
Saat ini kereta kuda yang ditumpangi oleh Putri Amerilya dan kedua pangeran telah sampai di sebuah pasar yang cukup jauh dari Istana Kerajaan Meztano, pasar itu berada di wilayah kekuasaan Duke Lion salah satu duke yang ada di Kerajaan Meztano. Kusir kuda menghentikan laju kudanya tepat di pintu masuk pasar, ia membuka pintu kereta kuda dan mempersilahkan Putri Amerilya beserta kedua pangeran untuk turun.
"Terimakasih paman." ucap Putri Amerilya setelah dibantu turun dari kereta kuda oleh sang kusir.
"Ini sudah tugas dan kewajiban saya Tuan Putri Amerilya." jawab kusir kuda itu dengan senyum hangat.
"Baiklah mari kita masuk ke dalam, jangan lepas gandeng tangan ku saat berada di dalam pasar. Kakak tak ingin kau menghilang karna tertabrak banyak orang." ucap Pangeran Mixo sembari menggendeng tangan mungil Putri Amerilya.
"Baiklah saya mengerti." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar.
Ketiganya masuk ke dalam pasar, saat itu suasana sangat ramai karna banyak orang yang sedang berbelanja untuk kebutuhan mereka meski hari sudah sedikit siang. Saat terdesak oleh banyak orang, pegangan tangan dari Pangeran Mixo tak sengaja terlepas dan Putri Amerilya terpisah dari kedua kakak laki lakinya itu. Pangeran Mixo tak menyadari bahwa sang adik menghilang karna saat ini ia tanpa sengaja menggandeng tangan seorang gadis dan anehnya gadis itu hanya diam sembari menatap pemuda yang sedang menggandengnya dengan tatapan kagum.
"Dimana Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe? bagaimana bisa saya terpisah dengan mereka." ucap Putri Amerilya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Cukup sulit menemukan keberadaan kedua kakak laki lakinya itu karna kondisi pasar yang sangat padat.
"Mereka berdua sudah besar, tak mungkin akan tersesat di tempat ini. Lebih baik aku pergi untuk membeli sesuatu, sepertinya cacing di dalam perutku mulai marah." ucap Putri Amerilya, gadis kecil itu mencoba mencari sebuah kedai ataupun restoran yang ada di dekat pasar.
Putri Amerilya terus berjalan menembus puluhan orang dewasa yang hampir saja menginjaknya, memiliki tubuh mungil seperti ini memang sedikit menyusahkan. Untunglah sang putri sampai di bagian pasar yang tak terlalu ramai dan ia bisa bernafas dengan lega di sana. Putri Amerilya menatap papan nama sebuah restoran yang ada di seberangnya, putri kecil itu berjalan kemudian ingin masuk kedalam restoran namun ditahan oleh beberapa penjaga.
"Anak kecil dilarang masuk sendirian, dimana kedua orang tuamu adik kecil?." ucap seorang penjaga restoran sembari menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan tajam.
"Permisi paman saya ingin makan di restoran ini dan saya membawa sejumlah uang, tolong izinkan saya untuk masuk ke dalam." ucap Putri Amerilya dengan sangat sopan pada beberapa penjaga restoran yang ada di hadapannya itu.
"Apa kau tersesat?" tanya salah seorang penjaga restoran yang langsung berjongkok agar lebih mudah berbincang bincang dengan anak perempuan itu.
"Saya datang kesini bersama dengan kedua kakak laki laki saya, namun saat melalui bagian depan pasar banyak orang yang berdesakan sehingga saya terpisah dengan mereka. Saat berangkat ke sini saya hanya minum susu hangat saja, karna itu saya kelaparan sekarang." ucap Putri Amerilya dengan tatapan sedih, ia mengusap perutnya yang keroncong itu.
"Baiklah jika begitu silahkan masuk kedalam, jika uang yang kau bawa kurang katakan saja pada kami." ucap para penjaga gerbang itu yang mempersilahkan Putri Amerilya untuk masih ke dalam restoran.
"Terimakasih paman, saya masuk ke dalam terlebih dahulu." ucap Putri Amerilya yang langsung masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
Restoran itu bernama Restoran Permata Merah karna hampir seluruh interior yang ada di sana berwarna merah. Saat putri kecil itu masuk ke dalam banyak pengunjung yang menatapnya dengan tatapan bingung, mereka seperti sedang mencari dimana orang tua dari anak perempuan itu dan mengapa ia masuk ke dalam restoran sendirian. Seorang pria datang menghampiri Putri Amerilya kemudian mempersilahkannya duduk di salah satu tempat kosong.
"Dimana orang tuamu nak?." tanya pria itu dengan tatapan bingung.
