PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Keluar Ruangan


__ADS_3

Hari sudah mulai malam kereta kuda yang ditumpangi oleh Putri Amerilya dan kedua pangeran telah sampai di halaman depan Istana Kerajaan Meztano. Putri Amerilya turun dari kereta kuda dibantu oleh sang kusir setelah itu ia berpamitan pada kedua pangeran karna ingin kembali ke istana putri.


"Sekali lagi kami meminta maaf untuk kejadian hari ini." ucap Pangeran Mixo dengan raut wajah bersalah. Andai saja ia bisa menjaga Putri Amerilya dengan baik maka hal seperti itu tak akan terjadi.


"Amerilya baik baik saja jadi kakak jangan bersedih seperti itu." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar.


"Segeralah masuk ke dalam istana dan beristirahat dengan cukup. Besok lusa adalah hari besar untukmu adik." ucap Pangeran Luxe yang meminta Putri Amerilya untuk segera kembali ke istana putri dan beristirahat.


"Baiklah sampau jumpa semuanya." ucap Putri Amerilya sembari melambaikan tangan kemudian berlari menuju istana putri.


Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe berjalan dengan santai menuju istana pangeran, sebelum itu mereka sempat melihat ke arah jendela ruangan yang ditempati oleh Ciela Marques. Sama seperti dugaan kedua pangeran itu bahwa Ciela Marques sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan sinis, mungkin gadis itu merasa iri dengan Putri Amerilya yang sangat disayang oleh seluruh anggota Keluarga Kerajaan Meztano.


"Biarkan saja, jika gadis itu berani mengambil tindakan maka kita bisa langsung menghabisinya." ucap Pangeran Luxe dengan nada dingin. Gadis seperti Ciela Marques tak mungkin hanya berdiam diri saat melihat orang yang menjadi musuhnya hidup dengan bahagia, suatu hari nanti Ciela Marques pasti melakukan sesuatu yang membahayakan Putri Amerilya ataupun membuat putri kecil itu kesal padanya.


"Mari kita kembali sekarang, saat berada di dalam Istana Kerajaan Meztano maka nyawa gadis itu masih berada di cengkraman kita." jawab Pangeran Mixo kemudian mempercepat langkahnya agar segera sampai di istana pangeran.


Di sisi lain saat ini Duke Yosan Lion masih membahas hadiah apa yang ingin Keluarga Lion berikan pada Tuan Putri Amerilya. Setelah melihat sang putri hari ini, Duke Yosan Lion merasa hadiah biasa tak akan cocok dengan anak perempuan itu. Putri Amerilya memiliki karakter yang sangat kuat, ia bahkan tak merasa ketakutan ketika harus menghadapi dua belas bawahan Tuan Hanz Kyne yang terkenal sangat kejam.


"Bukankah tadi kita sudah sepakat untuk membelikan beberapa permata dan perhiasan untuk Tuan Putri Amerilya sebagai hadiah dari Keluarga Duke Lion? mengapa saat ini ayah terlihat kebingungan, apakah hadiah itu tak cocok untuk Tuan Putri Amerilya?." tanya Nona Muda Arsya Lion dengan tatapan penuh selidik. Apa yang telah terjadi pada ayahnya itu selama mencari keberadaan Putri Amerilya? mungkinkah ada hal besar yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Saya mendengar kabar bawah Putri Amerilya adalah gadis yang tangguh, ia sangat suka berlatih pedang bersama dengan para kesatria di Istana Kerajaan Meztano. Perhiasan dan batu pertama yang indah bukanlah hadiah yang cocok untuk Tuan Putri Amerilya." ucap Tuan Muda Elgar Lion dengan tatapan serius. Saat akan menginjak usia tiga tahun Putri Amerilya sudah menunjukkan bakatnya dalam berpedang, mungkin itulah keterampilan yang diturunkan oleh Yang Mulia Raja Azvago.


