
Sang putri kecil menarik ujung baju Pangeran Mixio yang sedang berbincang bincang dengan beberapa putra bangsawan, sang pangeran menunduk ke bawah dan melihat sang adik perempuannya mendatanginya dengan wajah masam. Pangeran Mixo menggendong Putri Amerilya kemudian mencium pipi sang putri dengan gemas.
"Ada apa? mengapa kau terlihat begitu kesal adikku?." tanya Pangeran Mixo dengan tatapan bingung. Mungkinkah ada yang mengganggu sang adik di hari spesialnya ini.
"Tidak apa apa kak, aku hanya tak suka melihat ayah begitu antusias menyaksikan tarian yang ditampilkan oleh para penari." jawab Putri Amerilya dengan wajah cemberut.
"Sepertinya Tuan Putri sedang cemburu pada para penari itu." ucap Tuan Muda Edwig Elister dengan senyum tipis.
"Jadi apa yang akan kau lakukan adikku?." tanya Pangeran Mixo dengan mengangkat sebelah alisnya.
Biasanya sang adik akan membalas perbuatan orang orang yang membuatnya kesal. Mendapati pertanyaan seperti itu Putri Amerilya langsung terdiam dan berfikir mengenai rencana bagus untuk membalas sang ayah. Putri Amerilya memperhatikan para tamu undangan yang hadir kemudian ia menemukan keberadaan paman kesayangannya yaitu Pangeran Zingo.
"Tolong turunkan aku kakak." ucap Putri Amerilya. Dengan segera Pangeran Mixo menurunkan adiknya.
Putri Amerilya berlari meninggalkan Pangeran Mixo tanpa mengucapkan apapun, sang pangeran hanya memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh adiknya itu sembari memastikan sang adik baik baik saja. Sebuah senyuman miring terukir di wajah Pangeran Mixo ketikan ia mengetahui bahwa Putri Amerilya sedang menghampiri paman pertamanya. Sebuah rencana yang bagus untuk membuat seorang Raja seperti Yang Mulia Raja Azvago cemburu pada adik laki lakinya sendiri.
"Paman Zingo!." ucap Putri Amerilya dengan suara yang cukup kencang. Ia tersenyum dengan sangat manis dihadapan pamannya itu.
"Wah lihatlah siapa yang datang, sekarang keponakan kesayangannya paman sudah berusia tiga tahun. Selamat ulang tahun Tuan Putri kesayangan paman." ucap Pangeran Zingo sembari menggendong sang putri dan mencium pipinya beberapa kali.
Putri Amerilya tertawa kegirangan mendapat perlakukan manis dari sang paman, kedekatan keduanya tentu menyita perhatian banyak tamu undangan termasuk Yang Mulia Raja Azvago yang kini mulai beralih memperhatikan putri kecilnya itu daripada para penari.
"Dimana istri dan anak paman, apakah mereka tidak datang?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung. Ia melihat pamannya sendirian sedari tadi dan hanya ditemani beberapa Tuan keluarga bangsawan.
"Bibi mu sedang sibuk bergosip dengan tamu yang lain sedangkan ketiga anak paman sedang makan di sebelah sana." ucap Pangeran Zingo sambil menunjuk ke sebuah arah. Putri Amerilya memperhatikan ke arah yang ditunjuk oleh pamannya itu, ia menemukan ketika kakak sepupunya sedang makan dengan lahap.
"Umm... Amerilya lapar. Apakah paman mau menyuapi Amerilya?." tanya sang putri dengan tatapan memohon. Tingkahnya sangat lucu dan tak mungkin Pangeran Zingo menolak keinginan keponakannya itu.
"Baiklah Tuan Putri kecil ingin makan apa?." tanya Pangeran Zingo. Ia berjalan ke tempat berbagai macam makanan diletakkan dan meminta Putri Amerilya untuk memilih.
Putri Amerilya memperhatikan semua makanan yang ada di hadapannya itu, semua terlihat sangat menggiurkan namun tak mungkin perut kecilnya itu mampu menampung semuanya. Akhirnya sang putri menunjuk ke arah satu potong kue ceri.
Pangeran Zingo mendudukkan Putri Amerilya di sebuah kursi kosong, ia meminta sang putri untuk menunggu di sana. Kini Pangeran Zingo sedang mengambil satu set alat makan dan kue yang diinginkan keponakannya itu. Setelah selesai sang pangeran langsung menghampiri Putri Amerilya yang sedang menunggu.
