
Putri Amerilya mengeluarkan dua buah pisau yang ia sembunyikan di dalam bajunya, gadis itu berlari menuju Ratu Zivaya dan Raja Azvago. Putri kecil itu ingin melindungi kedua orang tuanya dari ketiga prajurit yang tiba tiba saja melesat mendekat, sang putri menangkis serangan dari seorang jenderal yang ingin menggunakan pedang pada sang ayah.
"Sialan, menyingkir lah dari hadapanku." ucap salah seorang jenderal yang sedang menatap Putri Amerilya dengan tatapan penuh kebencian.
Putri Amerilya tak menggubris peringatan dari prajurit itu, yang harus ia lakukan saat ini adalah melindungi orang orang yang ada di dekatnya. Raja Azvago terlihat kebingungan karna ia tak memegang senjata apapun, ia juga tak mengerti mengapa Putri Amerilya mengetahui tentang rencana para pemberontak sedangkan ia dan anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang lain tak mengetahui apapun. Mungkinkah anak perempuannya itu memiliki kemampuan untuk menjadi mata mata? jika ia seharusnya Putri Amerilya memberitahu Raja Azvago tentang pemberontakan ini sejak awal.
"Apa kau membawa senjata istriku?." tanya Raja Azvago pada Ratu Zivaya yang sedang mengamati pertarungan di sekitarnya.
"Saya tak membawa senjata apapun, bagaimana cara kita membantu para prajurit dan putri kecil kita ini?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan khawatir, bagaimana jika putri kecilnya itu akan terluka parah saat berusaha melindungi kedua orangtuanya.
Putri Amerilya yang mendengar percakapan antara ayah dan ibunya langsung memberikan dua pisau yang ia pegang pada mereka berdua, Raja Azvago dan Ratu Zivaya menerima senjata pemberian putri mereka dengan senang hati. Putri Amerilya mengambil sebuah belati dengan bagian ujung yang telah ia lumuri dengan racun gadis itu berencana untuk melumpuhkan ketiga jenderal untuk melemahkan kekuatan pihak musuh. Putri Amerilya berdesakan dengan beberapa tamu yang lain, ia melangkah dengan perlahan sembari melihat kesekitar untuk memastikan tak ada musuh di sekitarnya. Tiba tiba saja dari arah belakang Tuan Youzen datang dengan menodongkan sebuah pedang pada Putri Amerilya, untunglah karna tubuhnya yang mungil ia bisa menghindar secepat mungkin.
"Formasi 002!!" triak Putri Amerilya dengan suara yang sangat kencang, beberapa prajurit dari Istana Pangeran bermunculan di pepohonan serta atap bagian belakang istana utama, mereka semua berbekal senjata busur dan panah. Dengan segera para prajurit dari istana pangeran mengarahkan panah mereka pada pihak musuh, beberapa prajurit istana utama yang telah bersekongkol dengan para pemberontak mati karna jantung mereka tertembus oleh panah.
"Sialan semuanya menjadi kacau." ucap Tuan Moren Luzent dengan emosi yang meluap luap. Pria itu berlari ke arah Putri Amerilya dan ingin menyerang sang putri, dari arah yang berlawanan para pangeran datang untuk menyelamatkan adik kecil mereka.
"Tak kan kami biarkan kau menyakiti adik kecil kami." ucap Pangeran Mixo dengan raut wajah kesal. Sang pangeran langsung menyerang Tuan Moren Luzent menggunakan pedang yang ia bawa.
Saat pesta makan malam berlangsung tak ada yang menyadari bahwa keempat pangeran tak ada di sana, semua itu telah direncanakan oleh Putri Amerilya. Para pangeran akan datang dengan senjata lengkap saat situasi mendesak seperti sekarang, mereka juga membawa senjata tambahan seperti pedang dan tombak kemudian diberikan pada para tamu agar mereka bisa melindungi diri sendiri. Saat ini Pangeran Mixo tengah bertarung sengit dengan Tuan Moren Luzent, sang pangeran memang unggul dalam ilmu sihir namun ia tak terlalu mahir menggunakan pedang dan karna hal itu Tuan Moren Luzent berhasil melempar pedang Pangeran Mixo dengan jarak yang cukup jauh.
"Diantara semua anak Yang Mulia Raja Azvago, tak ada seorangpun yang ditakdirkan untuk menjadi penerus tahta kerajaan. Bagaimana bisa Kerajaan Meztano nantinya dipimpin olah salah seorang Pangeran yang tak bisa memegang pedang dengan benar." ejek Tuan Moren Luzent pada keempat pangeran yang saat ini sedang menatap tajam kearahnya. Memang apa salahnya jika mereka berempat lebih mahir menggunakan sihir daripada ilmu berpedang?.
