PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Mencemaskan Keadaan Putri Amerilya


__ADS_3

Tiba tiba saja Nyonya Riana Marques pingsan, wanita itu belum bisa mempercayai situasi saat ini. Keempat anak wanita itu menjadi semakin panik, mereka langsung membawa sang ibu menuju kamar utama, setelahnya Tuan Muda Arges Marques menemui Yang Mulia Raja Azvago untuk meminta penjelasan tentang semua ini.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini, dan mengapa kalian menangkap ayah saya?." tanya Tuan Muda Arges Marques, ia menatap tajam ke arah Putri Amerilya. Semenjak kehadiran gadis kecil itu kondisi keluarganya menjadi berantakan, sepertinya sang putri hanya pembawa sial saja.


"Jangan menatap saya seakan akan sayalah yang bertanggung jawab atas semua ini, bacalah buku harian yang saya berikan pada ibumu. Kau akan mengerti semuanya." ucap Putri Amerilya dengan nada ketus, mengapa semua orang di Kediaman Duke Marques memiliki sifat aneh yang menyebalkan.


"Kami akan kembali ke istana, beberapa hari lagi kalian akan mendapat surat undangan pengadilan kerajaan. Sementara waktu Tuan Duke Zidan Marques akan kami tahan di penjara kerajaan." ucap Raja Azvago dengan tegas, apa yang terjadi pada putri kecilnya hari ini adalah kesalahannya. Di lain waktu Raja Azvago akan lebih memperhatikan siapa saja yang akan menemani putrinya dalam perjalanan.


"Baiklah, saya akan menunggu kabar dari istana. Semoga perjalanan kalian lancar sampai ke Istana Kerajaan Meztano." ucap Tuan Muda Arges Marques, pemuda itu membungkukkan badannya di hadapan semua orang. Saat ayahnya tak ada di sini maka ia harus mengambil inisiatif sebagai kepala keluarga sementara.


Akhirnya Raja Azvago dan yang lain keluar dari Kediaman Duke Marques, Putri Amerilya bisa bernafas dengan lega karna terbebas dari rumah besar yang mirip seperti neraka itu. Saat ini Raja Azvago menunggangi kuda bersama dengan Kesatria White Rose dan Kesatria Black Night, sedangkan Putri Amerilya dan kedua pangeran naik sebuah kereta kuda dari Kediaman Duke Marques, di sisi lain Duke Zidan Marques sedang dalam kondisi tak sadarkan diri luka yang ditinggalkan oleh Raja Azvago cukup parah.


"Maaf karna tak bisa menjaga mu dengan baik." ucap Pangeran Mixo dengan raut wajah sedih, bagaimana bisa ia tak peka dengan kondisi mencekam di Kediaman Duke Marques.


"Jika sesuatu terjadi padamu kami berdua akan menyesal seumur hidup kami." ucap Pangeran Luxe, entah mengapa pemuda itu merasa sangat bersalah. Bukan hanya sekali ia gagal menjadi seorang kakak yang baik, jika hal seperti ini terjadi lagi di masa depan berarti ia kakak laki laki yang tak berguna.


"Aku baik baik saja, kalian tak perlu cemas karna ayah datang tepat waktu." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar seakan akan tak terjadi apapun padanya. Kedua pangeran menganggap adik mereka masih sangat polos untuk memahami apa yang baru saja terjadi.


"Sebentar lagi kau akan berulang tahun, hadiah apa yang kau inginkan dari kami?." tanya Pangeran Mixo, ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar adiknya tak merasa sedih lagi.


Putri Amerilya terdiam beberapa saat, bukankah ulang tahunya masih enam bulan lagi. Itu waktu yang cukup lama untuk memikirkan hadiah apa yang akan ia minta pada kedua pangeran itu, ia tau kedua kakak laki lakinya sedang khawatir saat ini. Namun pengalihan topik yang dilakukan oleh Pangeran Mixo sangatlah lucu dan tak jelas, karna hal itulah tiba tiba saja Putri Amerilya tertawa dengan cukup keras.


"Apakah ada yang lucu?." tanya Pangeran Luxe dengan tatapan bingung.


"Masih ada enam bulan untuk memikirkan ulang tahunku." ucap Putri Amerilya dengan senyuman manisnya.


"Ternyata aku tak pandai mengalihkan topik pembicaraan." ucap Pangeran Mixo dengan canggung. Cukup sulit memiliki seorang adik perempuan yang pintar seperti Putri Amerilya.

