
"Lebih baik biarkan saja mereka tetap di sini hingga dalang di balik semua rencana busuk mereka muncul karna khawatir dengan keberhasilan rencananya." ucap Putri Amerilya yang mulai merasa lelah dengan semua masalah yang muncul akhir akhir ini. Bahkan masalahnya dengan Kerajaan Antez saja belum selesai.
"Saya permisi untuk mengantarkan Tuan Putri kembali ke istananya. Salam Yang Mulia Raja Azvago." ucap Kesatria Richal. Ia menggendong Putri Amerilya kemudian mengajak sang putri kecil untuk keluar dari ruang interogasi yang terasa sangat pengap dan panas itu.
"Tidurlah dengan nyenyak putriku, biarkan masalah ini menjadi urusan ayah dan yang lain." batin Raja Azvago dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya itu.
Setelah kepergian Putri Amerilya bersama dengan Kesatria Richal kini suasana di dalam ruang interogasi menjadi lebih tenang daripada sebelumnya. Raja Azvago kembali menatap ke arah Kesatria Black Linox, ia tak menyangka bahwa selama ini dirinya dibodohi oleh pria itu. Raja Azvago mengambil sebuah perang dari balik jubah yang ia kenakan kemudian menancapkan pedang itu ke paha bagian kanan Kesatria Black Linox hingga ia menjerit dengan kencang.
"Beraninya kau mengkhianati kepercayaan yang telah saya berikan. Katakan pada saya apakah ada anggota Kesatria Black Night lain yang bersekongkol dengan rencana mu itu!." ucap Raja Azvago, ia terlihat begitu marah hingga kabut berwarna hitam mulai keluar dari atas kepalanya.
Kesatria Black Linox meringis kesakitan, ia merasa enggan untuk menjawab pertanyaan dari Sang Raja namun di sisi lain ia takut dengan ancaman Tuan Putri Amerilya. Dalam rencana penghancur Istana Kerajaan Meztano saat ulangtahun Putri Amerilya tidak melibatkan anggota Kesatria Black Night yang lain, meskipun Black Linox memiliki banyak rekan selama bergabung dengan kelompok itu namun ia belum bisa mempercayai siapapun.
"Tidak, hanya saya yang mengetahui dan menjalankan rencana ini. Berbagai dengan anggota kesatria yang lain hanya akan menghambat rencana kami." jawab Kesatria Black Linox dengan jujur pada sang raja.
"Jadi selama ini kau diam diam berhubungan dengan pihak Keluarga Marques Montiqu, bagaimana caranya kau keluar masuk wilayah Kerajaan Meztano tanpa dicurigai oleh para penjaga perbatasan?." tanya Raja Azvago. Ia harus mengetahui cara Kesatria Black Linox menyusup keluar masuk wilayah kekuasaan dengan bebas.
"Mereka tak akan curiga karna saya tak pernah keluar wilayah Kerajaan Meztano sendirian, saya menemui beberapa pesuruh Keluarga Marques Montiqu saat menjalankan tugas bersama anggota Kesatria Black Night yang lain." jawab Ksatria Black Linox dengan menundukkan kepalanya. Aura membunuh yang keluar dari Raja Azvago terlalu pekat, ia tak boleh menatap mata pria itu secara langsung jika masih ingin hidup.
"Cih kau bahkan memanfaatkan rekan mu sendiri untuk kepentingan pribadi, bagaimana tanggapan Kesatria Black Nicko jika mengetahui salah satu anggotanya adalah seorang penghianat." ucap Raja Azvago yang menatap Kesatria Black Linox dengan tatapan hina.
"Tidak, jangan katakan apapun pada mereka mengenai kejadian ini. Saya merasa senang bisa bergabung dengan kelompok Kesatria Black Night dan memiliki banyak rekan, saya tidak ingin hubungan dengan mereka hancur begitu saja." ucap Kesatria Black Linox dengan tatapan memohon.
"Apakah saya terlihat peduli dengan kesulitan yang akan Anda hadapi Tuan Kesatria Black Linox?? tolong panggilkan Kesatria Black Nicko kemari." ucap Raja Azvago sembari menatap ke arah Kesatria Albern.
"Siap laksanakan, saya akan pergi untuk membawa Kesatria Black Nicko datang kemari. Saya permisi terlebih dahulu Yang Mulia Raja." ucap Kesatria Albern yang bergegas pergi meninggalkan ruang interogasi.
Kesatria Black Linox menunjukkan kepalanya dengan bahu yang bergetar, sepertinya ia benar benar sedih karna sebentar lagi seluruh rekannya akan mengetahui wajah aslinya itu. Selama tinggal bersama anggota Kesatria Black Night yang lain, Linox selalu diperlakukan dengan baik bahkan ia merasa memiliki keluarga baru. Kesatria Black Linox hanya bisa pasrah jika semua rekannya akan membencinya, ini susah menjadi konsekuensi di saat ia gagal menjalankan misi.
