
Setelah berada di hadapan rekannya Liliana langsung mengajak untuk segera pergi dari Kediaman Duke Marques, keduanya kembali melompati dinding halaman belakang kediaman Duke Marques. Di sisi lain pengurus rumah masih berusaha mengingat ingat apakah ia pernah bertemu dengan pelayan itu sebelumnya, wajah sang pelayan yang baru saja menyajikan camilan dan teh untuk tamu tamunya sangatlah asing.
"Permisi saya pergi sebentar." ucap pengurus rumah Duke Marques yang langsung pergi dari ruangan itu untuk melihat apakah ada hal ganjil yang terjadi di dalam rumah.
Pengurus rumah berjalan ke dapur kemudian ia mendengar suara berisik dari arah gudang, pria tua itu dengan segera berjalan menuju gudang dan membuka pintu gudang itu. Terlihat seorang pelayan sedang dalam kondisi terikat, pelayan itu berusaha melepas tali yang tengah mengikat kedua tangan dan kakinya. Sang pengurus rumah menghampiri si pelayan kemudian membantunya melepas ikatan tali itu.
"Apa yang terjadi padamu?." tanya pengurus rumah Duke Marques dengan tatapan penuh selidik.
"Saat saya ingin mengantar camilan serta teh untuk tamu Anda, ada seseorang yang memukul punggung saya dengan sangat kencang hingga saya pingsan. Entah apa yang orang itu lakukan hingga menyekap saya di gudang seperti ini." ucap si pelayan dengan jujur.
Pengurus Kediaman Duke Marques mengepakkan tangannya dengan erat, ia melayangkan sebuah pukulan ke udara sebagai tanda luapan emosinya. Bagaimana bisa ada orang asing yang masuk ke dalam rumah itu, apa yang orang itu cari? saat ini semua anggota Keluarga Duke Marques sedang berada di Istana Kerajaan Meztano bahkan sebagian dari mereka telah mati. Tak mungkin jika musuh Duke Zidan Marques datang untuk mencarinya atau beberapa orang dari pihak kerajaan mencurigai ada orang lain yang menjadi dalang dalam kejadian pemberontakan tadi.
"Beristirahat, saya akan menyelidiki kasus ini." ucap pengurus rumah yang meminta sang pelayan untuk beristirahat lagipula hari sudah malam. Pengurus rumah bergegas pergi dari gudang dan melihat lihat di sekitar halaman belakang tempat teraman untuk seseorang menyelinap masuk.
Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang berada di ruang tengah sendirian, sang ayah pamit untuk mandi dan berganti pakaian karna pesta makan malam akan segera berlangsung. Sang Putri sedang memikirkan alasan para petinggi Kerajaan Meztano melakukan pemberontakan seperti itu bahkan ingin meracuni keluarga kerajaan, bukankah gaji yang mereka terima sudah lebih dari cukup untuk berfoya-foya? lalu apa yang menjadi tujuan utama mereka. Saat Putri Amerilya sedang pusing dengan fikiran nya sendiri, ia melihat Liliana dan seorang pelayan dari istana putri datang menjemput dengan nafas tersengal sengal.
"Mari kembali sekarang Tuan Putri Amerilya." ucap Liliana yang baru saja datang ke Istana Kerajaan Meztano dan langsung mencari Putri Amerilya, pelayan itu mendapat informasi dari pelayan lain bahwa saat ini Putri Amerilya sedang berada di istana utama.
Tanpa banyak bertanya Putri Amerilya langsung mengikuti Liliana, mereka bertiga bergegas pergi dari istana utama menuju istana putri. Setelah sampai di istana putri, Liliana meminta semua pelayan menutup akses keluar masuk istana dan mereka semua berkumpul di perpustakaan untuk memberi laporan pada Putri Amerilya.
"Siapa yang ingin memberi laporan terlebih dahulu?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan serius, masalah kali ini harus diselesaikan sampai ke akar akarnya agar tak menimbulkan masalah baru di masa depan.
"Saya." ucap seorang pelayan dengan penampilan rambut putih dan mata coklat tua. Pelayan itu mendapat tugas mengawasi sel penjara tempat Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya ditahan.
