
Setelah urusannya selesai Duke Zidan Marques langsung pulang ke kediamannya, karna pria itu tak terlalu suka berada di luar rumah dalam waktu yang lama. Setibanya di rumah sang duke mendapati ketiga putranya sedang menunggu di depan ruang kerja miliknya.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?." tanya Duke Zidan Marques dengan ekspresi keheranan, mengapa ketiga putranya berada di sana seharusnya mereka beristirahat di kamar masing masing.
"Kami ingin melaporkan beberapa hal mengenai bandit hutan yang menyerang Keluarga Kerajaan Meztano." ucap Arges Marques dengan tatapan serius.
Duke Zidan Marques mempersilahkan ketiga anak laki lakinya untuk masuk kedalam ruang kerja pribadi milik sang duke, ketiga putra Duke Zidan Marques duduk di kursi yang telah disediakan.
"Katakan hal apa yang ingin kalian sampaikan?." tanya Duke Zidan Marques.
"Sepertinya para bandit hutan itu sudah mengincar rombongan Keluarga Kerajaan Meztano sedari awal, karna mereka menyiapkan semuanya dengan baik dan juga rapi." ucap Arges Marques, ia curiga para bandit hutan mendapatkan informasi tersebut dari orang dalam.
"Menurut kalian mengapa para bandit itu bisa mengetahuinya jika rombongan Kerajaan Meztano akan melintas di wilayah kita?." tanya Duke Zidan Marques, ia ingin mendengat pendapat dari ketiga putranya itu.
"Saya mendapat informasi dari Pangeran Mixo, sang pangeran mengatakan bahwa mereka baru saja kembali dari wilayah Kekuasaan Duke Rigel Elister. Mungkinkah para bandit hutan itu mendapatkan informasi dari seseorang yang tinggal di kediaman Duke Rigel Elister, atau mereka membelikan informasi itu dari seorang mata mata." jawab Bristo Marques putra ketiga dari Duke Zidan Marques yang usianya baru menginjak enam tahun.
"Tuan Duke Rigel Elister memiliki sistem keamanan yang ketat di kediamannya, lagipula semua pelayan dan prajurit yang bekerja untuk Keluarga Elister memiliki tingkat kejujuran yang tinggi." ucap Duke Zidan Marques yang sudah mengenal Keluarga Duke Elister sejak lama.
"Ataukah dari awal perjalanan rombongan Kerajaan Meztano sudah direncakan oleh seseorang?." ucap Eren Marques, ia curiga ada seorang penghianat yang ikut di rombongan kerajaan itu. Namun siapa yang berani menghianati Kerajaan Meztano? para prajurit kerajaan ataupun Kesatria Black Night tak akan melakukan hal sehina itu pada Kerajaan Meztano yang mereka cintai.
"Kusir kereta kuda." jawab Arges Marques yang curiga pada kusir yang membawa kereta kuda anggota keluarga kerajaan.
"Kita harus melakukan penyelidikan lebih lanjut, kalian bisa mengintrogasi beberapa bandit hutan untuk mendapatkan jawaban." ucap Duke Zidan Marques, ia sering melatih anak anaknya untuk memecahkan sebuah masalah yang terjadi. Semua ini ia lakukan demi masa depan ketiga putranya itu, di masa depan akan banyak penipu handal yang mencoba untuk mendekati mereka.
Hari sudah mulai malam Putri Amerilya keluar dari dalam kamar tamu karna merasa jenuh, gadis itu sangat ingin berjalan jalan mencari udara segar. Tanpa sengaja Putri Amerilya berpapasan dengan Duke Zidan Marques yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, sang duke melihat ke arah Putri Amerilya dengan tatapan dingin.
"Selamat malam Tuan Duke Zidan Marques." ucap Putri Amerilya dengan senyuman manis, anak perempuan itu menyapa sang duke dengan sangat sopan.
"Selamat malam tuan putri." jawab Duke Zidan Marques Kemudian pergi meninggalkan Putri Amerilya tanpa mengucapkan apapun lagi.
