
Di sisi lain saat ini Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe beserta Nona Muda Hilma Lion telah sampai di depan gerbang masuk Kediaman Duke Lion, para prajurit penjaga gerbang tampak terkejut dengan kedatangan kedua pangeran dari Istana Kerajaan Meztano secara mendadak. Para prajurit itu langsung membukakan pintu gerbang dengan lebar kemudian membungkukkan badan mereka ketika kedua pangeran bersama sang nona muda melintas, Nona Muda Hilma Lion segera berlari ke arah pintu masuk dan membukakannya untuk Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe.
"Selamat datang di Kediaman Duke Lion. Maaf tak ada sambutan yang mengesankan untuk kalian karna saat ini kondisi Putri Amerilya lebih penting." ucap Nona Muda Hilma Lion yang mempersilahkan kedua pangeran untuk masuk ke dalam rumahnya.
Saat ini Keluarga Duke Lion sedang berkumpul di ruang keluarga untuk menikmati waktu bersantai mereka bersama, mereka sedang membahas hadiah apa yang akan diberikan untuk Tuan Putri Amerilya. Banyak hadiah yang sedang mereka pertimbangan, mungkin sebuah hadiah besar yang mewakili satu keluarga ataupun hadiah kecil perorangan.
Tok tok tok.
Suara pintu ruang keluarga Kediaman Duke Lion yang sedang diketuk oleh Nona Muda Hilma, setelah mendapatkan izin untuk masuk Nona Mida Hilma langsung membawa kedua pangeran untuk masuk ke dalam dan membuat seluruh anggota keluarganya merasa terkejut. Tuan Duke Yosan Lion, Nyonya Ruela Lion, dan Nona Muda Arsya Lion berdiri dan membungkukkan badan mereka dihadapan kedua pangeran.
"Mengapa Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe tak memberitahu saya terlebih dahulu jika ingin berkunjung kesini, kami belum melakukan persiapan apapun." ucap Duke Yosan Lion dengan rasa sungkan.
"Kedua pangeran datang bukan untuk berkunjung ke kediaman kita ayah, awalnya mereka pergi ke pasar yang ada di dekat perbatasan wilayah bersama dengan Tuan Putri Amerilya. Saat ini kedua pangeran terpisah dengan adik mereka dan ingin meminta bantuan kita untuk mencari Tuan Putri Amerilya." jelas Nona Muda Hilma Lion dengan sesingkat mungkin, ia tak ingin membuang waktu terlalu banyak karna saat ini keberadaan Putri Amerilya masih belum diketahui dengan jelas.
Tuan Duke Yosan Lion dan Nyonya Ruela Lion terdiam beberapa saat, Putri Amerilya anak perempuan tunggal dari Yang Mulia Raja Azvago dan Ratu Zivaya hilang di wilayah kekuasaan Duke Lion? apa yang akan terjadi jika sang putri kecil tak ditemukan.
"Jangan hanya melamun ayah, kerahkan seluruh prajurit untuk mencari Tuan Putri Amerilya jika kita masih ingin hidup panjang." ucap Nona Hilma Lion yang berusaha untuk menyadarkan ayahnya.
"Adik kami memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya, mungkin ia tak akan mudah diculik oleh para penculik kelas teri namun kami khawatir ada penculik yang menyadari identitas gadis kecil itu dan membujuknya dengan makanan." ucap Pangeran Luxe dengan perasaan cemas, bagaimana jika adik kecilnya mudah terbujuk hanya dengan beberapa potong kue ataupun makan manis?.
"Baiklah saya akan mengerahkan prajurit sebanyak mungkin agar Tuan Putri Amerilya secepat ditemukan, mari kita pergi sekarang." ucap Tuan Duke Yosan Lion yang mengajak kedua pangeran serta putri keduanya untuk mencari keberadaan Putri Amerilya.
Nona Arsya Lion melihat kepergian kedua pangeran bersama ayah serta adiknya dengan tatapan tak suka, ia tak mau jika Hilma Lion sampai dekat dengan kedua pangeran itu. Sebagai putri pertama dan anak kedua dari pasangan Tuan Duke Yosan Lion dan Nyonya Ruela Lion tentu ia memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada adik perempuannya itu, namun mengapa sang ayah malah mengabaikan keberadaannya.
"Apa yang membuatmu begitu marah? mereka ingin mencari keberadaan Putri Amerilya bukannya melakukan perjodohan." ucap Nyonya Ruela Lion sembari menggelengkan kepala saat melihat tingkah dari putri pertamanya itu. Arsya Lion selalu saja iri dengan segala hal yang dimiliki oleh Hilma Lion, dari segi kekuatan sihir Arsya Lion memiliki sihir elemen air sedangkan Hilma Lion hanya memiliki bakat sihir penyembuhan saja.
"Saya tak senang ketika ayah mengabaikan keberadaan saya seperti ini." jawab Arsya Lion dengan tatapan dingin.
