PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Sidang Selesai


__ADS_3

Nyonya Riana Marques, Eren Marques, dan Duke Zidan Marques menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan terkejut. Nyonya Riana dan Eren Marques tak memahami mengapa putri kecil itu tiba tiba menuntut Arges Marques tanpa bukti yang jelas? bukankah selama ini Arges Marques juga tak mengetahui semua rencana yang dilakukan oleh sang ayah, buktinya pemuda itu menyelamatkan Putri Amerilya saat ia sedang di serang oleh dua pembunuh bayaran. Sedangkan Duke Zidan Marques merasa terkejut karna tak menyangka Jika Putri Amerilya mengetahui keterlibatan putra pertamanya itu dalam beberapa rencana jahat yang telah ia lakukan pada Keluarga Kerajaan Meztano.


"Anda tak bisa menuduh sembarangan tanpa bukti seperti itu." ucap Arges Marques yang mulai membela diri, nada bicara pemuda itu tampak sedikit bergetar karna takut akan dijebloskan ke dalam penjara seperti sang ayah.


"Apakah Tuan Putri Amerilya memiliki bukti atas keterlibatan kakak saya?." tanya Eren Marques dengan tatapan tenang, apapun hasilnya nanti ia adalah orang yang tak dirugikan dalam segi manapun.


Putri Amerilya menganggukkan kepalanya, gadis itu menyerahkan beberapa surat tulisan tangan mik Arges Marques pada tim penyelidik khusus Kerajaan Meztano, beberapa surat berisikan balas membalas pesan sari Arges Marques dengan seorang penjual obat tidur beberapa saat yang lalu. Di dalam surat itu Arges Marques menyatakan bahwa ia terkena penyakit insomnia yang menyebabkannya kesulitan untuk tidur, di sisi lain Putri Amerilya mendapat catatan kesehatan dari pemuda itu yang membuktikan bahwa ia dalam keadaan sehat. Tim penyelidik khusus Kerajaan Meztano mulai memahami mengapa Putri Amerilya mengajukan tuntutan pada Arges Marques, semua bukti yang dimiliki oleh putri kecil itu sangat akurat.


"Bagaimana Anda bisa mendapatkan semua bukti bukti ini dalam waktu singkat?." tanya salah seorang anggota tim penyelidik khusus Kerajaan Meztano yang penasaran dengan cara Kerja Putri Amerilya.


"Itu adalah sebuah rahasia yang tak bisa saya ungkap secara umum." jawab Putri Amerilya yang tak akan memberitahukan bagaimana dia bisa mendapat semua bukti mengenai Duke Zidan Marques ataupun Arges Marques.


"Kami memerlukan masukan dari Anda agar bisa bekerja lebih baik lagi kedepannya." ucap anggota tim penyelidik khusus Kerajaan Meztano itu yang bersikeras meminta Putri Amerilya mengatakan segalanya.


"Anda tak bisa memaksa orang lain untuk membuka rahasia kerja yang dimiliki, jika seseorang bekerja dengan hati tulus dan menggunakan semua daya otak secara penuh maka ia akan mendapat hasil yang memuaskan." jawab Putri Amerilya dengan tenang, gadis itu tak goyah sedikitpun meski mendapat tatapan sinis dari beberapa anggota tim penyelidik khusus Kerajaan Meztano.


"Sebagai seorang putri di Kerajaan ini saya juga memiliki hak untuk memecat beberapa orang yang tak kompeten dalam menjalankan tugasnya." ucap Putri Amerilya, para anggota tim penyelidik khusus Kerajaan Meztano yang tadinya sedang menatap tajam ke arah gadis itu langsung menundukkan kepala mereka.


"Baiklah semua bukti dan kesaksian para korban sudah sangat jelas. Sebagai Hakim dalam persidangan ini saya memutuskan bahwa Duke Zidan Marques dan Arges Marques dinyatakan bersalah." ucap Raja Azvago sembari mengetuk palu yang ia pegang sebanyak tiga kali, Putri Amerilya dan delapan korban yang ia bawa tersenyum dengan puas, akhirnya orang yang melakukan kejahatan mendapat balasan yang setimpal.


"Duke Zidan Marques akan dilepas dari posisinya saat ini sebagai seorang Duke dan digantikan dengan putra keduanya. Selain itu Zidan Marques mendapat hukuman pancung karna telah melakukan banyak tindak kejahatan yang merugikan orang lain, Zidan Marques telah menggelapkan anggaran bulanan dari Kerajaan Meztano serta membunuh salah seorang putri dari Raja Azvago. Dengan itu saya nyatakan Zidan Marques pantas mendapatkan hukuman mati." ucap Raja Azvago dengan tatapan penuh kekesalan pada Zidan Marques, ia juga tak menyadari ada salah satu putrinya yang meninggal sebelum menginjak usia dua tahun.