"Saya terpisah dengan kedua kakak laki laki saya Tuan." ucap Putri Amerilya yang menyadari bahwa pria yang sedang duduk dihadapannya itu adalah pemilik restoran. Hal itu terlihat dari pakaian yang ia gunakan berbeda dengan para pelayan maupun penjaga yang ada di restoran itu.
"Pesanlah sesuatu, kau tak perlu membayarnya." ucap pria itu dengan tatapan iba. Betapa malangnya anak perempuan itu karna terpisah dari kedua kakaknya, semoga kakak anak perempuan itu segera menyadari bahwa adik kecil mereka telah menghilang.
"Amerilya membawa sejumlah uang yang cukup untuk membayar makan, bagaimana bisnis paman bisa berjalan dengan baik jika memberi makan gratis pada saya? saya akan memesan makanan dan membayarnya." ucap Putri Amerilya dengan tegas dan tak ingin dibantah oleh pria pemilik toko itu. Meskipun memberi sesuatu adalah hal yang baik namun Putri Amerilya membawa uang dan sanggup untuk membayar makanannya nanti.
"Baiklah, silahkan pesan sesuatu yang Anda inginkan." ucap tuan pemilik restoran yang bisa menebak bahwa anak perempuan dihadapannya adalah anak seorang bangsawan.
Tak lama setelahnya Putri Amerilya memanggil seorang pelayan restoran untuk mencatat makanan yang ia pesan, seorang pelayan wanita menghampiri anak perempuan itu kemudian mulai mencatat pesanannya. Putri Amerilya memesan satu mangkuk mie pangsit, jus mangga, serta beberapa potong ayam goreng. Setelah mencatat semua pesanan dari anak kecil itu sang pelayan langsung pergi menuju dapur dan meminta koki untuk membuatkan pesanan itu.
"Ah iya saya lupa memperkenalkan diri. Saya Arges Linero pemilik restoran ini, lalu siapakah Nona Muda?." tanya Tuan Arges Linero.
"Dimanakah Anda tinggal? jika kedua kakak laki laki Anda tak kunjung datang maka saya akan mengantar Anda pulang." ucap Tuan Arges Linero dengan sangat ramah pada anak perempuan yang ada di hadapannya itu. Entah bagaimana reaksinya setelah mengetahui jika anak perempuan itu adalah Tuan Putri Amerilya.
Saat Putri Amerilya ingin me jawab dimana ia tinggal tiba tiba saja terdengar suara gaduh dari luar restoran, dengan segera Tuan Arges Linero dan Putri Amerilya berlari ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Terlihat beberapa orang dengan bekas luka di wajah mereka serta tato yang hampir menutupi seluruh bagian lengan sedang bertarung dengan para penjaga restoran itu.
"Hentikan!! mengapa kalian mengacau di tempat ku." bentak Tuan Arges Linero dengan tatapan tajam. Ia tak memiliki kesalahan apapun pada mereka namun tiba tiba mereka mengacau di tempatnya.
Seseorang muncul dari belakang orang orang bertato itu dengan melemparkan tubuh seorang pemuda yang seumuran dengan Pangeran Luxe, Putri Amerilya menatap ke arah pemuda itu dengan tatapan bingung. Tuan Arges Linero berlari dan langsung memeluk tubuh si pemuda yang sudah tak berdaya, ia menatap tajam ke arah pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Apa yang kau lakukan pada putraku!." ucap Tuan Arges penuh dengan kemarahan.
"Putramu itu membalas saat putraku sedang memukulinya, seharusnya ia tau status Keluarga Kyne lebih tinggi dari Keluarga Linero." ucap pria itu dengan sombong, Putri Amerilya sangat kesal ketika melihat gelagatnya dan ingin memukul pria tersebut dengan sangat kencang jika bisa hingga ia pingsan.
Di sisi lain saat ini Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe sudah sampai di depan toko baju yang menyediakan berbagai jenis gaun dengan harga yang sangat mahal. Pangeran Mixo menoleh ke arah samping kanannya dan ia menatap bingung pada gadis asing yang berada di sampingnya itu.
__ADS_1
"Siapa kau dan dimana adik kami?." tanya Pangeran Mixo dengan raut wajah khawatir. Jangan bilang Putri Amerilya terpisah dengannya saat berada di kerumunan orang tadi dan tanpa sadar sang pangeran menggandeng orang lain.
"Bagaimana bisa kau tak bisa membedakan tangan kecil adik kita dengan tangan gadis dewasa seperti ini." ucap Pangeran Luxe dengan raut wajah kesal, mengapa kakaknya itu sangat ceroboh.