__ADS_1


Di barisan depan Raja Azvago sedang berfikir mengenai beberapa hal, mengapa Kesatria Black Night sangat lengah dalam tugas mereka kali ini. Mungkinkah mereka menganggap remeh kehadiran Putri Amerilya di muka publik, atau karna usia sang putri yang masih sangat kecil sehingga tak memiliki musuh yang berniat untuk membunuhnya. Raja Azvago cukup kecewa dengan kinerja Kesatria Black Night yang kurang waspada terhadap kondisi sekitar, entah hukuman seperti apa yang akan diberikan oleh Yang Mulia Raja Azvago pada mereka semua.


"Saya sangat kecewa dengan kinerja kalian dalam misi kali ini." ucap Raja Azvago dengan nada bicara serius dan raut wajah datar.


Kesatria Black Nicko tak bisa mengatakan apapun, jantungnya berdetak dengan sangat kencang mendengar kata kata dari Raja Azvago. Kesatria Black Nicko sangat teledor dalam tugasnya untuk menjaga Putri Amerilya dan kedua pangeran, ia tak menyangka ada seseorang yang mengincar nyawa dari putri kecil mereka.


"Saya merasa sangat bersalah karna tak dapat menjaga Tuan Putri dengan baik, atas nama Kesatria Black Night saya minta maaf." ucap Kesatria Black Nicko dengan menundukkan kepalanya sembari mengendalikan kuda yang ia tunggangi.


"Kalian akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan kesalahan yang telah kelian perbuat. Sebagai anggota Kesatria Kerajaan tentu kalian harus menjaga setiap anggota kerajaan dengan baik, untunglah putri kecilku sangat pandai hingga menyadari semua bahaya yang sedang mengancamnya." ucap Raja Azvago dengan nada bicara seperti sedang membentak.


"Kami akan menerima hukuman yang anda berikan, jika saya boleh tau mengapa anda dan anggota Kesatria White Rose tiba tiba datang ke wilayah Duke Marques?." tanya Kesatria Black Nicko dengan rasa penasaran yang tinggi. Tak mungkin tiba tiba rajanya datang karna merasa khawatir dengan kondisi Putri Amerilya saat tinggal di Kediaman Duke Marques.


"Putri Amerilya mengirimkan surat pada saya, dalam surat itu ia mengatakan bahwa nyawanya seperti terancam saat tinggal di Kediaman Duke Marques. Karna hal itu saya dan Kesatria White Rose datang untuk melihat situasi di sana. Saya tak menyangka putri kecil itu dapat menangani Duke Zidan Marques sendirian hingga kami datang untuk membantu." ucap Raja Azvago dengan raut wajah yang sulit untuk dideskripsikan.


Kesatria Black Nicko tau bahwa Putri Amerilya memiliki kemampuan dalam berpedang meskipun belum mahir sepenuhnya, namun bagaimana bisa anak itu menghindar setiap serangan dari Duke Zidan Marques? bukankah sang duke seorang pengguna pedang dengan kemampuan yang cukup tinggi, selain itu Duke Zidan Marques seorang penyihir berelemen api yang cukup berbahaya.


"Putri Amerilya memiliki sebuah pedang dengan level kaisar, saya dan yang lain melihatnya sendiri." ucap Kesatria Richal yang masih merasa penasaran dari mana pedang itu berasal.


Mendengar perkataan dari ketua Kesatria White Rose membuat Kesatria Black Nicko semakin tak memahami apapun, semuanya terasa sangat membingungkan. Pedang dengan level kaisar sangat sulit untuk didapatkan, harganya juga sangat mahal hanya beberapa raja yang memilikinya. Lalu bagaimana bisa seorang anak berusia dua tahun memiliki pedang dengan level kaisar, bagaimana anak itu mendapat pengakuan dari pedang tersebut?.


"Anda sedang bercanda dengan kami?." tanya Kesatria Black Rozel, ia tak akan mempercayai hal itu.


"Itu benar, saya mencoba mengangkat pedang itu namun sangat berat. Putri Amerilya meminta pedang berwarna merah tersebut untuk pergi ke tempatnya, dan tiba tiba saja pedang itu melesat ke atas langit lalu menghilang." ucap Kesatria Albern dengan tatapan serius, ia tak akan membual untuk hal hal seperti ini.


Raja Azvago hanya diam dan mendengar perselisihan antara kedua kelompok kesatria itu, Raja Azvago sendiri tak terlalu memperhatikan senjata yang digunakan oleh putrinya untuk melawan Duke Zidan Marques. Entah benar atau tidak yang dikatakan oleh Kesatria Richal dan Kesatria White Rose yang lain, Raja Azvago sudah sangat senang karna bisa membawa Putri dan kedua Pangeran kembali dengan selamat ke Kerajaan Meztano.


