
Pertandingan antara Ratu Zivaya dengan dan Ratu Jeylena sempat terhenti beberapa saat akibat kecurangan yang ingin dilakukan olah Putri Lena. Melihat sebuah kesempurnaan emas tentu Ratu Jeylena tidak akan menyia-nyiakannya, sang ratu bangkit dari posisinya kemudian ia membuat sebuah pisau kecil yang terbuat dari es dan hendak menusuk perut Ratu Zivaya menggunakan pisau itu.
Semua orang sedang fokus pada Putri Lena hingga tak memperhatikan kondisi sekitar, pisau es milik Ratu Jeylena hampir menusuk perut Ratu Zivaya namun tiba tiba sebuah pedang berwarna merah darah menghentikan tindakannya itu. Ratu Jeylena menoleh ke arah samping dan menempatkan Putri Amerilya yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Tidak anaknya tidak ibunya semua sama saja, kalian berdua sama sama menjijikkan!." bentak Putri Amerilya dengan kemarahan meluap luap, sang putri menepis pergerakan Ratu Jeylena hingga wanita itu terdorong mundur beberapa langkah kebelakang.
Kini semua orang kembali fokus pada arena pertandingan, mereka benar benar kesal dengan kecurangan yang dilakukan pihak Kerajaan Antez. Jika seperti ini maka pertandingan secara resmi dimenangkan oleh Ratu Zivaya karna Ratu Jeylena tereliminasi sebelum pertandingan itu selesai.
"Dengan adanya kecurangan yang dilakukan oleh pihak Kerajaan Antez, saya sebagai wasit pertandingan ini menyatakan bahwa Ratu Zivaya lah yang menjadi pemenangnya." triak Raja Azvago yang segera mengumumkan pemenang pertandingan itu. Semua orang bersorak untuk kemenangan Ratu Zivaya mereka merasa lega karna Pangeran Mixo tak perlu menikah dengan Putri Liene dari Kerajaan Antez.
"Mari pergi sekarang." ucap Raja Alenzie yang memberikan arahan pada anggota keluarganya agar segera pergi dari tempat itu dan kembali ke kamar masing masing. Mereka hanya akan menerima penghinaan saja atas apa yang telah terjadi jika tetap berdiam diri di sana.
"Kemana kalian akan pergi? setidaknya meminta maaf terlebih dahulu pada ibu saya atas apa yang telah dilakukan oleh Ratu Jeylena beserta Putri Lena." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tajam, sikap anggota Kerajaan Antez terlalu angkuh hingga mereka tak ingin mengakui kesalahan yang telah dibuat.
Raja Alenzie tetap melangkah pergi dan tak menggubris perkataan dari Putri Amerilya, entahlah bagaimana Kerajaan Antez masih bisa bertahan di bawah kendali seorang Raja dan Ratu segila mereka. Setelah kepergian anggota Kerajaan Antez suasana di tempat pertandingan menjadi terkendali, beberapa orang memutuskan untuk kembali ke ruangan mereka masing masing untuk beristirahat. Kini yang tersisa hanyalah Raja Azvago, Ratu Zivaya, dan anak anak mereka saja.
"Terimakasih karna telah menjaga ibu dengan baik selama pertandingan berlangsung." ucap Ratu Zivaya sembari berjongkok di hadapan Putri Amerilya kemudian mencium kedua pipi putrinya itu penuh dengan kasih sayang.
"Amerilya akan menjaga ibu dengan baik di masa depan, ibu tenang saja." jawab sang putri dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.
"Lalu bagaimana dengan ayah? apakah putriku tak ingin menjaga ayahmu ini?." tanya Raja Azvago dengan ekspresi cemberut, sang raja sedang merajuk dan merasa iri dengan kedekatan antara istri dan anak perempuannya itu.
Ratu Zivaya dan Putri Amerilya tertawa pelan saat melihat ekspresi sang raja, pria itu terlihat sangat lucu dan juga tampan di saat yang bersamaan.
