
Cukup lama Kesatria Albern menunggu kira kira hampir satu jam dan Putri Amerilya belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia ingin bangun dari tidur lelapnya itu. Di tempat lain tepatnya kamar sang putri, Raja Azvago mulai membuka matanya perlahan kemudian melihat ke sekeliling, Raja Azvago menemukan putri kecil kesayangannya masih tertidur lelap dengan wajah lucunya itu.
"Haruskah saya membangunkannya atau membiarkannya tetap tidur seperti ini??" tanya Yang Mulia Raja Azvago pada dirinya sendiri. Sekarang sudah sekitar pukul sembilan pagi dan mereka sangat terlambat bangun pagi, setelah cukup lama dalam perasaan bimbang akhirnya sang raja memutuskan untuk membangunkan Putri Amerilya.
"Bangunlah putriku, sekarang sudah jam sembilan pagi. Jangan sampai kau melewatkan sarapan mu." ucap Yang Mulia Raja Azvago sembari menggoyangkan tubuh putri kecilnya itu.
Putri Amerilya masih tertidur lelap dan belum merespon sang ayah, Raja Azvago pun menggoyangkan tubuh sang putri sedikit lebih kencang agar ia segera terbangun.
"Umm....mengapa ayah mengganggu tidur ku?." gerutu Putri Amerilya sembari membuka matanya perlahan. Setelah kedua matanya benar benar terbuka lebar ia menatap kesal ke arah Raja Azvago.
"Sekarang sudah jam sembilan pagi, apakah kau ingin melewatkan waktu sarapan mu?." tanya Raja Azvago sembari tersenyum tipis ke arah putrinya itu.
"Ternyata begitu, terimakasih ayah telah membangunkan Amerilya sehingga tidak melewatkan jam sarapan. Amerilya permisi untuk mandi terlebih dahulu." ucap Putri sembari beranjak dari kamar tidurnya.
"Ayah akan menunggu di sini hingga kau selesai mandi, setelah itu ayah akan mengantarkan mu pergi ke ruang makan untuk sarapan." jawab Yang Mulia Raja Azvago.
Putri Amerilya bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya dan menyegarkan tubuh sedangkan sang raja masih duduk di pinggir ranjang tempat tidur sembari mengumpulkan nyawanya. Setelah sepuluh menit Putri Amerilya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan sebuah gaun berwarna biru langit.
"Cantiknya putri ayah." puji Yang Mulia Raja Azvago pada Putri Amerilya.
"Tentu saja, bukankah ibu juga sangat cantik karna itulah Amerilya bisa cantik seperti ini." jawab sang putri kecil dengan senyuman cerah.
"Jadi Amerilya menjadi cantik bukan karna ayah??" tanya Raja Azvago dengan raut wajah sedih.
"Ayah itu tampan bukannya cantik, karna ayah sangat tampan akhirnya ketiga kakak laki-laki Amerilya juga tampan." ucap Putri Amerilya dengan wajah polosnya..
Raja Azvago tersenyum lebar sembari menghela nafas panjang setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari putri kecilnya itu. Kini sang raja dan Putri Amerilya berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan, saat melewati ruang depan Putri Amerilya melihat Kesatria Albern sedang duduk di sana.
"Tunggu sebentar ayah." ucap Putri Amerilya yang langsung menghentikan langkahnya begitupun dengan Yang Mulia Raja Azvago.
__ADS_1
"Ada apa putriku?." tanya sang raja sembari menatap bingung ke arah putrinya itu.
"Sepertinya Amerilya memiliki seorang tamu." ucap Putri Amerilya, ia melepas genggaman tangan sang raja kemudian berjalan menuju Kesatria Albern.
Kesatria Albert yang tadinya sedang memakan biskuit kacang sembari menunggu sang putri bangun langsung terkejut ketika Putri Amerilya menepuk punggungnya dari belakang.
