PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Undangan Pesta Ulang Tahun Putri Amerilya


__ADS_3

Setelah mendengar saran dari Putri Amerilya sang raja bergegas pergi dari ruangan khusus Ibu Suri Sinya, ia akan mengatakan hal ini secara langsung pada Ciela Marques bahwa dirinya tak bisa mengangkat gadis itu menjadi seorang anggota Keluarga Kerajaan Meztano. Di sisi lain Ibu Suri Sinya tersenyum lebar, sangat melegakan memiliki seorang cucu perempuan yang berwawasan luas serta memiliki pemikiran yang sangat terbuka seperti Putri Amerilya.


"Apa kau ingin tetap di sini cucuku?." tanya Ibu Suri Sinya sembari melihat ke arah jendela ruangannya. Matahari mulau menenggelamkan diri dan sebentar lagi malam akan tiba, besok pagi semua orang akan disibukan dengan persiapan ulang tahun Putri Amerilya yang akan dilaksanakan dua tiga hari mulai hari ini.


"Nenek sudah selesai bekerja? jika nenek sudah selesai saya akan kembali ke istana putri." jawab Putri Amerilya sembari membuka matanya perlahan. Karna terlalu lama berbincang bincang dengan sang ayah ia sampai tak sadar bahwa hari sudah selarut ini.


"Nenek sudah menyelesaikan tugas hari ini, sebaiknya kau segera kembali ke istana putri. Nenek yakin kedatangan mu kemari tanpa memberitahu para pelayan terlebih dahulu." ucap Ibu Suri Sinya dengan sangat tepat.


Putri Amerilya bangun dari tidurnya kemudian ia berpamitan untuk pergi dari ruangan itu, dengan segera sang putri bergegas keluar dari ruangan Ibu Suri Sinya dan meninggalkan istana utama. Saat Putri Amerilya baru saja keluar dari istana utama ia melihat Liliana sedang berlari ke arahnya dengan raut wajah khawatir.


"Mengapa Tuan Putri tak memberitahu saya saat ingin pergi ke istana utama dalam waktu lama?." tanya Liliana, wajah pelayan itu menunjukkan ekspresi marah. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada putri kecil mereka itu? saat ini di istana utama masih ada Ciela Marques yang memiliki dendam pribadi pada Putri Amerilya.


"Maaf karna tak berpamitan terlebih dahulu, saya seharian menemani Ibu Suri di dalam ruangannya." ucap Putri Amerilya sembari menundukkan kepalanya, ia merasa sangat bersalah karna membuat para pelayan di istana putri merasa khawatir padanya.


"Sudahlah mari kita kembali sekarang Tuan Putri Amerilya, Anda belum makan apapun sedari pagi bagaimana jika Anda sakit nanti." ucap Liliana dengan raut wajah khawatir, pelayan itu menarik tangan Putri Amerilya pelan dan membawanya kembali ke istana putri.


Di sisi lain saat ini Yang Mulia Raja Azvago sudah berada di dalam ruangan khusus yang ditempati oleh Ciela Marques, gadis itu sedang menatap ke arah Putri Amerilya dengan binar mata yang sangat cerah. Entah mengapa Ciela Marques sangat percaya diri bahwa dirinya akan diangkat menjadi bagian dari anggota Keluarga Kerajaan Meztano. Yang Mulia Raja Azvago menghela nafas panjang kemudian menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan serius, ia tak bisa mengangkat gadis itu menjadi anaknya karena memiliki hati yang sangat jahat.


"Maaf karna saya tak bisa mengangkat Nona Ciela Marques menjadi putri saya. Saya hanya ingin memiliki seorang putri saja yaitu Tuan Putri Amerilya." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan raut wajah tenang, ia merasa sangat lega setelah mengatakan hal itu pada Ciela Marques.


Ciela Marques mengambil sebuah kertas kemudian menuliskan sesuatu di kertas itu, Ciela Marques menunjukkan ekspresi sedih sembari menunjukkan tulisan pada Raja Azvago.


"Maaf sekali lagi, tak ada anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang setuju dengan permintaan mu. Nona Ciela Marques bisa tinggal di dalam Istana Kerajaan Meztano untuk beberapa hari kedepan." ucap Raja Azvago kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Setelah kepergian Yang Mulia Raja Azvago, Ciela Marques meremas kertas yang ada di tangannya dengan erat kemudian memukul meja yang ada di hadapannya dengan kencang.


Di tempat lain tepatnya Kerajaan Bulan (Belgize), Raja Ruzel mendapatkan undangan dari Kerajaan Meztano. Di dalam undangan tersebut terdapat tulisan ulang tahun yang ketiga putri dari Yang Mulia Raja Azvago, setelah membaca bagian depan dari undangan tersebut Raja Ruzel mengerutkan keningnya.


