
Putri Amerilya menatap kesal ke arah para prajurit istana utama itu, beberapa detik setelahnya Putri Amerilya berjalan keluar dari istana putri menuju istana utama untuk menemui Ibu Suri Sinya. Pada awalnya beberapa prajurit mengira bahwa sang putri hanya menggeretak mereka saja akan tetapi lama kelamaan anak perempuan itu benar benar masuk ke dalam istana utama. Khawatir sikap kurang sopan mereka akan dilaporkan pada Ibu Suri Sinya akhirnya para prajurit berlarian untuk menyusul Putri Amerilya.
"Kejar sang putri jangan sampai dia bertemu dengan Ibu Suri." triak seorang prajurit dengan cukup kencang, jangan sampai ia dan rekannya yang lain kehilangan pekerjaan.
"Anak itu sangat gesit." ucap seorang prajurit yang berada beberapa meter di belakang Putri Amerilya.
Sang putri terus berlari menuju ruang kerja Ibu Suri, ia melihat ke sekitar istana utama dan menemukan beberapa pelayan yang sedang sibuk membersihkan jendela. Putri Amerilya mendapatkan sebuah ide untuk memperlambat para prajurit itu saat mengejarnya.
"Para pelayan, hadang prajurit itu!! ini perintah saya sebagai seorang Putri dari Kerajaan Meztano." triak Putri Amerilya pada puluhan pelayan tersebut. Mendengar titah langsung dari sang Tuan Putri kecil tentu para pelayan itu langsung menghentikan aktivitas mereka dan berusaha menghadang para prajurit yang mengejar Putri Amerilya.
"Sialan menyingkir kalian semua!." bentak seorang prajurit dengan sangat kasar, meraka tak segan mendorong para pelayan itu hingga jatuh tersungkur kebelakang.
Saat ini Putri Amerilya sudah cukup dekat dengan ruang kerja Ibu Suri Sinya dan di sisi lain beberapa prajurit berhasil menyusul sang putri kemudian menangkapnya. Putri Amerilya berusaha untuk memberontak, ia tak bisa kalah begitu saja dari para prajurit kurang ajar itu.
"Tolong saya, mereka ingin menyakiti saya!." triak Putri Amerilya dengan sekuat tenaga, suara anak itu cukup nyaring hingga terdengar kedalam ruang kerja Ibu Suri Sinya.
Ibu Suri Sinya yang saat itu sedang duduk santai sembari menikmati secangkir teh hitam merasa terkejut mendengar teriakan dari cucu perempuan kesayangannya. Wanita tua itu bergegas keluar dari ruang kerjanya untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar, mata sang ibu suri membelalakkan karna ia melihat beberapa prajurit istana utama sedang membekap mulut Putri Amerilya dan menjewer telinga anak itu.
"Lepaskan cucu saya, apa yang sedang kalian lakukan padanya." ucap Ibu Suri Sinya dengan sangat marah.
"Cucu anda berlarian kesana kemari, kami hanya mencoba untuk menghentikannya." ucap salah seorang prajurit yang sedang membuat sebuah alasan agar terbebas dari ibu suri.
Dengan cepat Putri Amerilya menggelengkan kepala sebagai pertanda bahwa perkataan prajurit itu sebuah kebohongan saja, Putri Amerilya meneteskan air mata dan terlihat raut wajah ketakutan yang membuat Ibu Suri Sinya semakin marah. Sang Ibu Suri memukul beberapa prajurit yang sedang mencengkeram tubuh mungil Putri Amerilya dengan keras hingga mereka melepaskan cengkraman itu.
__ADS_1
"Kau sekarang aman cucuku." ibu Suri Sinya menggendong sang putri agar lebih aman.
"Mereka ingin memukuli saya." ucap Putri Amerilya dengan tatapan sedih.
"Benarkah? mereka ingin menyakitimu?" tanya Ibu Suri Sinya dengan amarah yang memuncak.
Sebuah bayangan hitam besar muncul di belakang wanita tua itu dan membentuk tubuh manusia dengan mata merah, para prajurit yang ada di sana merasa ketakutan saat melihat kemarahan dari Ibu Suri Sinya.
"Bunuh mereka semua." ucap Ibu Suri Sinya dengan nada dingin, wanita tua itu tak lupa menutup mata Putri Amerilya menggunakan telapak tangannya agar tak melihat pembunuhan sadis tersebut.
"Tolong ampuni kami, jangan bunuh kami." ucap para prajurit itu dengan wajah pucat.
Bayangan hitam yang berada di belakang Ibu Suri Sinya mendekati para prajurit, beberapa saat kemudian tubuh prajurit prajurit itu meledak hingga darah berceceran ke beberapa tempat. Tak lama setelahnya bayangan hitam mengerikan hilang begitu saja, Ibu Suri Sinya masuk ke dalam ruang kerjanya bersama dengan Putri Amerilya.
"Sekarang semuanya sudah selesai tak ada yang bisa menyakitimu lagi." ucap Ibu Suri Sinya yang menatap Putri Amerilya dengan sayang, sang ibu suri mencium pipi cucunya beberapa kali hingga pipi Putri Amerilya memerah.
Ibu Suri Sinya bukanlah wanita tua biasa yang bisa diremehkan oleh banyak orang, wanita itu mewarisi sihir kegelapan dari leluhurnya dan bayangan hitam tadi salah satu sihir kegelapan yang ia kuasai. Bayangan hitam yang muncul bukanlah bayangan biasa melainkan sosok iblis yang terikat dengan Ibu Suri Sinya. Dengan kemampuan yang Ibu Suri Sinya miliki, ia bisa menaklukkan banyak musuh dengan satu kali serangan, sihir kegelapan yang ia miliki juga diturunkan pada Raja Azvago akan tetapi sang raja menguasai jenis kegelapan yang berbeda dari ibunya, sesuatu yang lebih mengerikan dari bayangan hitam itu.
