
Saat ini Putri Amerilya sedang berkeliling di sekitar istana utama, rasanya enggan untuk kembali ke istana putri dan bertemu dengan Lilian. Saat sedang melewati sebuah lorong yang cukup panjang Putri Amerilya melihat sekelebat bayangan seseorang yang berlari. Dengan langkah pelan sang putri mengikuti kemana orang itu pergi.
Putri Amerilya menaikkan sebelah alisnya karna saat ini ia sedang berjalan menuju ruang penjara bawah tanah Kerajaan Meztano. Bayangan hitam itu berhenti di depan sel tahanan seseorang, dengan segera Putri Amerilya bersembunyi di balik meja penjaga.
"Kemana perginya para prajurit mengapa penjara bawah tanah dalam kondisi tanpa penjagaan." batin Putri Amerilya sembari terus mengamati apa yang akan terjadi nantinya.
Bayangan hitam itu berubah wujud menjadi Raja Ruzel, ternyata sang raja dari Kerajaan Belgize sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Kesatria Black Linox yang sedang di tahan di penjara bawah tanah.
"Mengapa kau bisa berakhir di tempat yang menyedihkan seperti ini. Bukankah sudah sering saya katakan serang apa yang menjadi kelemahan Raja Azvago!" bentak Raja Ruzel pada Kesatria Linox. Rencananya dan Tuan Marques Jordy Montiqu menjadi gagal total karna kelalaian para prajurit serta Linox yang dipercaya untuk memimpin selama misi tersebut dilakukan.
"Kelemahan Yang Mulia Raja Azvago? maksud Anda Tuan Putri Amerilya?. Anak kecil itu sangat merepotkan dan saya tidak bisa mengatasinya." jawab Kesatria Linox dengan ekspresi kesal. Ia masih mengingat dengan jelas wajah mengejek yang ditunjukkan Putri Amerilya ketika ia gagal menghancurkan Istana Kerajaan Meztano dengan bubuk peledak yang telah disiapkan itu.
"Sialan, jangan bilang kau tak mampu menangani seorang anak kecil sepertinya?. Apa yang bisa dia lakukan selain menangis dan meminta belas kasih pada ayah dan ibunya." tegur Raja Ruzel. Sang raja bisa mengatakan itu karna ia belum pernah berhadapan langsung dengan Putri Amerilya.
"Anda bisa membuktikannya sendiri Raja Ruzel. Silahkan buat sebuah rencana yang melibatkan Tuan Putri Amerilya, setelah itu Anda akan tau seberapa bahayanya putri kecil dari Kerajaan Meztano.
Raja Ruzel menatap malas pada Linox, saat ini Linox tidak lagi berguna bagi Raja Ruzel karna itu ia akan membiarkan salah satu pionnya hancur di tangan Keluarga Kerajaan Meztano. Setelah selesai mengungkapkan kekesalannya Raja Ruzel kembali menjadi sesosok bayangan hitam kemudian pergi meninggalkan area penjara bawah tanah.
Putri Amerilya yang sedari tadi bersembunyi dan mendengar percakapan diantara keduanya merasa sangat kesal. Raja Ruzel sangat serakah hingga ingin wilayah Kerajaan Meztano jatuh ke tangannya dengan cara kotor. Wajar saja jika di awal tidak ada yang dapat mencium pergerakan Keluarga Marques Montiqu, ternyata keluarga itu bekerjasama dengan pihak Kerajaan Belgize.
"Mengapa banyak orang menyebalkan di sekitar Amerilya." gumam Putri Amerilya dengan suara sangat pelan.
Putri Amerilya pergi meninggalkannya ruang penjara bawah tanah melewati jalan yang berbeda ketika ia masuk tadi. Setelah melihat puluhan sel penjara akhirnya sang putri keluar dari tempat itu juga, kini sang putri sedang berfikir pada siapa ia harus melaporkan masalah ini. Setelah berfikir selama beberapa menit akhirnya ia mengambil sebuah keputusan.
Tok tok tok...
