PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Siapa Saja Yang Terlibat?


__ADS_3

Putri Amerilya berjalan dengan cepat menuju Istana Utama, saat melintasi taman gadis itu melihat seorang pria sedang berbincang bincang dengan beberapa prajurit di halaman samping istana. Karna penasaran dengan apa yang mereka bicarakan akhirnya Putri Amerilya merangkak dan berusaha mendekati mereka secara diam diam. Setelah cukup dekat Putri Amerilya langsung membelalakkan matanya, pria itu adalah sang mentri yang selalu dekat dengan sang ayah akhir akhir ini meski ia tak berhubungan dengan keamanan wilayah Kerajaan Meztano. Jika Putri Amerilya tak salah ingat pria itu adalah Tuan Moren Luzent yang bertugas untuk mengelola sumber daya di wilayah Kerajaan Meztano.


"Ini uang untuk kalian, tugas kalian hanyalah menutup ruang makan dengan rapat dan jangan biarkan prajurit ataupun para kesatria masuk kedalam saat terjadi kekacauan di sana." ucap Moren Luzent sembari memberikan beberapa lembar uang pada para prajurit istana utama itu.


"Bagaimana jika kami dihukum gantung oleh Yang Mulia Raja Azvago setelah mengetahui hal ini?." tanya beberapa prajurit dengan ragu ragu karna raja mereka sangatlah menakutkan.


"Akan saya pastikan malam ini seluruh anggota Keluarga Kerajaan Meztano lenyap tak tersisa bersama dengan Duke Rigel Elister dan Duke Moren Rucixara." ucap Tuan Moren Luzent pada para prajurit itu, meskipun Duke Moren Rucixara dan Tuan Mentri Moren Luzent tak memiliki hubungan darah mereka sering dibanding bandingkan karna memiliki kekuasaan yang berbeda. Kemungkinan besar Tuan Mentri Moren Luzent memiliki dendam pribadi pada Duke Moren Rucixara, dalam kesempatan kali ini ia bisa membunuh banyak musuh dalam sekali tepuk.


Setelah selesai menguping pembicaraan antara sang mentri dengan beberapa prajurit istana utama, Putri Amerilya merangkak dengan pelan menjauh dari mereka agar keberadaannya tak diketahui siapapun. Setelah berhasil melarikan diri gadis itu bergegas masuk ke dalam istana utama Kerajaan Meztano untuk menemui sang ayah, saat dalam perjalanan menuju ruang kerja ayahnya ia berpapasan dengan beberapa pelayan yang baru saja kembali dari sebuah lorong di sisi lain dapur.


"Salam hormat kami pada Tuan Putri Amerilya." ucap para pelayan itu saat melihat Putri Amerilya melintas dihadapan mereka.


"Kalian sudah selesai memasak?." tanya Putri Amerilya dengan polos agar para pelayan itu tak menyadari bahwa sang putri sedang curiga pada mereka.


"Kami telah memasak banyak makanan untuk pesta malam nanti, kami permisi terlebih dahulu Tuan Putri Amerilya." ucap para pelayan itu yang langsung pergi meninggalkan Putri Amerilya sendirian.


"Mereka terlihat mencurigakan." ucap Putri Amerilya sembari melanjutkan perjalannya menuju ruang kerja Raja Azvago.


Tok tok tok...


Suara pintu ruang kerja Raja Azvago yang diketuk oleh Putri Amerilya, setelah mendapat izin untuk masuk putri kecil itu langsung membuka pintu meski dengan sedikit usaha. Putri Amerilya masuk ke dalam dan membuat sang raja terkejut, jika ia tau yang datang adalah putri kesayangannya maka Raja Azvago akan membukakan pintu.


"Ada apa putri kecilku?." tanya Yang Mulia Raja Azvago pada Putri Amerilya yang tengah memandanginya dengan raut wajah sedih, apakah sesuatu terjadi pada putri kecilnya itu?.


"Bolehkan Amerilya meminta sesuatu?." tanya Putri Amerilya dengan mata berkaca kaca. Melihat putrinya sangat sedih membuat hati Raja Azvago terasa sakit, ia akan memberikan apapun yang diminta oleh Putri Amerilya meski hal itu terdengar mustahil sekalipun.