"Jadi Tuan Putri ingin disuapi paman?." tanya Pangeran Zingo sekali lagi untuk memastikan.
__ADS_1
Putri Amerilya memberikan sebuah anggukan kepala sebagai jawabannya. Dengan segera Pangeran Zingo memotong kue ceri itu dan menyiapkannya pada Putri Amerilya, mereka berdua tampak sangat lucu dan membuat beberapa tamu mulai bergosip.
"Ternyata Tuan Putri Amerilya sangat dekat dengan adik pertama dari Yang Mulia Raja Azvago." ucap salah seorang tamu undangan, ia tersenyum gemas ke arah Pangeran Zingo dan Putri Amerilya.
"Mereka terlihat seperti seorang ayah dan anak perempuannya. Saya dengar Putri Amerilya sangat mandiri di usianya yang masih kecil namun ia terlihat manja saat bertemu Pangeran Zingo." ucap tamu undangan yang lain.
"Mungkin ada sesuatu yang terjadi namun kita tidak mengetahuinya. Apakah salah jika Tuan Putri Amerilya dekat dengan pamannya sendiri?." komentar tamu undangan lain.
"Bisakah kalian berhenti membicarakan hal itu, saat ini Yang Mulia Raja Azvago terlihat begitu kesal." ucap Nyonya Bica. Ia adalah istri dari Perdana Mentri yang bekerja untuk Istana Kerajaan Meztano. Semua orang tau bagaimana sikap awal Raja Azvago pada putri kecilnya itu namun perlahan lahan hubungan diantara keduanya mulai membaik.
Ratu Zivaya melihat ke arah sang suami, ia sedikit terkejut saat melihat suaminya itu sedang marah. Karna penasaran hal apa yang membuat seorang Yang Mulia Raja Azvago semarah itu akhirnya Ratu Zivaya mengikuti ke arah yang dilihat suaminya. Ratu Zivaya hampir saja tertawa, ternyata putri kecilnya sedang membalas apa yang dilakukan oleh sang suami beberapa saat lalu.
"Bukankah wajar jika putri kecil kita dekat dengan pamannya?." tanya Ratu Zivaya sembari menahan tawa.
"Mereka terlalu dekat. Putri Amerilya bahkan tak pernah meminta untuk saya suapi seperti itu." ucap Raja Azvago dengan tangan yang mengepal.
"Sudahlah jangan merusak hari bahagia putri kita. Sebaiknya Anda kembali memperhatikan para penari itu, bukankah Anda sangat tertarik dengan penampilan mereka hingga mengabaikan Tuan Putri Amerilya." ucap Ratu Zivaya.
"Mengapa Ratu mengatakan hal seperti itu? apakah Anda cemburu?!." tanya Raja Azvago dengan ekspresi yang sangat aneh.
Raja Azvago langsung berdiri dari singgasananya dan berjalan menghampiri Putri Amerilya yang masih disuapi oleh Pangeran Zingo, keduanya tampak begitu senang hingga tertawa dengan cukup kencang beberapa kali.
"Ekem." ucap Raja Azvago saat berada di belakang Pangeran Zingo.
"Salam hormat saya pada Yang Mulia Raja Azvago, mengapa kakak datang kesini? bukankah kakak sedang sibuk sekarang?." tanya Pangeran Zingo dengan tatapan bingung.
"Bukan urusan mu." jawab Raja Azvago dengan ketus.
"Ck mengapa Anda tiba tiba marah pada saya seperti ini. Lihatlah Tuan Putri Amerilya, ayah mu sungguh aneh." ucap Pangeran Zingo yang mengadu pada putri kecil.
"Kemarilah putriku ayah akan menyuapi mu." ucap Raja Azvago sembari merebut piring berisikan kue ceri yang ada di tangan Pangeran Zingo. Sang raja duduk di sebuah kuris yang berhadapan langsung dengan Putri Amerilya dan hendak menyuapi putri kecilnya itu.
Putri Amerilya menutup mulut dengan rapat, ia tak ingin disuapi oleh sang ayah karna masih kesal. Raja Azvago mencoba beberapa kali untuk menyuapi putrinya itu dan sang putri tetap menolaknya dengan menggelengkan kepalanya.