Suara pintu ruangan yang diketuk oleh Putri Amerilya, pintu itu terbuka dengan lebar dan menunjukkan Ratu Zivaya yang sedang menunduk ke bawah sembari memperhatikan putri kecilnya itu.
"Salam Amerilya pada Ibu, bolehkah saya masuk ke dalam untuk membicarakan beberapa hal penting." jelas sang putri akan kedatangannya menemui Ratu Zivaya.
__ADS_1
"Silahkan masuk putri kesayangannya ibu." sambut Ratu Zivaya, ia tersenyum senang ketika bisa melihat wajah cantik dari Putri Amerilya.
Sang putri segera masuk ke dalam, ia duduk di sebuah kursi khusus yang disediakan untuknya yang masih dalam masa pertumbuhan. Ratu Zivaya menatap ke arah Amerilya dengan tatapan penuh rasa penasaran, kejadian apa lagi yang disaksikan oleh putri kecilnya itu.
"Bukankah Yang Mulia Raja Ruzel seorang penyihir dengan elemen api dan es?." tanya Putri Amerilya.
"Ya itu benar, raja menyebalkan itu memiliki dua elemen sihir dengan kekuatan yang seimbang." jawab Ratu Zivaya.
"Lalu mengapa ia bisa berubah menjadi bayangan hitam? bukankah ilmu sihir semacam itu hanya dikuasai oleh mereka yang belajar sihir hitam?." tanya Putri Amerilya, saat ini ia sedang dalam rasa ingin tah yang sangat tinggi.
"Menjadi bayangan hitam? apa yang kau katakan putriku. Hal semacam itu tidak bisa dipelajari oleh para penyihir dengan elemen ganda. Mungkin kau salah melihat orang lain sebagai Raja Ruzel." jawab Ratu Zivaya, ia tak mengerti mengapa tiba tiba putrinya mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu.
"Saya melihatnya secara langsung. Sesosok bayangan hitam melesat dengan cepat menuju penjara bawah tanah, bayangan itu kemudian berubah menjadi Raja Ruzel kemudian sang raja meluapkan amarahnya pada Kesatria Linox karna gagal menjalankan rencana." jelas Putri Amerilya pada sang ibu agat ibunya itu percaya.
Ratu Zivaya menatap mata putrinya dengan lekat, ia tidak menemukan kebohongan di sana. Jadi apa yang dilihat oleh Putri Amerilya adalah kenyataan, namun bagaimana bisa penyihir dengan dua elemen mempelajari sihir itu?.
"Apa kau sudah melaporkan hal ini pada ayahmu?." tanya Ratu Zivaya.
"Apalagi yang mereka lakukan? mengapa Putri Lena tidak berhenti untuk mengganggu mu. Ibu akan pergi ke Istana Putri untuk menegurnya, kau tenang saja putriku." ucap Ratu Zivaya yang sudah berdiri dan bersiap untuk pergi akan tetapi tangan di tahan oleh Putri Amerilya.
"Amerilya bisa menyelesaikannya sendiri." ucap sang putri, ia tak ingin sang ibu mengetahui sisi kekanakannya yang seperti ini.
"Baiklah jika kau membutuhkan bantuan katakan saja pada ibu." jawab Ratu Zivaya, akan lebih baik untuk melatih Amerilya menyelesaikan masalah masalah yang dihadapi sejak dini seperti ini.
"Ah iya satu hal lagi yang ingin Amerilya sampaikan pada ibu. Kesatria Linox mengatakan bahwa Amerilya adalah kelemahan terbesar Raja Azvago, karna itu kemungkinan besar Raja Ruzel sedang merencanakan sesuatu misalnya penculikan. Untuk mencegah hal itu terjadi bisakah ibu meminta beberapa anggota Kesatria White Rose untuk berjaga di sekitar istana putri?." ucap Putri Amerilya.
Ratu Zivaya tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan sangat kuat kemudian memukul meja kerjanya. Alhasil meja kayu itu terbelah menjadi dua bagian akibat luapan emosi sang ratu.