"Jaga ucapan Anda Tuan Moren Luzent!." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tajam, anak berusia dua tahun itu sepertinya sangat marah karna tak terima mendengar hinaan yang keluar dari mulut Moren Luzent.
"Ahahaha, apakah tuan putri kecil kita ini sedang marah? tenangkan diri Anda Tuan Putri Amerilya bagaimanapun malam ini Kerajaan Meztano akan jatuh ke tangan kami." ucap Tuan Moren Luzent, pria itu sedang berusaha untuk membuat Putri Amerilya merasa panik dan lengah. Jika ia berhasil menangkap putri kecil itu maka semua rencananya yang gagal dapat dipulihkan kembali.
"Kesatria Richal pinjamkan pedang Anda!." triak Putri Amerilya dengan suara lantang. Kesatria Richal yang saat itu sedang melawan beberapa prajurit dari istana utama langsung menoleh ke arah Putri Amerilya.
__ADS_1
Tanpa basa basi Kesatria Richal melemparkan sebuah pedang dengan penutup berwarna biru cerah pada Putri Amerilya, pedang itu sangat jarang digunakan oleh Kesatria Richal namun selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Dengan segera Putri Amerilya mengambil pedang tersebut dan melepas dari penutup nya, mata sang putri kecil berubah menjadi sangat tajam dengan konsentrasi tinggi. Putri Amerilya membuat sebuah kuda kuda seperti seorang kesatria yang sudah kerap turun langsung ke medan perang, ia mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Moren Luzent dengan tatapan penuh amarah. Jujur saja Moren Luzent sangat terkejut saat melihat ekspresi serta keterampilan Putri Amerilya saat memegang sebuah pedang, anak perempuan itu jauh lebih baik dibandingkan dengan kakak laki lakinya.
"Baiklah saya tak akan sungkan lagi." ucap Tuan Moren Luzent dengan senyuman miring yang tampak sangat licik. Sepertinya pria itu memiliki rencana lain untuk mengalahkan Putri Amerilya.
"Akan saya tunjukkan bagaimana kemampuan seorang Putri dari Kerajaan Meztano." ucap Putri Amerilya yang akan bertarung dengan serius.
Tuan Moren Luzent mengambil langkah pertama dengan mengayunkan pedangnya pada Putri Amerilya, saat ini sang putri hanya melakukan beberapa langkah ke belakang untuk menghindar dan menangkis serangan dari Moren Luzent. Putri Amerilya tak diberikan kesempatan sama sekali oleh pria itu untuk melakukan serangan balik akan tetapi sang putri tak tinggal diam, ia terus memikirkan beberapa jurus yang pernah ia pelajari pada kehidupan sebelumnya.
"Ahahaha lihatlah Anda tak bisa melakukan apapun Tuan Putri Amerilya." ucap Tuan Moren Luzent dengan suara tawa yang membuat sang putri semakin kesal. Putri kecil itu menarik nafas kemudian mengembuskan nya dengan pelan, ia melakukan hal itu beberapa kali untuk menetralkan kemarahan yang tengah meluap.
Saat pedang Moren Luzent menyerangnya secara lurus dengan segera putri kecil itu berlari dan menaiki pedang tersebut, karna tubuhnya yang ringan ia berhasil melakukan hal itu. Setelah posisinya cukup tinggi Putri Amerilya langsung loncat setinggi yang ia bisa, saat ini Putri Amerilya sedang berada di udara dan membuat beberapa orang mengalihkan pandangan mereka kemudian melihat ke arah sang putri.
"Apa yang ingin Tuan Putri Amerilya lakukan?." tanya Tuan Muda Rui Rucixara dengan tatapan bingung.
"Bagaimana jika Tuan Putri Amerilya terjatuh nanti." ucap Tuan Muda Rostow Elister yang khawatir dengan keselamatan Putri Amerilya. Jatuh dari ketinggian seperti itu akan membuat sang putri kecil patah tulang.
"Dasar putri sialan." triak Tuan Youzen dengan mata memerah.
Putri Amerilya membalikkan badan dan melihat ke arah pria itu, ia merasa aneh dengan perubahan aura pada tubuh Tuan Youzen. Mungkinkah pria itu telah meminum sebuah pil untuk menambah kekuatannya? ataukah ia telah melakukan sebuah ritual dengan memanggil para iblis dan membuat perjanjian dengan mereka?. Entah apapun yang terjadi pada Tuan Youzen yang harus dilakukan olah Putri Amerilya adalah mengalahkan pria itu.
"Aku akan membunuhmu Putri Amerilya, akan ku persembahkan jiwamu pada sekutuku." ucap Tuan Youzen sepeti telah kehilangan akal sehatnya.
