PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Menemui Ratu Zivaya


__ADS_3

Setelah sang putri tak terlihat lagi Lilian segera bergegas pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Saat membangunkannya tadi Lilian sempat mendengar bahwa Tuan Putri Amerilya mengatakan ia belum sarapan, selama ini Lilian lah yang membuatkan sarapan khusus untuk sang putri. Setelah sampai di dapur Lilian mendapat sambutan berupa tatapan penuh tanda tanya dari pelayan lain, mungkin mereka sedang bertanya tanya kemana Lilian pergi dan mengapa baru kembali sekarang.


"Tuan Putri Amerilya berhasil menemukan mu?." tanya Riana dengan mengangkat sebelah alisnya, beberapa saat yang lalu sang putri kecil sibuk mencari keberadaan Lilian sedangkan pelayan lain sudah kembali untuk mengerjakan pekerjaan mereka yang tertunda.


"Ya Tuan Putri Amerilya berhasil menemukan saya yang sedang tertidur pulas di atas atap istana putri, entah bagaimana cara putri kecil itu naik ke atas sana." jawab Lilian, ia menunjukkan ekspresi biasa saja seolah oleh tingkah laku Putri Amerilya adalah hal yang wajar.


Beberapa pelayan yang sedang memotong sayuran langsung menghentikan aktivitas mereka, bagaimana cara sang putri naik ke atas sana? bukankah itu sangat berbahaya karna Putri Amerilya memiliki tubuh yang sangat mungil.


"Lain kali jangan tidur di sembarang tempat, untung saja Tuan Putri tidak terjauh ketika berusaha untuk naik ke atas atap. Jangan membuat Putri Amerilya dalam bahaya hanya karna kebiasaan mu yang tak masuk akal itu." tegur Juylin pada Lilian. Meskipun Lilian memiliki posisi yang lebih tinggi darinya, namun apa yang dilakukan memang sangat berbahaya.


"Saya juga menyesali hal itu, awalnya saya berencana untuk kembali ketika pagi pagi buta namun nyatanya saya malah tertidur dengan pulas." jawab Lilian, ia merasa menyesal atas tindakan ceroboh yang dilakukan.


"Putri Amerilya sangat khawatir ketika tidak menemukan keberadaan mu di dapur ataupun bagian istana putri yang lain. Mungkin diantara kami semua dialah yang paling mengkhawatirkan keadaanmu." ucap Riana yang masih mengingat dengan jelas wajah cemas dari Putri Amerilya ketika ia mengatakan bahwa Lilian menghilang sejak mereka bangun.


"Saya akan meminta maaf pada Tuan Putri secara langsung ketika ia selesai sarapan." ucap Lilian, ia kembali mengambil beberapa jenis sayur serta daging segar setelah itu Lilian mulai membuatkan sarapan untuk sang putri.


Di tempat lain saat ini Putri Amerilya sudah selesai mandi dan sedang sibuk memilih baju yang ingin ia kenakan, sepertinya pagi ini semua tamu undangan akan hadir karna itu sang putri perlu menggunakan gaun mewah untuk menambah kesan sebagai anggota Keluarga Kerajaan Meztano. Setelah cukup lama memilih milih gaun yang tepat akhirnya Putri Amerilya menempatkan pilihannya pada sebuah gaun berwarna hijau di bagian bawah dan putih keemasan di bagian atas. Gaun itu ditaburi dengan beberapa jenis pertama yang menambah kesan mewah serta elegan.


"Selesai." ucap Putri Amerilya sembari tersenyum ketika melihat pantulan bayangannya di dalam cermin. Sang putri merasa sangat puas dengan penampilannya hati ini.


Putri Amerilya berjalan keluar dari kamar, ia berkeliling di sekitar istana putri sembari menunggu sarapan selesai disiapkan. Saat sedang berkeliling Putri Amerilya bertemu dengan Putri Xirel yang sedang bertengkar dengan Putri Lena. Putri Amerilya menghela nafas panjang karna harus mendengar pertengkaran sepagi ini, sudah pasti yang memulai pertengkaran itu adalah Putri Lena.


"Mengapa kalian berdua bertengkar sepagi ini?" tanya Putri Amerilya sembari menatap sinis ke arah Putri Lena.


"Ah salam saya pada Tuan Putri Amerilya, maaf jika saya membuat Anda merasa terganggu." ucap Putri Xirel sembari menundukkan kepalanya. Ia merasa tak enak hati pada Putri Amerilya karna ini bukanlah Kerajaan Monzxo hingga ia bebas melakukan apapun.


