PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Mengalihkan Perhatian


__ADS_3

Putri Amerilya berjalan dengan santai menuju istana utama, sebelum pergi ia telah meminta izin pada salah seorang pelayan setianya agar mereka tak merasa khawatir lagi karna sang putri kecil tak ada di istananya. Putri Amerilya memasuki istana utama, baru saja sang putri masuk ke dalam ia bertemu dengan kedua tuan muda dari Keluarga Duke Elister.


"Salam hormat kami pada Tuan Putri Amerilya, senang bisa bertemu dengan Anda lagi setelah sekian lama." ucap Tuan Muda Edwig Elister dengan tatapan hangat.


"Sudah beberapa hari kami tak bertemu dengan Tuan Putri Amerilya, bagaimana kabar Anda? saya harap Anda baik baik saja." ucap Tuan Muda Rostow Elister.


"Salam saya pada Tuan Muda dari Keluarga Duke Elister, saya baik baik saja meskipun ada beberapa masalah yang datang." jawab Putri Amerilya dengan senyuman lebar.


"Apakah Tuan Putri sedang senggang? jika iya kami ingin mengajak Anda berkeliling di sekitar istana dan mencari buah buahan yang sudah siap untuk dipanen." tanya Tuan Muda Edwig Elister sebelum mengajak sang putri untuk pergi. Mungkin saja Putri Amerilya saat ini sedang sibuk karna ini adalah hari ulangtahunnya.


"Sepertinya saya tidak bisa menyetujui ajakan kedua tuan muda. Saya hendak pergi bertemu dengan ibu, saya permisi terlebih dahulu." ucap Putri Amerilya yang langsung pergi meninggalkan kedua tuan muda dari Keluar Elister itu.


Kedua tuan muda dapat memahami kesibukan sang putri, merekapun memutuskan untuk berkeliling sendiri di sekitar istana sembari menunggu acara ulang tahun Putri Amerilya dimulai nanti malam. Kini Putri Amerilya telah sampai di depan ruangan khusus Ratu Zivaya, ia mengetuk pintu beberapa kali dan langsung mendapatkan izin untuk masuk ke dalam. Putri Amerilya masuk ke dalam ruangan itu setelah dibukakan oleh beberapa prajurit yang sedang berjaga, sang putri kecil segera berlari ke arah sang ibu kemudian duduk di sebuah kursi.


"Pekerjaan ibu belum selesai?." tanya Putri Amerilya sembari menatap ke arah tumpukan berkas berkas penting.


"Tinggal beberapa berkas lagi yang harus ibu selesaikan. Daripada menunggu di sini dan merasa bosan lebih baik kau pergi ke ruang ramu untuk menyambut beberapa tamu undangan yang baru saja datang." saran Ratu Zivaya pada putri kecilnya itu. Ia khawatir Putri Amerilya akan merasa bosan karna terlalu lama menunggunya menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk.


"Baiklah ibu, saya akan pergi untuk melihat siapa saja tamu undangan yang baru saja tiba. Sampai jumpa." pamit Putri Amerilya, ia melambaikan tangan saat berada di ambang pintu kemudian pergi meninggalkan ruang kerja sang ratu.


Setelah kepergian Putri Amerilya kini Ratu Zivaya bisa bernafas dengan lega, beberapa saat yang lalu sebelum putri kecilnya itu kembali datang menemuinya sang ratu sempat melihat beberapa lembar pekerjaan yang diselesaikan oleh Putri Amerilya. Awalnya Ratu Zivaya berfikir bahwa ia harus meminta beberapa lembar berkas baru dengan isi yang sama untuk melakukan revisi namun ajaibnya Putri Amerilya mengerjakan dengan sangat teliti bahkan lebih bagus dari milik sang ratu.


Melihat fakta bahwa kemampuannya dikalahkan oleh putrinya yang baru menginjak usia tiga tahun membuat Ratu Zivaya merasa malu dan tak sanggup menatap putrinya lagi ketika datang kembali. Mungkin lima ataupun enam tahun kedepan Putri Amerilya sudah bisa dipercaya untuk memegang pekerjaan penting yaitu menyelesaikan beberapa berkas resmi dari Kerajaan Meztano.


