putri Amerilya dengan tatapan sinis yang ia berikan pada Putri Lena.


Kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya langsung melihat ke dalam kamar sang putri, di sana ada Putri Lena yang sedang menyentuh beberapa koleksi barang pribadi milik Putri Amerilya. Lilian dan Juylin merasa sangat kesal dengan sikap putri dari Kerajaan Antez itu, bukankah mereka sudah menjelaskan kepada Putri Lena agar tak menempati kamar milik Putri Amerilya. Lilian masuk ke dalam kamar itu kemudian menyeret Putri Lena keluar dari sana, Putri Lena menjerit dengan cukup kencang hingga kakak perempuan datang untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan sang adik.


"Apa yang terjadi? tolong lepaskan adik saya. Mari kita berbicara baik baik tentang masalah ini." ucap Putri Liene yang menatap tajam ke arah Lilian. Bukannya merasa takut Lilian juga menatap tajam ke arah putri itu. Sebagai seorang tamu sikap dari Putri Lena sudah melewati batas, Putri Amerilya sudah memintanya keluar secara baik baik namun Putri Lena malah mengusir pemilik kamar itu.

__ADS_1


"Ini adalah wilayah Kerajaan Meztano, tolong bersikap selayaknya seorang tamu." ucap Putri Amerilya yang menatap Putri Lena dengan tatapan tajam.


Putri Lena langsung bersembunyi di belakang Putri Liene seolah olah ia merasa takut dengan tatapan yang diberikan oleh Putri Amerilya. Sebagai seorang kakak perempuan yang baik tentu Putri Liene akan membela sang adik tak peduli siapa yang menjadi pihak bersalah dalam permasalahan kali ini.


"Adik saya masih kecil dan dia sudah terbiasa untuk tinggal di sebuah kamar yang bagus apalagi cat kamar milik Tuan Putri Amerilya berwarna merah muda, karna itulah adik saya secara tidak sengaja masuk ke dalam kamar Anda." ucap Putri Liene yang sedang mencari sebuah alasan untuk membebaskan adiknya dalam masalah ini.


"Lihatlah apa yang dilakukan oleh pelayan Anda, dia dengan berani menarik tangan adik saya dengan kencang hingga meninggalkan bekas luka seperti ini." ucap Putri Liene, ia menunjukkan pergelangan tangan Putri Lena. Terdapat bekas kemerah-merahan yang cukup jelas di pergelangan tangan itu.


"Putri Lena sudah berusia lima tahun, sangat jelas ia dua tahun lebih tua daripada saya. Apakah tak ada pelajaran etika untuk seorang putri yang sudah menginjak usia lima tahun? pelajaran etika dasar seharusnya sudah dipelajari oleh Putri Lena." jawab Putri Amerilya dengan sebuah kritikan yang cukup pedas.


Menjadi anggota keluarga kerajaan bukanlah hal yang mudah, entah itu anak perempuan ataupun anak laki laki mereka dituntut untuk menjaga nama baik keluarga ketiga berada di luar lingkup istana kerajaan mereka sendiri. Seorang putri akan mendapatkan pendidikan etika dasar ketika ia berusia lima tahun, sedangkan pangeran sudah diajarkan hal itu sejak berusia tiga tahun. Karna itulah Putri Amerilya menganggap alasan yang diberikan oleh Putri Liene untuk kesalahan yang dilakukan oleh adiknya sangat tidak masuk akal.


"Meskipun begitu adik saya memang masih sangat kecil untuk memahami hal hal seperti itu, saya harap Tuan Putri Amerilya tak perlu memperpanjang masalah ini." ucap Putri Liene yang bersikeras untuk membela sanga adik.


"Kembalian barang milik saya!." ucap Putri Amerilya dengan suara yang cukup kencang, ia melihat sarung pedang berwarna biru muda yang sedang disembunyikan oleh Putri Lena di belakang bajunya.


"Apakah Anda menuduh adik saya mencuri!." bentak Putri Liene yang tak terima dengan tuduhan Putri Amerilya.


"Pelan kan suara Anda, ini adalah Kerajaan Meztano!." bentak Lilian yang tak bisa melihat orang asing seperti kedua putri itu yang sedang menindas Putri Amerilya.


Pangeran Mixo dan Kesatria Richal saat itu sedang lewat di halaman depan istana putri karna mereka ingin pergi menuju markas Kesatria Savalor yang sudah lama tak terpakai, rencananya markas itu akan digunakan oleh beberapa anggota kesatria baru yang akan dipilih langsung oleh Yang Mulia Raja Azvago nani. Pangeran Mixo terkejut mendengar suara teriakan dari dalam istana putri, dengan segera ia masuk ke dalam bersama dengan Kesatria Richal.


Pangeran Mixo menatap ke arah Putri Amerilya dan para pelayannya yang sedang bertengkar dengan kedua putri dari Kerajaan Antez. Pangeran Mixo segera menghampiri Putri Amerilya dan menanyakan apa yang sedang terjadi.


"Ada apa adikku? mengapa kau terlihat begitu kesal?." tanya Pangeran Mixo sembari mengusap pelan kepala Putri Amerilya untuk menenangkannya.


"Putri Lena masuk ke dalam kamar saya ketika saya sedang tak berada di istana. Para pelayan telah menjelaskan kepada kedua tamu ini untuk tak masuk ke dalam kamar pribadi saya namun sepertinya Putri Lena memiliki pendengaran yang cukup buruk. Saat saya masuk ke dalam kamar dan meminta Putri Lena untuk pergi dan memilih kamar yang lain, dia dengan lancang mengusir saya dari kamar saya sendiri. Selain itu saat ini Putri Lena sedang menyembunyikan pedang pemberian Kesatria Richal di belakang bajunya, beberapa hari yang lalu saya mengganti sarung pedang itu dengan sarung pedang khusus yang terukir nama Putri Amerilya." jelas Putri Amerilya pada Pangeran Mixo dengan kekesalan yang memuncak.


"Kembalikan pedang milik adik saya." ucap Pangeran Mixo dengan nada bicara yang sedikit lembut.


"Tapi saya tak mengambil apapun dari kamar Tuan Putri Amerilya." ucap Putri Lena dengan mata berkaca-kaca.


"Kesatria Richal tolong panggilkan Yang Mulia Raja Azvago dan juga ayah dari kedua putri ini. Saya masih sangat bersabar menghadapi mereka, jangan sampai saya turun tangan menggunakan kekerasan." ucap Putri Amerilya dengan tekanan yang cukup kuat hingga membuat Putri Liene hampir jatuh.


"Saat saya pergi tolong tahan Putri Amerilya, jangan sampai dia menebas kepala putri dari Kerajaan Antez." ucap Kesatria Richal yang berpesan pada Pangeran Mixo dan kesepuluh pelayan yang berdiri di belakang Putri Amerilya. Kesatria Richal berlari secepat yang ia bisa menunju istana utama, ia harus kembali secepat mungkin sebelum kekacauan besar terjadi.

__ADS_1


Hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2