Sontak Kesatria Albern menoleh ke belakang dan menemukan Tuan Putri Amerilya yang sedang tersenyum manis ke arahnya dan di belakang sang putri ada Raja Azvago dengan tatapan tajamnya. Dengan segera Kesatria Albern bangun dari tempat duduk kemudian membungkukkan badan pada Raja Azvago dan sang putri kecil.
"Salam hormat saya pada Yang Mulia Raja Azvago dan Tuan Putri Amerilya." ucap Kesatria Albern penuh dengan rasa hormat.
"Ada keperluan apa hingga Kesatria Albern datang ke istana putri? apakah ada hal penting yang ingin Anda sampaikan pada saya?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung.
"Benar sekali ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Anda, karna kebetulan Yang Mulia Raja Azvago ada di sini juga maka saya akan menyampaikannya pada kalian berdua." ucap Kesatria Albern dengan wajah seriusnya.
"Baiklah mari ikut saya pergi ke tempat yang lebih sepi agar tidak ada orang lain yang menguping pembicaraan kita, saat ini istana putri tidak hanya ditempati oleh saya dan kesepuluh pelayan saya saja." ucap Putri Amerilya. Sang putri kecil berjalan menuju sebuah ruangan yang jarang dikunjungi oleh banyak orang yaitu perpustakaan.
Dari arah belakang ada Putri Arbel yang diam diam mengikuti ketiga orang itu, ia penasaran apa yang ingin disampaikan oleh Kesatria Albern pada Yang Mulia Raja Azvago dan Putri Amerilya. Untunglah saat itu Putri Amerilya menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka.
Tanpa menanyakan hal yang aneh aneh Raja Azvago langsung membuat sihir pembatas di sekitar meja tempat mereka bertiga duduk, setelah selesai itu Putri Amerilya mempersilahkan Kesatria Albern untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.
"Silahkan berbicara Kesatria Albern." ucap Putri Amerilya.
"Semalam saat Tuan Richal ingin melakukan patroli di sekitar area istana utama ia tidak sengaja melihat Raja Ruzel bersama ketiga anak tertuanya sedahg berbincang bincang di taman belakang. Menurut keterangan dari Tuan Richal mereka berempat sedang merencanakan penculikan pada Tuan Putri Amerilya dan menjadikannya sebagai sandera. Tujuan utama Raja Ruzel melakukan hal itu untuk menekan Yang Mulia Raja Azvago dan meminta tebusan berupa wilayah Kerajaan Meztano. Setelah mendengar semua itu Tuan Richal langsung pergi menemui Ratu Zivaya dan mencari solusi atas permasalahan kali ini." jelas Kesatria Albern pada Raja Azvago dan Putri Amerilya.
"Sialan, berani beraninya raja tua bangka itu ingin menculik putri kesayangan saya!. Akan saya kibarkan bendera perang secepatnya dengan Kerajaan Belgize." ucap Raja Azvago dengan kemarahan yang meluap luap. Ia tak menyangka masih ada orang yang memiliki niatan buruk pada putri menggemaskannya itu.
"Lalu apa yang direncanakan oleh Kesatria Richal dan ibu?." tanya Putri Amerilya yang jauh lebih tenang daripada sang ayah.
Kesatria Albern mulai menjelaskan rencana yang dibuat oleh Ratu Zivaya bersama dengan Kesatria Richal. Di sisi lain saat ini Putri Arbel yang juga berada di dalam perpustakaan mencoba untuk menguping pembicaraan ketiga orang itu namun sangat disayangkan ia tidak bisa mendengar apapun.
__ADS_1
"Apa yang sedang mereka bertiga bagas, mungkinkah rencana saya dan ayah sudah diketahui pihak Kerajaan Meztano?" tanya Putri Arbel di dalam hatinya.
Karna tidak dapat mendengar pembicaraan ketiga orang itu Putri Arbel memutuskan untuk segera meninggalkan perpustakaan sebelum keberadaannya diketahui oleh salah satu diantara mereka bertiga. Putri Arbel berencana perti ke istana pangeran untuk bertanya pada kedua kakak laki lakinya mengenai keberhasilan mereka menyusup keluar pagi tadi.
