PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Permintaan Kesatria Rossen Savalor


__ADS_3

Raja Azvago mengajak Putri Amerilya pergi ke kamarnya, sang raja yakin bahwa putri kecilnya itu dengan sengaja menyelamatkan dirinya dari amarah Ibu Suri Sinya.


"Mengapa ayah mengajak Amerilya kesini?." tanya sang putri kecil dengan tatapan polos, Putri Amerilya belum pernah masuk ke dalam kamar pribadi milik ayah dan ibunya itu.


"Bukankah waktu itu kau pernah meminta untuk tidur bersama ayah ketika kembali dari wilayah Duke Elister untuk menyelesaikan masalah pencemaran." ucap Raja Azvago yang masih mengingat keinginan dari putrinya itu.


Putri Amerilya diam sesaat dan mengingat kembali perkataanya tempo lalu, setelan mengingat semua sang putri langsung berlari ke ranjang besar yang ada di ruang itu. Putri Amerilya mencoba naik ke atas kasur akan tetapi karna tubuhnya yang mungil dan pendek ia kesulitan melakukannya. Raja Azvago bergegas menghampiri sang putri dan menaikkannya ke atas kasur, terlihat raut wajah senang dari putri kecilnya.


"Kasur ini sangat nyaman." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar sembari merebahkan tubuhnya.


"Apakah kasur di kamarmu kurang nyaman putriku? ayah akan meminta pelayan untuk menggantinya." ujar Raja Azvago dengan raut wajah khawatir, ia tak tau jika sang putri kecil memiliki tempat tidur yang tak ia sukai.


"Bukan seperti itu ayah, kasur di kamar Amerilya sangat nyaman hanya saja akan lebih nyaman jika ada ayah yang menemaniku tidur." ucap Putri Amerilya dengan malu malu.


Raja Azvago dan Putri Amerilya bersenda gurau cukup lama di dalam kamar utama hingga hari sudah mulai sore, beberapa pelayan istana putri mulai mencemaskan Putri Amerilya yang belum kembali sedari pagi tadi meraka khawatir beberapa prajurit istana utama yang datang melakukan sesuatu pada putri kecil mereka.


"Sebaiknya beberapa diantara kalian pergi ke istana utama." ucap seorang pelayan bermata biru dan raut wajah serius.


"Baik kami berdua yang akan pergi ke istana utama, yang lain tunggu saja di sini dan beri kabar jika sang putri sudah kembali." ucap dua orang pelayan istana putri yang bergegas pergi menuju istana utama.


Dua orang pelayan dari istana putri berlarian menuju istana utama dan menarik perhatian dari pelayan lain, saat akan masuk kedalam istana utama ada beberapa prajurit yang menghentikan mereka.


"Pelayan dari istana putri dilarang masuk ke dalam istana utama tanpa perintah langsung dari Yang Mulia Raja Azvago." ucap salah seorang prajurit dengan tegas, aturan itu sudah ada sejak kematian pertama anak perempuan dari Raja Azvago.


"Kami datang untuk mencari Putri Amerilya, jika sang raja menghukum kami karna hal ini maka kami berdua akan menerimanya." ucap kedua pelayan itu secara bersamaan, mereka lebih sayang dengan Putri Amerilya daripada nyawa mereka sendiri.


"Jangan membantah! kalian berdua hanya pelayan rendahan dari istana putri." triak beberapa prajurit dengan suara yang cukup kencang.


Ratu Zivaya yang saat itu baru kembali dari Istana tempat tinggal Pangeran Zingo merasa heran dengan keributan yang terjadi antara prajurit istana utama dengan dua orang pelayan dari istana putri. Sang ratu mempercepat langkahnya agar segera sampai di depan pintu masuk istana utama, ia ingin mengetahui apa yang menjadi penyebab dari keributan itu.


"Salam hormat kami pada Yang Mulia Ratu Zivaya." ucap beberapa prajurit istana utama dan kedua pelayan dari istana putri. Mereka semua memberikan salam saat melihat sang ratu ingin melintas dan masuk kedalam.


"Apa yang sedang kalian ributkan?." tanya Ratu Zivaya dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Kami berdua datang ke istana utama untuk mencari Tuan Putri Amerilya, sedari pagi ia pergi ke Istana Utama dan belum kembali hingga sekarang." jelas kedua pelayan istana putri itu pada Ratu Zivaya.


"Wajar saja jika Putri Amerilya bermain main di sekitar Istana Utama kalian tak perlu mencemaskan hal itu." jawab Ratu Zivaya dengan tenang, ia yakin tak akan terjadi apapun saat putri kecilnya berada di tempat ini.


"Putri datang ke Istana Utama untuk bertemu Ibu Suri Sinya, pagi tadi ada beberapa prajurit istana utama yang datang mereka meminta Putri Amerilya turun langsung dalam masalah penyerangan yang terjadi pada para Kesatria Savalor. Sang putri menolak keinginan para prajurit itu dan mengancam akan mengadukan hal ini pada ibu suri, awalnya para prajurit tak percaya namun ketika Putri Amerilya berlari menuju Istana Utama mereka semua mengejarnya." jelas salah seorang pelayan istana putri pada Ratu Zivaya agar mengerti alasan mengapa mereka sangat khawatir.


