
Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya berjalan menyusuri halaman bagian samping istana putri, mereka tak menyadari bahwa ada seorang anak perempuan yang sedari tadi pengintip dari balik jendela. Anak itu adalah Putri Amerilya, sang putri telah terbangun beberapa saat yang lalu, ia mendengar suara dari halaman belakang samping istana padahal halaman tersebut selalu sepi dan tak ada yang mengunjungi. Karna merasa penasaran akhirnya Putri Amerilya mengintip dan mendapati tiga tikus yang berusaha untuk kabur.
"Mereka terlihat seperti pencuri yang tak bisa keluar dari rumah tempatnya mencuri." ucap Putri Indonesia sembari tertawa pelan agar kehadiranmu tak disadari oleh mereka bertiga.
Saat ini Bristo Marques berusaha untuk memanjat dinding bagian samping istana putri, ia berharap bisa memanjat sampai ke atas dan segera pergi dari tempat itu. Putri Amerilya membaca sebuah mantra kemudian tumbuh tanaman rambat di sekitar dinding yang sedang dipanjat oleh Bristo Marques, sontak anak laki laki itu terjerat dan tak bisa melepas lilitan dari tanaman tanaman tersebut.
"Darimana datangnya tanaman sialan ini." ucap Bristo Marques yang berusaha melepas lilitan di kaki bagian kirinya.
"Cepatlah turun sebelum ada yang menyadari kehadiran kita di sini." ucap Ciela Marques dengan gemas, ia tak tau kebodohan macam apa yang sedang dilakukan oleh kakak laki lakinya itu.
"Apa kau tak melihat aku kesulitan untuk melepaskannya. Paling tidak bantulah kakak mu ini daripada kau terus menggerutu seperti itu." jawab Bristo Marques dengan kesal pada Ciela Marques.
Nyonya Riana Marques berusaha memotong tanaman rambat itu menggunakan pedang yang ada di tangannya, anehnya tanaman itu tak tergores sedikitpun. Nyonya Riana Marques melihat ke segala arah untuk memastikan apakah tumbuhnya tanaman itu karna ulah seseorang yang mengetahui keberadaan mereka. Untunglah wanita itu tak melihat ke arah kamar Putri Amerilya karna ia sangat yakin saat ini sang putri sedang mengantar kepulangan kedua keluarga Duke.
"Apa yang sedang ibu cari? di Kerajaan Meztano tak ada seorangpun yang dapat menggunakan sihir seperti ini." ucap Ciela Marques yang sedang mengingatkan sang ibu.
"Ibu hanya sedang mewaspadainya situasi saat ini, tak ada yang tau jika seseorang sedang mengawasi kita untuk sekarang." ucap Nyonya Riana Marques yang menatap ke arah putrinya dengan tatapan tajam. Ia tak tau mengapa anak perempuan itu sedikit lebih kasar dari kakak kakaknya yang lain.
"Sebaiknya ibu segera mencari cara untuk menyelamatkan Bristo sebelum ada prajurit yang datang." ucap Ciela Marques sembari berdecak kesal, mereka akan semakin lama terjebak di tempat ini.
Putri Amerilya tersenyum puas saat melihat wajah bingung dari Nyonya Riana Marques, anak perempuan itu kembali menggerakkan tangannya kemudian muncul tumbuhan lain dari dalam tanah. Tumbuhan itu melilit tubuh Nyonya Riana Marques dan Nona Muda Ciela Marques dengan sangat erat, keduanya berada dalam posisi terbalik sedangkan Bristo Marques masih menempel di dinding halaman samping istana putri. Setelah melancarkan aksinya itu Putri Amerilya langsung keluar dari dalam kamar dengan raut wajah ketakutan, putri kecil itu langsung berlari ke dapur dan memeluk kaki Liliana dengan tubuh gemetaran.
Liliana dan beberapa pelayan lain saat itu sedang memasak untuk sarapan Putri Amerilya dan kedua anak perempuan Duke Moren Rucixara, Liliana dikejutkan oleh sang putri kecil yang tiba tiba saja berlari ke arahnya kemudian memeluk kakinya dengan erat. Melihat ekspresi ketakutan dari Putri Amerilya membuat Liliana khawatir dan langsung menenangkan Putri Amerilya.