"Raja Azvago memiliki seorang anak perempuan? apakah itu anak kandung ataukah anak angkatnya?." tanya Raja Ruzel pada dirinya sendiri. Sebagai salah satu teman Raja Azvago ia mengetahui cerita bahwa temannya itu mendapat sebuah kutukan yang membuatnya tak bisa memiliki anak perempuan. Setiap anak perempuan yang lahir menjadi keturunan Raja Azvago akan mati setiap mereka menginjak usia dua tahun.

__ADS_1


"Ada apa suamiku?." tanya Ratu Luncia yang melihat ekspresi bingung dari suaminya.


"Dua hari lagi kita akan pergi ke Kerajaan Meztano, Yang Mulia Raja Azvago mengundang kita semua untuk datang di pesta ulangtahun putrinya." ucap Raja Ruzel secara terang terangan pada sang istri. Entah itu anak kandung ataukah anak angkat dari Raja Azvago, semua anggota Keluarga Kerajaan Belgize akan datang.


"Sudah lama kita tak datang mengunjungi teman mu itu, lebih baik kita mengajak semuanya untuk pergi." ucap Ratu Luncia yang memberikan saran pada suaminya. Ratu Luncia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Ratu Zivaya, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan teman lamanya itu.


"Haruskah kita mengajak Selir Yui dan anak anaknya?." tanya Raja Ruzel pada sang Ratu, ia merasa enggan untuk mengajak istri keduanya itu berkunjung ke Kerajaan Meztano.


"Bagaimanapun juga dia tetaplah istrimu, meski kau tak menyukainya kau harus tetap memperlihatkannya dengan baik suamiku." jawab Ratu Luncia dengan senyuman manis di wajah cantiknya.


Inilah yang membuat Raja Ruzel sangat mencintai Ratu Luncia, ratunya itu memiliki hati yang sangat baik meski Selir Yui sering membuat masalah untuknya. Raja Ruzel terpaksa menikah dengan Selir Yui karna saat itu ia sedang mabuk saat menghadiri pesta makan malam yang diadakan salah seorang bangsawan di wilayah Kerajaan Belgize, setelah pulang dari pesta itu ia tak sengaja meniduri seorang gadis dan membuat gadis itu hamil mengandung anaknya.


Setelah menikah dengan Raja Ruzel dan diangkat menjadi seorang selir, Selir Yui sering mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang permaisuri karna posisi sebagai seorang selir sangat rendah untuknya. Selain itu Selir Yui beberapa kali membuat rencana untuk menyingkirkan Ratu Luncia ataupun anak anaknya namun ia selalu gagal karna rencananya diketahui oleh beberapa orang yang berada di pihak Ratu Luncia.


"Baiklah Ratuku, aku akan menuruti semua perkataan mu." ucap Raja Ruzel kemudian mencium kening ratunya itu penuh dengan kasih sayang.


Saat orang orang dari wilayah Kerajaan Belgize sibuk mencari tau tentang identitas sang putri saat itu juga kedua putra dari Duke Rigel Elister sedang kebingungan memilih kado yang cocok untuk tuan putri kecil mereka. Nyonya Muchela Elister dibuat geleng geleng kepala dengan tingkah kedua putranya itu.


"Putri Amerilya masih sangat kecil, mengapa kalian berdua sudah bertengkar untuk memperebutkannya?." tanya Nyonya Mucela Elister dengan tatapan bingung. Mungkinkah kedua putranya itu sudah jatuh cinta pada seorang anak perempuan yang baru akan menginjak usia tiga tahun?.


"Putri Amerilya sangat cantik dan juga menggemaskan, saat ia tumbuh dewasa nanti salah satu dari kami akan mengejarnya." jawab Tuan Muda Edwig Elister dengan tegas pada sang ibu. Ia tak bisa membiarkan Putri Amerilya jatuh ke tangan bangsawan lain ataupun keluarga kerajaan lain.


"Kalian ingin menjadikannya menanti keluarga Elister??." tanya Nyonya Mucela Elister yang sedang berusaha untuk menahan tawanya.


"Benar, suatu hari nanti Tuan Putri Amerilya akan menjadi menantu di keluarga ini karna itulah mulai sekarang kami berdua akan menentukan siapa yang pantas untuk mengejarnya nanti." jawab Tuan Muda Rostow Elister dengan tatapan dingin yang ia berikan pada Edwig Elister.


"Kalian berdua masih sangat kecil untuk memikirkan hal hal seperti itu. Untuk saat ini kalian harus fokus berlatih dan belajar agar masuk ke akademi ternama, setelah lulus nanti baru kalian bisa memutuskan siapa yang layak bersaing dengan kandidat lain untuk mendapatkan Tuan Putri Amerilya." ucap Nyonya Mucela Elister yang sedang memberikan saran pada kedua putranya itu.

