PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Ratu Jeylena Berulah


__ADS_3

Raja Alenzie masuk kembali ke dalam kamar tamu yang ia tempati bersama dengan sang istri. Raja Alenzie menutup pintu kamarnya dengan sedikit lebih kencang hingga terdengar seperti ia sedang membanting pintu tersebut, Ratu Jeylena yang tak mengetahui apapun hanya menatap bingung ke arah sang suami. Apa yang telah terjadi, dan mengapa suaminya menjadi kesal seperti itu? bukankah tadi sang suami pergi bersama Yang Mulia Raja Azvago untuk membahas beberapa hal penting?.


"Ada apa, mengapa terlihat marah seperti itu?." tanya Ratu Jeylena dengan rasa penasaran. Setidaknya ia harus tau alasan sang suami menjadi marah.


"Kedua putri mu itu membuat ku kehilangan muka di hadapan Yang Mulia Raja Azvago dan Pangeran Mixo." jawab Raja Alenzie, ia masih tak bisa berfikir dengan jernih hingga saat ini. Putri Lena selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi mengapa hari ini anak bungsunya itu malah mencuri barang milik Putri Amerilya.


Hal yang membuat Raja Alenzie lebih kehilangan muka adalah setelah melakukan semua kesalahan itu Putri Lena malah berpura pura menjadi pihak yang ditindas padahal saat itu ia dan Yang Mulia Raja Azvago sedang melihat dari belakang. Raja Alenzie juga sedang memikirkan bagaimana cara ia menjelaskan pada penduduk wilayah Kerajaan Antez yang terlanjur merasa senang karna mendapatkan kabar bahwa Putri Liene akan menikah dengan Pangeran Mixo, lamarannya saja ditolak bagaimana mereka berdua bisa menikah?.


"Tenangkan dirimu terlebih dahulu sayang, coba ceritakan apa yang terjadi." ucap Ratu Jeylena, ia sedang membantu sang suami untuk meredakan emosi yang sedang meluap luap.


"Putri Lena dengan sengaja masuk ke kamar pribadi milik Putri Amerilya tanpa meminta izin terlebih dahulu, saat Putri Amerilya datang dan memintanya untuk pergi secara baik baik Putri Lena malah mengusir Putri Amerilya. Yang lebih parahnya lagi Putri Lena mengambil pedang milik Putri Amerilya, pedang itu dengan jelas mengukir nama pemiliknya." jelas Raja Alenzie pada Ratu Jeylena, seketika ekspresi sang ratu langsung berubah drastis.


"Lalu bagaimana dengan putri pertama kita?." tanya Ratu Jeylena yang ingin tau semua yang telah dilakukan oleh kedua anak perempuannya itu.


"Putri Liene seharusnya menegur perbuatan Putri Lena namun ia malah membelanya, saat kejadian itu ada Pangeran Mixo. Karna sifat buruk dan perkataan kasar dari Putri Liene pada Putri Amerilya akhirnya Pangeran Mixo menolak lamaran yang dikirim pihak kita, Putri Amerilya juga tak setuju memiliki seorang kakak ipar yang tak beretika. Kedua putri kita telah membuat masalah yang sangat besar." ucap Raja Alenzie dengan raut wajah frustasi. Otaknya tak bisa memikirkan apapun selain rasa malu yang harus ditanggung oleh pihak Kerajaan Antez saat surat penolakan lamaran datang.


"Bisa bisanya kedua putri melakukan hal seperti itu, karna mereka berdua semuanya menjadi kacau." ucap Ratu Jeylena yang langsung keluar dari kamar itu, seperti sang ratu ingin pergi ke istana putri untuk menegur kedua anak perempuannya itu.


Raja Alenzie membiarkan sang istri pergi, ia tak ingin ikut campur dengan apa yang akan istrinya lakukan pada Putri Liene dan Putri Lena. Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang mencoba satu persatu gaun yang baru saja ia beli, semuanya terlihat sangat bagus untuknya.