__ADS_1
"Silahkan sampaikan semua yang Anda lihat." ucap Putri Amerilya yang sedang dalam mode serius.
"Saat saya dan teman saya sampai di depan pintu masuk sel penjara khusu, kami melihat beberapa prajurit dari istana utama datang untuk menggantikan waktu jaga para prajurit khusus. Setelah para prajurit khusus pergi, prajurit yang berasal dari istana utama itu masuk ke dalam dan kami mengikuti mereka dari belakang. Para prajurit itu memberikan makanan serta kunci keluar dari sel penjara pada Nyonya Riana Marques, kami juga mendengar beberapa percakapan mereka." ucap pelayan berambut putih dan mata coklat tua.
"Jadi ada beberapa prajurit yang ikut campur dalam masalah ini, lalu apa yang mereka perbincangkan?." tanya Putri Amerilya dengan rasa penasaran, mungkinkah prajurit itu adalah prajurit yang sama dengan yang ia lihat?.
"Mereka mengatakan bahwa para pelayan dapur sudah melakukan tugas mereka dengan baik, saat pesta makan malam berlangsung semua orang yang menikmati makanan itu akan tidur untuk selama lamanya. Selain itu sang prajurit juga mengatakan bahwa mereka menginginkan posisi sebagai Jenderal saat Nyonya Riana Marques berhasil naik menjadi Ratu nantinya." sambung pelayan dengan warna mata dan rambut hitam legam.
Putri Amerilya diam sejenak dan berusaha mencerna semua informasi yang ia dapatkan mengenai rencana Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya untuk keluar dari penjara khusus, selain itu Nyonya Riana Marques mengincar posisi sebagai Ratu Kerajaan Meztano?. Yang benar saja, mengapa wanita itu semakin menggila dan membuat Putri Amerilya merasa sangat pusing. Untunglah ia telah menggagalkan rencana para pelayan untuk meracuni semua orang saat pesta makan malam nanti.
"Kami merasa bersyukur karna Tuan Putri Amerilya dan Raja Azvago datang ke dapur di saat yang tepat. Yang Mulia Raja Azvago melihat para pelayan dapur sedang menuangkan racun kedalam makanan yang akan disajikan saat pesta makan malam nanti. Saya juga mendengar bahwa Tuan Putri Amerilya meminta agar pesta makan malam dilakukan di halaman belakang istana utama, pasti ada alasan khusus di balik semua itu. Benarkan Tuan Putri?." tanya seorang pelayan pada Putri Amerilya dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya itu.
"Saat saya sedang pergi menuju Istana Utama untuk bertemu dengan ayah, saya mendengar Tuan Moren Luzent meminta beberapa prajurit istana utama untuk menahan pintu bagian luar ruang makan saat semua orang sudah berada di dalam. Sepertinya mereka tak ingin ada orang lain yang membantu para tamu serta anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang sedang dalam kondisi sekarat, selain itu saya juga berpapasan dengan para pelayan yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan gelagat mencurigakan. Untunglah ayah mendengar permintaan saya dan kami pergi ke dapur untuk melihat apakah persiapan sudah selesai." jelas Putri Amerilya atas kejadian di dapur beberapa saat yang lalu.
Liliana menghela nafas panjang, satu hal yang tak pernah dibayangkan olehnya yaitu begitu banyak petinggi Kerajaan Meztano yang ingin berkhianat pada Yang Mulia Raja Azvago. Sepertinya pihak Duke Marques memberikan penawaran yang sangat besar pada mereka sehingga bersedia untuk bergabung dalam rencana kali ini.
"Ada satu petinggi dan dua jenderal yang berada di dalam Kediaman Duke Marques, saya juga melihat Nyonya Xielna ada di sana." ucap Liliana dengan raut wajah kecewa, pantas saja Nyonya Riana Marques memiliki rencana untuk memasukkan para prajurit khusus Kediaman Duke Marques untuk menyerang Istana Kerajaan Meztano. Ternyata banyak pihak yang berdiri di belakang dan membantunya secara diam diam selama ini.