"Berpedang? jangan bercanda, saat ini Tuan Putri Amerilya baru memasuki usia tiga tahun. Mungkin ia hanya bermain dengan pedang kayu saja, jangan melebihi lebihkan seperti itu kak Elgar." ucap Arsya Lion dengan tatapan tajam, ia tak percaya dengan perkataan kakak laki lakinya itu.


"Dia memiliki sebuah pedang sungguhan, pedang yang memiliki jiwa serta kesadaran sendiri, pedang yang hanya akan datang ketika dipanggil oleh sang putri. Yang Mulia Raja Azvago sangat beruntung, setelah penantiannya selama bertahun tahun akhirnya ia memiliki seorang anak perempuan yang begitu kuat dan tangguh." ucap Duke Yosan Lion dengan senyuman bahagia, pasti saat ini kehidupan Raja Azvago telah lengkap dengan kelima anaknya.


"Bagaimana jika kita menghasilkan Putri Amerilya sebuah pedang atau alat sihir yang dapat melindunginya?." ucap Nona Muda Hilma Lion yang memberikan saran mengenai hadiah yang akan diberikan pada Tuan Putri Amerilya.


Tuan Duke Yosan Lion dan Nyonya Ruela Lion diam sejenak untuk mempergunakan saran yang diberikan oleh Hilma Lion, sebuah pedang biasa tak akan memiliki arti apapun bagi Putri Amerilya dan sangat sulit mencari pedang yang setara dengan milik sang putri. Jika Tuan Putri Amerilya sangat berbakat dalam hal berpedang kemungkinan besar ia tak memiliki kekuatan sihir, akan lebih baik jika Keluarga Duke Lion menghadiahkan sebuah perhiasan yang menyimpan kekuatan sihir. Saat Putri Amerilya sedang dalam bahaya perhiasan itu akan memancarkan sihir yang dapat melindunginya, lagipula harga dari perhiasan yang memiliki kekuatan sihir cukup mahal dan layak untuk menjadi sebuah hadiah.


"Aku setuju dengan saran adik Hilma, sebuah alat sihir yang dapat melindungi Putri Amerilya adalah hadiah yang tepat." ucap Tuan Muda Elgar Lion sembari mengacungkan kedua jempolnya pada Hilma.


"Ayah juga berfikir demikian, Putri Amerilya akan selalu memakai hadiah pemberian dari Keluarga Duke Lion." ucap Tuan Duke Yosan Lion dengan sangat antusias. Malam ini ia akan pergi bersama dengan putranya untuk mencari hadiah itu.


Nona Muda Arsya Lion menatap datar ke arah Hilma yang saat itu duduk berhadap-hadapan dengannya, apa bagusnya saran yang diberikan oleh gadis itu. Perhiasan yang memiliki kekuatan sihir dijual dengan harga mahal, untuk apa mereka mengeluarkan banyak uang demi memberi seorang putri raja sebuah hadiah mewah.


"Saya merasa keberatan dengan saran Hilma, kita tak perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk seorang putri." ucap Nona Muda Arsya Lion dengan senyuman miring, ia sangat yakin sang ayah akan mempertimbangkan kembali saran tak berguna dari adik perempuannya itu.


"Tuan Putri Amerilya adalah anak kesayangan dari semua orang yang tinggal di Istana Kerajaan Meztano, jika kita bisa berada di sisi sang putri maka posisi Keluarga Duke Lion akan tetap aman." jawab Hilma Lion dengan nada bicara sedikit ketus. Ia tau Arsya Lion tak menyukainya di tengah tengah keluarga ini namun ulang tahun Putri Amerilya tak ada hubungannya dengan perselisihan diantara mereka.

__ADS_1


"Kalian tak perlu bertengkar, ayah akan membeli hadiah sesuai saran dari Hilma dan jika kau merasa keberatan apakah kau memiliki saran yang lebih baik?." tanya Duke Yosan Lion pada Nona Muda Arsya Lion.