"Arges Marques, Anda terbukti bersalah karna telah membantu beberapa rencana jahat dari ayah Anda karna itu saya memutuskan bahwa Zidan Marques akan mendapat hukuman penjara selama dua puluh tahun serta hukuman lima puluh cambukan setiap satu minggu sekali. Apakah ada yang keberatan dengan keputusan pengadilan terhadap dua tersangka ini?." tanya Raja Azvago sembari melihat ke arah orang orang yang hanya diam saja dan menjadi saksi jalannya pengadilan.


"Tidan Yang Mulia Raja Azvago, kami sangat puas dengan keputusan Anda." ucap para saksi dengan suara yang cukup kencang.

__ADS_1


Nyonya Riana Marques hanya bisa menghela nafas pasrah melihat sang suami akan mendapat hukuman mati serta anak pertamanya yang akan terpisah sangat lama darinya. Kehidupan Nyonya Riana Marques menjadi berantakan, entah apakah dia bisa menjalani hari hari seperti biasa atau malah jatuh terpuruk.


"Terimakasih atas kebijaksanaan dari Yang Mulia Raja Azvago, saya mewakili para korban merasa sangat puas dengan hukuman yang Anda berikan. Saya akan meminta beberapa prajurit untuk mengantar delapan korban ini kembali ke rumah mereka dengan selamat." ucap Putri Amerilya dengan senyuman manis yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Kami ucapkan terimakasih karna Anda banyak membantu kami." ucap beberapa korban pada Putri Amerilya.


"Jika dilain hari kalian mendapat kesulitan, silahkan melapor pada pihak kerajaan. Kami akan senantiasa mendengar dan membantu penduduk Kerajaan Meztano yang sedang kesusahan." ucap Putri Amerilya.


Delapan korban dari wilayah Duke Zidan Marques diantarkan serombongan prajurit untuk kembali ke rumah mereka masing masing, beberapa saksi jalannya persidangan mulai keluar dari ruang persidangan karna sudah selesai melakukan tugas mereka.


Pangeran Zingo menghampiri Putri Amerilya kemudian menggendong anak perempuan itu, sang pangeran sangat iri pada kakak laki lakinya karna memiliki seorang putri yang cantik, pintar, dan juga berbakat. Pangeran Zingo menatap ke arah Raja Azvago dengan tatapan seolah olah ia ingin membawa Putri Amerilya pergi dari Istana Kerajaan Meztano, Raja Azvago yang menyadari niatan dari adiknya itu berlari ke arah Pangeran Zingo kemudian mengambil Putri Amerilya dari gendongan Pangeran Zingo.


"Ini adalah anak saya jika Anda menginginkannya silahkan buat sendiri." ucap Raja Azvago dengan tatapan sinis.


"Ayolah, akan sangat sulit mendapat anak perempuan seperti Tuan Putri Amerilya." jawab Pangeran Zingo dengan tatapan memohon.


Sedangkan sang putri yang sedang menjadi rebutan ayah dan pamannya itu hanya tertawa cekikikan, keduanya terlihat seperti anak kecil yang sedang berebut permen. Kesatria White Rose membawa Zidan Marques dan Arges Marques menuju penjara khusus untuk para tahanan yang akan mendapat hukuman mati, penjara itu memiliki tingkat keamanan yang sangat ketat hingga seekor lalat tak bisa masuk kedalam.


"Apakah ayah dan paman sudah selesai? Amerilya sangat lelah dan ingin beristirahat." ucap Putri Amerilya dengan wajah mengantuk, wajar jika anak sekecil itu merasa kelelahan setelah meluapkan emosinya dalam jumlah yang cukup besar.


"Putri kecil ayah sudah mengantuk? mari ayah antar ke kamar." ucap Raja Azvago yang langsung pergi dari ruang persidangan tanpa mengucapkan apapun pada beberapa orang yang masih berada di sana.


Ratu Zivaya melihat ke arah Nyonya Riana Marques dengan tatapan sedih, sahabatnya akan menjadi wanita tanpa suami sebentar lagi. Ratu Zivaya tak bisa membayangkan betapa hancur dan sakitnya perasaan sahabatnya itu, andai saja Ratu Zivaya bisa membujuk sang suami untuk meringankan hukuman dari Zidan Marques, akan tetapi hari kecil Ratu Zivaya juga menolak jika ia harus melakukan hal seperti itu. Bagaimanapun juga Zidan Marques telah membunuh seorang anak yang keluar dari rahimnya serta ingin menyakiti putri kecil yang sangat ia sayangi.