"Putri kesayangan ayah sedang marah?." tanya Raja Azvago dengan tatapan sedih.
__ADS_1
"Mengapa ayah datang kemari? bukankah Anda sangat sibuk memperhatikan penampilan para penari itu. Sebaiknya Anda harus segera kembali karna tarian akan segera berakhir." jawab Putri Amerilya sembari menatap tajam ke arah Raja Azvago.
"Ah jadi benar apa yang dikatakan oleh ibu mu tadi. Kau cemburu pada mereka putriku?." tanya Yang Mulia Raja Azvago dengan halus.
"Tidak." jawab Putri Amerilya dengan ketus.
"Lihatlah anak perempuan Anda sedang merajuk Yang Mulia Raja. Seharusnya Anda tidak terus menerus menatap ke arah para penari itu saat sedang bersama dengan Tuan Putri Amerilya. Anak perempuan jauh lebih sensitif daripada anak laki laki karna mereka mengganggap ayahnya sebagai cinta pertama mereka." jelas Pangeran Zingo. Ia mengetahui hal hal semacam itu karna anak pertamanya perempuan. Saat ini anak pertamanya sudah berusia dua belas tahun dan ia akan langsung mengomel jika melihat ayahnya memperhatikan beberapa wanita lain selain sang ibu atau saudaranya sendiri.
"Terimakasih untuk penjelasannya, karna saya belum pernah tinggal lama dengan anak perempuan saya jadi hal hal semacam ini saya tidak dapat memahami dengan baik." ucap Raja Azvago, ia menepuk pundak adik laki-lakinya itu beberapa kali.
"Paman harus pergi sebentar Tuan Putri, bibi mu memanggil paman." ucap Pangeran Zingo. Ia langsung meninggalkan Putri Amerilya bersama dengan Raja Azvago agar keduanya bisa saling berbaikan.
Suasana di antara Putri Amerilya dan Yang Mulia Raja Azvago teras canggung, keduanya saling bertatapan satu sama lain tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Sebaiknya ayah kembali." ucap Putri Amerilya dengan tatapan dingin.
"Maaf atas sikap ayah tadi. Ayah berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi." ucap Yang Mulia Raja Azvago sembari menggenggam tangan Putri Amerilya dengan erat. Tanpa sadar sang raja menegaskan air matanya, ia tak ingin hubungan yang telah membaik kembali hancur seperti itu.
Putri Amerilya membelalakkan matanya, ia terkejut melihat ayahnya menangis seperti itu apalagi dihadapan banyak orang seperti ini. Sang putri turun dari tempat duduknya dan berusaha naik ke pangkuan sang raja.
"Ayah....ayah berhentilah menangis. Bagaimana bisa seorang Raja seperti Anda menangis dihadapan banyak orang seperti ini." ucap Putri Amerilya dengan raut wajah khawatir.
Raja Azvago menaikkan putrinya dan meletakkan di pangkuannya. Putri Amerilya mengusap air mata Raja Azvago yang sudah membasahi wajah tampannya itu.
"Jangan marah pada ayahmu lagi. Ayah berjanji tak akan mengulang hal yang sama." ucap Raja Azvago.
"Baiklah Amerilya tak marah lagi pada ayah. Jika ayah melakukan kesalahan yang sama maka kita akan bermusuhan." ucap Putri Amerilya sembari mengacungkan jari kelingkingnya. Sang raja membuat janji jari kelingking bersama dengan putrinya itu.
Kini keduanya sudah berbaik, sang putri meminta pada sang raja untuk mengambilkan beberapa makanan yang ia inginkan. Dengan senang hati Raja Azvago mengambilkan beberapa makanan yang putrinya inginkan, setelah itu sang raja menggendong Putri Amerilya dan membawanya kembali dan duduk di atas singgasana bersama sama.
"Ayah akan menyuapi Amerilya?" tanya Putri Amerilya sembari mengedipkan matanya beberapa kali.
"Dengan senang hati putri kecilku." jawab Raja Azvago sembari menyiapkan makanan ke mulut mungil putri kesayangannya.
Kini suasana di dalam aula kembali menghangat dan semua orang bersenang-senang dalam pesta tersebut. Waktu terus berjalan dan malam semakin larut, ini para tamu sibuk mengantri untuk memberikan hadiah pada Putri Amerilya sembari mengucapkan selamat ulangtahun pada putri kecil itu.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.