__ADS_1
Di sisi lain saat ini Kesatria Richal dan Putri Amerilya telah sampai di istana putri, mereka berdua disambut oleh kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya yang sedang menatap dengan tatapan penuh rasa cemas. Kesepuluh pelayan itu khawatir jika sesuatu terjadi pada Putri Amerilya ketika sedang menjalankan rencananya, untunglah sang putri kembali dengan selamat tanpa luka sedikitpun.
"Terimakasih karna Anda telah menjaga Tuan Putri selama menjalankan tugas ini." ucap Lilian sembari membungkukkan badannya di hadapan Kesatria Richal.
"Tidak perlu melakukan penghormatan seperti itu, sudah menjadi tugas saya untuk memastikan Tuan Putri Amerilya selalu dalam kondisi aman." jawab Kesatria Richal dengan senyuman ramah.
"Silahkan mampir sebentar dan minum teh bersama dengan kami, anggap saja sebagai bentuk rasa terimakasih dari kami pada Tuan Kesatria." ucap Lilian yang mengundang Kesatria Richal untuk minum teh bersama dengan mereka.
"Terimakasih untuk undangannya, namun dengan sangat terpaksa saya harus menolaknya. Saat ini Yang Mulia Raja Azvago masih melakukan interogasi terhadap para pelaku dan saya harus kembali untuk membantu." jawab Kesatria Richal dengan tatapan sedih, ia sangat ingin menikmati secangkir teh sembari membicarakan banyak hal mengenai Putri Amerilya bersama dengan para pelayan yang telah melayani putri kecil itu sejak ia lahir ke dunia.
"Ah ternyata begitu, baiklah jika Tuan Kesatria memiliki waktu luang silahkan mampir dan minum teh bersama dengan kami." ucap Lilian dengan senyuman ramah. Ia tak bisa memaksa Kesatria Richal untuk tetap berada di istana putri.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu. Selamat beristirahat Tuan Putri, besok adalah hari yang penting untuk Anda. Pastikan beristirahat dengan cukup agar Anda tak merasa kelelahan menyambut banyak tamu." ucap Kesatria Richal, ia mengusap kepala Putri Amerilya beberapa kali kemudian beranjak pergi meninggalkan istana putri.
Setelah kepergian Kesatria Richal, Putri Amerilya berpamitan pada para pelayan untuk kembali ke kamarnya. Ia merasa sangat lelah dan ingin segera beristirahat, akhirnya Lilian dan yang lain mengurungkan niat mereka menanyakan beberapa hal pada Putri Amerilya. Wajah ngantuk dari putri kecil itu membuat kesepuluh pelayan setianya merasa tak tega.
"Untuk saat ini kita harus tetap berada di sekitar Tuan Putri Amerilya, tugas untuk mengawasi pergerakan Keluarga Marques Montiqu dan Kerajaan Belgize telah saya serahkan pada orang terpercaya jadi kalian tak perlu khawatir." ucap Lilian yang sudah memikirkan hal ini jauh jauh hari.
"Baguslah jika begitu kita bisa fokus untuk menjaga Tuan Putri Amerilya. Saat pesta ulang tahun nanti pasti banyak orang yang memiliki niatan buruk pada sang putri, bagaimanapun Yang Mulia Raja Azvago memiliki banyak musuh karna itu kita harus berhati-hati." ucap Riana dengan tatapan serius. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan di hari kelahiran sang putri.
Di tempat lain saat ini Kesatria Albern telah kembali ke ruang interogasi dengan membawa Kesatria Black Nicko bersamanya. Awalnya Kesatria Black Nicko menolak ajakan Kesatria Albern karna tak ada keterangan apapun yang disampaikan, namun saat mendengar itu adalah perintah langsung dari Yang Mulia Raja Azvago mau tidak mau Kesatria Black Nicko pun ikut.
Kesatria Black Nicko menatap miris ke arah Kesatria Black Linox yang kehilangan kedua lengannya, selain itu ada sebuah pedang yang menancap di paha sebelah kanan Kesatria Black Linox. Apa yang sedang terjadi di sini? mengapa Yang Mulia Raja Azvago dan anggota Kesatria White Rose menatap penuh kebencian ke arah salah satu anggota kelompoknya itu.
"Apakah ini alasan Yang Mulia Raja meminta Kesatria Albern untuk menjemput saya. Apa yang sedang terjadi? mengapa kondisi Kesatria Black Linox sampai seperti ini." tanya Kesatria Black Nicko dengan tatapan bingung sekaligus rasa kecewa yang menyeruak di dalam hatinya. Apakah sang raja melakukan semua ini sebagai bentuk balas dendam karna anggota Kesatria Black Night sering gagal menjalankan tugas tugas yang diberikan?.