Arsya Lion langsung terdiam karna ia belum memikirkan apapun untuk ulang tahun Putri Amerilya, dengan segera gadis itu menggelengkan kepalanya. Duke Yosan Lion menghela nafas panjang saat melihat sikap kekanak-kanakan dari anak keduanya itu, hadiah untuk Putri Amerilya bukanlah hal sepele karna itu Tuan Duke Yosan Lion sampai meminta pendapat semua orang.


"Baiklah jika begitu saya akan pergi dengan Elgar sekarang, kedelapannya tolong bersikap lebih dewasa lagi putriku." ucap Tuan Duke Yosan Lion sembari melihat ke arah Arsya Lion dengan tatapan serius.


Di tempat lain saat ini Putri Amerilya sedang berada di halaman depan istana putri, Putri Amerilya telah selesai mandi dan berganti pakaian karna itu ia bergegas pergi ke halaman depan untuk menikmati suasana malam. Putri Amerilya membawa sebuah keranjang kecil sebagai tempat untuk meletakkan bunga bunga yang akan ia petik. Putri Amerilya memetik beberapa bunga mawar berwarna merah dan juga mawar berwarna putih, sang putri terlihat sangat senang karna bisa berada di halaman sendirian.


"Mungkin saya bisa membuat teh menggunakan bunga bunga ini." gumang Putri Amerilya dengan pelan saat ia melihat hamparan taman bunga yang sangat luas. Terdapat berbagai jenis bunga yang ditanam di sekitar Istana Kerajaan Meztano.


Samar samar Putri Amerilya mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, suara langkah itu sangat pelan seperti seseorang yang ingin melakukan tindakan jahat dari belakang sang putri. Benar saja tiba tiba seseorang ingin mendorong Putri Amerilya dari belakang dan membuat putri kecil itu jatuh tersungkur, untunglah sang putri menghindar dengan cepat hingga sang pelaku jatuh ke tanah. Putri Amerilya menaikkan sebelah alisnya, bagaimana bisa Ciela Marques keluar dari ruangan itu? dimana pelayan yang seharusnya menjaga dan menemani gadis ini ketika keluar dari ruangannya.


"Apa yang sedang kau lakukan di Istana Putri, kembalilah ke tempat mu dan jangan membuat kekacauan di sini." ucap Putri Amerilya dengan suara yang cukup kencang. Mungkin hukuman yang diberikan oleh ayahnya sangatlah ringan hingga Ciela Marques bisa keluar ruangannya dengan mudah.


Ciela Marques bangun kemudian menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan tajam, meskipun ia tak bisa berbicara dan mengatakan sesuatu pada Putri Amerilya namun ia masih memiliki dua tangan yang mampu mengeluarkan sihir api miliknya. Ciela Marques tersenyum miring ke arah Putri Amerilya, kedua telapak tangan gadis itu mengeluarkan kobaran api yang cukup besar.


"Kau harus mati malam ini juga Putri Amerilya." batin Ciela Marques dengan senyuman bahagia.


Ciela Marques membuat beberapa anak panah menggunakan sihir api miliknya, anak panah itu melesat dengan cepat ke arah Putri Amerilya dan hampir melukai putri kecil itu, untunglah muncul sebuah bola air yang melapisi tubuh sang putri dan melindunginya dari serangan itu.

__ADS_1


"Beraninya kau melakukan hal ini pada putriku!!!." triak Ratu Zivaya hingga menimbulkan gelombang yang cukup besar dan membuat para pelayan Putri Amerilya terkejut. Sepuluh pelayan putri kecil itu keluar dari istana putri untuk melihat apa yang sedang terjadi. Mereka menatap penuh kebencian ke arah Ciela Marques saat menemukan beberapa anak panah dari sihir api tergeletak tak jauh dari Putri Amerilya yang sedang dikelilingi pelindung dari sihir air milik Ratu Zivaya.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.


__ADS_2