"Coba jelaskan siapa yang memulai pertengkaran ini terlebih dahulu?." tanya Putri Amerilya yang berusaha untuk menengahi pertengkaran antara kedua putri itu.


"Saat saya sedang melintas di depan Putri Lena tiba tiba ia mendorong saya hingga terjatuh. Awalnya saya tak mempermasalahkan sikap Putri Lena pada saya, namun saat saya baru saja berdiri Putri Lena kembali mendorong saya dan hampir saja saya terbentur dinding." jelas Putri Xirel dengan tatapan kesal. Ia tak ingin membuat keributan di Istana Kerajaan Meztano namun ada saja sikap Putri Lena yang memancing amarahnya.


"Putri Lena segeralah meminta maaf pada Putri Xirel, tindakan Anda barusan tak mencerminkan sikap seorang putri dari sebuah kerajaan." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tajam. Kali ini ia tak akan memberikan hukuman pada Putri Lena, ia hanya ingin sang putri mengakui kesalahan yang telah dibuat.

__ADS_1


"Argh kalian sama sama menyebalkannya. Saya tak akan meminta maaf pada Putri Xirel." gerutu Putri Lena dengan egonya yang tinggi. Tanpa meminta maaf terlebih dahulu Putri Lena langsung pergi meninggalkan Putri Amerilya dan Putri Xirel.


Putri Amerilya menggenggam tangannya dengan erat, jika hari ini bukan hari ulangtahunnya mungkin ia sudah memukul Putri Lena hingga babak belur. Putri Amerilya menarik tangan Putri Xirel untuk pergi menuju sebuah ruangan khusus yang penuh dengan peralatan medis. Putri Amerilya mengambil sebuah salep kemudian mengoleskan salep tersebut ke kening Putri Xirel yang memar.


"Sakit sakit pergilah." ucap Putri Amerilya seperti sedang membaca mantra. Setelah mengucapkan kalimat itu Putri Amerilya meniup niup kening Putri Xirel beberapa kali.


"Nah sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang, Putri Xirel tak perlu khawatir karna memarnya akan segera sembuh." ucap Putri Amerilya dengan wajah polos dan senyuman manis.


"Aaaaaa.... mengapa Tuan Putri Amerilya sangat manis seperti ini. Apakah Anda tak ingin ikut saya ke Kerajaan Monzxo? saya akan memberikan semua barang yang Anda inginkan." ucap Putri Xirel dengan tatapan gemas yang ia tujukan pada Putri Amerilya.


"Jika Amerilya pergi maka ayah, ibu, serta para pangeran akan merasa sedih. Maaf karna saya tak bisa ikut Putri Xirel." jawab Putri Amerilya dengan mata berkaca-kaca seperti sedang merasa sedih.


Dengan segera Putri Xirel memeluk Putri Amerilya, ia mengusap kepala bagian belakang sang putri beberapa kali. Setelah Putri Amerilya merasa lebih tenang mereka berdua keluar dari ruangan itu kemudian berpisah karna memiliki urusan masing masing. Putri Amerilya berjalan keluar dari Istana Putri ia melanjutkan perjalanan menuju istana utama untuk menemui ayah ataupun ibunya.


"Selamat pagi Tuan Putri Amerilya." sapa Raja Yunminxo yang baru saja keluar dari kamar tamu.


"Selamat pagi Yang Mulia Raja Yunminxo, apakah Anda tidur dengan nyenyak malam tadi." jawab Putri Amerilya dengan ramah.


"Jika ayah sedang tidak sibuk saya ingin bertemu dengannya namun jika ayah sibuk saya akan pergi bertemu dengan ibu." ucap Putri Amerilya.


"Ah ternyata begitu, lebih baik Tuan Putri bertemu dengan Ratu Zivaya karna saat ini Raja Azvago sedang menyambut para tamu yang baru datang bersama dengan Ibu Suri Sinya." ucap Raja Yunminxo.


"Terimakasih atas informasinya, saya permisi terlebih dahulu. Sampai jumpa Yang Mulia Raja Yunminxo." ucap Putri Amerilya sembari menundukkan kepalanya kemudian ia pergi menuju ruangan khusus Ratu Zivaya.


Raja Yunminxo tersenyum ke arah putri kecil itu, sepertinya Raja Azvago sangat beruntung karna memiliki seorang putri yang sangat cantik dan manis. Selain itu selama tinggal di Istana Kerajaan Meztano ia mendengar banyak cerita mengenai keberanian Putri Amerilya dalam menghadapi orang orang yang ingin membunuh ataupun mengganggunya.