"Apakah benar dia lahir dari rahim saya?." tanya Ratu Zivaya sembari mengusap usap perutnya beberapa kali. Sulit dipercaya jika ia melahirkan seorang anak perempuan yang jenius seperti Putri Amerilya.


Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sudah sangat dekat dengan pintu masuk ruang tamu, belum sempat masuk ke dalam sang putri kecil sudah merasakan aura yang membuatnya kurang nyaman.


"Apa yang sedang terjadi do dalam?." tanya Putri Amerilya. anak perempuan itu berjalan dengan mengendap endap kemudian ia mengintip dari balik celah pintu ruang tamu.


Putri Amerilya melihat seorang pria yang beberapa tahun lebih muda daripada ayahnya sedang menatap tajam ke arah sang ayah, jika dilihat dari penampilan pria itu ia nampak seperti seorang raja. Setelah memperhatikan beberapa saat Putri Amerilya mendapat sebuah kesimpulan bahwa pria itu adalah Raja Ruzel dari Kerajaan Belgize. Raja itu sempat mengatakan beberapa hal mengenai anggota Kesatria Black Night, sepertinya ia ingin bertemu dengan kelompok Kesatria itu agar bisa mencari Linox yang berada diantara mereka.

__ADS_1


"Masalah ini lebih rumit daripada kelihatannya, mungkin Kerajaan Belgize juga ikut campur dalam rencana pemusnahan yang dijalankan oleh Keluarga Marques Montiqu." batin Putri Amerilya dengan tatapan tajam. Ia merasa sangat kesal karna pihak Kerajaan Belgize mulai mengingkari perjanjian yang telah disepakati beberapa tahun yang lalu.


Putri Amerilya masih mengamati dan mendengarkan perdebatan yang sedang terjadi antara sang ayah dengan raja dari Kerajaan Belgize. Raja Azvago mencari beberapa alasan untuk menolak keinginan Raja Ruzel untuk bertemu dengan anggota Kesatria Black Night, sangat disayangkan Raja Ruzel adalah sosok yang sangat keras kepala. Apapun yang menjadi keinginannya harus ia dapatkan bagaimanapun caranya karna itu Raja Azvago sedikit kerepotan menghadapi Raja dari Kerajaan Belgize itu.


Cklk...


Pintu ruang tamu terbuka degan lebar, seorang anak perempuan masuk ke dalam dengan senyuman manis kemudian anak perempuan itu berlari ke arah Yang Mulia Raja Azvago. Seketika perhatian anggota Keluarga Kerajaan Belgize teralihkan pada Putri Amerilya, mereka semua menatap bingung ke arah anak kecil itu.


"Ayah." panggil Putri Amerilya pada Raja Azvago dengan logat yang sangat lucu. Sang putri merentangkan tangannya ke arah sang raja dan dengan sigap Raja Azvago langsung menggendong putri kesayangannya itu.


Raja Ruzel memperhatikan wajah serta penampilan Putri Amerilya dengan sangat teliti kemudian ia berdecak dengan kesal, mengapa putri tunggal dari Kerajaan Meztano jauh lebih cantik dan menarik daripada kedua putrinya. Merasa sedang diperhatikan oleh seseorang akhirnya Putri Amerilya menoleh ke arah orang itu kemudian menunjukkan senyum termanis yang ia miliki.


Deg...deg....deg... deg


Entah mengapa secara tiba tiba jantung Raja Ruzel berdetak tak karuan ketika mendapatkan senyuman manis dari putri kecil rivalnya itu. Raja Ruzel menarik dan menghela nafas beberapa kali untuk menetralkan detak jantungnya.


"Siapa paman itu ayah?." tanya Putri Amerilya pada Raja Azvago dengan tatapan penasaran.