Ratu Zivaya langsung menarik pelan tangan kedua pelayan istana putri itu untuk masuk kedalam istana utama, mereka bertiga akan mencari keberadaan Putri Amerilya. Ratu Zivaya tak mengetahui masalah yang terjadi pada para Kesatria Savalor yang ia pedulikan hanya keselamatan putri kesayangannya.


"Mengapa kau berlarian kesana kemari istriku?." tanya Raja Azvago saat melihat Ratu Zivaya dan dua orang pelayan mondar mandir di lorong utama.


Ratu Zivaya dan kedua pelayan istana putri menoleh ke arah Raja Azvago, mereka bertiga merasa lega saat melihat Putri Amerilya ada dalam gendongan sang raja dalam keadaan tertidur. Kedua pelayan mengambil alih dan salah satu dari mereka menggendong Putri Amerilya kemudian bergegas kembali menuju Istana Putri.


"Kami akan membawa Putri Amerilya kembali, kami permisi terlebih dahulu Yang Mulia Raja Azvago dan Ratu Zivaya." ucap kedua pelayan itu kemudian melangkah keluar dari istana utama.


Di sisi lain para anggota Kesatria Savalor yang sedang di rawat di ruang kesehatan mulai sadar dan merasa bingung tentang kejadian yang terjadi pada mereka kemarin malam. Beberapa tabib istana menjelaskan bahwa mereka semua mendapatkan luka yang sama dan ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di dalam markas oleh beberapa prajurit yang sedang berjaga. Beberapa anggota Kesatria Savalor mulai mengingat kejadian malam itu, mereka sangat yakin yang menyerang adalah sekumpulan wanita dan sangat disayangkan karna mereka tak bisa melihat dengan jelas bagaimana ciri ciri wajah wanita itu.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Dominix Savalor? kami belum melihatnya sejak malam itu." tanya Arges Savalor, tak mungkin jika ketua mereka adalah dalang dibalik kejadian kali ini ataupun sang ketua melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Yang saya ketahui Tuan Kesatria Dominix ditahan di penjara bawah tanah untuk beberapa waktu sebagai hukuman karna telah menghina Putri Amerilya." ucap sang tabib.


"Jangan melakukan tindakan gegabah, saat ini ketua belum dibebaskan." ucap Arges Savalor yang mengingatkan rekan satu timnya itu.


Para anggota Kesatria Savalor memilih untuk kembali ke markas mereka daripada dirawat di ruang kesehatan, sebelumnya mereka akan pergi untuk bertemu Raja Azvago dan meminta keadilan mengenai penyerangan kemarin malam. Beberapa anggota Kesatria Savalor mengetuk pintu ruang kerja sang raja, setelah mendapatkan izin mereka langsung masuk ke dalam.


"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Azvago." ucap ketiga anggota Kesatria Savalor itu secara bersamaan.


"Saya terima salam kalian." jawab Raja Azvago dengan nada datar dan tatapan tajam.


"Kami datang kesini untuk meminta keadilan pada anda." ucap Kesatria Lordxu Savalor dengan sangat berani, ia bahkan menatap mata Raja Azvago tanpa ragu ragu.


"Penyerangan yang terjadi pada anggota Kesatria Savalor sedang dalam penyelidikan, beberapa prajurit mencari barang bukti tentang penyerangan kali ini. Saya harap kalian tetap dalam kendali dan tak melakukan tindakan ceroboh." ucap Raja Azvago dengan nada dingin, ia tau ketiga anggota Kesatria Savalor itu sudah mengetahui alasan dibalik penyerangan tersebut hingga mereka datang langsung untuk menemuinya.


"Malam itu kami semua sangat yakin bahwa yang menyerang adalah sekelompok wanita." ucap Kesatria Arges Savalor, karna penyerang terjadi secara bersamaan dapat disimpulkan bahwa yang menyerang mereka bukan hanya satu orang saja.

__ADS_1


"Kami sangat kecewa karna si penyerang berkaitan dengan putri anda, jika anda tak melakukan penyelidikan dengan cepat maka kami akan mengambil tindakan secara pribadi." ucap Kesatria Rossen Savalor yang mulai mengancam Raja Azvago.


Raja Azvago menatap tajam ke arah tiga pria yang ada di hadapannya itu, jika Kesatria Savalor tak dipekerjakan oleh Istana Kerajaan Meztano maka anggota mereka hanya akan menjadi gelandangan saja. Inikah balasan yang Raja Azvago dapatkan setelah membantu para bajingan itu? sepertinya sang raja harus memecat mereka semua setelah masalah ini menemukan titik terang.