"Amerilya ingin untuk pesta makan malam dilakukan di halaman belakang istana, akan sangat indah saat kita menikmati makanan sembari melihat suasana malam." ucap Putri Amerilya secara tiba tiba yang meminta pesat makan malam diadakan di halaman belakang istana utama.

__ADS_1


Yang Mulia Raja Azvago melihat ke arah putri kecilnya itu dengan tatapan bingung, tadinya ia khawatir tak bisa memenuhi permintaan sang putri namun setelah mendengar secara langsung Raja Azvago langsung menyanggupi permintaan itu. Yang Mulia Raja Azvago menggendong Putri Amerilya kemudian mengajaknya keluar dari ruang kerja menuju dapur untuk memberitahukan pada para pelayan, sebelum sampai di dapur mereka berpapasan dengan anggota Kesatria White Rose yang baru saja kembali dari tugas mereka.


"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Azvago dan Tuan Putri Amerilya." ucap anggota Kesatria White Rose secara serempak.


"Salam pada Kesatria White Rose." jawab Yang Mulia Raja Azvago dan Putri Amerilya secara bersamaan.


"Kemana Yang Mulia Raja akan pergi bersama dengan Tuan Putri?." tanya Kesatria Richal dengan rasa penasaran tinggi. Tiba tiba saja Putri Amerilya mengedipkan matanya beberapa kali sebagai pertanda ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam Istana Kerajaan Meztano.


"Putri kecilku tiba-tiba meminta pesta makan malam diadakan di halaman belakang, saya akan melakukan apapun untuknya." ucap Raja Azvago dengan senyuman lebar dan perasaan bangga sebagai seorang ayah.


"Baiklah kami akan membantu para pelayan menyiapkan tempat di halaman belakang." ucap Kesatria Richal dengan antusias, anggota Kesatria White Rose berpamitan pada Yang Mulia Raja Azvago dan Tuan Putri Amerilya karna mereka akan menata bangku bangku dan meja di halaman belakang Istana Utama.


Raja Azvago melanjutkan perjalanan menuju dapur sembari menggendong sang putri, saat membuka pintu dapur ia melihat beberapa pelayan sedang menuangkan cairan aneh ke dalam makanan yang akan disajikan malam nanti. Melihat hal itu membuat amarah Yang Mulia Raja Azvago memuncak, sang raja menurunkan Putri Amerilya dari gendongannya dan langsung membuat sebilah pedang berwarna merah dari sihir api yang ia kuasai.


"Angkat tangan kalian!!." bentak Raja Azvago pada para pelayan itu. Beberapa pelayan yang tadinya sedang sibuk menuang racun kedalam makanan langsung menghentikan kegiatan mereka karna terkejut dengan teriakan Yang Mulia Raja Azvago.


"Prajurit!!!!" triak Putri Amerilya dengan sangat kencang, para prajurit dan koki istana langsung masuk ke dalam dapur setelah mendengar teriakan dari putri kecil mereka. Dua orang pelayan setia Putri Amerilya yang ditugaskan untuk mengawasi dapur ikut masuk dan menghampiri putri mereka, terlihat ekspresi marah yang ditunjukkan oleh putri kecil itu.


"Ada apa Tuan Putri Amerilya?." tanya semua orang yang datang karna teriakan Putri Amerilya.


"Tangkap kedua pelayan itu, mereka dengan sengaja menaruh racun di dalam makanan untuk pesta nanti malam. Dan untuk Anda Tuan koki, silahkan memasak ulang semua makanan. Ini juga kesalahan Anda karna tak mengawasi kinerja para pelayan yang bertugas di dapur." ucap Putri Amerilya dengan tegas pada koki utama Istana Kerajaan Meztano.


"Jika waktunya tak cukup sebaiknya Anda membeli beberapa makanan di restoran ternama, mintalah uang pada pengurus keuangan." ucap Yang Mulia Raja Azvago, sebentar lagi malam akan tiba dan sang raja yakin bahwa koki itu tak akan bisa menyelesaikan masakannya dengan tepat waktu.


"Baiklah saya akan melakukan sesuai perintah Yang Mulia Raja Azvago dan Tuan Putri Amerilya, maaf atas kesalahan yang telah saya lakukan." ucap koki itu sembari membungkukkan badannya di hadapan sang raja dan Putri Amerilya.