"Apa yang terjadi padamu Tuan Putri Amerilya? tarik nafas perlahan dan ceritakan pada kami semua." ucap Liliana dengan nada tenang meski saat ini raut wajahnya menunjukkan ekspresi cemas.
__ADS_1
"Amerilya mendengar suara jeritan dari halaman samping istana, bisakah kita pergi ke sana untuk memastikan apa yang sedang terjadi?." tanya Putri Amerilya dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan Putri terkejut dengan suara itu? mari kita lihat siapa yang telah membuat putri kecil kita ketakutan seperti ini." ucap Liliana sembari mengajak tiga pelayan lain bersama dengannya.
Liliana menggendong Putri Amerilya kemudian ia berjalan menuju pintu bagian samping istana putri yang terhubung langsung dengan halaman belakang dan halaman samping. Saat membuka pintu Liliana dan ketiga pelayan lain dikejutkan dengan penampakan Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya yang sedang terlilit oleh tanaman aneh. Liliana menurunkan Putri Amerilya dari gendongannya kemudian mendekat ke arah Nyonya Riana Marques yang sedang menjerit minta tolong.
"Bagaimana Anda bisa berakhir seperti ini Nyonya Riana Marques." ucap Liliana sembari menahan tawanya. Posisi Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya benar benar lucu dan menggelikan.
"Cepat bantu kami untuk melepaskan lilitan tanaman sialan ini." ucap Nyonya Riana Marques sembari menggerakkan tubuhnya ke segala arah namun tanaman itu semakin mengencangkan lilitannya.
"Kalian cepat panggil Yang Mulia Raja Azvago katakan bahwa saat ini tahanan yang kabur berada di halaman samping istana putri." ucap Liliana pada dua orang pelayan yang masih berdiri di ambang pintu. Kedua pelayan itu langsung berlari menuju istana utama untuk memberitahukan hal tersebut pada Yang Mulia Raja Azvago.
Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang dijaga oleh seorang pelayan dengan rambut dan mata berwarna hitam, sang putri tersenyum miring saat anak perempuan dari Riana Marques menatap ke arahnya. Senyuman dari Putri Amerilya membuat Ciela Marques merasa kesal, ia merasa sedang diejek oleh anak perempuan berusia dua tahun itu.
"Tampar gadis tak sopan itu Liliana." ucap Putri Amerilya yang memberi perintah pada pelayan setianya untuk menampar Ciela Marques.
Liliana tersenyum lebar kemudian berjalan mendekat ke arah Ciela Marques, dengan senang hati pelayan itu menampar pipi Ciela Marques dengan sangat kencang hingga anak dari Riana Marques itu meringis kesakitan. Setelah mendapatkan beberapa tamparan bukannya diam Ciela Marques malah mengumpat pada Putri Amerilya dan mengatakan kata kata yang sangat kasar.
"Bagaimana jika saya memotong lidahnya saja Tuan Putri Amerilya?." ucap Liliana, pelayan itu memberikan ide yang sangat bagus. Jika Ciela Marques tak memiliki lidah maka ia tak akan bisa berbicara dengan lancar.
"Lakukan saja." ucap Putri Amerilya dengan tatapan datar, Liliana bebas melakukan apapun asal bisa membungkam mulut anak perempuan dari Riana Marques yang sangat berisik itu.
Liliana masuk ke dalam istana putri kemudian ia kembali dengan membawa sebuah pisau tajam di tangannya, Ciela Marques menggeleng gelengan kan kepalanya beberapa kali. Ciela Marques berusaha meminta maaf pada Putri Amerilya namun sang putri tak memberikan respon apapun sedangkan Nyonya Riana Marques hanya diam saja saat putrinya diperlakukan seperti itu.