"Pria yang Anda anggap sebagai keluarga sendiri ternyata seorang serigala yang siap menerkam kapanpun. Dia adalah mata mata yang dikirim oleh Keluarga Marques Montiqu untuk mengawasi pergerakan di dalam Istana Kerajaan Meztano." ucap Raja Azvago langsung pada intinya. Hari semakin malam dan ia belum sempat beristirahat karena masalah ini.
__ADS_1
"Mata mata? apakah Yang Mulia Raja sedang bercanda pada saya?. Kesatria Black Linox adalah sosok yang sangat ramah, ia sering membantu rekannya yang lain ketika sedang mengalami kesulitan. Bagaimana bisa orang sebaik dia adalah seorang mata mata!." ucap Kesatria Black Nicko penuh dengan amarah. Ia tak bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh sang raja.
"Tanyakan langsung pada orangnya, bukankah dia masih memiliki mulut yang utuh dan masih mampu menjawab semua pertanyaan Anda." sindir Kesatria Richal pada Kesatria Black Nicko. Jika sang kesatria tak dapat mempercayai ucapan sang raja maka ia bisa bertanya secara langsung pada si pelaku.
"Katakan apakah ucapan Yang Mulia Raja itu benar! apakah kau seorang mata mata yang sengaja dikirim oleh pihak musuh!!." tanya Kesatria Black Nicko dengan mata memerah. Jika semua itu benar maka kebaikan yang ditunjukkan oleh Kesatria Black Linox selama ini hanyalah tipuan semata.
"Maafkan saya, semua yang dikatakan Yang Mulia Raja Azvago memang benar adanya. Saya adalah mata mata yang dikirim oleh Keluarga Marques Montiqu beberapa tahun yang lalu. Bukankah saya bergabung dengan anggota Kesatria Black Night saat terjadi ketegangan antara Kerajaan Meztano dengan Kerajaan Belgize." jawab Kesatria Black Linox dengan jujur pada ketua kelompoknya itu.
Lutut Kesatria Black Nicko terasa sangat lemas, ia masih belum bisa menerima pengakuan dari Kesatria Black Linox yang sangat mengejutkannya itu. Orang yang selama ini berprilaku dengan baik dan tak pernah membantah meskipun mendapatkan tugas paling sulit adalah seorang mata mata?. Bagaimana bisa Kesatria Black Nicko tak menyadari hal ini sejak awal? apa yang harus ia katakan pada anggota Kesatria Black Night yang lain jika sudah seperti ini keadaannya.
"Apa yang telah dilakukan oleh pria brengsek ini hingga Anda memberikannya hukuman yang sangat berat?." tanya Kesatria Black Nicko yang memberanikan diri untuk menatap mata Yang Mulia Raja Azvago secara langsung.
"Dia berencana untuk memusnahkan semua orang. Awalnya ia dan para prajurit dari Keluarga Marques Montiqu berencana meledakkan puluhan ton bubuk peledak saat pesta ulangtahun Putri Amerilya dilangsungkan, namun entah mengapa rencana itu dimajukan menjadi malam ini. Untunglah seseorang mengetahui rencana busuk mereka dan langsung melaporkannya pada kami." jawab Raja Azvago yang tak ingin membongkar fakta bahwa putrinya lah yang telah menangkap dan mengalahkan semua penjahat itu.
"Ahahaha kau ingin membunuh semua orang? apakah kami memperlakukan mu dengan buruk?. Cepat jawab pertanyaan ku itu!." ucap Kesatria Black Nicko sembari mengguncang tubuh Kesatria Black Linox.
"Jangan tanyakan apapun, lebih baik cepat bunuh saja saya agar tak perlu merasakan penderitaan ini." ucap Kesatria Black Linox yang sudah sangat frustasi dengan keadaannya saat ini.
Plak...
Sebuah tamparan yang sangat kencang dilayangkan oleh Kesatria Black Nicko untuk Kesatria Black Linox. Hatinya merasa sakit karna telah membesarkan seorang penghianat di dalam kelompoknya, ia benar benar kecewa atas tindakan Kesatria Black Linox yang sudah melewati batas.
"Jangan memberikan kematian yang mudah untuk penghianat sepertinya ini Yang Mulia Raja. Biarkan saya ia menderita dalam waktu yang lama." saran Kesatria Black Nicko dengan tatapan sinis yang ia tujukan pada Kesatria Black Linox.
"Tenangkan diri Anda Tuan Kesatria, terkadang sesuatu berjalan tak sesuai dengan prediksi kita. Mari saya antar kembali menuju markas Kesatria Black Night." ucap Kesatria Albern yang berusaha untuk menenangkan ketua kelompok Kesatria Black Night itu.
"Ingat ini baik baik. Mulai hari ini kau bukan lagi bagian dari Kesatria Black Night, apapun yang terjadi pada mu bukanlah urusan kami." tegas Kesatria Black Nicko sembari menunjuk ke arah Kesatria Linox. Setelah selesai menyampaikan hal itu ia langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkan ruang interogasi.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.