PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Tertindih


__ADS_3

Setelah Putri Haru dibawa pergi, Richal menatap ke arah Putri Amerilya ia sangat khawatir dengan keadaan gadis kecil itu, walaupun Putri Amerilya memiliki kemampuan berpedang yang mumpuni namun ia tetaplah anak kecil.


"Tuan putri baik baik saja? apa ada yang terluka?." tanya Richal dengan raut wajah khawatirnya.


"Saya baik baik saja, terimakasih karna sudah datang menyelamatkan saya Tuan Richal." ucap Putri Amerilya dengan senyum manisnya.


Richal merasa cukup lega karna sebelum ia datang Putri Amerilya dapat mengulur waktu, jika tidak mungkin saat ini yang ia temukan hanyalah jasad sang putri. Richal ingin mengajak Putri Amerilya pergi ke aula untuk melihat hukuman apa yang Raja Azvago jatuhkan pada adiknya itu, namun melihat mata kantuk Putri Amerilya membuat Kesatria Richal mengurungkan niatnya.


"Putri tidurlah kembali, sekarang tak ada yang akan mengganggu anda." ucap Richal dengan ramah. Putri Amerilya menjawabnya dengan sebuah anggukan, setelah sang putri tidur Kesatria Richal langsung pergi menuju aula utama.


Saat ini di aula utama sudah berkumpul beberapa orang penting seperti Raja Azvago, beberapa pangeran, para ketua kelompok kesatria, Ibu Suri Sinya, dan beberapa adik dari Raja Azvago. Mereka masih tak percaya bahwa orang yang berusaha membunuh Putri Amerilya adalah Putri Haru adik kandung dan adik kesayangan dari Raja Azvago.


Terlihat raut wajah kecewa dari Ibu Suri Sinya dan anak anaknya yang lain. Sedangkan Putri Haru hanya duduk diam sembari menundukkan kepalanya, banyak sumpah serapah yang ia ucapkan karna kesal pada Putri Amerilya.


"Dia adalah keponakanmu, mengapa kau melakukan hal sekejam itu?." ucap Ibu Suri Sinya yang meminta penjelasan pada putrinya itu.


"Sejak anak sialan itu berhasil bertahan hidup kalian semua lebih menyayanginya daripada saya. Saya ingin menjadi satu satunya putri yang ada di Kerajaan Meztano ini. Ditambah lagi Yang Mulia Raja Meztano sangat menyayangi putrinya itu, hal hal yang dahulu menjadi peraturan di istana ini semenjak Raja Azvago menjabat menjadi berunah, dan semua ini karna makhluk kecil rendahan itu." ucap Putri Haru yang mengeluarkan semua kekesalan yang ia rasakan, apa bagusnya si Putri Amerilya yang lemah dan tak memiliki kekuatan apapun jika dibandingkan dengan dirinya.


Raja Azvago menggenggam tangannya dengan kuat, meskipun Putri Haru adalah adik kandungnya sendiri namun sang raja tak akan pernah terima ketika ada yang menghina keturunanya. Tentu hubungan ayah dan anak lebih kuat daripada hubungan adik dan kakak, itulah yang ada di fikiran Raja Azvago.


Plak.


Satu tamparan keras mendarat di pipi sebelah kanan Putri Haru, yang menampar Putri Haru bukanlah Raja Azvago melainkan Ratu Zivanya.


"Beraninya kau menghina putriku. Putri yang telah kulahirkan dengan susah payah." triak Ratu Zivanya dengan nada tinggi. Bukannya merasa malu ataupun bersalah Putri Haru malah tersenyum meledek.


"Anda melahirkan seorang putri yang sangat lemah dan juga jelek." ucap Putri Haru lagi yang membuat sang ratu semakin marah. Ia ingin menampar Putri Haru sekali lagi namun ditahan oleh Raja Azvago.


"Kau tak perlu mengotori tanganmu dengan menyentuhnya." ucap Raja Azvago yang membuat Putri Haru terbelalak kaget, apakah sekarang ia sangat hina dimata kakak laki laki kesayangannya itu.


"Bukankah kau selalu benci pada putrimu itu, kau tak pernah melihatnya semenjak ia lahir kedunia. Namun sekarang mengapa tiba tiba kau berubah? kau hanya boleh menyayangiku, dan anggaplah aku ini putrimu sendiri." ucap Putri Haru seperti orang gila. Semua orang yang ada di aula utama menggeleng gelengkan kepala mereka.


"Kurung Putri Haru di ruangan khusus selama sepuluh tahun, cambuk ia sebanyak sepuluh kali setiap harinya." ucap Raja Azvago yang menjatuhkan hukuman pada Putri Haru. Putri Haru sangat terkejut mendengar hukuman yang Raja Azvago berikan.