"Ayah akan memenggal kepala kita jika sampai adik tak ketemu, bagaimana kita bisa mencarinya di tempat seramai ini?." ucap Pangeran Mixo dengan frustasi, Putri Amerilya adalah anak perempuan satu satunya dari ayah dan ibu mereka jika sampai putri kecil itu tak ketemu juga maka kedua pangeran tak akan berani kembali ke Istana Kerajaan Meztano.
"Jika saya boleh tau siapa kedua Tuan Muda ini? saya akan meminta ayah untuk membantu kalian mencari adik perempuan kalian yang hilang. Sebelumnya perkenalkan saya Hilma Lion putri kedua dari Tuan Duke Yosan Lion." ucap gadis itu yang sedang memperkenalkan dirinya pada kedua pangeran. Mungkin Nona Hilma Lion sudah lupa dengan wajah Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe karna ia sudah tak berkunjung ke Istana Kerajaan Meztano selama beberapa tahun terakhir.
"Saya Pangeran Mixo dan ini adik saya Pangeran Luxe. Sebaiknya Anda memberitahu Tuan Duke Yosan Lion agar membantu kami mencari Putri Amerilya, jika sampai ayah turun tangan mungkin pasar ini bisa dibubarkan." ucap Pangeran Mixo dengan wajah pucat, ia khawatir Putri Amerilya diculik oleh seseorang kemudian di jual ke pasar gelap.
"Jadi kalian anggota Keluarga Kerajaan Meztano? dan anak perempuan yang hilang adalah Tuan Putri Amerilya?. Cepat ikut saya pergi ke Kediaman Duke Lion untuk memberitahu hal ini pada ayah, jangan sampai sesuatu terjadi pada Tuan Putri Amerilya." ucap Nona Muda Hilma Lion dengan ekspresi terkejut sekaligus khawatir. Putri Amerilya adalah putri tunggal dari Raja Azvago dan Ratu Zivaya, jika sampai sang putri benar benar hilang dan tak ditemukan di wilayah Duke Lion mungkin saja Raja Azvago akan membunuh ayahnya itu.
Ketiganya bergegas pergi menuju Kediaman Duke Lion yang jaraknya cukup jauh dari pasar, untuk mempersingkat waktu mereka berubah menjadi elemen sihir masing masing dan mulai melesat menuju Kediaman Duke Lion. Di sisi lain saat ini Putri Amerilya masih menyaksikan perdebatan antara Keluarga Linero dengan Keluarga Kyne, telinga sang putri hampir meledak setelah mendengar Tuan Hanz Kyne terus mencaci maki Tuan Arges Linero.
"Lalu apa bagusnya Keluarga Kyne itu? mengapa kalian sangat angkuh dan sombong seperti itu. Apa kalian merasa lebih hebat dari pada Duke dan juga Keluarga Kerajaan Meztano? mereka saja bisa memperlakukan orang lain dengan baik, sedangkan Anda sangat senang merendahkan orang lain dihadapan publik seperti ini." ucap Putri Amerilya secata terang terangan, sang putri menatap Tuan Hanz Kyne dengan tatapan sinis.
Hanz Kyne dan beberapa orang bertato yang menjadi bawahnya mengalihkan pandangan mereka pada seorang anak perempuan kecil yang dengan berani mengatakan hal itu di depan Hanz Kyne. Tuan Arges Linero memberikan isyarat dan meminta anak perempuan bernama Amerilya itu untuk diam, saat ini ia sedang melindungi putranya sehingga tak bisa melindungi anak perempuan itu juga.
"Darimana anak ingusan ini berasal? apa kau ingin diinjak hingga mati!." bentak Tuan Hanz Kyne dengan tatapan tajam.
Para penjaga Restoran Permata Merah langsung menghampiri Putri Amerilya dan berusaha melindungi anak perempuan itu. Tuan Hanz Kyne meminta bawahannya yang berjumlah dua belas orang untuk memberi pelajaran pada para penjaga restoran.
"Kalian sudah terluka sangat parah, jangan melindungi Amerilya lagi. Amerilya bukanlah gadis kecil yang tak bisa menjaga diri sendiri." ucap Putri Amerilya yang meminta para penjaga restoran untuk mundur.
"Anda masih sangat kecil Nona Muda, sebaiknya Anda pergi sebelum Tuan Hanz Kyne melakukan hal yang lebih buruk." ucap beberapa penjaga restoran yang bersikeras melindungi Putri Amerilya dari bawahan Hanz Kyne.
Beberapa penjaga dari Restoran Permata Merah dipukul hingga babak belur oleh para pria bertato itu, Putri Amerilya meremas tangannya dengan kuat. Hanya karna badannya kecil bukan berarti ia tak bisa melakukan apapun, para paman penjaga restoran itu telah memperlakukannya dengan baik dan Putri Amerilya akan membalas kebaikan mereka.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1