"Ibu.... lihatlah meja kerja ibu terbelah menjadi dua." triak sang putri dengan suara cukup kencang.
__ADS_1
"Ah maaf ibu tidak sengaja melakukannya. Lebih baik kau segera kembali ke Istana Putri dan tetap di sana hingga ibu membereskan Raja Ruzel." perintah Ratu Zivaya pada putri kesayangannya.
"Baiklah Amerilya akan kembali ke istana putri sekarang juga. Sampai jumpa ibu." pamit Putri Amerilya. Putri kecil itu turun dari kursi tempatnya duduk kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan Ratu Zivaya.
Setelah kepergian putri kecilnya itu tatapan sang Ratu berubah menjadi tajam dan penuh amarah. Batu saja ia menyingkirkan Putri Haru dari dunia ini, muncul lagi masalah baru yaitu Yang Mulia Raja Ruzel. Ratu Zivaya tidak bisa membunuh Raja Ruzel begitu saja karna akan menimbulkan peperangan diantara kedua kerajaan, yang perlu ia lakukan saat ini adalah mencari tau rencana apa yang sedang dipersiapkan oleh raja itu.
"Keluarga Kerajaan Belgize sungguh lucu ahahaha." gumam Ratu Zivaya dengan suara tawa riang.
Di tempat lain seorang Jenderal yang ditugaskan untuk berjaga di wilayah perbatasan sampai ke Istana Kerajaan Meztano dengan meminta bantuan seorang penyihir yang bisa melakukan perpindahan lokasi dengan jarak dekat.
"Terimakasih atas bantuannya Tuan Penyihir." ucap sang jenderal pada seorang pria tua yang ada di sampingnya.
"Sama sama, saya harus pergi sekarang. Segeralah sampailah kabar duka ini pada Yang Mulia Raja Azvago." ucap si penyihir tua yang langsung menghilang dari hadapan jenderal perbatasan.
Jenderal itu berlari menuju gerbang utama Kerajaan Meztano akan tetapi ia dihentikan oleh beberapa prajurit penjaga gerbang saat ingin menerobos masuk ke dalam.
"Maaf Tuan Jenderal, kami akan melakukan pengecekan pada Anda sebelum masuk ke dalam." ucap salah seorang prajurit dengan sopan.
"Baiklah silahkan lakukan tugas kalian. Tapi tolong sedikit lebih cepat karna ada hal yang sangat penting pada Yang Mulia Raja Azvago." minta sang Jenderal pada para prajurit yang sedang melihat beberapa senjata yang ia bawa.
"Pengecekan telah selesai silahkan masuk ke dalam, maaf karna membuat perjalanan Anda sedikit terhambat." ucap beberapa prajurit penjaga gerbang utama secara bersamaan.
Sang Jenderal Perbatasan kembali berlari dengan cepat masuk ke dalam istana utama Kerajaan Meztano. Para pelayan yang saat itu sedang bekerja hanya melihat tingkah aneh jenderal tersebut.
Akhirnya jenderal itu sampai di depan pintu ruang kerja Raja Azvago, dengan segera pintu tersebut diketuk cukup kencang. Terdengar suara langkah kaki dari dalam dan pintu itu terbuka dengan lebar, yang keluar bukannya Raja Azvago melainkan Pangeran Mixo.
"Ha?? mengapa Anda ada di sini. Bukankah Anda salah satu Jenderal yang ditugaskan untuk menjaga wilayah perbatasan, lalu mengapa Anda ada di sini?." tanya Pangeran Mixo dengan wajah bingungnya itu.
"Bisakah saya bertemu Yang Mulia Raja Azvago sekarang juga? ada hal penting yang ingin saya sampaikan." ucap jenderal itu dengan tegas.
__ADS_1
Pangeran Mixo segera mempersilahkan jenderal tersebut untuk masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Entah mengapa firasat sang pangeran menjadi kurang baik, mungkinkan terjadi sesuatu di wilayah perbatasan?.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.