Putri Amerilya merasakan bahwa saat ini nyawanya sedang terancam, dengan segera gadis kecil itu berlari menuju beberapa anggota Kesatria White Rose untuk meminta bantuan mereka. Richal dan yang lain langsung menghadang Tuan Youzen yang ingin mengejar Putri Amerilya, anehnya para Kesatria White Rose tak mampu menahan pria itu.
"Ahahaha tak akan ada yang bisa menyelamatkan mu putri kecil." ucap Tuan Youzen dengan suara tawa yang terdengar sangat jahat.
Raja Azvago dan Ratu Zivaya menyelesaikan pertarungan mereka secepat mungkin, setelah selesai keduanya langsung mengedarkan pandangan ke segala arah untuk menemukan keberadaan putri mereka. Raja Azvago terkejut bukan main saat melihat putri kesayangannya dikejar kejar oleh sang mentri keuangan yang telah berubah menjadi sosok iblis menyeramkan. Dengan segera Raja Azvago dan Ratu Zivaya berlari ke arah Putri Amerilya untuk menyelamatkannya, sangat disayangkan tiba tiba dua orang jenderal menghadang mereka dan membuat raja dan ratu tak dapat menyematkan sang putri.
__ADS_1
Di sisi lain saat ini Liliana dan kesembilan pelayan yang lain sudah tak bisa menahan diri mereka lagi, keselamatan Putri Amerilya lebih penting dari apapun karna itu Liliana meminta kesembilan rekannya untuk menetaskan darah mereka ke sebuah pedang yang telah dipegang oleh Liliana.
"Kami memberkati pedang ini untuk melindungi Tuan Putri Amerilya, dengan darah yang kami persembahkan bangkitlah." ucap kesepuluh pelayan setia Xiao Ziya secara bersamaan.
Pedang yang dipegang oleh Liliana tiba tiba saja bergetar dengan sangat kuat kemudian berubah warna menjadi merah dan diselimuti dengan darah segar. Liliana melompat turun dari atas atap kemudian berlari dengan cepat ke arah Putri Amerilya, Liliana menghadang Tuan Youzen yang ingin mencengkram leher putri kecil itu.
"Jauhkan tangan kotor mu itu dari Tuan Putri Amerilya." ucap Liliana yang kini berpakaian seba putih dengan cadar yang menutupi wajahnya. Tuan Youzen menatap ke arah Liliana dengan tatapan tak suka, darimana datangnya pengganggu itu?.
"Pergilah aku tak memiliki urusan apapun denganmu." ucap Tuan Youzen dengan sorot mata yang semakin menajam.
"Jika kau ingin menyakiti Tuan Putri Amerilya maka akan menjadi urusan saya." jawab Liliana yang menatap Tuan Youzen dengan mata berwarna biru cerahnya.
Liliana menyerang Tuan Youzen menggunakan pedang darah yang berada di tangannya itu, karna Tuan Youzen saat ini sedang meminjam kekuatan dari iblis ia menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Untunglah pedang darah dengan pengorbanan kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya sangatlah kuat, pedang itu melukai tubuh Youzen dan menghentikan regenerasi pria itu. Youzen membelalakkan matanya, ia tak percaya ada sebuah senjata yang mampu melukai tubuh abadinya itu.
"Argh apa yang telah kau lakukan! menyingkir lah sekarang juga." ucap Tuan Youzen yang ingin mengusir pengganggu itu.
Liliana tak menggubris apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu, ia terus membuat luka baru di tubuh Tuan Youzen hingga tubuh pria itu mengeluarkan darah dalam jumlah yang cukup banyak. Darah yang keluar diserap oleh pedang yang dipegang oleh Liliana, setelah beberapa saat Tuan Youzen pingsan karna jumlah darah yang ada di dalam tubuhnya berkurang secara drastis.
"Terimakasih karna telah membantu saya, silahkan kembali ke tempatmu." ucap Putri Amerilya dengan senyuman manis di wajah polosnya.
"Keselamatan Anda adalah prioritas kami, jagalah diri Anda dengan baik Tuan Putri Amerilya." ucap Liliana yang langsung melesat pergi meninggalkan halaman belakang istana utama.
Raja Azvago dan Ratu Zivaya telah mengalahkan kedua jenderal yang menghalangi jalan mereka, dengan segera Raja Azvago berlari ke arah Putri Amerilya dan memeluk sang putri dengan sangat erat. Raja Azvago bersyukur karna putri kesayangannya baik baik saja dan telah dibantu oleh seseorang yang tak diketahuinya.
"Syukurlah kau baik baik saja putriku." ucap Raja Azvago yang masih memeluk Putri Amerilya, sang raja meneteskan air matanya karna ia merasa gagal menjadi seorang ayah.
"Ayah tak perlu khawatir, sebisa mungkin saya akan menjaga diri dengan baik." ucap Putri Amerilya yang sedang menenangkan ayahnya.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.