"Bukankah seharusnya ayah yang menjaga Amerilya dan juga ibu, mengapa ayah meminta perlindungan pada Amerilya?. Seorang laki laki itu harus bisa menjaga orang yang mereka sayangi." ucap Putri Amerilya dengan tatapan datar.
Mendengar jawaban dari putri kecilnya itu membuat sang raja merasa lega, ternyata ia masih diperlukan untuk menjaga Putri Amerilya di masa depan. Raja Azvago sempat merasa khawatir jika putrinya itu terlalu mandiri dan tidak membutuhkannya lagi. Karna pertandingan hari ini telah selesai Putri Amerilya memutuskan untuk kembali ke istana putri sendirian meskipun para pangeran menawarkan diri untuk mengabarkannya.
Saat ini Putri Amerilya sedang berjalan dengan santai sembari menikmati suasana malam, sebelum sampai di Istana Putri ia sempat melihat seseorang berlari dalam kegelapan. Dengan segera Putri Amerilya menajamkan matanya dan melihat siapa orang itu.
"Kesatria Linox? kemana ia akan pergi. Mungkinkah rencananya akan dilakukan sekarang juga." tanya Putri Amerilya pada dirinya sendiri.
Sang putri berlari menuju markas Kesatria White Rose agar mereka semua bersiap pergi menuju toko terbengkalai yang ada di dekat pasar. Tak perlu waktu lama untuk Putri Amerilya sampai di markas Kesatria White Rose, beberapa kesatria yang sedang berjaga melihat kedatangan Putri Amerilya dengan nafas tersengal sengal, merekapun langsung menghampiri putri kecil itu untuk menanyakan apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Ada apa Tuan Putri? mengapa Anda terlihat begitu khawatir." tanya Kesatria Abgiloz dengan ekspresi cemas, ia menoleh ke arah belakang sang putri untuk memastikan bahwa tidak ada yang sedang mengejarnya.
"Kumpulan semua prajurit yang akan menjalankan misi bersama dengan saya, ini situasi mendesak karna Kesatria Linox menunjukkan pergerakan yang sangat mencurigakan." jawab Putri Amerilya dengan terbata bata. Ia berusaha mengatur nafas dan menenangkan diri agar situasi tak semakin kacau.
Kesatria Abgiloz meminta sang putri untuk menunggu di luar markas sedangkan kesatria itu masuk ke dalam untuk memberitahukan pada ketua mereka. Ruangan khusus Kesatria Richal diketuk oleh Kesatria Abgiloz dengan cukup kencang, setelah mendapatkan izin iapun masuk ke dalam dan langsung menghadap sang ketua.
"Ada apa?." tanya Kesatria Richal sembari membaca beberapa dokumen laporan yang ada di mejanya.
"Putri Amerilya meminta kita untuk bergerak sekarang juga, ia mengatakan bahwa Kesatria Linox sudah menunjukkan pergerakan yang mencurigakan." jawab Kesatria Abgiloz dengan tegas.
Mata Kesatria Richal membelalak dengan lebar, tanpa berlama lama lagi ia bergegas keluar dari ruangannya itu dan pergi menuju tempat peristirahatan para Kesatria White Rose. Alarm tanda bahaya berbunyi dengan kencang dan membuat semua anggota Kesatria White Rose terbangun dari tidur mereka, semuanya berlari ke luar markas dan menghadap ketua yang telah menunggu di lapangan tempat mereka berlatih. Hanya perlu waktu tiga menit untuk menunggu semua anggota Kesatria White Rose berkumpul, mereka menunjukkan wajah tegas tanpa ada rasa lelah sedikitpun.
"Selamat malam semuanya, kalian yang merasa bergabung dalam misi bersama Tuan Putri Amerilya silahkan maju kedepan dan sisanya bisa kembali ke markas." ucap Kesatria Richal langsung pada intinya, ia tak bisa terlalu bertele-tele menjelaskan pada anggota yang lain mengenai misi yang akan mereka jalankan.