"Ini semua karna anak perempuan pembawa sial itu." ucap Putri Haru yang sangar marah, tak berapa lama kemudian para ketua kesatria membawa Putri Haru menuju ruangan khusus untuk menjalankan hukumannya.


"Kami minta maaf atas apa yang terjadi hari ini." ucap Pangeran Zogtu, ia adalah adik kelima dari Raja Azvago.

__ADS_1


"Ini bukan kesalahan siapapun, kalian bisa kembali ke kamar masing masing dan beristirahat." ucap Raja Azvago yang memberikan perintah pada mereka semua.


Akhirnya semua orang membubarkan diri mereka dan kembali ke kamar masing masing. Raja Azvago masih merasa gelisah, sebenarnya ia ingin menjatuhkan hukuman gantung untuk Putri Haru karna telah melakukan percobaan pembunuhan pada keturunanya. Akan tetapi Raja Azvago masih memiliki belas kasihan pada adik perempuannya itu.


"Sebaiknya saya pergi ke istana putri untuk memastikan apakah Putri Amerilya baik baik saja ataukah tidak." ucap Raja Azvago yang keluar dari aula utama dan berjalan menuju istana putri.


Setelah sampai di istana putri, kesepuluh pelayan setia milik Putri Amerilya menyambut kedatangan Raja Azvago dengan senang hati. Seorang pelayan mengatakan bahwa saat ini Putri Amerilya sedang tidur, sang raja menganggukan kepalanya faham.


Raja Azvago membuka pintu putri kecilnya itu, ia membukanya dengan pelan agar tak mengganggu. Setelah berhasil masuk kedalam kamar, Raja Azvago membaringkan tubuhnya di samping Putri Amerilya kemudian memeluk sang putri. Tanpa tersadar Raja Azvago tertidur lelap.


Disisi lain saat ini para kesatria sudah sampai di ruangan khusus yang berada di luar Istana Kerajaan Meztano. Ruangan khusus itu berada di sebuah gudang tua yang ada di pinggir hutan, disanalah para anggota keluarg Kerajaan Meztano menjalankan pengasingan mereka.


"Cih, apakah kalian tak bisa membebaskanku?." tanya Putri Haru yang tak ingin berada di dalam ruangan gelap dan hampa untuk menjalani masa hukumannya. Ditmbah lagi penjagaan yang sangat ketat dari prajurit khusus yang ditugaskan untuk mengawasinya, selama masa hukuman Putri Haru hanya memiliki satu pelayan yang akan menyiapkan makanan untuknya.


"Kali ini kau masing beruntung Putri Haru, jika kau bukan adik raja maka kepalamu sudah dipenggal." ucap Kesatria Black Nicko yang merasa kurang puas dengan hukuman yang dijatuhkan untuk putri haru.


"Seharusnya Yang Mulia Raja Azvago mengampuni perbuatanku karna aku adalah adik kesayangannya." gumang Putri Haru yang masih belum menyadari bahwa kesalahannya sangatlah berat.


"Diamlah atau saya akan membunuhmu di sini." ucap Richal dengan nada dingin, mungkin diantara ketua kelompok kesatria, Richallah yang paling merasa tak terima dengan hukuman ringan ini.


Setelah tugas mereka selesai, ketiga ketua kelompok kesatria berjalan kembali menuju Istana Kerajaan Meztano.


"Lihat saja sepuluh tahun lagi akan kubalaskan penghinaan ini berkali kali lipat padamu Putri Amerilya." ucap Putri Haru yang semakin membenci keponakannya sendiri. Entahlah bagaimana cara berfikir Putri Haru, sebaiknya setelah selesai dari masa hukuman Putri Haru harus dinikahkan agar tau bagaimana rasanya memiliki seorang anak.


Saat dalam perjalanan menuju Istana Kerajaan Meztano para ketua kesatria mampir kesebuah kedai untuk memesan camilan dan juga arak, setelah keributan besar seperti ini tentu mereka tak akan bisa tidur dengan nyenyak.


"Apa yang ingin kalian pesan tuan tuan kesatria?." ucap seorang pemuda, ia adalah anak dari pemilik kedai ini.


"Siapkan beberapa gorengan dan juga arak." ucap Kesatria Dominix Savalor yang sudah tak sabar menenggak arak.


"Baik, mohon tunggu sebentar." ucap pemuda itu yang langsung pergi untuk mengambil pesanan.


Setelah pemuda itu pergi, Black Nikco serta Dominix Savalor melihat ke arah Richal. Mereka berdua ingin mengetahui alasan dibalik sikap Richal yang mati matian membela dan menjaga Putri Amerilya.


"Mengapa kau melakukan hal seperti itu?." tanya Dominix Savalor pada Richal.


Richal merasa kebingungan mendapat pertanyaan seperti itu, memang apa yang telah ia lakukan hingga semua orang penasaran?.