"Jadi ada dua mentri dan dua jenderal yang masih belum tertangkap. Mungkin ada puluhan bahkan ratusan prajurit yang ikut serta dalam rencana mereka." ucap Putri Amerilya yang sedang menebak apa rencana mereka selanjutnya.
"Anda bisa mempercayakan keamanan pada para Kesatria White Rose dan Black Night. Untuk keamanan di sekitar istana sepertinya kita memerlukan bantuan para prajurit dari Istana Putri dan Istana Pangeran, hanya mereka yang tak terlibat dalam masalah ini." ucap Liliana yang sedang memberikan saran pada Putri Amerilya tentang penyelesaian masalah pesta makan malam hari ini.
"Waktunya sangat terbatas dan kita tak mungkin bisa mengumpulkan mereka semua." ucap Putri Amerilya yang sedang memperhitungkan waktu yang mereka miliki sekarang ini.
__ADS_1
"Keenam anak duke bisa membantu kita." ucap salah seorang pelayan setia Putri Amerilya.
"Rencana akan gagal jika mereka gegabah dalam mengambil tindakan, hanya dua anak duke yang akan saya mintai bantuan. Kalian kumpulkan semua prajurit di Istana Putri lalu perintahkan setengah dari mereka untuk berjaga jaga di dalam istana utama dan sisanya tetap berada di sini. Setelah itu pergi ke Istana Pangeran untuk meminjam setengah prajurit mereka untuk berjaga di halaman belakang saat pesta berlangsung, jika para pangeran menanyai kalian katakan saja ini perintah Tuan Putri Amerilya." ucap Putri Amerilya yang bergegas pergi dari perpustakaan menuju kamar tamu tempat tinggal Nona Muda Ersa Rucixara dan Nona Muda Alxin Rucixara.
Setelah kepergian Putri Amerilya, Liliana membuat dua kelompok masing masing beranggotakan lima orang pelayan. Liliana dan kelompoknya akan pergi ke istana pangeran dan meminjam setengah prajurit yang mereka miliki sedangkan kelompok yang satunya akan mengumpulkan semua prajurit yang ada di istana putri.
Tok tok tok..
Suara pintu kamar tamu Istana Putri yang diketuk oleh Putri Amerilya. Seseorang membukakan pintu dan melihat ke arah sang putri dengan tatapan bingung, pesta makan malam diadakan dua sampai tiga jam lagi lalu mengapa Putri Amerilya sudah menjemput mereka?.
"Ada apa Tuan Putri Amerilya?." tanya Alxin Rucixara dengan tatapan bingung.
"Bisakah saya masuk kedalam, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada kalian berdua." ucap Putri Amerilya dengan tatapan serius.
Melihat sorot mata sang putri membuat Alxin Rucixara cemas, mungkinkah ada hal buruk yang akan terjadi?. Tanpa berlama la lagi ia mempersilakan Tuan Putri Amerilya untuk masuk ke dalam kamar, Ersa Rucixara yang saat itu sedang berguling guling di atas kasur terkejut dengan kedatangan sang putri. Ersa Rucixara langsung duduk dan memberi salam pada Putri Amerilya, sepertinya ia merasa malu karna Putri Amerilya melihat tingkahnya yang sangat aneh.
"Mengapa kau tak memberitahu terlebih dahulu jika Tuan Putri Amerilya datang." ucap Ersa Rucixara dengan suara pelan serta sorot mata tajam pada Alxin Rucixara.
"Ada hal penting yang ingin dibahas oleh Putri Amerilya. Lagipula itu kesalahanmu sendiri memiliki kebiasaan yang sangat aneh." jawab Alxin Rucixara dengan tatapan datar tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Bisakah kalian berhenti bertengkar, masalah kali ini menyangkut keselamatan nyawa kalian juga." ucap Putri Amerilya dengan nada dingin. Akhirnya kedua Nona Muda dari Kediaman Duke Rucixara diam dan menatap serius ke arah Putri Amerilya.
Hai semuanya author balik lagi nih dengan novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1