"Semoga Anda tumbuh menjadi seorang putri yang pintar dan juga bijaksana." doa Raja Yunminxo untuk Tuan Putri Amerilya.


Tok tok tok...


Suara pintu ruangan khusus Ratu Zivaya yang diketuk oleh Putri Amerilya, setelah menunggu selama beberapa saat akhirnya sang putri mendapatkan izin untuk masuk ke dalam. Putri Amerilya masuk dengan dibantu salah seorang prajurit yang membukakan pintu untuknya, setelah berada di dalam pandangan sang putri langsung tertuju pada Ratu Zivaya. Sepertinya Ratu Zivaya masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pesta ulang tahun nanti malam.

__ADS_1


"Sepertinya ibu sedang sibuk, apakah Amerilya boleh membantu menyelesaikan pekerjaan ibu?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan penuh harap.


Ratu Zivaya melihat ke bawah dan menemukan keberadaan putri kesayangannya. Ratu Zivaya menganggukkan kepala dan mengizinkan Putri Amerilya untuk duduk di sebuah kursi dan membaca beberapa berkas yang sedang ia kerjakan. Putri Amerilya terlihat sangat senang dan langsung naik ke atas kuris, iapun mengambil beberapa kertas dan membacanya dengan teliti.


"Ah bolehkah saya meminjam pena milik ibu." ucap Putri Amerilya sembari menatap serius ke arah tulisan yang ada di kertas itu.


Ratu Zivaya menaikkan sebelah alisnya, mengapa putri kecilnya itu ingin meminjam sebuah pena? apakah ia memahami isi dari kertas yang sedang dibaca?. Meskipun merasa kurang yakin dengan kemampuan putri kecilnya yang baru akan menginjak usia tiga tahun, Ratu Zivaya tetap memberikan sebuah pena pada Putri Amerilya.


Setelah mendapatkan pena Putri Amerilya segera menulis beberapa saran yang ada di pikirannya, hebatnya kurang dari sepuluh menit Putri Amerilya sudah menyelesaikan beberapa lembar kertas berisikan berkas penting.


"Nah Amerilya telah selesai mengerjakan, ah iya saya lupa bahwa ini sudah waktunya untuk sarapan." ucap Putri Amerilya sembari menggaruk kepala yang tak gatal. Mungkin saat ini Lilian dan pelayan lain sedang mencari keberadaan sang putri.


"Letakkan saja bekas yang kau kerjakan di atas meja, kembalilah ke istana putri terlebih dahulu untuk sarapan setelah itu kau bisa kembali untuk menemui ibu." ucap Ratu Zivaya.


"Baiklah ibu saya permisi terlebih dahulu, sampai jumpa lagi." ucap Putri Amerilya sembari berjalan keluar dari ruangan khusus milik Ratu Zivaya.


Setelah berada di luar ruangan sang ratu Putri Amerilya segera berlari menuju istana putri, ia tak ingin membuat kesepuluh pelayan setianya itu merasa khawatir. Baru saja mereka kebingungan mencari Lilian dan harus kembali dibuat bingung dengan Putri Amerilya yang tiba tiba pergi dari Istana Putri.


Saat sedang berlari menuju istana putri, Putri Amerilya hampir saja terjatuh namun untunglah ada Pangeran Zico yang langsung menangkap tubuh adik perempuannya itu. Pangeran Zico membantu Putri Amerilya berdiri kemudian memperhatikan sang putri dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Jangan berlarian seperti itu, bagaimana jika kau terjauh nanti adikku sayang." ucap Pangeran Zico yang sedang memberi peringatan pada adik perempuannya itu.


"Maaf karna membuat Pangeran Zico khawatir, saya sedang terburu buru kembali ke istana putri." jawab Putri Amerilya.


"Ish panggil saya dengan sebutan kakak di saat kita sedang berdua seperti ini, lagipula kita ini kakak dan adik." ucap Pangeran Zico yang merasa kesal karna sang adik memanggilnya dengan sebutan yang terlalu formal.


"Baiklah kakak, maaf saya harus segera kembali ke istana putri jika tidak para pelayan akan khawatir karna tidak menemukan saya di sana." ucap Putri Amerilya. Ia ingin segera pergi namun tangannya ditahan oleh Pangeran Zico.


"Sebagai kakak yang baik, aku akan mengantarmu ke Istana putri." ucap Pangeran Zico yang langsung menggendong Putri Amerilya kemudian ia mulai beejalan ke tempat yang ingin dituju sang adik.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2