Putri Amerilya mulai terbiasa dengan sikap dingin sang duke, ia tak bisa memaksakan semua orang membentuk sebuah karakter yang ia sukai. Semua orang pasti memiliki sisi baik dan buruk dalam diri mereka masing masing, Putri Amerilya merasa lega karna sang duke hanya bersikap dingin pada orang luar saja dan sangat hangat pada keluarganya.
__ADS_1
Putri Amerilya terus berjalan di sekitar kediaman Duke Marques sampai anak perempuan itu merasakan kehadiran orang lain yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, dengan cepat putri kecil itu melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mengambil pedang yang ia tinggalkan di dalam kamar.
"Sepertinya ada yang sedang mengikuti ku." ucap Putri Amerilya, ia melihat ke kanan dan ke kiri kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan rapat.
Di luar kamar Putri Amerilya ada dua orang dengan pakaian serba hitam sedang menunggu putri kecil itu kembali keluar dari kamarnya, kemungkinan besar kedua orang itu pembunuh bayaran yang disewa oleh seseorang.
"Kita sudah sangat lama menunggu di luar, mungkin anak itu tak akan keluar dari kamarnya." ucap seorang pria berpakaian serba hitam itu pada temannya.
"Sabarlah sedikit lagi, gadis itu tak akan menyadari keberadaan kita." ucap pria lainnya.
"Sampai kapan kita akan menunggu? nona akan marah besar pada kita nanti." ucap pria pertama yang terus mengajak temannya yang untuk menerobos kamar Putri Amerilya.
"Jika sebentar lagi sang putri tak kunjung keluar, kita akan masuk melewati atap." ucap teman dari pria tersebut.
Anak perempuan yang sedang menjadi incaran pembunuh bayaran itu tengah mencari sebuah cara agar nyawanya selamat, akhirnya sang putri keluar melalui jendela kamar mandi. Setelah berhasil keluar dari kamar, Putri Amerilya langsung pergi ke tempat para Kesatria Black Night tinggal.
Seorang prajurit kediaman Duke Zidan Marques melihat sang putri sedang berlarian dengan wajah pucat, karna khawatir sesuatu sedang terjadi pada sang putri akhirnya prajurit itu datang menghampiri Putri Amerilya.
"Ada dua pembunuh bayaran yang sedang bersembunyi di pohon besar dekat dengan kamar saya." bisik Putri Amerilya pada prajurit itu. Namun sang prajurit tampak tak percaya dengan perkataan sang putri, prajurit tersebut berasumsi saat ini Putri Amerilya sedang kelelahan dan mulai berhalusinasi.
Bagaimana bisa pembunuh bayaran masuk kedalam Kediaman Duke Marques yang memiliki keamanan super ketat, jika ada orang yang ingin masuk ke kediaman duke memerlukan izin langsung dari anggota keluarga. Prajurit itu memanggil seorang pelayan yang sedang melintas, dan meminta pelayan itu untuk mengantar Putri Amerilya kembali ke kamarnya.
"Saya sedang tidak bercanda." ucap Putri Amerilya dengan kesal, meski ia memiliki kemampuan berpegang yang baik, kemampuannya masih kurang untuk menghadapi kedua pembunuh bayaran yang sedang menunggu di depan kamarnya.
"Anda pasti sangat kelelahan hingga berhalusinasi, sebaiknya tuan putri istirahat di kamar anda." ucap sang prajurit yang tetap meminta sang putri kembali ke kamar.
Dari kejauhan Arges Marques datang karna mendengar pertengkaran antara prajurit dengan seseorang, setelah dilihat dari dekat prajurit itu sedang menarik paksa Putri Amerilya. Melihat hal itu membuat Arges Marques terkejut dan segera berlari untuk menyelamatkan sang putri, untunglah Arges Marques datang tepat waktu.
"Apa yang kau lakukan pada Tuan Putri Amerilya!!." tanya Arges Marques dengan tatapan tajam dan suara yang cukup tinggi.
"Tuan Putri Amerilya bersikeras bahwa ada dua orang pembunuh bayaran yang menunggu di depan kamarnya." ucap sang prajurit dengan raut wajah jengah.
__ADS_1
"Apakah itu benar tuan putri? bagaimana anda bisa keluar dari kamar?." tanya Arges Marques, tatapan pemuda itu mengatakan jika sang putri berbohong maka ia akan menghukum putri kecil itu.