"Wajar jika ayahmu mengajak Hilma, bukankah Hilma yang membawa kedua pangeran ke Kediaman Duke Lion ini. Redakan rasa iri mu itu pada Hilma, bagaimanapun kalian adalah saudari kandung." ucap Nyonya Ruela Lion yang berusaha untuk menasehati putri pertamanya itu.
"Tetap saja aku tak menyukainya, sampai kapanpun aku tak akan menganggapnya sebagai adik kandung ku." ucap Arsya Lion, gadis itu pergi dari ruang keluarga kemudian masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu kamar dengan cukup kencang.
__ADS_1
Di sisi lain saat ini Putri Amerilya tak bisa bersabar lagi, ia harus memberi pelajaran pada Tuan Hanz Kyne dan dua belas bawahannya yang sangat sombong dan angkuh itu. Putri Amerilya memejamkan matanya kemudian menarik nafas beberapa kali, ini saat yang tepat bagi putri kecil itu untuk memanggil Red Moon.
"Red Moon datanglah aku memanggilmu!." ucap Putri Amerilya sembari tangannya di angkat ke atas.
Langit yang tadinya berwarna biru cerah tiba tiba berubah menjadi hitam dalam sekejap mata, terdengar suara petir yang sangat kencang anehnya ada beberapa petir berwarna merah yang menyambar dari atas langit. Sebuah pedang berwarna merah melesat dari atas langit menuju ke arah Putri Amerilya, putri kecil itu saat ini sedang memegang Red Moon dengan erat dan menatap tajam ke arah dua belas pria bertato.
Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe melihat ke arah langit, perasaan mereka menjadi semakin cemas karna semua pertanda yang anda menunjukkan bahwa Putri Amerilya sedang memanggil pedang berwarna merah miliknya. Mungkinkah saat ini adik perempuan mereka sedang bertarung dengan lawan yang cukup kuat?.
"Kita harus pergi ke arah petir berwarna merah itu menyambar, di sanalah Putri Amerilya berada." ucap Pangeran Mixo yang langsung berlari sekuat tenaganya agar ia tak terlambat menyelamatkan adik perempuannya itu.
"Bagaimana bisa Putri Amerilya ada di sana?." tanya Tuan Duke Yosan Lion dengan tatapan bingung.
"Putri Amerilya memiliki sebuah pedang tingkat tinggi yang dapat dia panggil kapan pun ia mau, petir berwarna merah itu sebagai pertanda bahwa pedang milik adik kami sudah turun dari atas langit." jelas Pangeran Luxe dengan singkat.
"Wah Tuan Putri Amerilya memang sangat luar biasa." ucap para prajurit yang berlari di barisan belakang. Mereka sangat kagum dengan keterampilan yang dimiliki oleh putri kecil itu.
Saat ini Tuan Hanz Kyne dan dua belas pria bertato yang menjadi bawahnya menatap ke arah gadis kecil yang ada di hadapan mereka dengan tatapan bingung. Bagaimana bisa seorang anak perempuan yang belum menginjak usia lima tahun sudah bisa memanggil sebuah pedang seperti itu?.
Dengan sigap Putri Amerilya mundur beberapa langkah kemudian mulai menyerang Tuan Hanz Kyne menggunakan pedang merahnya itu, Hanz Kyne saat itu tak membawa senjata apapun dan mendapatkan luka di beberapa bagian tubuhnya.
"Mengapa diam saja cepat serang dan bunuh saja anak kecil tak tau diri itu." ucap Hanz Kyne yang memberikan perintah pada ke dua belas bawahannya.
Dua belas pria bertato itu mulai menyerang Putri Amerilya secara bergantian, mereka mengalami nasib yang sama dengan Hanz Kyne meski mereka memiliki senjata sekalipun. Sorotan mata Putri Amerilya mengeluarkan kilauan berwarna merah, putri kecil itu berlari dengan cukup cepat dan memotong lima tepak tangan kanan bawahan Hanz Kyne.
"Argh tanganku apa yang kau lakukan padaku anak kecil." ucap seorang bawahan Hanz Kyne yang berlari ke arah Putri Amerilya dan hendak menusuk putri kecil itu menggunakan pedang miliknya. Putri Amerilya menangkis serangan pria bertato itu kemudian menancapkan Red Moon ke kaki sebelah kiri, tiba tiba saja Red Moon menghisap seluruh darah pria bertato itu hingga ia mati dalam kondisi badan berwarna putih pucat.
"Siapa yang ingin bernasib seperti dia!." ucap Putri Amerilya dengan intonasi tinggi dan tegas. Putri kecil itu sangat tak menyukai jika para bangsawan mulai bertengkar kemudian menggunakan kedudukan mereka hanya untuk mengancam bangsawan lain yang kedudukannya lebih rendah.