Di sisi lain Raja Azvago mendapatkan kabar dari beberapa pelayan bahwa Putri Amerilya dikejar oleh beberapa prajurit istana utama, para pelayan juga menjelaskan bahwa putri kecil itu pergi ke arah ruang kerja Ibu Suri sehingga sang raja memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari sang putri kecil. Saat tiba di depan ruang kerja Ibu Suri Sinya, Raja Azvago sangat terkejut melihat darah yang berceceran di mana mana.
"Apa yang telah terjadi di sini? siapa yang sudah membuat ibu begitu marah hingga memanggil iblisnya itu." ucap Raja Azvago dengan ekspresi bingung dan khawatir.
Tok tok tok, suara pintu ruang kerja Ibu Suri Sinya yang diketuk Raja Azvago. Setelah menunggu cukup lama akhirnya sang ibu suri membukakan pintu dan melihat ke arah anak pertamanya itu dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Masuklah." ucap Ibu Suri Sinya yang mempersilahkan Raja Azvago untuk masuk kedalam.
Dengan ragu ragu sang raja masuk ke dalam ruang kerja ibunya, ia juga melihat Putri Amerilya yang sedang tertidur dengan lelap di sebuah kursi panjang. Tiba tiba saja suasana di ruang kerja Ibu Suri Sinya berubah menjadi mencekam, terlihat tatapan tajam Ibu Suri Sinya yang ia arahkan pada putranya itu. Ibu Suri sangat marah karna Raja Azvago tak bisa menjaga cucu perempuan kesayangannya dengan baik, kemarin Kesatria Dominix yang meremehkan sang putri dan kali ini ada segelintir prajurit rendahan yang berani meremehkan putri kecil itu.
Plak... Satu tamparan mendarat dengan tepat di pipi kiri Raja Azvago, pria itu hanya diam dan menerima kemarahan dari sang ibu. Raja Azvago tau ibunya sangat marah atas beberapa kejadian yang menimpa Putri Amerilya, dan sebagai seorang ayah ia gagal menjaga putri kecilnya itu dari bahaya yang mengancam.
"Pertama Putri Haru ingin melenyapkan anakmu, kedua beberapa bandit hutan berusaha untuk menyerangnya, ketiga Duke Zidan Marques ingin membunuh gadis itu, saya juga mendengar kabar bahwa sempat ada pembunuh bayaran di kediaman Duke Marques yang mengincar nyawa putri kecilmu itu, kemarin Kesatria Dominix merendahkannya, dan sekarang beberapa prajurit istana utama memperlakukan anak itu dengan buruk. Kau bisa memimpin Kerajaan Meztano dengan sangat baik namun mengapa kau tak bisa menjaga darah daging mu sendiri! jika sesuatu terjadi padanya atau sampai dia kehilangan nyawa apa yang akan kau lakukan. Selama ini kau sangat menginginkan anak perempuan dan sekarang kau sudah memilikinya." ucap Ibu Suri Sinya dengan sangat marah, jika sampai Putri Amerilya meninggal maka tak akan ada anak perempuan lain yang akan lahir di Kerajaan Meztano. Ibu Suri Sinya yakin bahwa hanya Putri Amerilya yang sanggup melawan kutukan itu dan bertahan hidup hingga sekarang.
"Saya sangat lalai dalam menjaga sang putri, saya berjanji untuk memperbaikinya ibu." balas Raja Azvago dengan suara pelan sembari menundukkan kepalanya.
"Lihatlah putri kecilmu menangis ketakutan hingga ia tertidur lelap. Jika di lain hari ada seorang prajurit, pelayan, ataupun jenderal tertinggi sekalipun yang berani merendahkan Putri Amerilya maka saya akan membunuh meraka." ucap Ibu Suri Sinya dengan tegas, jika putranya tak dapat menjaga sang putri dengan baik maka sebagai seorang nenek ia akan menjaga cucunya.
"Maaf atas semua kelalaian saya, anak itu juga sangat berharga untuk saya." ucap Raja Azvago, ia sangat marah pada dirinya sendiri karna tak mampu meluangkan waktu untuk menjaga Putri Amerilya.
Perlahan lahan Putri Amerilya membuka matanya perlahan, anak itu terbangun karna mendengar keributan di dalam ruang kerja sang nenek. Putri Amerilya melihat ke arah Raja Azvago yang sedang menunduk di hadapan Ibu Suri Sinya, sepertinya Raja Azvago sedang dimarahi oleh wanita tua itu.
"Ayah." ucap Putri Amerilya dengan nada bahagia.
Raja Azvago dan Ibu Suri Sinya langsung menoleh ke arah Putri Amerilya dan langsung menghampirinya. Putri Amerilya membentangkan tangan di hadapan Raja Azvago seperti sedang meminta untuk digendong dan dengan sigap sang raja menggendong putri kecilnya itu.
"Kapan ayah datang?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan polos.
"Ayah baru saja datang untuk melihat bagaimana keadaanmu." ucap Raja Azvago dengan senyuman tampan yang ia perlihatkan pada Putri Amerilya.
__ADS_1
"Nenek aku akan pergi bersama ayah, terimakasih atas bantuannya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar, ia tau Ibu Suri Sinya membunuh para prajurit itu hanya untuk dirinya.
Hai semuanya author update lagi nih novel Putri Amerilya, kangen ga sama novel author yang satu ini?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.