Para pelayan yang menjadi tersangka dalam kejadian itu hanya bisa diam membisu dengan tubuh gemetaran, mereka tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Raja Azvago kembali menatap tajam ke arah para pelayan itu, tanpa mengatakan apapun Yang Mulia Raja Azvago langsung menebas kepala mereka satu persatu hingga darah mengotori dapur.

__ADS_1


"Bersihkan semuanya dan buang mayat para pengkhianat ini." ucap Raja Azvago dengan kemarahan yang terlihat jelas di matanya. Putri Amerilya menghela nafas lega karna rencana meracuni semua orang yang ikut dalam pesta makan malam nanti gagal dilakukan oleh pihak musuh, kini Putri Amerilya harus berfikir keras apa lagi yang direncanakan oleh mereka.


Saat ini Liliana dan seorang pelayan lain telah sampai di Kediaman Duke Marques, mereka berdua masuk melalui halaman belakang yang tak dijaga oleh siapapun. Sepertinya Kediaman Duke Marques kekurangan para prajurit hingga jumlah penjaga dikurangi dan hanya fokus pada bagian gerbang depan rumah saja. Liliana meminta pada rekannya untuk berjaga jaga di bagian luar sedangkan ia akan masuk ke dalam untuk melihat bagaimana kondisi Kediaman Duke Marques saat ini.


Perlahan lahan Liliana masuk ke dalam Kediaman Duke Marques melalui pintu belakang, Liliana membukanya menggunakan jepit rambut yang ia gunakan. Setelah berhasil membuka pintu tersebut Liliana bergegas masuk ke dalam dengan hati hati agar tak diketahui oleh pengurus rumah yang masih berada di dalam.


"Mengapa terdengar suara banyak orang." ucap Liliana dengan pelan, pelayan itu mendengar beberapa orang sedang bersenda gurau dalam sebuah ruangan yang cukup jauh dari tempatnya berada saat ini.


Karna penasaran dengan apa yang mereka bicarakan dan siapa saja yang ada di sana akhirnya Liliana memberanikan diri untuk mendekat, dari arah yang berlawanan muncul seorang pelayan Kediaman Duke Marques yang sedang membawa nampan berisi makanan dan teh. Dengan sigap Liliana bersembunyi di belakang almari tempat menyimpan piring dan gelas antik, setelah pelayan itu cukup dekat dengannya Liliana langsung memukul dengan kencang hingga si pelayan pingsan.


"Maaf karna saya membutuhkan pakaian pelayan khusus dari Kediaman Duke Marques ini." ucap Liliana yang langsung menyeret pelayan itu menuju gudang belakang dan mengganti pakaian miliknya dengan pakaian sang pelayan.


Setelah selesai melakukan hal itu Liliana membereskan kekacauan yang ia buat dan langsung bergegas kembali ke dapur untuk mengambil cemilan serta teh panas baru.


"Baiklah mari kita pergi sekarang." ucap Liliana dengan senyuman tipis di wajahnya, ia langsung pergi menuju ruangan tempat semua orang sedang berkumpul.


Tok tok tok.


Suara pintu ruangan yang sedang diketuk dengan pelan oleh Liliana, setelah mendapat izin masuk ia langsung masuk ke dalam dan menyajikan cemilan serta teh yang ia bawa. Saat menuangkan teh, Liliana sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat siapa saja orang yang ada di ruangan itu.


"Silahkan dinikmati." ucap Liliana dengan senyuman tulus kemudian ia pergi dari ruangan itu dengan segera sebelum pengurus rumah menyadari bahwa ia bukan bagian dari Kediaman Duke Marques.


Setelah berhasil keluar dari ruangan itu Liliana langsung masuk ke dalam gudang tempatnya menyekap seorang pelayan, Liliana menukar kembali pakaian miliknya dengan milik si pelayan setelah selesai ia langsung keluar dari pintu bagian belakang.


"Sialan ternyata banyak petinggi yang ikut campur dalam masalah ini." ucap Liliana sembari berlari menghampiri rekannya yang sedang menunggu di halaman belakang Kediaman Duke Marques.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu. Akhirnya bisa update novel Putri Amerilya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2