"Siap laksanakan!." jawab serentak suruh anggota Kesatria White Rose. Mereka yang bergabung dalam misi kali ini mengambil empat langkah kedepan sedangkan yang lain segera membubarkan diri.
"Silahkan Tuan Putri Amerilya mengambil alih kepemimpinan untuk sementara." ucap Kesatria Richal, pria itu langsung bergabung dengan anggota yang lain dan ia siap menerima perintah dari Putri Amerilya.
"Kita akan pergi secara diam diam melalui gerbang belakang, saat ini para prajurit dari istana putri yang mendapatkan tugas untuk menjaga di sana. Pastikan agar kalian semua tidak membuat suara gaduh yang akan memancing kecurigaan pihak lain karna hingga saat ini saya belum mengetahui secara keseluruhan siapa saja yang berpihak pada Keluarga Marques Montiqu. Setelah sampai di titik lokasi segeralah membuat empat regu yang bergerak di arah yang berbeda, dua regu bertugas memancing para prajurit dari Keluarga Marques Montiqu keluar dari dalam toko terbengkalai itu sedangkan dua regu yang lain bertugas menghalangi siapapun yang ingin masuk ke dalam saat saya berada di sana. Mungkin rencana saya terdengar sangat sederhana namun saya harap kalian tidak meremehkan misi kali ini. Apakah kalian semua mengerti!." ucap Putri Amerilya dengan sorot mata tajam dan ketegasan yang terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Mari berangkat sekarang, bergeraklah dengan cepat dan jangan biarkan orang lain melihat kalian." ucap Putri Amerilya. putri kecil itu berlari terlebih dahulu menuju gebang bagian belakang Istana Kerajaan Meztano dengan secepat mungkin dan di belakang sang putri sudah ada anggota Kesatria White Rose yang setia mengikutinya dari belakang.
Saat Putri Amerilya sedang sibuk dengan misinya untuk menggagalkan rencana Keluarga Marques Montiqu, di sisi lain kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya sedang menunggu kepulangan sang putri dengan khawatir. Mereka mendapatkan kabar bahwa pertandingan antara Ratu Zivaya dan Ratu Jeylena telah selesai beberapa saat yang lalu namun mengapa putri kecil mereka belum kembali juga?.
"Apakah kita harus pergi ke istana utama untuk mencarinya?." tanya Juylin yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya itu.
"Sebaiknya kita menunggu beberapa saat lagi, jika Tuan Putri tidak segera kembali maka kita akan pergi untuk mencarinya." ucap Lilian, sebagai seorang pemimpin kelompok pelayan tentu ia harus bisa menenangkan anggota kelompoknya di saat saat seperti ini.
"Baiklah kita akan menunggu." ucap Amena yang setuju dengan saran Lilian.
Di sisi lain saat ini Putri Amerilya telah sampai di gerbang belakang Istana Kerajaan Meztano, para prajurit yang sedang berjaga saling memberikan kode bahwa sang putri dan para anggota Kesatria White Rose akan pergi melalui gerbang itu. Beberapa prajurit langsung membuka gerbang dengan lebar sedangkan sisanya bertugas untuk mengamati kondisi sekitar.
"Tolong sampaikan pada Lilian bahwa saya pergi menjalankan misi, saya tak sempat memberitahukan pada mereka." ucap Putri Amerilya yang menitipkan pesan pada salah seorang prajurit istana putri.
__ADS_1
"Baik saya akan menyampaikannya pada Lilian, tolong kembali dengan selamat Tuan Putri Amerilya. Kami semua akan menunggu kepulangan Anda di sini." jawab prajurit itu dengan tatapan penuh harap.
"Saya pasti kembali dengan selamat, terimakasih karna bersedia terlibat dalam misi ini. Saya permisi terlebih dahulu, sampai jumpa semuanya." ucap Putri Amerilya yang kembali berlari menyusuri jalanan gelap yang berada di belakang Istana Kerajaan Meztano bersama para Kesatria White Rose.