Perjalanan yang mereka lalui masih sangat panjang, mungkin esok pagi mereka baru sampai ke Istana Kerajaan Meztano. Di sisi lain Putri Amerilya sangat mengantuk, ia meminta izin kepada kedua kakak laki lakinya untuk tidur di dalam kereta kuda, Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe akan menjaga Putri Amerilya selama gadis kecil itu tertidur. Raut wajah lucu dari sang putri membuat mereka berdua merasa gemas dan sesekali mencubit pelan pipi kenyal Putri Amerilya.

__ADS_1


"Jangan biarkan orang lain menyakitinya, kita harus bertumbuh lebih kuat lagi kedepannya." ucap Pangeran Mixo pada Pangeran Luxe.


"Ibu pasti akan memarahi kita setelah tiba di istana nanti." ucap Pangeran Luxe yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, ia akan menerima setiap kata kata kasar yang keluar dari mulut sang ibu nanti. Semua ini memang kesalahan mereka berdua yang tak dapat menjaga Putri Amerilya dengan baik.


Di sisi lain Duke Rigel Elister mendapatkan kabar mengenai penyerangan yang terjadi di Kediaman Duke Marques, Duke Rigel Elister tak menyangka bahwa temannya itu mengincar nyawa sang putri kecil. Rasa penasaran yang sangat tinggi sedang menyelimuti hati Duke Rigel yang, ia ingin tau alasan dibalik penyerangan itu karna tak mungkin Putri Amerilya menyebabkan sebuah masalah bagi Duke Zidan Marques.


"Berita ini sangat mengejutkan, siapa yang menyangka Duke Zidan Marques sangat kejam pada Putri Amerilya. Bukankah selama ini pria itu hanya diam dan tak melakukan pergerakan apapun." ucap Duke Rigel Elister yang sedang berfikir keras.


Tok tok tok.


Suara pintu ruang kerja Duke Rigel Elister yang diketuk oleh kedua putranya. Berita mengejutkan itu memang menyebar dengan sangat cepat, namun tak semua orang mengetahui alasan dibaliknya.


"Masuklah." ucap Duke Rigel Elister yang mempersilahkan kedua putranya untuk masuk kedalam.


"Salam hormat kami pada ayah." ucap Edwig Elister dan Rostow Elister, mereka mengucapkan salam sembari menundukkan kepala.


"Apa yang membuat kalian datang menemui ayah, hari sudah malam ini saatnya kalian untuk beristirahat." ucap Duke Rigel Elister dengan sebelah alisnya yang terangkat keatas.


"Kami mendengar kabar mengenai penyerangan yang dilakukan oleh Duke Zidan Marques, kami sangat cemas dengan kondisi Putri Amerilya. Apakah ayah mengetahui kondisi putri kecil itu sekarang?." tanya Edwig Elister pada sang ayah.


"Putri Amerilya baik baik saja, anak perempuan itu memiliki sedikit kemampuan untuk melawan Duke Zidan Marques." jawab Duke Rigel Elister pada putra pertamanya. Ia merasa senang karna kedua putranya sudah merasa cukup dekat dengan Putri Amerilya hingga mencemaskan kondisi gadis kecil itu.


"Kami bisa merasa tenang sekarang, setelah sidang kerajaan selesai nanti kami berdua akan mengunjungi sang putri." ucap Rostow Elister dengan senyuman senang. Meski pemuda itu menganggap Putri Amerilya sebagai rivalnya dalam hal berpedang, namun ia sangat menyukai karakter dari anak kecil itu.


"Ayah akan merasa sangat senang jika kalian melakukannya, sekarang pergilah ke kamar masing masing untuk tidur." ucap Duke Rigel Elister, ia meminta kedua putranya untuk beristirahat sekarang juga. Kedua putra Duke Rigel Elister masih dalam masa pertumbuhan dan memerlukannya waktu istirahat yang cukup.


"Baiklah kami akan pergi sekarang, ayah juga harus segera beristirahat. Kerjakan dokumen dokumen itu esok pagi saja." ucap Edwig Elister kemudian mengajak sang adik untuk pergi dari ruang kerja sang ayah.

__ADS_1


Hai semuanya author update lagi novel Putri Amerilya, makasih udah mampir ke novelku yang ini jangan lupa mampir ke novel Awaken Nusantara ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, rate bintang lima, gift hadiah apapun makasih banget, like setiap chapternya, komen, dan share ya.


__ADS_2