"Gaun mana yang harus saya kenakan untuk pesta besok malam." ucap Putri Amerilya yang meletakkan ketiga gaun itu diatasi tempat tidurnya. Putri Amerilya memandangi gaun tersebut cukup lama dan berusaha untuk mengingat ingat dekorasi aula utama Kerajaan Meztano yang akan menjadi tempat berlangsungnya pesta ulang tahun tersebut.


Setelah memilih cukup lama akhirnya Putri Amerilya menjatuhkan pilihannya pada sebuah gaun berwarna biru tua dan warna hitam di bagian bawahnya, gaun itu dihiasi dengan taburan permata kecil berwarna putih, setelah selesai memilih sang putri langsung memasukkannya ketiga gaun miliknya itu ke dalam almari.


Tok tok tok.


Suara pintu kamar Putri Amerilya yang diketuk oleh seseorang, sebelum membuka pintu tersebut Putri Amerilya sempat merasakan aura sihir yang sangat asing baginya. Kemungkinan besar orang yang sedang mencarinya adalah adalah satu tamu undangan dari kerajaan lain yang belum pernah Putri Amerilya temui. Sang putri kecil berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu kamarnya dengan lebar, mata Putri Amerilya bertatapan langsung dengan Ratu Jeylena


"Salam saya pada Tuan Putri Amerilya, maaf karna saya mengganggu waktu istirahat Anda." ucap Ratu Jeylena dengan senyuman ramah yang terlihat sangat mencurigakan bagi Putri Amerilya.

__ADS_1


"Salam saya pada Ratu Jeylena, ada keperluan apa hingga Anda datang untuk menemui saya?" tanya Putri Amerilya dengan sangat sopan pada wanita yang beberapa tahun lebih tua dari ibunya itu.


"Bolehkah saya masuk ke dalam? saya ingin membicarakan beberapa hal penting dengan Anda." ucap Ratu Jeylena.


"Silahkan masuk, maaf jika kamar saya sedikit berantakan." jawab Putri Amerilya yang tak merasa keberatan jika Ratu Jeylena masuk ke dalam kamarnya. Mungkin Ratu Jeylena ingin mengatakan sesuatu yang bersifat sensitif dan tak boleh di dengar oleh orang lain.


Ratu Jeylena masuk ke dalam kamar Putri Amerilya dan melihat lihat interior kamar tersebut, kamar putri kecil itu jauh lebih besar dan lebih bagus daripada kamar utama miliknya yang berada di Istana Kerajaan Alenzie. Akhirnya sang ratu mengetahui mengapa Putri Lena ingin tinggal di kamar itu selama berada di Kerajaan Meztano, sungguh kerajaan yang sangat kaya hingga membangunkan sebuah istana mewah yang hanya ditinggali oleh seorang Tuan Putri saja.


"Silahkan duduk Ratu Jeylena, Anda ingin minum sesuatu? saya akan meminta pelayan untuk membuatkannya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman manis.


"Tidak perlu repot seperti itu Tuan Putri Amerilya, saya datang hanya untuk berbicara mengenai beberapa hal saja." ucap Ratu Jeylena.


"Ah begitu, baiklah Ratu Jeylena saya akan mendengar semua yang Anda sampaikan." jawab Putri Amerilya dengan ekspresi tenang.


Ratu Jeylena menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, ia melakukan hal itu beberapa kali untuk menenangkan harinya yang sedang sangat emosi saat itu. Setelah sudah lebih tenang sang ratu langsung mengatakan hal hal yang ingin ia sampaikan pada Putri Amerilya.


"Saya mengerti kegelisahan yang sedang Ratu Jeylena rasakan, namun semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Anda. Putri Liene yang sudah menginjak usia tujuh belas tahun seharusnya bisa bersikap lebih dewasa, dan untuk Putri Lena sebaiknya Anda memberikan pengajaran lebih dalam mengenai etika dasar dan etika sebagai anggota Keluarga Kerajaan. Di masa depan Putri Lena pasti akan menikah dengan seorang pangeran, namun para pangeran juga akan memilih tuan putri yang memiliki karakter baik dan etika memadai. Saya hanya takut jika Putri Lena terus seperti ini maka ia hanya bisa menikah dengan anak laki laki dari keluarga bangsawan saja." ucap Putri Amerilya yang sedang memberikan sedikit masukan pada Ratu Jeylena dalam hal mendidik kedua putrinya itu.