"Maaf saya tak bisa melakukan apapun untuk membantu suami Anda. Saya juga tak bisa menerima perbuatan yang telah ia lakukan pada anak anak saya." ucap Ratu Zivaya, wanita itu telah menguatkan hatinya agar mendukung penuh keputusan sang suami.

__ADS_1


"Tolong jangan bunuh suami saya, Anda juga seorang wanita. Anda pasti mengerti bagaimana perasan saya saat ini." ucap Nyonya Riana Marques dengan sorot mata sedih, badannya terasa lemas.


"Anda juga pasti bisa memahami bahwa sangat sulit memaafkan kesalahan yang telah suami Anda perbuat. Saya baru mengetahui bahwa salah satu putri saya dibunuh oleh suami Anda, apakah Anda ingin menukar nyawa salah satu anak Anda dengan nyawa suami anda?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan serius.


"Mengapa Ratu mengatakan hal sejauh itu, Saya hanya meminta keringanan saya." ucap Nyonya Riana Marques yang mulai menatap kesal ke arah Ratu Zivaya.


"Berada di posisi Anda bukanlah hal yang mudah Nyonya Riana Marques, akan tetapi hati saya juga sangat sakit saat ini. Saya pamit dan Anda bisa kembali ke kamar tamu." ucap Ratu Zivaya yang langsung pergi dari ruang persidangan meninggalkan sahabatnya itu.


Di sisi lain saat ini Raja Azvago dan Putri Amerilya sudah berada di kamar utama Kerajaan Meztano, kamar yang biasa digunakan oleh Raja dan Ratu untuk beristirahat. Raja Azvago masih mengingat keinginan Putri Amerilya untuk tidur bersama dengan ayah dan ibunya ketika kembali dari wilayah kekuasaan Duke Elister untuk menyelesaikan tugas pertama, karna terlalu sibuk dengan masalah yang terjadi akhir akhir ini Raja Azvago sampai lupa untuk mengajak putri kecilnya tidur dengannya.


"Tidurlah putriku sayang." ucap Raja Azvago sembari meletakkan Putri Amerilya diatas tempat tidur.


"Ayah tak tidur? apakah masih banyak dokumen dokumen menumpuk diruang kerja ayah?." tanya Putri Amerilya dengan mata sayu karna menahan kantuk.


"Ayah akan menyelesaikannya secepat mungkin, ibumu sebentar lagi akan datang." ucap Raja Azvago kemudian mencium kening putrinya, ia pamit pada Putri Amerilya untuk menyelesaikan beberapa tugas terlebih dahulu.


Setelah kepergian sang ayah, Putri Amerilya langsung tertidur dengan pulas. Wajah anak kecil yang sangat polos membuat siapapun tak akan percaya bahwa ialah yang telah mengungkap semua kejahatan dari Zidan Marques. Dari luar kamar utama terdengar suara langkah kaki seseorang, sepertinya orang itu berjalan dengan mengendap endap, seorang pria masuk ke dalam kamar utama untuk melihat apakah Putri Amerilya ada di sana.


"Paman datang." ucap Pangeran Zingo dengan suara pelan agar tak membangunkan keponakannya yang sedang tertidur pulas.


"Paman merasa lega sekarang karna keponakan kesayangan paman sudah diterima sepenuhnya di Kerajaan Meztano, jika ada hal sulit yang tak bisa kau lalui sendiri ada banyak orang yang akan membantumu. Selamat tidur matahari kecil Kerajaan Meztano." ucap Pangeran Zingo, ia mencium pipi kanan dan pipi kiri Putri Amerilya kemudian keluar kamar dengan sangat hati hati. Saat sudah berada di pintu luar Pangeran Zingo bertatapan dengan Ratu Zivaya yang sedang menatap tajam kearahnya.


"Apa yang Pangeran Zingo lakukan di dalam kamar saya?." tanya Ratu Zivaya penuh dengan kecurigaan, tatapan mata sang ratu seperti sedang menyelidiki perbuatan Pangeran Zingo.


"Ahahaha saya ingin menculik Putri Amerilya, namun karna Anda sudah datang maka saya harus kabur terlebih dahulu." ucap Pangeran Zingo kemudian berlari sekencang mungkin agar tak dikejar oleh kakak iparnya. Ratu Zivaya hanya tertawa pelan melihat tingkah lucu dari Pangeran Zingo, sang ratu masuk ke dalam kamar dan melihat ada putri kecilnya yang sedang tertidur lelap.

__ADS_1


"Bagaimana ibu bisa menbiarkan mu diculik oleh paman mu sendiri." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman bahagia, sang ratu membaringkan tubuhnya di samping Putri Amerilya kemudian memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang. Beberapa saat setelahnya mereka berdua tertidur dengan lelap.


Hai semuanya aku update lagi novel Putri Amerilya, gimana puasa kalian lancar kan?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2