"Saat ini Ibu Suri Sinya dalam konsisi yang sangat buruk, ia begitu sensitif pada orang orang yang berusaha mencelakai Putriku. Pagi tadi ada beberapa prajurit Istana Utama yang mati di tangan Ibu Suri. Jika saya melaporkan hal ini pada beliau apa yang akan terjadi pada kalian?" ucap Raja Azvago dengan senyuman tipis, Ibu Suri Sinya memiliki sisi gelap yang hanya diketahui oleh beberapa pihak saja. Belasan tahun yang lalu wanita tua itu pernah membunuh seluruh anggota keluarga kerajaan musuh saat malam hari.


Ketiga kesatria Savalor terdiam beberapa saat, menyusutkan Ibu Suri Sinya bukanlah hal yang mudah mereka perlu mempertaruhkan nyawa untuk melakukannya. Putri Amerilya adalah satu satunya anak perempuan dari Yang Mulia Raja Azvago, jika ingin menyingkirkan gadis itu maka mereka harus membuat sang raja mengadopsi seorang anak perempuan lagi.


"Bagaimana jika kami meminta sesuatu pada anda, jika anda mengabulkan permintaan kami maka kami menganggap masalah ini telah selesai." ucap Kesatria Rossen Savalor dengan senyuman licik yang memuakkan.


"Katakan saja dan saya akan mempertimbangkannya." ucap Raja Azvago dengan serius.


"Anda harus mengadopsi seorang anak perempuan dari salah satu panti yang ada di wilayah Kerajaan Meztano." ucap Kesatria Rossen yang membuat kedua rekannya juga terkejut. Apa yang sedang difikirkan oleh pria itu? Raja Azvago tak akan pernah mengadopsi seorang anak yang tak memiliki asal usul jelas.


"Putri Amerilya satu satunya anak perempuan yang saya miliki, hal itu berlaku dari sekarang hingga saya mati nanti." jawab Raja Azvago dengan tegas, sang raja meminta ketiga anggota Kesatria Savalor itu untuk pergi dari ruang kerjanya sebelum sang raja murka.


Dengan sangat terpaksa ketiga anggota Kesatria Savalor itu pergi dari ruang kerja Raja Azvago, mereka sangat tak puas dengan apa yang didapat hari ini. Kesatria Arges Savalor dan Kesatria Lordxu Savalor menatap ke arah Kesatria Rossen yang menyebabkan semuanya menjadi berantakan. Menyarankan kepada Raja Azvago untuk mengadopsi seorang anak perempuan adalah hal yang sangat gila.


"Kau mengacaukan semuanya." ucap Kesatria Arges Savalor dengan tatapan kesal, ia berjalan mendahului kedua rekannya yang lain.


Saat ini Raja Azvago sedang berusaha sebaik mungkin untuk menekan amarahnya, kegelapan mulai menyelimuti ruang kerja sang raja. Raja Azvago tak pernah menyangka bahwa seorang kesatria bayaran seperti Rossen berani meminta hal seperti itu darinya, mengadopsi seorang anak dari panti hanya akan membuat tatanan silsilah Kerajaan Meztano menjadi kacau lagipula tak ada anak perempuan yang lebih cantik dan lebih pintar daripada Putri Amerilya.


"Argh sialan!!." triak Raja Azvago dengan sangat kencang sembari memukul meja kerjanya hingga hancur menjadi debu, untunglah dokumen dokumen yang ada di atas meja masih dalam kondisi utuh.


Ratu Zivaya yang saat itu berada di dalam kamar mendengar suara teriakan dari sang suami, karna merasa khawatir sang ratu langsung berlari keluar kamar dan masuk kedalam ruang kerja Raja Azvago tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ratu Zivaya sangat terkejut karna ruang kerja suaminya berubah menjadi ruang hampa yang gelap, sang suami berdiri penuh dengan kemarahan. Ratu Zivaya berjalan mendekati Raja Azvago kemudian memeluknya dengan erat.


"Semuanya akan baik baik saja suamiku, tak akan ada yang bisa menggantikan posisi putri kecil kita." ucap Ratu Zivaya dengan lembut di telinga Raja Azvago.


Perlahan lahan kemarahan Raja Azvago mulai mereda, ruang kerjanya juga kembali normal. Sang raja memeluk erat istrinya, untunglah ada Ratu Zivaya yang berhasil menenangkan Raja Azvago jika tidak maka seluruh istana utama akan berubah menjadi ruang hampa yang sangat gelap.


"Mereka memintaku untuk mengadopsi seorang anak perempuan, berani sekali mereka." ucap Raja Azvago pada sang istri.


"Aku akan memukul mereka dengan tanganku sendiri, tenangkan lah dirimu jangan sampai istana putri juga berubah menjadi ruangan hampa yang gelap." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman tipis.

__ADS_1


Setelah Raja Azvago benar benar tenang ia mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi, mendengar cerita dari sang suami membuat Ratu Zivaya ikut naik darah. Sikap para anggota Kesatria Savalor sudah benar benar melewati batas, Ratu Zivaya akan mendatangi mereka nanti untuk memberikan pelajaran.


Hai semuanya aku update lagi nih Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2