Malam yang tenang namun sangat menegangkan bagi beberapa pihak terutama kelompok Putri Amerilya yang sedang melakukan perjalanan menuju toko terbengkalai, di sisi lain saat ini Kesatria Linox sudah berkumpul dengan prajurit dari Kediaman Marques Montiqu di dalam toko terbengkalai itu. Mereka sedang membicarakan beberapa hal penting seperti pengajuan rencana mereka, peledakan yang seharusnya dilakukan besok malam mungkin akan dilakukan malam ini juga karna kondisi di sekitar wilayah Kerajaan Meztano yang semakin diperketat. Kesatria Linox khawatir akan ada pihak yang mengetahui tempat persembunyian bubuk peledak itu dan menggagalkan rencana mereka.
"Kita akan menjalankan rencana utama tengah malam nanti, pastikan tidak ada orang yang berkeliaran di sekitar bangunan tua ini." ucap Kesatria Linox dengan tatapan tajam. Ia sudah tak sabar melihat kehancuran Kerajaan Meztano hanya dalam kurun waktu satu malam.
"Apa kita tidak meminta persetujuan dari Tuan Marques Jordy Montiqu terlebih dahulu? jika pengajuan rencana ini gagal maka kita semua akan mati ditangannya." saran salah seorang prajurit. Ia tak ingin rencana yang telah dibuat selama berbulan bulan ini gagal hanya karna mereka yang terlalu tergesa-gesa.
"Ini pilihan terbaik, jangan membantah dan lakukan saja sesuai dengan arahan saya." bentak Kesatria Linox, ia tak suka saat perkataanya disanggah oleh orang lain apalagi seorang prajurit biasa.
"Baiklah kami akan menjalankan rencana sesuai dengan perintah Anda." jawab para prajurit dari Keluarga Marques Montiqu yang hanya bisa menuruti perintah sang kesatria.
Trang.....
Suara dengungan yang cukup kencang terdengar dari luar bangunan terbengkalai, semua prajurit yang ada di dalam dapat mendengarnya dengan jelas. Beberapa diantara mereka langsung keluar untuk memastikan apa yang sedang terjadi, mereka saling bertatapan satu sama lain karna tak menemukan siapapun di sana.
"Mari masuk ke dalam." ucap salah seorang prajurit Keluarga Marques Montiqu pada rekannya.
Belum sempat mereka berdua masuk ke dalam tiba tiba ada balok kayu yang mengenai punggung kedua prajurit itu dengan sangat kencang hingga mereka pingsan. Setelah kejadian itu suasana di area toko terbengkalai menjadi sunyi, para prajurit Keluarga Marques Montiqu kembali berpatroli seperti biasa.
"Kemana mereka berdua pergi, mengapa lama sekali." gumam salah seorang prajurit, ia merasa ada yang janggal karna kedua rekannya tak kunjung kembali.
Trang... Trang..
Trang.......
Kali ini suara dengungan itu kembali terdengar bahkan lebih kencang dan cepat daripada sebelumnya. Beberapa prajurit mencoba untuk keluar secar berkelompok agar mereka bisa berjaga jaga jika ada sesuatu yang terjadi. Saat sampai di luar mereka melihat kedua rekannya tergelatak tak berdaya di tanah dalam kondisi pingsan.
"Ada apa ini?!." tanya Kesatria Black Linox dengan ekspresi marah. Baru saja ia mencemaskan tentang penyusup yang mengetahui rencana mereka tiba tiba saja ada yang membuat kekacauan seperti ini.
"Sepertinya ada beberapa orang yang sudah mengetahui tempat persembunyian kita." jawab salah seorang prajurit yang mencoba untuk tenang.
__ADS_1
"Susuri seluruh area di sekitar bangunan terbengkalai ini, jangan bunuh siapapun yang kalian temukan dan jangan biarkan ada saksi mata yang kabur. Cepat lakukan sekarang juga!." perintah Kesatria Black Linox dengan kelabakan. Semuanya bisa hancur jika ada yang melapor pada pihak Istana Kerajaan Meztano.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.