"Terimakasih atas kekhawatiran Tuan Putri Amerilya atas masa depan kedua anak perempuan saya. Bolehkah saya meminta bantuan pada Anda? hanya Anda yang bisa membantu saya." ucap Ratu Jeylena dengan tatapan penuh harap.


"Saya tak bisa menjanjikan apapun sebelum mendengar permintaan Ratu Jeylena." jawab Putri Amerilya yang tak mudah dijebak oleh kata kata manis Ratu Jeylena.


"Saat ini semua penduduk Kerajaan Antez sudah mengetahui bahwa tahun depan Putri Liene akan menikah dengan Pangeran Mixo, saya baru saja mendapatkan kabar bahwa Pangeran Mixo menolak lamaran dari Putri Liene. Saya harap Tuan Putri Amerilya bisa meyakinkan Pangeran Mixo untuk menikahi putri saya, reputasi Kerajaan Antez akan hancur jika pernikahan tersebut sampai gagal." ucap Ratu Jeylena dengan mata berkaca-kaca, wanita itu sampai menangis di hadapan Putri Amerilya. Sangat disayangkan Putri Amerilya bukanlah anak kecil biasa yang mudah tersentuh oleh air mata palsu seperti itu.


"Apakah pihak Kerajaan Meztano meminta pihak Kerajaan Antez untuk mengumumkan pernikahan antara keduanya? jika tidak maka kalian lah yang bersalah dalam hal ini." jawab Putri Amerilya dengan ekspresi datar, akhirnya ia tau dari mana sifat manipulatif Putri Lena berasal.


"Saya mohon pada Anda untuk membantu menjaga reputasi Kerajaan Antez." ucap Ratu Jeylena dengan sedikit memaksa, meskipun ia sedang menangis tatapan matanya terlihat sangat tajam.


"Kesalahan yang kalian buat mengapa saya yang harus memperbaikinya? apakah kalian para orang dewasa tak bisa berfikir secara rasional sebelum melakukan sesuatu?. Pihak Kerajaan Antez terlalu tergesa-gesa mengumumkan pernikahan antara Putri Liene dan Pangeran Mixo padahal kalian belum menerima surat balasan apapun dari Kerajaan Meztano. Saya tak akan mengorbankan kebahagiaan kakak laki laki saya hanya untuk reputasi Kerajaan Anda." jawab Putri Amerilya dengan tegas, Pangeran Mixo harus mendapat calon istri yang baik dan bisa menjadi seorang Ratu si masa depan.

__ADS_1


"Mengapa Tuan Putri Amerilya sangat jahat pada kami? apakah kami melakukan kesalahan besar hingga membuat Anda menyimpan dendam sebesar ini?." ucap Ratu Jeylena dengan suara tangis yang semakin kencang.


"Jangan melimpahkan kesalahan yang telah kalian lakukan pada saya, silahkan Ratu Jeylena keluar dari kamar ini. Saya rasa percakapan diantara kita berdua sampai di sini saja, Anda bisa berfikir sendiri bagaimana cara menjaga reputasi Kerajaan Antez." ucap Putri Amerilya yang meminta Ratu Jeylena untuk pergi dari kamar pribadinya.


Ratu Jeylena menghapus air mata yang telah ia keluarkan dengan susah payah, ia tak menyangka sangat sulit mempengaruhi mental dan juga fikiran Putri Amerilya. Ratu Jeylena menatap ke arah sang putri kecil dengan tatapan tajam, ia sedang mencari cara untuk menjaga reputasi Kerajaan Antez seperti yang dikatakan Putri Amerilya. Ratu Jeylena menggenggam tangannya dengan erat dan seketika muncul beberapa bongkahan es berbentuk lancip, di sisi lain Putri Amerilya hanya melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ratu Jeylena tanpa merasa takut sedikitpun.