__ADS_1


Edwig Elister dan Rostow Elister saling bertatapan satu sama lain, beberapa menit setelahnya mereka menganggukkan kepala secara bersamaan sebagai pertanda bahwa keduanya setuju dengan saran yang diberikan sang ibu. Saat ini Edwin Elister masih berusia tuju tahun sedangkan Rostow Elister masih berusia lima tahun, keduanya masih sangat kecil bila harus memperdebatkan masalah itu sekarang.


"Sekarang kalian pikirkan secara baik-baik, hadiah seperti apa yang disukai oleh Tuan Putri Amerilya. Ibu akan pergi berjalan-jalan di sekitar pasar untuk menemukan sebuah hadiah untuk Tuan Putri dan kalian berdua jangan bertengkar lagi." ucap Nyonya Mucela Elister yang langsung keluar dari ruang keluarga dan pergi dari Kediaman Duke Elister menuju pasar terdekat.


Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang makan bersama dengan kesepuluh pelayan setianya, semua pelayan Putri Amerilya merasa lega karna putri kecil mereka kembali dalam kondisi baik baik saja. Putri Amerilya mengambil beberapa daging bakar dan juga roti mentega kemudian memakannya dengan lahap. Saat sedang makan Liliana melihat raut wajahnya khawatir yang ditunjukkan oleh Putri Amerilya, Liliana ingin tau masalah apa yang sedang menganggu putri kecil itu.


"Tuan Putri baik baik saja? apakah ada yang menganggu fikiran Anda?." tanya Liliana saat Putri Amerilya masih menyantap makanannya dengan lahap. Putri Amerilya memberikan isyarat pada Liliana bahwa ia ingin makan terlebih dahulu kemudian menceritakan semua yang menjadi beban fikirannya.


"Ah maaf karna saya lupa saat ini Anda sedang makan." ucap Liliana dengan senyuman lebar di wajahnya wajahnya.


Putri Amerilya mengambil beberapa potong daging dan sayuran setelah itu ia meminum susu hangat yang telah disiapkan oleh para pelayan, setelah selesai makan Putri Amerilya diam beberapa saat kemudian menatap kearah para pelayannya itu dengan tatapan serius.


"Saya sedang memikirkan sebuah cara untuk menyingkirkan Ciela Marques dari istana ini sebelum pesta ulang tahun berlangsung." ucap Putri Amerilya dengan sorot mata tajam, ia takut Ciela Marques akan merusak hari bahagianya itu. Kehadiran Ciela Marques di istana utama membuat banyak orang merasa tak tenang salah satunya Putri Amerilya, gadis licik itu memiliki jutaan cara untuk membalas perbuatan Putri Amerilya dan Keluarga Kerajaan Meztano terhadap seluruh keluarganya yang telah tewas.


"Saya juga sangat terkejut setelah mengetahui Yang Mulia Raja Azvago membiarkan Ciela Marques tetap hidup, gadis itu lebih berbahaya dari ibunya." ucap Juylin sang pelayan dengan mata dan rambut berwarna hitam legam.


"Saat berada di ruangan Ibu Suri, tiba tiba ayah datang dan meminta saran pada nenek. Ayah mengatakan bahwa Ciela Marques memiliki sebuah permintaan yaitu diangkat menjadi putri dari Yang Mulia Raja Azvago. Untunglah saat itu nenek menolaknya dengan tegas, nenek juga mengatakan bahwa ia akan melengserkan Raja Azvago dari tahtanya jika hal itu sampai terjadi." ucap Putri Amerilya yang sedang menceritakan kejadian saat ia berada di ruangan khusus Ibu Suri Sinya.


"Ciela Marques sudah melewati batas, jika Putri Amerilya mengizinkan maka kami akan turun tangan untuk membunuhnya." ucap seorang pelayan dengan rambut berwarna putih disertai mata coklat tua.


"Akan sangat mencolok jika kalian membunuhnya secara terang terangan, mungkin sang pelayan yang saat ini bertugas melayani Ciela Marques akan berfikir semua itu ulah ayah." ucap Putri Amerilya yang tak setuju dengan saran pelayan itu.


"Tuan Putri benar, nama Yang Mulia Raja Azvago akan tercemar jika kita melakukannya." ucap Liliana yang setuju dengan pemikiran Putri Amerilya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?." tanya seorang pelayan yang ingin mengetahui rencana dari tuan putri kecil mereka.


"Kita harus mencari sebuah cara agar kematian Ciela Marques seolah olah perbuatan orang lain yang selama ini menjadi musuh Keluarga Duke Marques. Semasa hidupnya Duke Zidan Marques memiliki banyak musuh karna sikap serta perilakunya yang sangat buruk. Wajar saja bila Ciela Marques mati di tangan musuh ayahnya sendiri." ucap Putri Amerilya dengan sorot mata dingin dan senyuman sinis yang membuat beberapa pelayan merinding setelah melihatnya.

__ADS_1


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2