Raja Ruzel menatap Raja Azvago dengan tatapan tajam, bagaimana bisa raja sialan itu menjatuhkan kesan baiknya di hadapan seorang putri kecil yang baru ia temui untuk pertama kali.


"Umm begitukah? jadi paman ini jahat." ucap Putri Amerilya yang menatap Raja Ruzel dengan ketakutan. Akting yang dilakukan oleh anak berusia tiga tahun itu sangatlah luar biasa, ia bisa mengalihkan perhatian Raja Ruzel dan membuat sang raja lupa bahwa ia harus memikirkan cara untuk bisa bertemu anggota Kesatria Black Night.


"Ayah Anda hanya berguru saja Tuan Putri. Paman bukanlah orang jahat." ucap Raja Ruzel yang berusaha untuk mendekati Putri Amerilya.


"Ayah Amerilya takut." ucap Putri Amerilya, ia langsung menyembunyikan diri di dalam gendongan sang ayah.


"Sebaiknya Anda tak terlalu dekat dengan putri kecil saya, mungkin Anda memiliki aura yang membuat anak kecil merasa kurang nyaman." ucap Raja Azvago dengan tawa yang tertahan. Ia merasa puas karna berhasil membuat Raja Ruzel merasa bahwa dirinya terlalu buruk untuk mendekati Putri Amerilya.


"Hais baiklah saya akan menjaga jarak dengan Putri Amerilya, maaf karna membuatnya merasa takut." ucap Raja Ruzel sembari menghela nafas pasrah. Raja Ruzel memang tak menyukai Raja Azvago namun ia dibuat jatuh cinta oleh anak perempuan dari Raja Azvago. Raja Ruzel sangat ingin menggendong Putri Amerilya dan mengajaknya berjalan di sekitar istana utama namun sangat disayangkan putri kecil itu terlanjur takut padanya.


Putri Amerilya meminta Yang Mulia Raja Azvago untuk menurunkannya, sang putri kecil menatap ke arah beberapa pangeran dari Kerajaan Belgize namun ia tak tertarik dengan semua pangeran itu. Kini mata Putri Amerilya bertatapan langsung dengan Putri Arbel ia adalah putri tertua dari Kerajaan Belgize, dari sorot mata Putri Arbel Amerilya menemukan kemurnian di dalamnya. Dengan kaki kecilnya itu Putri Amerilya berjalan mendekati Putri Arbel dan langsung memeluk kaki sang putri dengan erat, sepertinya Putri Amerilya sangat menyukai putri tertua dari Kerajaan Belgize.

__ADS_1


"Kakak cantik." panggil Putri Amerilya pada Putri Arbel. Putri Arbel membelalakkan matanya, mungkin ia terkejut karna putri kecil dari Kerajaan Meztano lebih tertarik dengan dirinya daripada sang ayah. Sungguh sesuatu yang sangat jarang terjadi, apa yang membuat Putri Arbel lebih menarik di mata putri kecil itu.


"Sepertinya putri saya menyukai Tuan Putri Arbel. Dia tau manusia mana yang memiliki hati kotor dan tidak." ucap Raja Azvago sembari melirik ke arah Raja Ruzel, tentu saja Raja Ruzel merasa tersinggung dengan pernyataan itu.


"Apa maksud perkataan Anda barusan Yang Mulia Raja Azvago?." tanya Raja Ruzel.


"Ah bukan apa apa. Saya telah meminta pelayan untuk menyiapkan kamar untuk kalian semua sepertinya kamar kalian telah selesai disiapkan. Untuk Raja Ruzel dan kedua istri Anda akan tinggal di istana utama, para pangeran akan tinggal di istana pangeran, sedangkan kedua putri akan diantar oleh Putri Amerilya menuju kamar kalian." ucap Raja Azvago yang mulai merasa bosan dengan perdebatan itu.


Akhirnya mereka pergi menuju kamar masing masing dipandu oleh beberapa pelayan, di sisi lain saat ini Putri Amerilya b bersama kedua putri dari Kerajaan Belgize sedang berjalan menuju istana putri. Suasana diantara mereka terlihat sangat canggung, tak ada yang memulai pembicaraan karna mereka sedang sibuk dengan fikiran masing masing.