"Inilah jalan keluar yang saya dapatkan untuk menjaga reputasi Kerajaan Antez." ucap Ratu Jeylena yang ingin menyerang Putri Amerilya menggunakan bongkahan es berbentuk lancip itu.


Putri Amerilya membuka jendela kamarnya dan langsung melompat ke halaman samping, melihat targetnya kabur Ratu Jeylena langsung menyusul Putri Amerilya.


"Ibu dan anak sama sama tak memiliki kewarasan. Baiklah jika ingin bermain main dengan saya." ucap Putri Amerilya yang terus berlari melewati taman bunga.


Ratu Jeylena berada di belakang Putri Amerilya, ia melihat sang putri berlari ke arah taman bunga yang sangat sepi. Ini sebuah kesempatan yang bagus untuk membunuh anak menyebalkan itu, meskipun Kerajaan Antez gagal menikahkan Putri Liene dengan Pangeran Mixo setidaknya mereka berhasil membawa kesedihan yang sangat mendalam bagi anggota Keluarga Kerajaan Meztano. Ratu Jeylena membuat busur panah menggunakan sihir es miliknya, ia menegakkan beberapa panah pada Putri Amerilya namun sang putri bisa menghindari itu dengan sangat mudah. Dari kejauhan Putri Amerilya melihat beberapa kereta kuda dengan lambang Kerajaan Monzxo baru saja memasuki halaman depan Kerajaan Meztano.


"Jangan hanya menghindar Tuan Putri Amerilya, setidaknya Anda harus mati sekarang juga." ucap Ratu Jeylena yang dapat di dengar dengan mudah oleh Putri Amerilya.


Keduanya terus berlari hingga Ratu Jeylena tak menyadari bahwa saat ini ia sudah berada di halaman depan Kerajaan Meztano, beberapa prajurit penjaga gerbang utama melihat ke arah Putri Amerilya yang sedang dikejar oleh Ratu Jeylena, para prajurit itu merasa khawatir karna sang ratu membawa busur panah. Ratu Jeylena menembakkan sebuah panah pada Putri Amerilya dan sang putri dengan sengaja tak menghindari serangan itu, tepat di depan sang putri ada Raja Yunmin dari Kerajaan Monzxo yang baru saja turun dari kereta kuda.


Panah milik Ratu Jeylena menancap tepat di bahu sebelah kiri Putri Amerilya, sang putri jatuh namun badannya langsung ditangkap oleh Raja Yunmixo. Melihat kejadian itu puluhan prajurit yang sedang berjaga di gerbang depan berlari secepat mungkin untuk menangkap Ratu Jeylena, sang ratu membelalakkan matanya saat menyadari bahwa saat ini ia sudah berada di halaman depan Istana Kerajaan Meztano dan aksinya dilihat oleh banyak orang.


"Tolong saya paman, wanita itu ingin membunuh saya." ucap Putri Amerilya sembari menunjuk ke arah Ratu Jeylena.


"Jangan bergerak Ratu Jeylena, Anda telah melakukan penyerangan secara sengaja pada Tuan Putri Amerilya!." bentak beberapa prajurit penjaga gerbang dengan sorot mata penuh kemarahan.


Raja Yunmixo dan anggota Kerajaan Monzxo sangat terkejut saat melihat kejadian itu, mereka juga tak menyangka bahwa anak perempuan yang terkena panah adalah Tuan Putri Amerilya.


"Kalian tetaplah di sini awasi Ratu Jeylena jangan sampai dia kabur, saya akan membawa Putri Amerilya ke ruang kesehatan. Dan salah satu prajurit panggilkan Yang Mulia Raja Azvago untuk menyelesaikan masalah ini." ucap Raja Yunmixo, ia meminta beberapa anggota Kerajaan Monzxo untuk tetap di sana karna ia yakin para prajurit saja tak akan cukup untuk menahan Ratu Jeylena. Raja Yunmixo menggendong Putri Amerilya dan membawanya menuju istana utama dengan anak panah yang masih menancap di bahu kirinya.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya .

__ADS_1


__ADS_2