Di sisi lain Putri Amerilya tersenyum miring setelah mengetahui Putri Arbel telah pergi dari tempat persembunyiannya, pasti saat ini putru tertua dari Kerajaan Belgize itu sedang kebingungan sekaligus penasaran dengan apa yang Kesatria Albern bahas.
"Argh saya benar benar marah dan ingin membunuh Raja Ruzel bersama anggota keluarganya." gerutu Yang Mulia Raja Azvago dengan wajah memerah.
"Tenanglah ayah, kita akan menjalankan rencana dari ibu dengan baik. Jangan sampai kemarahan ayah itu membuat semuanya berantakan." ucap Putri Amerilya yang sedang mengingatkan ayahnya.
"Apa yang dikatakan oleh Putri Amerilya benar adanya, kita harus bisa berfikir jernih dengan kepala dingin jika ingin menangkap orang orang itu." tambah Kesatria Albern.
"Ah maafkan saya yang terbawa emosi. Baiklah jika begitu mari jalankan rencana ini sesuai dengan arahan Ratu Zivaya. Kesatria Albern silahkan kembali bertugas dan terimakasih untuk informasinya, saya akan mengantar Putri Amerilya sarapan terlebih dahulu karna jam sarapan hampir terlewat." ucap Raja Azvago.
"Maaf telah mengganggu jam makan pagi Tuan Putri Amerilya, saya permisi terlebih dahulu." jawab Kesatria Albern. Ia berdiri dari tempat duduknya kemudian keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju bangunan luar istana putri.
Setelah kepergian Kesatria Richal, Raja Azvago dan Putri Amerilya meninggalkan perpustakaan dan pergi menuju dapur terlebih dahulu untuk meminta para pelayan menyiapkan makanan untuk mereka berdua karna sepertinya putri dari kerajaan lain sudah sarapan sejak pagi tadi.
Di sisi lain saat ini Putri Arbel sedang dalam perjalanan menuju istana pangeran, saat sudah sampai dan hendak masuk ke dalam ia di hadang oleh beberapa prajurit yang melarangnya masuk ke dalam.
"Maaf Putri Arbel, Anda di larang masuk ke dalam karna saat ini Ratu Zivaya sedang mengadakan pertemuan dengan pangeran pertama dan kedua untuk membahas beberapa bisnis mereka. Ratu Zivaya berpesan selain anggota Keluarga Kerajaan maka orang asing dilarang masuk ke dalam." ucap prajurit itu yang menyampaikan pesan dari Ratu Zivaya.
"Saya tidak ingin mengganggu pertemuan yang sedang dilakukan sang Ratu, saya hanya ingin bertemu dengan kedua kakak laki-laki saya." ucap Putri Arbel yang menjelaskan tujuan kedatangannya itu.
"Sejak sarapan tadi Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf tidak terlihat di area istana pangeran. Mungkin kedua kakak laki laki Anda sedang pergi ataupun berada di tempat lain." ucap salah seorang prajurit yang menjelaskan kedua pangeran tertua tidak ada di istana pangeran.
"Ah ternyata begitu, baiklah saya permisi terlebih dahulu. Seandainya kedua pangeran itu kembali terlebih dahulu sebelum saya datang lagi, tolong sampaikan pada mereka berdua untuk menemui saya." pesan Putri Arbel pada para prajurit penjaga pintu masuk istana putri.
"Baik kami akan menyampaikan pesan dari Putri Arbel." jawab beberapa prajurit secara bersamaan.
__ADS_1
"Terimakasih, saya permisi terlebih dahulu." Putri Arbel tidak menaruh rasa curiga saat itu karna wajar jika kedua kakak laki lakinya mengalami kendala saat mencari markas para pembunuh bayaran. Setidaknya siang nanti mereka berdua akan kembali.
Hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.