__ADS_1


"Memangnya apa yang sudah saya lakukan?." ucap Richal yang berbalik bertanya.


"Kau telah melindungi Putri Amerilya, dan kau belum pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya kecuali pada Yang Mulia Raja Azvago." ucap Black Nikco yang mewakili Dominix Savalor.


"Karna dia berbeda, kalian akan mengetahuinya dalam waktu dekat." ucap Richal yang tak ingin memberitaukan bahwa Putri Amerilya memiliki kemampuan berpedang. Dan mungkin saja di suatu hari nanti ialah yang akan memimpin Kerajaan Meztano dengan kemampuannya itu.


"Hah kau memang sangat menyebalkan." ucap Dominix Savalor yang sangat ingin memukul kepala Richal hingga ia mengatakan rahasia apa yang telah Richal sembunyikan.


Saat mereka sedang asyik adu mulut, sang pemuda datang dengan membawa senampan penuh berisi berbagaimacam gorengan serta beberapa botol arak.


"Ini pesanan kalian, selamat menikmati." ucap pemuda itu dengan senyum ramahnya kemudian pergi.


Disisi lain saat ini Raja Azvago masih tertidur dengan lelap sambil memeluk putri semata wayangnya itu. Di luar kamar Putri Amerilya sudah ada Pangeran Mixo yang ingin melihat bagaimana kondisi adik kecilnya. Pangeran Mixo membuka pintu kamar dengan pelan kemudian masuk kedalam, betapa terkejutnya ia saat melihat sang ayah sedang memeluk adiknya dan mereka berdua tertidur dengan lelap.


"Mengapa ayah tak mengajakku, padahal aku ingin memeluk adik juga." ucap Pangeran Mixo yang naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sisi lain sebelah Putri Ameriya. Pangeran Mixo memeluk adiknya kemudian memejamkan mata dan tertidur dengan lelap.


Waktu berjalan dengan cepat, matahari samar samar mulai menampakkan dirinya. Putri Amerilya membuka matanya perlahan dan ingin menggerakkan tubuhnya, namun ia tak dapat melakukan hal itu. Tubuh Putri Amerilya terasa sangat berat seperti ada dua ekor gajah yang sedang meletakkan belalai mereka di perut sang putri.


"Apa yang sedang terjadi? mengapa aku tak bisa bergerak?." ucap Putri Amerilya dalam batinnya, ia sangat kesal karna tak bisa bangun dari tempat tidur.


Putri Amerilya memikirkan sebuah cara agar terbebas dari tekanan yang sangat berat ini, setelah beberapa saat berfikir akhirnya sang putri menemukan sebuah cara. Putri Amerilya menangis dengan cukup kencang, kesepuluh pelayan yang sedang menjalankan tugas mereka terkejut mendengar tangisan sang putri. Dengan cepat kesepuluh pelayan itu masuk kedalam kamar Putri Amerilya.


"Sepertinya putri kesulitan bergerak karna tubuhnya ditumpa tangan Raja Azvago dan Pangeran Mixo." ucap salah seorang pelayan yang menggelengkan kepalanya. Mengapa tiba tiba Pengeran Mixo ada di dalam kamar? bukankah yang datang semalam hanyalah Raja Azvago.


"Raja Azvago tolong anda bangunlah." beberapa pelayan terpaksa membangunkan sang raja.


Karna merasa terganggu akhirnya Raja Azvago bangun dan menatap tajam kearah para pelayan yang membangunkannya. Seorang pelayan menjelaskan mengapa mereka dengan lancang membangunkan sang raja.


"Mohon maaf Yang Mulia Raja, tangan anda menekan tubuh Putri Amerilya dengan cukup kuat sehingga sang putri kesulitan bergerak. Kami mendengar sang putri menangis dan merasa sangat khawatir." ucap pelayan itu yang memberikan penjelasan.


Raja Azvago membuka matanya dengan lebar kemudian melihat ke arah samping, benar saja tangannya dan tangan Pangeran Mixo menekan tubuh Putri Amerilya. Raja Azvago juga melihat air mata yang masing mengalir di pipi imut putri kecilnya itu. Dengan segera Raja Azvago mengangkat tangannya kemudian menyisihkan tangan Pangeran Mixo.


"Apakah kau kesulitan bergerak putriku?." tanya Raja Azvago dengan suara serak. Putri Amerilya hanya menganggukkan kepalanya saja.


Awalnya Putri Amerilya tak mengira bahwa benda yang menimpa tubuhnya adalah tangan sang ayah dan kakak pertamanya, jika ia mengetahuinya sejak awal maka sang putri akan menangis lebih keras agar sang ibu datang menghampirinya.


Hai hai guys aku update lagi nih novelku yang ini wkwkwk. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya guys, like juga, komen, rate, share.

__ADS_1


__ADS_2