Liliana menarik keluar lidah Ciela Marques, sebelum memotong lidah gadis itu Liliana memberikan isyarat pada pelayan yang ada di samping Putri Amerilya untuk menutup mata sang putri. Setelah mata Putri Amerilya tertutup telapak tangan, Liliana langsung memotong lidah Ciela Marques hingga mengeluarkan banyak darah. Liliana tersenyum senang ke arah Ciela Marques kemudian ia membakar lidah itu hingga hangus tak tersisa.
__ADS_1
"Bukankah sangat menyenangkan ketika Anda tak bisa mengatakan apapun lagi dengan jelas Nona Muda Ciela Marques." ucap Liliana kemudian menempuk pipi gadis itu beberapa kali.
Di sisi lain saat ini dua pelayan yang diperintahkan oleh Liliana untuk memberitahukan pada Yang Mulia Raja Azvago mengenai lokasi tawanan kerajaan yang kabur sedang dalam perjalanan menuju istana putri bersama dengan Yang Mulia Raja Azvago, Pangeran Mixo, dan beberapa prajurit yang ditugaskan untuk menangkap ketiga anggota Keluarga Duke Marques itu. Setelah sampai di istana putri mereka semua bergegas menuju halaman samping, pandang Pangeran Mixo tertuju pada Putri Amerilya yang sedang ditutup matanya oleh seorang pelayan.
"Mengapa kau menutup mata adikku?." tanya Pangeran Mixo dengan tatapan bingung. Ia melihat ke arah yang ditunjuk oleh pelayan berambut dan bermata hitam itu.
Pangeran Mixo terkejut saat melihat konsisi anak perempuan Nyonya Riana Marques yang sedang terlilit tanaman dengan mulut terbuka dan darah mengalir secara terus-menerus.
"Bawa mereka ke ruang eksekusi, kita tak perlu melakukan banding di pengadilan untuk menghukum para pengkhianat. Langsung potong kepala mereka lalu bakar di tungku pembakaran khusus yang ada di ruang bawah tanah." ucap Yang Mulia Raja Azvago, ia memberikan perintah pada para prajurit untuk langsung mengeksekusi ketiga anggota Keluarga Duke Marques itu.
"Anda tak bisa memperlakukan kami seperti ini, sebentar lagi Kerjaan Meztano akan menjadi milik Keluarga Marques." ucap Nyonya Riana Marques, ia menatap tajam Raja Azvago.
"Tak ada lagi yang tersisa dari Keluarga Duke Marques, kediaman megah yang kalian miliki kini telah menjadi abu." jawab Yang Mulia Raja Azvago dengan senyum kemenangan di wajah tampannya itu.
"Tak mungkin tak mungkin hal itu terjadi, apa yang telah kau lakukan pada rumahku." jerit Nyonya Riana Marques dengan histeris.
Para prajurit yang ingin menangkap Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya merasa kesulitan karena tanaman yang melilit tubuh mereka tak bisa ditebas dengan pedang biasa. Raja Azvago menatap bingung ke arah tanaman itu, siapa yang telah menumbuhkan nya di halaman samping istana putri?. Saat yang lain sedang kebingungan dan berusaha melepas lilitan tanaman itu, Putri Amerilya secara diam diam mulai membaca mantra dan beberapa saat setelahnya semua tanaman rambat menghilangkan dari halaman samping istana putri.
"Kemana perginya tanaman tadi? mungkinkah ada anggota Kerajaan Meztano dengan kekuatan alam?." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan raut wajah bingung. Ia melihat kesekeliling namun tak ada orang lain selain mereka, tak mungkin juga jika Putri Amerilya yang melakukan hal itu.
"Bawa mereka pergi sekarang juga, saya sudah muak melihat wajah para pengkhianat ini." ucap Raja Azvago. Dengan segera para prajurit menangkap Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya, mereka bertiga dibawa pergi ke tempat eksekusi.
Setelah semua selesai pelayan yang menutup mata Putri Amerilya melepas tangannya dari wajah sang putri, kini Putri Amerilya bisa melihat ke arah Pangeran Mixo dan Raja Azvago yang tersenyum ke arahnya itu.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1