"Saya rasa Anda sengaja masuk ke dalam ruang tamu dan mengalihkan perhatian ayah saya." ucap Putri Bilgiz secara tiba tiba. Ia merasa kedatangan Putri Amerilya itu sebagai pengalihan topik.


"Jangan asal menuduh adik, Putri Amerilya baru menginjak usia dua tahun. Wajar jika ia tak mengerti situasi ketika sedang mencari ayahnya sendiri." bela Putri Arbel dengan wajah polosnya itu. Putri Arbel dan Putri Bilgiz merupakan anak dari Selir Yui namun keduanya memiliki sikap yang saling bertolak belakang.


Putri Arbel memiliki paras yang cantik, etika baik, dan mendapatkan banyak perhatian dari orang orang yang tinggal di Istana Kerajaan Belgize karna kebaikannya itu. Satu kekurangan yang dimiliki oleh Putri Arbel, ia hanya menguasai sihir tanaman yang membuatnya tak bisa melakukan pertahanan ataupun penyerangan pada orang lain. Putri Bilgiz tidak lebih cantik dari kakak perempuannya, ia sering berkata kasar saat berada di sekitar istana, Putri Belgize senang menyiksa pelayan pribadinya hingga banyak pelayan yang memilih untuk berhenti bekerja karena itulah ia tak disukai oleh beberapa orang yang berada di Istana Kerajaan Belgize. Kelebihan Putri Bilgiz adalah kemampuan sihirnya, ia menguasai dua tipe elemen sihir sekaligus yaitu api dan es. Dengan kekuatan yang ia miliki Putri Bilgiz sering menindas orang lain ataupun membuat keributan saat ia berada di luar.


"Amerilya hanya ingin bertemu dengan ayah, apakah Amerilya salah?." ucap Putri Amerilya dengan mata berkaca-kaca seperti ingin menangis.


"Tidak apa apa Tuan Putri, sangat wajar di usia Anda saat ini. Ketika Anda sudah dewasa nanti pasti Anda akan bersikap lebih baik." ucap Putri Arbel sembari mengusap kepala Putri Amerilya perlahan.


"Umm maaf atas kesalahan yang Amerilya lakukan. Ah iya selamat datang di istana putri." ucap Putri Amerilya dengan senyuman hangat, putri kecil itu menyambut kedatangan kedua putri dari Kerajaan Belgize dengan baik.


Putri Amerilya masuk ke dalam istana putri diikuti oleh Putri Arbel dan Putri Bilgiz, Amerilya bertanya pada Lilian kamar tamu mana yang akan ditempati oleh kedua putri itu. Lilian meminta Putri Amerilya untuk beristirahat dan mengerahkan tugas tersebut padanya, tanpa membantah sang putri kecil itu langsung menganggukkan kepala dan pamit untuk kembali ke kamarnya.


Di sisi lain saat ini Raja Ruzel sudah berada di kamar tamu dan bersiap untuk beristirahat, Raja Azvago sengaja memisahkan Raja Ruzel dari ratu dan selirnya agar tak terjadi perdebatan antara kedua wanita itu.


"Mengapa Raja Azvago sangat beruntung? setelah kemalangan yang menimpanya selama ini akhirnya ia mendapatkan seorang putri. Jika dilihat lihat Putri Amerilya memiliki pemikiran yang lebih dewasa daripada usianya." tanggapan Raja Ruzel mengenai sosok Putri Amerilya di pertemuan pertama mereka.


Karna merasa lelah tanpa sadar Raja Ruzel mulai memejamkan mata dan terlelap dalam tidur nyenyak, ia dibuat lupa dengan tugas pertama yang harus dilakukan saat tiba di Istana Kerajaan Meztano. Dengan begini Raja Ruzel tak akan mengetahui fakta bahwa Kesatria Black Linox telah ditangkap oleh pihak Kerajaan Meztano.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2