"Aku keluar melalui jendela kamar mandi karna tak terlalu tinggi, jika kalian tak percaya mari ikut denganku untuk masuk kedalam kamar." ucap Putri Amerilya dengan tatapan serius. Putri Amerilya sudah lelah dianggap pembohong oleh sang prajurit dan pelayan wanita yang berdiri di belakangnya.
"Baiklah kami akan ikut dengan anda." ucap Arges Marques, ia mengajak sang prajurit dan juga pelayan itu untuk mengikuti sang putri kecil.
Putri Amerilya mengajak mereka semua masuk ke dalam kamar tamu melalui jendela kamar mandi, setelah semua orang berhasil masuk kedalam Putri Amerilya meminta mereka untuk diam.
"Mereka sudah ada di dalam kamar." ucap Putri Amerilya dengan suara pelan, ia bisa mengetahui hal itu karna mendengar suara langkah kaki dari dalam kamarnya.
"Benarkah?." tanya sang prajurit dengan suara berbisik.
"Aku akan membuka pintu kamar mandi perlahan." ucap Arges Marques, pemuda itu membuka pintu kamar mandi secara perlahan lalu mengintip ke dalam kamar.
Benar saja ada dua orang pria dengan pakaian serba hitam sedang membuka lemari baju, melihat ke kolong kamar tidur, dan mencari sesuatu ke sudut sudut lain. Ternyata apa yang dikatakan oleh Putri Amerilya benar, siapa yang sedang menargetkan nyawa putri kecil di sampingnya ini. Arges Marques meminta sang prajurit dan pelayan untuk keluar lagi melalui jendela kamar mandi, lalu memanggil kedua pangeran serta tuan duke untuk datang ke kamar tamu yang ditempati oleh Putri Amerilya.
"Apa yang anda lakukan sekarang?." tanya Putri Amerilya pada Tuan Muda Arges Marques, mungkinkah pemuda yang ada di sampingnya itu ingin melawan kedua pembunuh bayaran sendirian?.
"Saya dengar anda bisa menggunakan pedang?." ucap Arges Marques dengan tatapan aneh pada sang putri kecil. Pemuda itu akan berbicara secara formal pada saat saat tertentu saja, Putri Amerilya hanya menganggukkan kepala saja mendapati pertanyaan seperti itu.
"Baiklah anda harus membantu saya melawan mereka tuan putri." ucap Arges Marques yang langsung menendang pintu kamar mandi dengan sangat kencang, hal itu membuat kedua pembunuh bayaran terkejut dan langsung menodongkan pedang mereka.
Ternyata Putri Amerilya memiliki respon yang lebih cepat daripada Arges Marques, sehingga gadis itu bisa menghindari serangan sang pembunuh bayaran. Arges Marques mendapat sebuah luka goresan di lengan sebelah kirinya, pembunuh bayaran yang satunya berusaha menangkap Putri Amerilya.
"Berhentilah bocah kecil, jangan berlarian kesana kemari?." ucap pembunuh bayaran yang sedang mengejar ngejar Putri Amerilya.
"Jika saya berhenti anda akan membunuh saya." ucap Putri Amerilya yang terus berlarian agar tak tertangkap oleh sang pembunuh bayaran.
Putri Amerilya tak lelah mengecoh para pembunuh bayaran, setelah pembunuh bayaran itu merasa lelah Putri Amerilya segera mengambil pedangnya dan menyerang pembunuh bayaran itu. Karna hal itu seorang pembunuh bayaran pingsan dengan dengan luka yang cukup parah, teman dari pembunuh bayaran itu sangat terkejut dengan kemampuan berpegang seorang anak berusia dua tahun yang sangat cepat dan tajam dalam setiap serangan.
"Astaga, mengapa anak kecil sepertimu lebih menakutkan dari anak laki laki ini." ucap pembunuh bayaran yang masih tersisa, ia melepaskannya Arges Marques dan beralih menyerang Putri Amerilya.
__ADS_1
Hai semuanya aku update lagi novel ku yang ini. Jangan lupa dukungannya ya dengan cara vote, gift hadiah apapun makasih banget, like semua chapter, komen di setiap chapternya, rate bintang lima ya guys, share juga ke temen temen kalian.