Sebelas bawahan Tuan Hanz Kyne yang tersisa hanya diam mematung tak berani menyerang ataupun melakukan tindakan lain pada anak perempuan itu, entah dari mana anak perempuan semengerikan itu berasal. Tuan Hanz Kyne menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan tak suka, ia yakin meski anak perempuan itu sangat kuat namun kedua orang tuannya hanyalah rakyat biasa yang tak memiliki kedudukan apa apa.
"Saya akan melaporkan hal ini pada Tuan Duke Yosan Lion, lihat saja bagaimana cara saya menghancurkan keluarga mu nanti." ucap Tuan Hanz Kyne sembari menunjuk ke arah Putri Amerilya.
__ADS_1
"Melaporkan apa?." tanya Tuan Duke Yosan Lion yang sudah berada di halaman depan Restoran Permata Merah.
Hanz Kyne membalikkan badannya kebelakang kemudian menatap ke arah Duke Yosan Lion dengan tatapan terkejut, sejak kapan Tuan Duke datang? dan mengapa kedua pemuda yang ada di sampingnya tampak tak asing. Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe berlari ke arah Putri Amerilya kemudian memeluk adik mereka dengan sangat erat, untunglah putri kecil itu baik baik saja tanpa ada goresan di tubuhnya jika tidak ayah mereka pasti akan sangat marah.
"Saya ingin melaporkan tindakan anak perempuan itu, ia mencuri pedang milik saya kemudian membunuh salah seorang bawahan saya." ucap Hanz Kyne, pria itu mengarang sebuah cerita hanya untuk menyudutkan Putri Amerilya, andai saja ia tau siapa anak perempuan itu.
"Pedang ini milik saya, orang dewasa seperti Anda tak tau malu mengakui pedang milik orang lain. Apakah Anda gagal mendapatkan sebuah senjata yang memiliki kesadaran sendiri? kasihan sekali." ucap Putri Amerilya dengan suara tawa kecilnya.
"Lihatlah betapa sombongnya gadis itu, Anda harus menghukumnya Tuan Duke Yosan Lion. Bagaimana jika ia tumbuh menjadi seorang pembunuh nantinya." ucap Hanz Kyne yang semakin mengada ngada.
"Apa yang dikatakan Hanz Kyne adalah omong kosong Tuan Duke Yosan Lion, anak perempuan ini berusaha membantu para penjaga restoran saya yang sedang dipukuli oleh bawahan Hanz Kyne." ucap Tuan Arges Linero, pria itu membela sang anak perempuan.
"Anda harus tetap menghukumnya Tuan Duke Yosan Lion, dia telah membunuh salah satu bawahan ku padahal tak ada korban pada pihak Arges Linero." ucap Hanz Kyne yang terus mencari cari kesalahan Putri Amerilya agar mendapatkan hukuman dari sang Duke.
"Kak katakan pada ayah untuk mencabut status bangsawan dari Keluarga Kyne." ucap Putri Amerilya dengan tatapan kesal.
"Ahahaha memangnya siapa kau anak kecil, kedudukan apa yang dimiliki oleh ayahmu itu?. Bagaimana mungkin ayah sampah mu biasa mencabut status bangsawan keluarga ku." ucap Hanz Kyne dengan suara tawa mengejek.
Plak.
Sebuah tamparan yang sangat keras dilayangkan oleh Tuan Duke Yosan Lion untuk Hanz Kyne. Pria itu sudah melewati batas dengan menyebut Yang Mulia Raja Azvago sebagai seorang sampah, mungkinkah Hanz Kyne itu bodoh hingga tak bisa mengenali kedua pangeran yang masih memeluk Putri Amerilya dengan erat.
"Mengapa Anda menampar saya Tuan Duke?." tanya Hanz Kyne dengan tatapan bingung, bukankah perkataanya itu benar.
"Dia adalah Tuan Putri Amerilya, apa kau sedang menghina Yang Mulia Raja Azvago sebagai seorang sampah? lancang sekali mulut kotor mu itu!." bentak Tuan Duke Yosan Lion dengan suara lantang hingga terdengar oleh para pengunjung restoran yang masih ada di dalam.
"Tuan Putri Amerilya? jadi anak perempuan ini adalah anak perempuan satu satunya dari Yang Mulia Raja Azvago?. Bagaimana mungkin anak perempuan se kasar dan se kejam ini adalah Putri Amerilya?." ucap Hanz Kyne dengan sedikit linglung.
Anak perempuan yang ia hina dan sempat ingin ia bunuh adalah Tuan Putri Amerilya? pantas saja anak perempuan itu sangat berani melawannya yang merupakan seorang keluarga bangsawan kelas menengah kebawah. Jika seperti ini maka perkataan anak perempuan itu untuk mencabut gelar bangsawan pada Keluarga Kyne akan benar benar terjadi. Bagaimana bisa ia dan keluarganya berakhir dengan sangat menyedihkan seperti ini, ia tak ingin statusnya lebih rendah daripada Keluarga Linero.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, dukung seluruh novel yang author punya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1